CERAKEN.ID — Di jantung Kota Praya, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, sebuah kawasan bernama Renteng tumbuh sebagai simpul kehidupan ekonomi yang tak pernah benar-benar tidur. Di tengah riuh lalu lintas dan denyut aktivitas perdagangan yang padat, Renteng tidak hanya menjadi ruang transaksi, tetapi juga ruang interaksi sosial, negosiasi harapan, dan pertaruhan ekonomi masyarakat sehari-hari.
Di sinilah Pasar Renteng berdiri sebagai pusat gravitasi ekonomi lokal, sebuah pasar tradisional yang kini bertransformasi menjadi simbol modernisasi dengan konsep green building pertama di Nusa Tenggara Barat.
Transformasi Pasar Renteng bukan sekadar perubahan fisik. Ia mencerminkan pergeseran cara pandang terhadap pasar tradisional; dari yang identik dengan kesemrawutan menuju ruang publik yang tertata, bersih, dan ramah lingkungan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Revitalisasi ini menghadirkan kenyamanan baru bagi pedagang dan pembeli, sekaligus memperkuat posisi pasar sebagai pusat ekonomi utama di Kecamatan Praya. Dengan tata ruang yang lebih baik dan fasilitas yang memadai, Pasar Renteng menjadi contoh bagaimana tradisi dapat berjalan beriringan dengan modernitas.
Namun, di balik wajah barunya, dinamika lama masih terasa. Lokasinya yang strategis di pusat kota membuat kawasan ini “kerap” dihadapkan pada persoalan klasik: kemacetan akibat parkir on-street.
Kendaraan yang memadati ruas jalan di sekitar pasar menjadi tantangan tersendiri bagi pengelolaan kawasan. Meski demikian, kondisi ini juga menjadi indikator betapa tingginya intensitas aktivitas ekonomi di Renteng.
Ramainya arus manusia dan barang menandakan bahwa pasar ini tetap menjadi pilihan utama masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pusat Perdagangan Strategis
Sebagai pusat perdagangan, Pasar Renteng memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah. Pemerintah daerah secara rutin menjadikan pasar ini sebagai titik pemantauan harga kebutuhan pokok, terutama pada momen-momen krusial seperti bulan Ramadhan.
Di tengah fluktuasi harga yang kerap terjadi, keberadaan Pasar Renteng menjadi barometer penting dalam memastikan ketersediaan dan keterjangkauan bahan pokok bagi masyarakat.
Di tengah denyut ekonomi yang kuat ini, hadir pula institusi keuangan yang mencoba mengambil peran lebih dekat dengan masyarakat. Pegadaian Syariah Cabang Pasar Renteng menjadi salah satu contoh bagaimana layanan keuangan berupaya “bermasyarakat”, tidak hanya sebagai penyedia jasa, tetapi juga sebagai mitra dalam perjalanan ekonomi warga.
Kehadiran Pegadaian di kawasan ini bukan tanpa alasan. Dengan karakter masyarakat yang dinamis dan kebutuhan finansial yang beragam, Renteng menjadi ruang yang tepat untuk mengembangkan layanan berbasis syariah yang inklusif.
Pemimpin Cabang Pegadaian Syariah Pasar Renteng, Utma Rohdiarsya, memaknai momentum 125 tahun Pegadaian sebagai sebuah perjalanan transformasi berkelanjutan. Baginya, Pegadaian bukan sekadar institusi keuangan, melainkan bagian dari upaya besar dalam “MengEmaskan Indonesia”, sebuah visi yang menekankan pada peningkatan kualitas layanan, inovasi produk, dan kebermanfaatan bagi masyarakat luas.
“Sebagai ikhtiar transformasi berkelanjutan, kami berkomitmen memperbaiki standar layanan, menghadirkan inovasi, dan memberikan manfaat nyata bagi nasabah serta masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Komitmen tersebut tidak berhenti pada narasi. Hingga akhir Maret 2026, kinerja Pegadaian Syariah Cabang Pasar Renteng menunjukkan capaian yang cukup signifikan.
Target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) untuk outstanding loan (OSL) seluruh produk tercapai hingga 104,47 persen. Bahkan, untuk produk emas, capaian OSL Gross Emas mencapai 132,45 persen, sementara target Cicil Emas berhasil menyentuh angka 104,74 persen.
Capaian ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan Pegadaian Syariah. Di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, produk-produk berbasis emas dan pembiayaan syariah menjadi alternatif yang dianggap aman dan sesuai dengan nilai-nilai masyarakat.

Interaksi lebih Humanis
Namun, di balik angka-angka tersebut, terdapat strategi yang dijalankan secara sistematis. Salah satu fokus utama adalah peningkatan standarisasi layanan melalui pendekatan “pelayanan sepenuh hati”.
Dalam praktiknya, hal ini diterjemahkan ke dalam interaksi yang lebih humanis, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan nasabah.
Selain itu, Pegadaian Syariah Cabang Pasar Renteng melakukan literasi keuangan ke berbagai segmen masyarakat. Kampus, sekolah menengah, komunitas, hingga instansi pemerintah menjadi sasaran edukasi.
Upaya ini penting, mengingat literasi keuangan masih menjadi tantangan di banyak daerah. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat diharapkan mampu mengambil keputusan finansial yang lebih bijak.
Pendekatan kreatif juga dilakukan melalui penyelenggaraan kegiatan seperti Festival Tring yang menyasar generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial. Melalui kegiatan ini, Pegadaian mencoba membangun kedekatan emosional dengan generasi yang akan menjadi penggerak ekonomi di masa depan.
Di tengah era digital, pendekatan konvensional tidak lagi cukup. Dibutuhkan inovasi yang mampu menjembatani kebutuhan layanan dengan gaya hidup generasi baru.
Di sisi internal, penguatan kinerja dilakukan melalui berbagai mekanisme seperti sharing and learning serta morning briefing. Kegiatan ini bertujuan menyamakan persepsi dan menjaga fokus seluruh pegawai terhadap target yang telah ditetapkan. Dalam organisasi yang bergerak dinamis, keselarasan visi menjadi kunci utama dalam mencapai kinerja yang optimal.
Model Kawasan Ekonomi Lokal
Tak kalah penting adalah proses monitoring dan evaluasi yang dilakukan secara berkelanjutan. Bagi Utma Rohdiarsya, evaluasi bukan sekadar formalitas, melainkan instrumen penting untuk memastikan bahwa setiap strategi berjalan sesuai arah dan tepat sasaran.
Dengan evaluasi yang konsisten, organisasi dapat lebih adaptif terhadap perubahan dan tantangan yang muncul.
“Monitoring dan evaluasi kinerja secara berkelanjutan menjadi kunci agar arah dan strategi dapat dilaksanakan dengan baik dan tepat sasaran,” pungkasnya.
Apa yang terjadi di Renteng hari ini adalah potret kecil dari dinamika ekonomi lokal yang terus bergerak. Di satu sisi, ada pasar tradisional yang bertransformasi menjadi lebih modern dan berkelanjutan.
Di sisi lain, ada institusi keuangan yang berupaya menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Keduanya bertemu dalam satu ruang yang sama; ruang yang dipenuhi oleh aktivitas, harapan, dan tantangan. Renteng bukan sekadar kelurahan. Ia adalah cerminan dari bagaimana ekonomi lokal bekerja, beradaptasi, dan bertahan di tengah perubahan zaman.
Dengan segala potensinya, Renteng memiliki peluang besar untuk terus berkembang sebagai pusat ekonomi yang tidak hanya kuat secara aktivitas, tetapi juga inklusif dan berkelanjutan. Tantangan seperti kemacetan dan penataan kawasan tentu perlu diatasi secara serius.
Namun, dengan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, Renteng dapat menjadi model pengembangan kawasan ekonomi lokal yang berhasil.
Pada akhirnya, cerita tentang Renteng adalah cerita tentang pergerakan; pergerakan manusia, barang, uang, dan ide. Di tengah hiruk pikuknya, tersimpan harapan bahwa ruang-ruang seperti ini akan terus menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih adil dan merata. (aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita: liputan


























































