Pameran “Kronik” Hadirkan Lintasan Perjalanan Seni Rupa di Hari Kedua Pesta Seni NTB 2025

Minggu, 30 November 2025 - 12:49 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“Kronik” adalah jalur lintasan Sejarah, ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini, antara ingatan yang dirawat dan masa depan yang terus bergerak (Foto: Aks)

“Kronik” adalah jalur lintasan Sejarah, ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini, antara ingatan yang dirawat dan masa depan yang terus bergerak (Foto: Aks)

CERAKEN.ID- Mataram, 30 November 2025 — Pameran seni rupa “Kronik” resmi membuka partisipasinya pada hari kedua Pesta Seni NTB 2025. Kegiatan yang berlangsung di galeri Taman Budaya NTB ini dibuka oleh Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB, Lalu Abdurrahim, pada Sabtu (29/11).

Lebih dari sepuluh perupa turut menampilkan karya-karyanya, memperkaya ragam ekspresi dalam gelaran seni tahunan tersebut. Pameran “Kronik” berlangsung hingga 8 Desember 2025.

Sebagai bagian dari rangkaian resmi Pesta Seni NTB 2025, pameran “Kronik” diharapkan dapat menjadi ruang inklusif yang membuka kesempatan luas bagi para perupa untuk menunjukkan proses kreatifnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kasi Penyelenggaraan Seni Budaya Taman Budaya NTB, I Nyoman Gde Adimusti TBL, S.Sn, mewakili Kepala Taman Budaya Provinsi NTB, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk memperkuat jejaring antar seniman maupun hubungan antara seniman dan publik.

Pameran “Kronik” menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian Pesta Seni NTB 2025 (Foto: Aks)

“Pameran ini tidak hanya menampilkan hasil akhir sebuah proses, tetapi juga mengungkapkan spirit perjalanan yang penuh eksplorasi dan refleksi para seniman Nusa Tenggara Barat,” ujar Adimusti.

Mengangkat tema “Lintasan Sebuah Perjalanan,” pameran ini berupaya menghadirkan ruang apresiasi, ruang dialog, serta ruang pengembangan bagi perupa NTB. Pameran ini sekaligus menjadi upaya memperkuat ekosistem seni rupa di daerah, menghadirkan spektrum kreatif yang lebih luas melalui keragaman ekspresi.

Baca Juga :  Belian sebagai Pengalaman Hidup: Membaca Ritual Sasak dalam Ruang Pamer

Taman Budaya NTB sendiri memiliki koleksi karya seni rupa yang cukup kaya. Melalui “Kronik,” sejumlah koleksi tersebut kembali ditampilkan sebagai bagian dari proses pengarsipan dan perawatan karya.

Menurut Kurator Sasih Gunalan, menghadirkan koleksi sebagai materi pameran merupakan bentuk akuisisi, negosiasi, serta inventarisasi karya yang telah dijaga Taman Budaya selama bertahun-tahun.

“Peristiwa perjalanan seni rupa karya Abdullah Sidik tahun 1960 tersimpan dan kini dipamerkan dalam kesempatan ini. Melalui pameran ‘Kronik,’ publik bisa melihat langsung koleksi-koleksi Taman Budaya,” kata Sasih Gunalan.

Lebih dari sekadar dokumentasi visual, Sasih menegaskan bahwa “Kronik” adalah jalur lintasan Sejarah, ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini, antara ingatan yang dirawat dan masa depan yang terus bergerak. Pameran ini juga menampilkan karya para seniman lintas generasi, termasuk perupa terpilih dan perupa yang berasal dari perguruan tinggi di NTB.

Baca Juga :  Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Jika koleksi Taman Budaya menampilkan arsip gaya, arah artistik, dan gagasan para perupa terdahulu, maka karya seniman muda yang tampil kali ini membawa energi baru, mulai dari eksplorasi visual hingga ekspresi kegelisahan dan imajinasi mereka terhadap berbagai fenomena kehidupan.

Pameran ini berupaya menghadirkan ruang apresiasi, ruang dialog, serta ruang pengembangan bagi perupa NTB (Foto: Aks)

Dalam sambutannya, Lalu Abdurrahim juga menyampaikan bahwa tahun depan Dinas Kebudayaan NTB akan berdiri sebagai institusi tersendiri. Dengan demikian, sebagai perpanjangan tangan Kementerian Kebudayaan RI, lembaga baru itu diharapkan dapat bekerja lebih terarah, efektif, dan berdaya guna dalam mengelola kebudayaan daerah.

Pameran “Kronik” menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian Pesta Seni NTB 2025, memperlihatkan bagaimana perjalanan seni rupa di daerah ini terus bergerak, tumbuh, dan membuka ruang baru untuk generasi berikutnya (Aks).

Penulis : Aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : Liputan

Berita Terkait

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil
Putri Mandalika: Tafsir Baru Legenda Bau Nyale dalam Perspektif Spiritualitas Sasak
Tapak Dara dalam Lanskap: Ketika Warna, Alam, dan Simbol Bertemu di Kanvas Dek Mahendra
Jejak Sakral di Balik Benang: Tenun Lombok dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak
Pringgasela: Menenun Hidup di Lereng Rinjani
Tenun Sembalun Lawang: Warisan Sunyi di Kaki Rinjani
Sinergi NTB–Jerman untuk Pariwisata, Perhotelan, dan Pendidikan: Jalan Kolaboratif Menuju Pembangunan Kawasan Nusa Tenggara
Batujai: Menenun Tradisi di Persimpangan Zaman

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 23:01 WITA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Februari 2026 - 07:08 WITA

Putri Mandalika: Tafsir Baru Legenda Bau Nyale dalam Perspektif Spiritualitas Sasak

Jumat, 6 Februari 2026 - 08:42 WITA

Tapak Dara dalam Lanskap: Ketika Warna, Alam, dan Simbol Bertemu di Kanvas Dek Mahendra

Rabu, 4 Februari 2026 - 11:35 WITA

Jejak Sakral di Balik Benang: Tenun Lombok dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak

Selasa, 3 Februari 2026 - 11:04 WITA

Pringgasela: Menenun Hidup di Lereng Rinjani

Berita Terbaru

Mr. Red (kiri), Kim Dong Pil (tengah), Lalu Syaukani (kanan), Karya tersebut merupakan hasil pembacaan visual Kim terhadap lanskap persawahan Tetebatu yang ia rekam pada Mei 2025 (Foto: aks)

BUDAYA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Feb 2026 - 23:01 WITA

Dari hobi suka mengoleksi kompor portable dan senter, tersirat bahwa ia tak membanggakan benda-benda itu. (Foto: ist)

TOKOH & INSPIRASI

Di Balik Hobi Unik Andi Irawan: Berburu Kompor Portable dan Senter Koleksi

Sabtu, 7 Feb 2026 - 19:35 WITA