CERAKEN.ID– Desa Pringgasela terhampar di lereng timur Gunung Rinjani, sekitar 50 kilometer dari Kota Mataram dan hanya 10 kilometer dari Selong, ibu kota Kabupaten Lombok Timur.
Udara pegunungan yang sejuk dan lanskap hijau yang mengelilinginya, sebagaimana diurai Fitri Rachmawati dkk dalam Katalog Tenun Tradisional Lombok (Desember 2017, hlm. 81–96), menjadikan desa ini dikenal bukan hanya sebagai tujuan wisata alam, tetapi juga sebagai salah satu pusat kerajinan tenun tradisional terpenting di Gumi Patuh Karya, sebutan kultural bagi Lombok Timur.
Di Pringgasela, tenun bukan sekadar produk budaya, melainkan denyut kehidupan. (Berdasarkan data 2017) dari sekitar 3.600 kepala keluarga yang mendiami desa ini, sedikitnya 1.350 orang, sebagian besar Perempuan, menggantungkan hidupnya dari aktivitas menenun.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Alat tenun gedogan nyaris menjadi perabot wajib di setiap rumah. Bunyi kayu yang saling beradu, benang yang ditarik dan dirajut, telah lama menjadi irama keseharian warga Pringgasela.
Menenun di desa ini bukan pekerjaan sambilan. Selain bertani, menenun menjadi mata pencaharian utama yang menopang ekonomi keluarga.
Tradisi yang awalnya hanya dijalankan kaum perempuan, kini mulai ditekuni pula oleh laki-laki. Perubahan ini menandai bagaimana tenun Pringgasela terus beradaptasi dengan kebutuhan zaman, tanpa sepenuhnya meninggalkan akar tradisinya.
Warisan Sasak yang Tak Pernah Putus
Sejarah menenun di Pringgasela diyakini telah ada sejak suku Sasak mendiami Pulau Lombok. Pengetahuan tentang menenun tidak pernah tercatat dalam naskah tertulis, melainkan hidup melalui praktik dan ingatan kolektif.
Dari generasi ke generasi, keterampilan ini diwariskan secara langsung, dari tangan ke tangan, dari ibu ke anak, dari nenek ke cucu.
Anak-anak perempuan di Pringgasela mulai mengenal menenun sejak usia dini. Alat tenun bukan benda asing bagi mereka.
Orang tua menjadi guru utama, mengajarkan cara memintal benang, menyusun lungsi, membaca motif, hingga memahami makna di balik setiap pola. Proses belajar ini bukan hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga penanaman nilai kesabaran, ketelitian, dan tanggung jawab.
Dalam kepercayaan lokal masyarakat Sasak Pringgasela, keterampilan menenun pernah menjadi syarat penting bagi perempuan sebelum menikah. Seorang gadis dianggap belum siap membina rumah tangga apabila belum mampu menenun.

Kepercayaan ini berakar pada pandangan bahwa menenun adalah modal hidup, bekal bagi perempuan untuk menghidupi diri dan keluarganya kelak.
Namun, seiring masuknya pendidikan formal dan teknologi, kepercayaan tersebut perlahan memudar. Kini, gadis-gadis Pringgasela diperbolehkan menikah meskipun belum menguasai keterampilan menenun.
Meski demikian, bagi sebagian keluarga, menenun tetap dipandang sebagai identitas dan kebanggaan, bukan sekadar kewajiban adat.
Dari Sarung ke Pasar Dunia
Perkembangan tenun Pringgasela dalam beberapa dekade terakhir terbilang pesat. Dahulu, kain tenun hanya digunakan untuk kebutuhan internal masyarakat: sarung, selimut, dan pakaian adat untuk upacara ritual.
Kini, tenun Pringgasela telah bertransformasi menjadi bahan baku beragam produk modern: baju, rok, celana, sepatu, tas, hingga aksesori fesyen lainnya.
Transformasi ini membuka jalan bagi tenun Pringgasela menembus pasar yang lebih luas. Pasar nasional menjadi tujuan utama, dengan Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta sebagai pusat distribusi.
Tak hanya itu, tenun Pringgasela juga telah menjejak pasar internasional. Jepang dan Korea menjadi dua negara tujuan ekspor yang menandai pengakuan atas kualitas dan keunikan tenun dari desa kecil di lereng Rinjani ini.
Keberhasilan tersebut tidak datang tanpa tantangan. Para penenun harus menyesuaikan ukuran, warna, dan motif sesuai selera pasar, sambil tetap menjaga teknik tradisional yang menjadi ciri khas.
Di sinilah negosiasi antara tradisi dan komodifikasi berlangsung, sebuah proses yang terus diuji oleh dinamika ekonomi dan budaya.
Salah satu kekhasan tenun Pringgasela terletak pada proses pewarnaannya. Hingga kini, banyak penenun masih menggunakan pewarna alami yang bersumber dari tumbuh-tumbuhan di sekitar mereka.
Kulit kayu makasar, bakau atau mangrove, serta kulit kayu mengkudu digunakan untuk menghasilkan warna coklat, biru, dan hitam. Dedaunan seperti daun ketapang, putri malu, serta bunga terompet dimanfaatkan untuk mendapatkan warna hijau, kuning, dan merah.
Proses pewarnaan alami ini membutuhkan waktu dan ketelatenan lebih dibandingkan pewarna sintetis. Namun, hasilnya menghasilkan warna yang lembut, tahan lama, dan memiliki karakter khas.

Setiap warna bukan hanya persoalan estetika, melainkan juga representasi hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Selain warna, motif menjadi identitas kuat tenun Pringgasela. Ragam motif tradisional yang diwariskan oleh leluhur masih dipertahankan hingga kini.
Di saat yang sama, penenun juga mengembangkan motif-motif baru sebagai hasil kreativitas dan adaptasi terhadap selera pasar. Motif-motif ini sering kali merupakan pengembangan dari pola tradisi, sehingga tetap memiliki keterhubungan dengan akar budaya Sasak.
Tenun Sakral dan Keyakinan Lokal
Di balik geliat produksi dan komersialisasi, ada batas yang dijaga dengan ketat oleh masyarakat Pringgasela. Tidak semua motif boleh ditiru dan diperjualbelikan.
Sebagian motif atau reragian, istilah Sasak untuk motif tenun, dianggap sakral. Motif-motif ini dibuat khusus untuk diwariskan kepada anak cucu dan tidak boleh dikomersialkan.
Masyarakat Pringgasela masih meyakini bahwa tenun gedogan warisan memiliki kekuatan gaib. Tenun yang telah diwariskan tidak boleh dibuang atau diperjualbelikan.
Pelanggaran terhadap pantangan ini dipercaya dapat mendatangkan bala atau musibah. Keyakinan ini menjadi mekanisme kultural yang menjaga keberlanjutan nilai-nilai lama di tengah arus modernisasi.
Tenun sakral tidak hanya berfungsi sebagai busana adat dalam ritual-ritual tertentu, tetapi juga digunakan sebagai sarana pengobatan tradisional. Hingga kini, sebagian masyarakat masih percaya bahwa kain warisan mampu menyembuhkan penyakit tertentu.
Kepercayaan ini menunjukkan bahwa tenun ditempatkan sebagai medium yang menghubungkan manusia dengan kekuatan yang lebih besar: alam, leluhur, dan Yang Ilahi.
Sedikitnya terdapat 12 jenis motif tenun yang hingga hari ini masih disimpan oleh keluarga-keluarga tertentu di Pringgasela dan diperkirakan berusia ratusan tahun. Motif-motif inilah yang dilindungi secara adat dan tidak boleh direproduksi untuk kepentingan komersial.
Pringgasela hari ini berdiri di persimpangan. Di satu sisi, tenun telah menjadi sumber penghidupan yang menjanjikan dan membuka ruang dialog dengan dunia luar. Di sisi lain, nilai-nilai sakral dan tradisi lama terus diuji oleh kebutuhan ekonomi dan perubahan sosial.
Namun, selama alat tenun gedogan masih berdiri di rumah-rumah warga, selama anak-anak masih tumbuh dengan bunyi kayu dan benang sebagai bagian dari ingatan masa kecilnya, tradisi itu belum benar-benar putus.
Di lereng Rinjani, masyarakat Pringgasela terus menenun—bukan hanya kain, tetapi juga harapan agar warisan leluhur tetap hidup, berdaya, dan bermakna di tengah zaman yang terus berubah. (aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan































