Nada yang Menyatukan: Ketika “Bersama Kita” Menggema dari NTB ke Panggung Nasional

Sabtu, 25 April 2026 - 17:45 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Senda Suara: Mira Donaya (kiri), Rabiatul Adawiyah (tengah), dan Dody Setiawan (kanan). (Foto: ist.ceraken.id)

Senda Suara: Mira Donaya (kiri), Rabiatul Adawiyah (tengah), dan Dody Setiawan (kanan). (Foto: ist.ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di panggung-panggung seni Nusa Tenggara Barat, nama Dody Setiawan bukanlah sosok asing. Ia dikenal luas sebagai pembawa acara yang lincah, komunikatif, dan memiliki kemampuan menjaga ritme sebuah pertunjukan agar tetap hidup.

Sebagai staf di Taman Budaya Provinsi NTB, kehadirannya selama ini lebih sering terlihat di balik dinamika acara; menghubungkan penonton dengan panggung, menghadirkan suasana, dan menjaga semangat tetap menyala.

Namun, kali ini Dody tidak hanya berdiri sebagai pengantar suasana. Ia hadir sebagai pencipta suasana itu sendiri, melalui musik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh insan seni daerah ketika lagu berjudul Bersama Kita sukses meraih Juara 3 Tingkat Nasional dalam ajang Lomba Cipta Lagu Musicpreneur yang diselenggarakan oleh RRI Pusat Jakarta. Sebuah capaian yang tidak datang begitu saja, melainkan lahir dari proses kreatif, keyakinan, dan ketekunan yang panjang.

Kompetisi ini bukan lomba biasa. Lebih dari 500 karya lagu dari seluruh Indonesia turut ambil bagian, menghadirkan persaingan yang ketat dan berkualitas tinggi. Di tengah banyaknya karya dengan warna dan karakter masing-masing, Bersama Kita berhasil mencuri perhatian dewan juri melalui kekuatan pesan, orisinalitas, dan aransemen musik yang inspiratif.

Kemenangan itu menjadi penanda bahwa musik daerah tidak pernah kehilangan ruangnya. Justru dari daerah, sering kali lahir karya-karya yang paling jujur dan paling dekat dengan denyut kehidupan masyarakat.

Dari Mikrofon Panggung ke Studio Rekaman

Selama ini publik mengenal Dody sebagai MC “kondang” yang piawai menghidupkan berbagai acara seni dan budaya. Ia terbiasa memegang mikrofon untuk membangun komunikasi dengan audiens. Namun, di balik peran itu, ternyata tersimpan kecintaan mendalam terhadap dunia musik dan penciptaan lagu.

Lagu Bersama Kita menjadi bukti bahwa kreativitas seseorang tidak bisa dibatasi oleh satu profesi semata. Dody menulis lagu ini bukan sekadar untuk mengikuti lomba, melainkan sebagai ruang ekspresi terhadap gagasan yang selama ini ia yakini: bahwa persatuan adalah kekuatan utama bangsa.

Baca Juga :  Di Antara Kata dan Bunyi: Menafsir Ampenan Groove

Di tengah masyarakat yang sering dihadapkan pada perbedaan, lagu ini hadir membawa pesan sederhana namun kuat, bahwa kebersamaan adalah jalan untuk bertumbuh.

Lagu tersebut dibawakan oleh trio vokal asal NTB bernama Senda Suara, yang beranggotakan Dody Setiawan sendiri bersama Mira Donaya dan Rabiatul Adawiyah. Ketiganya menghadirkan harmoni yang tidak hanya musikal, tetapi juga emosional. Suara mereka menyatu dalam komposisi yang terasa hangat, optimistis, dan membangun.

Kolaborasi ini menjadi salah satu kekuatan utama lagu tersebut. Tidak ada dominasi, tidak ada upaya menonjolkan satu suara di atas yang lain. Yang hadir justru keselarasan, sebuah metafora indah dari tema besar yang diusung lagu itu sendiri.

Senda Suara tidak sekadar bernyanyi; mereka menyampaikan pesan. Dan pesan itu sampai.

Sebelum melaju ke tingkat nasional, Bersama Kita lebih dahulu melalui seleksi regional yang tidak kalah kompetitif. Lagu ini berhasil mengungguli sejumlah karya dari RRI Denpasar dan RRI Singaraja, menjadikannya wakil RRI Mataram di Regional 7.

Dari sana, langkah mereka terus bergerak. Tidak berhenti pada rasa bangga sebagai perwakilan daerah, tetapi melangkah lebih jauh hingga akhirnya menembus tiga besar nasional.

Karya terbaik memang lahir bukan dari “aku”, melainkan dari “kita.” (Foto: ist/ceraken.id)

Perjalanan itu menunjukkan bahwa kualitas karya tidak ditentukan oleh pusat atau pinggiran, melainkan oleh ketulusan proses kreatif dan keberanian untuk terus melangkah.

Musik sebagai Bahasa Persatuan

Tema yang diangkat dalam Bersama Kita bukan sesuatu yang asing, tetapi justru karena itulah ia menjadi penting. Persatuan, kolaborasi, dan semangat membangun negeri adalah nilai-nilai yang selalu relevan, terutama di tengah zaman yang sering kali menghadirkan jarak antarmanusia.

Musik memiliki kekuatan yang unik. Ia tidak menggurui, tetapi mampu menyentuh. Ia tidak memaksa, tetapi dapat menggerakkan. Dalam konteks itu, lagu ini bekerja dengan sangat baik, menyampaikan semangat kolektif melalui lirik yang mudah diterima dan aransemen yang membangkitkan optimisme.

Ada semacam kesadaran bahwa generasi muda membutuhkan ruang inspirasi yang lebih dekat dengan keseharian mereka. Musik menjadi salah satu medium paling efektif untuk itu. Ketika pesan disampaikan melalui nada, ia sering kali lebih mudah tinggal di hati.

Baca Juga :  Menembus Batas Kesadaran: “Unconscious Theory” dan Eksperimen Seni Media Baru Organic Mind

Karena itulah, keberhasilan Bersama Kita tidak semata soal piala atau posisi juara. Yang lebih penting adalah bagaimana lagu ini berpotensi hidup lebih lama di tengah masyarakat, didengar berulang kali, dan perlahan menjadi pengingat bahwa membangun negeri bukan pekerjaan satu orang.

Ia adalah kerja bersama.

Dody Setiawan dan Senda Suara berhasil menunjukkan bahwa musik lokal dapat berbicara dalam bahasa nasional. Bahwa karya dari NTB dapat berdiri sejajar dengan karya dari berbagai daerah lain, bahkan menembus panggung kompetisi tingkat pusat.

Prestasi ini juga menjadi sinyal penting bahwa ekosistem seni di NTB terus bergerak. Talenta-talenta baru terus muncul, didukung oleh ruang-ruang budaya yang hidup, komunitas yang saling menguatkan, dan semangat untuk terus berkarya.

Taman Budaya, studio rekaman, panggung pertunjukan, hingga ruang-ruang kecil tempat para seniman berdiskusi, semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjang lahirnya sebuah karya.

Dan ketika karya itu akhirnya mendapat pengakuan nasional, sesungguhnya yang sedang dirayakan bukan hanya satu lagu, tetapi seluruh proses kebudayaan yang melahirkannya.

Keberhasilan ini tentu menjadi kebanggaan bagi para kreator dan performer, tetapi lebih dari itu, ia menjadi kebanggaan masyarakat Nusa Tenggara Barat. Sebuah penegasan bahwa daerah ini tidak hanya kaya akan tradisi, tetapi juga terus melahirkan inovasi artistik yang relevan dengan zaman.

Dari seorang MC yang akrab dengan panggung, lahirlah seorang pencipta lagu yang membawa nama daerah ke tingkat nasional. Dari harmoni tiga suara, lahirlah pesan tentang persatuan yang melampaui batas wilayah.

Dan dari sebuah lagu berjudul Bersama Kita, publik diingatkan kembali bahwa Indonesia selalu dibangun oleh mereka yang percaya pada kekuatan kolaborasi.

Sebab pada akhirnya, karya terbaik memang lahir bukan dari “aku”, melainkan dari “kita.” (aks)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Di Antara Kata dan Bunyi: Menafsir Ampenan Groove
“Ampenan Groove”: Jejak Puisi, Ritme, dan Energi dari Tepi Kota Lama
Ampenan Groove: Resonansi Puisi, Memori, dan Suara yang Menyentuh
Tanpa Nama: Ketika Perasaan Datang Terlambat untuk Diberi Arti
The Unsconcious Theory: Pertunjukan Imersif yang Menggugat Dominasi Mesin atas Kesadaran Manusia  
Memasuki Ruang Tanpa Tepi: Membaca “Unconscious Theory” sebagai Pengalaman Kesadaran
Menembus Batas Suara: Nyra Maulida dan Laku Ketidaksadaran di “Unconscious Theory”
Menembus Batas Kesadaran: “Unconscious Theory” dan Eksperimen Seni Media Baru Organic Mind

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 17:45 WITA

Nada yang Menyatukan: Ketika “Bersama Kita” Menggema dari NTB ke Panggung Nasional

Jumat, 17 April 2026 - 07:58 WITA

Di Antara Kata dan Bunyi: Menafsir Ampenan Groove

Rabu, 15 April 2026 - 18:37 WITA

“Ampenan Groove”: Jejak Puisi, Ritme, dan Energi dari Tepi Kota Lama

Selasa, 14 April 2026 - 13:09 WITA

Ampenan Groove: Resonansi Puisi, Memori, dan Suara yang Menyentuh

Sabtu, 11 April 2026 - 00:44 WITA

Tanpa Nama: Ketika Perasaan Datang Terlambat untuk Diberi Arti

Berita Terbaru

Di balik setiap risiko, selalu ada peluang yang menunggu untuk dijemput (Foto: ist / ceraken.id)

BALE EDUKASI

Menimbang Risiko, Menjemput Peluang

Sabtu, 25 Apr 2026 - 20:08 WITA

Friday Relax menjelma menjadi simbol kolaborasi, ruang interaksi, dan panggung pertumbuhan bersama (Foto: pemkot mataram/ceraken.id)

AJONG MENTARAM

Friday Relax dan Kota yang Ingin Bernapas

Sabtu, 25 Apr 2026 - 13:00 WITA

Buku

BUDAYA

Menjaga Suara Air, Menjaga Ingatan

Jumat, 24 Apr 2026 - 17:14 WITA