Lebaran Ketupat Mataram: Tradisi yang Menyatukan, Harmoni yang Menguatkan

Sabtu, 28 Maret 2026 - 23:25 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wali Kota Mataram mengingatkan bahwa pelestarian tradisi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda (Foto: ppid kota mataram/ceraken.id)

Wali Kota Mataram mengingatkan bahwa pelestarian tradisi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda (Foto: ppid kota mataram/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Mataram — Di tengah arus globalisasi yang kian dinamis, tradisi lokal kembali menemukan maknanya sebagai perekat sosial. Hal itu tergambar dalam perayaan Lebaran Ketupat yang digelar Pemerintah Kota Mataram dengan penuh khidmat dan sukacita, Sabtu (28/03/2026).

Lebaran Ketupat bukan sekadar penutup rangkaian Idulfitri, melainkan juga ruang refleksi bersama tentang pentingnya kebersamaan, toleransi, dan pelestarian nilai-nilai budaya.

Bertempat di Makam Bintaro, Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, menegaskan bahwa tradisi ini memiliki dimensi yang jauh melampaui seremoni tahunan. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya menjaga konsistensi tradisi sebagai bagian dari identitas kolektif masyarakat, sekaligus sebagai medium mempererat hubungan sosial.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, simbol ketupat yang menjadi pusat perayaan menyimpan filosofi mendalam tentang kehidupan, tentang pengakuan atas kesalahan, upaya memperbaiki diri, dan tekad untuk kembali pada nilai-nilai kebaikan. Nilai-nilai inilah yang menjadikan Lebaran Ketupat tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Lebih jauh, Wali Kota mengingatkan bahwa pelestarian tradisi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda. Di tengah derasnya perkembangan sosial dan budaya, menjaga nilai-nilai positif menjadi tantangan sekaligus keharusan agar identitas lokal tidak tergerus.

Baca Juga :  Ketika Mataram Menjadi Ruang Belajar Digital bagi Daerah Lain

Dalam perspektif yang lebih luas, ia juga menyoroti pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman. Perbedaan, baik dalam agama, pandangan politik, maupun kehidupan sosial, merupakan keniscayaan yang harus dikelola dengan bijak.

Lebaran Ketupat, dalam hal ini, menjadi ruang sosial yang mempertemukan berbagai latar belakang dalam suasana damai dan penuh toleransi.

Apresiasi turut disampaikan kepada aparat keamanan dan seluruh pihak yang telah memastikan kelancaran kegiatan. Kehadiran negara dalam menjaga stabilitas menjadi faktor penting agar masyarakat dapat merayakan tradisi dengan rasa aman dan nyaman.

Wakil Wali Kota Mataram menekankan pentingnya “kesehatan sosial” sebagai fondasi kehidupan masyarakat yang harmonis (Foto: ppid kota mataram/ceraken.id)

Sementara itu, Lurah Bintaro, Rudy Herlambang, menghadirkan perspektif lain melalui inovasi tema “Satu Wadah, Satu Sampan”. Gagasan yang lahir dari kreativitas generasi muda Kecamatan Ampenan ini menjadi simbol kuat bahwa tradisi dapat berkembang tanpa kehilangan akar.

Keterlibatan karang taruna dalam merancang konsep perayaan menunjukkan adanya regenerasi dalam pelestarian budaya. Tradisi tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang kaku, melainkan sebagai ruang ekspresi yang adaptif dan inklusif.

Melalui pendekatan ini, Lebaran Ketupat tidak hanya dirayakan, tetapi juga dihidupkan kembali oleh semangat zaman.

Baca Juga :  Kebangkitan dari Ruang Bawah Sadar: Membaca Legacy Seniman Bersama Mantra Ardhana

Pada saat yang sama, perayaan Lebaran Topat yang berlangsung di Taman Loang Baloq turut memperluas makna kebersamaan. Wakil Wali Kota Mataram, TGH Mujiburrahman, menekankan pentingnya “kesehatan sosial” sebagai fondasi kehidupan masyarakat yang harmonis.

Beragam kegiatan, termasuk atraksi budaya seperti Peresean, menjadi daya tarik yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkuat identitas budaya lokal. Camat Sekarbela, Arief Satriawan, menegaskan bahwa tradisi ini merupakan warisan leluhur yang harus terus dijaga sebagai bagian dari jati diri masyarakat.

Pada akhirnya, Lebaran Ketupat dan Lebaran Topat di Kota Mataram bukan sekadar agenda tahunan. Ia menjelma menjadi ruang hidup yang menyatukan nilai religius, budaya, dan sosial dalam satu tarikan napas kebersamaan.

Di tengah dunia yang terus berubah, tradisi ini menjadi pengingat bahwa harmoni dapat tumbuh dari hal-hal sederhana: berkumpul, berbagi, dan saling memaafkan.

Dengan semangat itu, Mataram tidak hanya merayakan tradisi, tetapi juga merawat masa depan, di mana kebersamaan dan toleransi tetap menjadi fondasi utama kehidupan masyarakatnya.(*)

Penulis : aks

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: akun ppid kota mataram

Berita Terkait

Sanitasi yang Memanusiakan
Menyembelih Keserakahan: Makna Iduladha dari Tiga Mimbar di Mataram
Takbir di Bawah Langit Mataram
Menyembelih Ego di Hari Raya
Wayang Botol di Pantai Ampenan: Anak-Anak Menyalakan Panggung Edukasi Lingkungan
Diskominfo Kota Mataram sebagai Ruang Belajar Bersama di Era Transformasi Digital
Harmoni Kota-Kota Nusantara dan Jalan Kolaborasi Menuju Masa Depan
Jakarta dan Mataram Membayangkan Masa Depan Kota dalam Satu Aplikasi

Berita Terkait

Kamis, 4 Juni 2026 - 13:38 WITA

Sanitasi yang Memanusiakan

Kamis, 28 Mei 2026 - 09:42 WITA

Menyembelih Keserakahan: Makna Iduladha dari Tiga Mimbar di Mataram

Rabu, 27 Mei 2026 - 18:21 WITA

Takbir di Bawah Langit Mataram

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:24 WITA

Menyembelih Ego di Hari Raya

Selasa, 26 Mei 2026 - 11:17 WITA

Wayang Botol di Pantai Ampenan: Anak-Anak Menyalakan Panggung Edukasi Lingkungan

Berita Terbaru

Diperlukan gerakan kolektif yang menjangkau keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Jumat, 5 Jun 2026 - 10:59 WITA

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA