CERAKEN.ID — Temaram lampu di Teras Udayana, Mataram, pada Jumat malam, 24 April 2026, menghadirkan suasana yang hangat sekaligus hidup. Musik mengalun pelan, anak-anak berlarian di antara kerumunan, para orang tua duduk santai menikmati malam, sementara pelaku usaha kecil sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti.
Di ruang terbuka itu, Friday Relax 2026 menjelma bukan sekadar hiburan akhir pekan, melainkan ruang sosial tempat masyarakat bertemu, berbagi, dan merasakan denyut kota yang sesungguhnya.
Program kolaborasi antara Pemerintah Kota Mataram dan Bank NTB Syariah ini menjadi salah satu upaya konkret dalam menghidupkan ruang publik agar lebih produktif, inklusif, dan memberi manfaat langsung bagi warga. Teras Udayana tidak hanya menjadi lokasi rekreasi, tetapi juga panggung bagi tumbuhnya interaksi sosial dan penguatan ekonomi masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah geliat kota yang terus berkembang, ruang seperti ini menjadi penting. Kota tidak cukup dibangun hanya dengan jalan yang mulus, gedung yang tinggi, atau lampu yang terang. Kota juga harus memiliki ruang yang membuat warganya merasa terhubung—dengan sesama, dengan lingkungannya, dan dengan masa depan yang mereka bangun bersama.
Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, menegaskan bahwa arah pembangunan kota harus berorientasi pada manusia, bukan semata pembangunan fisik.
“Kita ingin memastikan bahwa setiap sudut kota ini punya makna bagi masyarakat. Friday Relax bukan hanya kegiatan hiburan, tetapi ruang tumbuh bersama—tempat masyarakat berinteraksi, pelaku UMKM berkembang, dan rasa memiliki terhadap kota ini semakin kuat,” tegasnya.
Pernyataan itu menjadi penanda bahwa pembangunan kota modern tidak lagi hanya berbicara tentang infrastruktur, tetapi juga kualitas hidup. Ruang publik harus menjadi bagian dari strategi pembangunan yang menghadirkan kebahagiaan sosial.
Ruang Publik dan Rasa Memiliki Kota
Friday Relax memperlihatkan bagaimana ruang publik dapat bekerja lebih dari sekadar tempat berkumpul. Ia menjadi medium sosial yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat tanpa sekat. Tidak ada jarak antara pejabat, pedagang kecil, anak muda, maupun keluarga yang datang sekadar menikmati malam.
Di tempat seperti inilah rasa memiliki terhadap kota tumbuh secara alami. Warga tidak merasa sebagai penonton pembangunan, tetapi menjadi bagian langsung dari kehidupan kota itu sendiri.
Mohan Roliskana melihat Friday Relax sebagai bentuk nyata dari pembangunan yang inklusif. Ketika masyarakat diberi ruang untuk hadir, berinteraksi, dan merasa nyaman di kotanya sendiri, maka hubungan sosial menjadi lebih sehat.
“Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi seperti ini adalah energi besar bagi kota. Ketika pemerintah dan dunia usaha bergerak bersama, maka manfaatnya langsung dirasakan masyarakat. Inilah wajah pembangunan yang kita dorong—inklusif, partisipatif, dan berdampak nyata,” ujarnya.
Kolaborasi dengan sektor swasta, menurutnya, bukan sekadar kerja sama formal, tetapi bagian penting dari pembangunan berkelanjutan. Pemerintah membutuhkan mitra yang mampu menghadirkan solusi nyata di tengah dinamika perkotaan yang semakin kompleks.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa kota yang sehat adalah kota yang mampu memberi ruang bagi warganya untuk berbahagia.
“Kota ini tidak hanya harus maju secara fisik, tetapi juga sehat secara sosial. Kita ingin masyarakat punya ruang untuk berbahagia, berkumpul, dan memperkuat ikatan sosial. Karena dari situlah lahir kota yang kuat,” tambahnya.
Pernyataan itu terasa relevan di tengah perubahan gaya hidup masyarakat urban yang semakin cepat dan individual. Friday Relax hadir sebagai jeda yang penting, tempat orang kembali saling menyapa dan merasakan kebersamaan yang sederhana.
UMKM, Perbankan, dan Semangat Bangkit Bersama
Di balik suasana santai Friday Relax, ada denyut ekonomi yang bergerak nyata. Lapak-lapak UMKM yang berjejer menjadi bukti bahwa ruang publik juga bisa menjadi ruang produktif. Pedagang makanan, minuman, kerajinan, hingga produk kreatif lokal mendapatkan kesempatan bertemu langsung dengan konsumen.
Inilah salah satu kekuatan utama program tersebut: menghadirkan hiburan yang sekaligus menggerakkan ekonomi warga.
Direktur Bank NTB Syariah, Nazaruddin, menyampaikan bahwa kehadiran Friday Relax juga lahir dari pengalaman personalnya, keinginan untuk menghadirkan ruang relaksasi yang benar-benar bisa dinikmati masyarakat Mataram.
“Kami ingin menghadirkan ruang yang bisa dinikmati semua kalangan—tempat melepas penat sekaligus mendukung UMKM lokal. Ini bukan sekadar acara, tapi bagian dari kontribusi kami untuk masyarakat,” ungkapnya.
Bagi Bank NTB Syariah, keterlibatan dalam kegiatan publik seperti ini bukan hanya bagian dari promosi kelembagaan, tetapi juga komitmen sosial untuk mendukung pemulihan ekonomi masyarakat.
Tahun 2025 menjadi masa yang tidak mudah bagi bank daerah tersebut. Tantangan besar sempat menguji kepercayaan publik. Namun Friday Relax juga menjadi simbol bahwa kebangkitan itu sedang berlangsung.
Kini, dengan layanan mobile banking Rinjani yang telah kembali hadir, Bank NTB Syariah menunjukkan optimisme baru. Transformasi layanan digital menjadi bagian penting dalam memperkuat hubungan dengan nasabah dan menjawab kebutuhan masyarakat modern.
“Kami bangkit dengan semangat baru. Melalui Rinjani, kami ingin menghadirkan kemudahan transaksi yang lebih aman dan dekat dengan kebutuhan masyarakat,” jelas Nazaruddin.
Sebagai bentuk apresiasi kepada nasabah, Bank NTB Syariah juga membagikan voucher aktivasi mobile banking selama acara berlangsung. Langkah ini menjadi simbol sederhana bahwa transformasi digital harus tetap terasa dekat dan mudah dijangkau masyarakat.
Friday Relax dengan demikian tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga panggung pemulihan kepercayaan; baik terhadap ruang publik, terhadap ekonomi lokal, maupun terhadap lembaga yang hadir bersama masyarakat.
Di Teras Udayana malam itu, warga tidak hanya menikmati musik atau kuliner. Mereka sedang menyaksikan bagaimana kota dibangun melalui sentuhan yang lebih manusiawi.
Anak-anak yang berlari, pelaku UMKM yang tersenyum karena dagangannya laku, orang tua yang bercengkerama tanpa terburu waktu, semuanya adalah potret kecil dari kota yang sehat secara sosial.
Friday Relax menjadi lebih dari sekadar agenda mingguan. Ia menjelma menjadi simbol kolaborasi, ruang interaksi, dan panggung pertumbuhan bersama.
Dan bagi Wali Kota Mataram, inilah wajah kota yang ingin terus dibangun: kota yang hidup, terhubung, dan memberi ruang bagi setiap warganya untuk berkembang.
Sebab pada akhirnya, kota terbaik bukanlah kota yang paling megah, melainkan kota yang membuat warganya merasa pulang.(*)
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: akun ppid kota mataram


























































