TAGANA dan Wajah Kemanusiaan di Tengah Ancaman Bencana

- Penulis

Sabtu, 16 Mei 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Kehadiran TAGANA menjadi pengingat bahwa kekuatan terbesar bangsa sesungguhnya terletak pada solidaritas sosial (Foto: ppid kota mataram / ceraken.id)

Kehadiran TAGANA menjadi pengingat bahwa kekuatan terbesar bangsa sesungguhnya terletak pada solidaritas sosial (Foto: ppid kota mataram / ceraken.id)

CERAKEN.ID — Pagi itu, langit Kota Mataram tampak cerah ketika relawan, aparat pemerintah, dan masyarakat berkumpul di Ruang Terbuka Hijau Pagutan. Di tengah barisan peserta upacara yang tertata rapi, semangat pengabdian terasa begitu kuat.

Upacara puncak Hari Ulang Tahun Taruna Siaga Bencana (TAGANA) ke-22 Tingkat Provinsi NTB bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan penegasan bahwa kemanusiaan masih memiliki penjaga-penjaga sunyi yang selalu siap hadir ketika bencana datang tanpa aba-aba.

Di negeri kepulauan seperti Indonesia, bencana bukan lagi kemungkinan, melainkan kenyataan yang terus berulang. Gempa bumi, banjir, longsor, kekeringan, hingga cuaca ekstrem menjadi bagian dari tantangan hidup masyarakat.

Dalam situasi seperti itu, keberadaan TAGANA menjadi salah satu penopang penting ketahanan sosial masyarakat.

Momentum peringatan HUT TAGANA ke-22 di NTB pada Rabu (13/05/2026) menghadirkan pesan kuat tentang solidaritas, kesiapsiagaan, dan kemanusiaan. Upacara berlangsung khidmat, namun juga sarat energi pengabdian.

Tidak hanya menjadi ajang refleksi perjalanan panjang TAGANA selama lebih dari dua dekade, kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana pemerintah daerah dan masyarakat mulai membangun budaya tangguh bencana secara lebih terorganisir.

Pelantikan 60 anggota Tim Satuan Tugas Kampung Siaga Bencana Andalan Ampenan menjadi salah satu penanda penting dalam kegiatan tersebut. Kehadiran satuan tugas baru itu memperlihatkan bahwa kesiapsiagaan tidak cukup hanya bertumpu pada pemerintah, tetapi harus tumbuh dari masyarakat itu sendiri.

Kampung-kampung siaga bencana menjadi fondasi penting dalam membangun sistem mitigasi berbasis komunitas.

Ketika Relawan Menjadi Simbol Kehadiran Negara

Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana, yang bertindak sebagai inspektur upacara membacakan amanat Menteri Sosial Republik Indonesia, Saifullah Yusuf. Dalam amanat tersebut ditegaskan bahwa TAGANA bukan sekadar organisasi relawan biasa.

Baca Juga :  Beda Iman, Saling Menguatkan: Mataram Merawat Indonesia dari Ruang Kebersamaan

“TAGANA bukan sekadar relawan. TAGANA adalah simbol kehadiran negara untuk rakyatnya. Hadir paling cepat, bekerja paling keras, dan pulang paling akhir,” tegas Wali Kota Mataram.

Kalimat itu bukan sekadar slogan seremonial. Dalam berbagai peristiwa bencana, para anggota TAGANA memang sering menjadi pihak pertama yang datang membantu evakuasi, mendirikan dapur umum, menenangkan korban, hingga memastikan bantuan sosial tersalurkan.

Mereka bekerja di tengah lumpur banjir, reruntuhan bangunan, bahkan dalam keterbatasan logistik dan fasilitas.

Tema peringatan tahun ini, “TAGANA Selalu Ada di Setiap Bencana”, terasa relevan dengan realitas yang dihadapi masyarakat Indonesia hari ini. Keberadaan relawan kemanusiaan tidak hanya dibutuhkan saat tanggap darurat, tetapi juga dalam edukasi mitigasi, pemulihan psikososial, hingga penguatan ketahanan masyarakat pascabencana.

Dalam amanat yang dibacakan, turut disampaikan Commander Wish bagi seluruh anggota TAGANA Indonesia. Pesan-pesan seperti “Siaga tanpa kompromi”, “Profesional dan terlatih”, “Solid dan terintegrasi”, hingga “Humanis dan penuh empati” menjadi arah moral sekaligus standar etika kerja relawan kemanusiaan di masa depan.

Di tengah meningkatnya kompleksitas bencana akibat perubahan iklim dan kerentanan sosial, profesionalisme relawan menjadi kebutuhan mutlak. Relawan tidak cukup hanya memiliki semangat membantu, tetapi juga kemampuan teknis, ketahanan mental, dan koordinasi yang baik dengan berbagai pihak.

Membangun Ketangguhan dari Akar Rumput

Peringatan HUT TAGANA ke-22 di NTB juga memperlihatkan bahwa pembangunan sistem penanggulangan bencana kini mulai bergerak ke level yang lebih partisipatif. Kehadiran Kampung Siaga Bencana menjadi contoh bagaimana masyarakat dilibatkan sebagai aktor utama, bukan sekadar objek penerima bantuan.

Konsep ini penting karena masyarakat lokal adalah pihak yang pertama kali menghadapi ancaman ketika bencana terjadi. Mereka yang paling mengenali lingkungan, jalur evakuasi, kelompok rentan, hingga kebutuhan mendesak di wilayah masing-masing.

Baca Juga :  Dari Sebuah Logo, Kota Belajar Mengenali Wajah dan Jati Dirinya

Ketika kapasitas masyarakat diperkuat, maka respons terhadap bencana akan jauh lebih cepat dan efektif.

Wali Kota Mataram juga mengingatkan pentingnya dukungan pemerintah daerah terhadap keberadaan TAGANA sebagai bagian dari Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS).

“Kalau TAGANA kita kuat, maka masyarakat kita lebih tangguh,” ujarnya.

Pernyataan tersebut mengandung makna yang lebih luas daripada sekadar dukungan anggaran atau fasilitas. Ketangguhan masyarakat lahir dari ekosistem sosial yang saling menopang.

Relawan, pemerintah, komunitas, dunia pendidikan, hingga masyarakat umum harus bergerak dalam satu irama kemanusiaan.

Dalam kesempatan itu pula, TAGANA didorong untuk mendukung Program Sekolah Rakyat sebagai bagian dari prioritas nasional penguatan kesejahteraan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa tugas relawan sosial tidak lagi terbatas pada penanganan bencana semata, tetapi juga mencakup upaya membangun kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.

Di tengah dunia yang semakin rentan terhadap krisis, kehadiran TAGANA menjadi pengingat bahwa kekuatan terbesar bangsa sesungguhnya terletak pada solidaritas sosial. Ketika bencana datang dan kepanikan meluas, selalu ada orang-orang yang memilih bergerak mendekat, bukan menjauh.

Mereka mungkin tidak selalu terlihat di halaman depan media. Namun di lokasi pengungsian, di dapur umum, di tenda-tenda darurat, dan di wajah-wajah korban yang mulai kembali tersenyum, jejak pengabdian mereka selalu tinggal.

HUT TAGANA ke-22 di NTB akhirnya bukan hanya tentang perayaan usia organisasi. Ia menjadi cermin tentang bagaimana kemanusiaan terus dirawat, dipelihara, dan diwariskan di tengah ancaman bencana yang kian nyata. (*)

Editor : ceraken editor

Sumber Berita: akun ppid kota mataram

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Rokok Legal ke Lapangan Kerja: DBHCHT, Kesejahteraan, dan Perang Bersama Melawan Barang Ilegal
Beda Iman, Saling Menguatkan: Mataram Merawat Indonesia dari Ruang Kebersamaan
Dari Sebuah Logo, Kota Belajar Mengenali Wajah dan Jati Dirinya
Menjaga Integritas, Merawat Kepercayaan: Mataram Didorong Menjadikan Pencegahan Korupsi sebagai Budaya
Jangan Melubangi Perahu: Pesan Integritas Wali Kota Mataram untuk ASN
Menyusuri Jejak Wallace, Menghidupkan Kembali Memori Kota Tua Ampenan
Sepak Bola, Sorak Warga, dan Ruang Persaudaraan di RTH Pagutan
Menyemai Integritas dari Mataram: Saat Antikorupsi Menjadi Gerakan Budaya

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 16:43 WITA

Dari Rokok Legal ke Lapangan Kerja: DBHCHT, Kesejahteraan, dan Perang Bersama Melawan Barang Ilegal

Jumat, 14 Agustus 2026 - 09:05 WITA

Beda Iman, Saling Menguatkan: Mataram Merawat Indonesia dari Ruang Kebersamaan

Rabu, 5 Agustus 2026 - 08:28 WITA

Dari Sebuah Logo, Kota Belajar Mengenali Wajah dan Jati Dirinya

Kamis, 30 Juli 2026 - 14:49 WITA

Menjaga Integritas, Merawat Kepercayaan: Mataram Didorong Menjadikan Pencegahan Korupsi sebagai Budaya

Selasa, 28 Juli 2026 - 13:34 WITA

Jangan Melubangi Perahu: Pesan Integritas Wali Kota Mataram untuk ASN

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA