Oleh: Prof. Ir. Dahlanuddin, M.Rur.Sc., Ph.D
CERAKEN.ID — Sapi potong sampai saat ini masih menjadi unggulan peternakan rakyat di NTB. NTB selalu surplus daging sapi sehingga dalam beberapa tahun terakhir NTB dapat mengirimkan lebih dari 50 ribu ekor sapi potong setiap tahun ke provinsi lain.
Sejalan dengan semakin meningkatnya kebutuhan daging nasional, kapasitas NTB sebagai penghasil sapi potong nasional nasional harus dilakukan.
Dalam kurun waktu 1969 – 2024, populasi sapi NTB terus naik sehingga mencapai populasi sekitar 1,3 juta ekor pada tahun 2024. Sejak tahun 2009, ppopulasi sapi di Pulau Sumbawa lebih tinggi dari populasi di Pulau Lombok dan pada tahun 2024, sekitar 65% sapi potong berada di Pulau Sumbawa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pertumbuhan populasi sapi di NTB perlu ditingkatkan karena dalam 5 tahun terakhir hanya rata rata 0,56% per tahun (Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB, 2025), jauh dibawah pertumbuhan populasi sapi potong nasional tahun 2025 sebesar 2,12% (BPS, 2026).

Upaya peningkatan laju pertumbuhan populasi sapi lebih difokuskan di Pulau Sumbawa karena didukung oleh ketersediaan lahan, sehingga pemelihaaan sapi lebih banyak dilakukan secara ekstensif. Pembiakan sapi dengan cara digembalakan jauh lebih efisien dan menguntungkan dibandingkan dengan pembiakan dengan cara dikandangkan.
Keinginan agar NTB tidak mengrim sapi hidup ke luar daerah sampai saat ini belum dapat dilaksanakan. Penyebab utamanya adalah tingginya harga sapi lokal sehingga usaha pemotongan sapi skala besar untuk suplai daging sapi beku ke luar daerah tidak layak secara bisnis.
Prioritas jangka pendek difokuskan pada peningkatan efektivitas dan efisiensi penjualan sapi kurban ke luar daerah (terutama Jabodetabek). Pada tahun 2025, Pemprov NTB berhasil memperlancar pengiriman sapi kurban ke luar daerah dengan berbagai upaya, diantaranya mempercepat pelayanan pemeriksaan kesehatan hewan dengan melakukan uji PCR di Mataram (sebelumnya harus dilakukan di Denpasar) dan meningkatkan koordinasi lintas sektor.
Untuk musim Idul Adha tahun 2026, Pemprov NTB telah mengajukan penambahan angkutan khusus kapal ternak (Camara Nusantara) sebanyak 1 unit dengan trayek Bima – Tanjung Priuk, dan penambahan angkutan laut kapal roro sebanyak 1 unit (kapasitas 50-70 truk) dengan trayek Bima – Tanjung Priuk atau Lembar – Tanjung Wangi/Pelabuhan Jangkar.
Penjualan sapi kurban ke luar daerah sangat sangat dirasakan manfaatnya oleh para peternak karena harga jual sapi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penjualan selain saat Idul Adha.
Prioritas jangka menengah adalah meningkatkan jumlah sapi kurban yang dikirim ke luar daerah. Kebutuhan sapi kurban nasional sangat tinggi (lebih dari 700 ribu ekor /tahun, sementara NTB baru bisa mensuplai sekitar 16 ribu ekor pada tahun 2025).
Untuk meningkatkan jumlah sapi potong (terutama sapi kurban) yang dikirim ke luar NTB, rantai pasok sapi potong di NTB akan diperkuat melalui peningkatkan efisiensi produksi (meningkatkan angka kelahiran, menurunkan angka kematian dan membercepat pertambahan berat badan).
Di sektor hulu, sumberdaya untuk menghasilkan pedet semakin terbatas seiring konversi dan degradasi lahan penggembalaan alam yang pesat. Di sektor penggemukan, keterbatasan pakan sumber protein sudah lama menjadi kendala sehingga penggemukan di Pulau Sumbawa tidak banyak diminati.
Revitalisasi padang penggembalaan alam di Pulau Sumbawa dan peningkatan produksi pakan sumber protein untuk penguatan program penggemukan sapi baik di Pulau Sumbawa Pulau Lombok sangat perlu dilakukan.
Prioritas jangka panjang adalah NTB menjadi penghasil daging sapi lokal premium yang dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi. Program ini perlu diawali dengan branding daging asal NTB sebagai daging sapi lokal premium yang halal, sehat dan berkualitas tinggi.
Penyiapan ekosistim bisnis akan segera dilakukan, mulai dari peningkatan mutu bakalan, mempercepat pertumbuhan sapi penggemukan, perbaikan cara pemotongan dan penerapan perlakuan paska pemotongan untuk menghasilkan daging sapi lokal premium.
Teknologi dan inovasi untuk menghasilkan daging sapi lokal premium dan RPH modern telah tersedia.
Yang sedang diupayakan adalah peningkatan akses pasar daging sapi lokal premium seperti penjualan ke hotel berbintang, restauran/steakhouse dan rumah tangga kelas menegah ke atas baik di dalam maupun di luar NTB.
Gubernur NTB bersama Bupati Sumbawa berhasil menyakinkan Kementerian Pertanian Republik Indonesia untuk menjadikan NTB sebagai satu dari 6 provinsi di Indonesia yang menjadi lokasi ground breaking tahap pertama hilirisasi unggas terintegrasi di BPT HPT Serading Kabupaten Sumbawa tanggal 6 Pebruari 2026.
Program dengan investasi Danantara sekitar Rp. 1,3 trilyun ini akan terdiri dari pembangunan pabrik pakan, breeding parent stock (PS) layer dan broiler, produksi pullet, rumah potong unggas (RPU) dan pengolahan hasil unggas. Program ini diutamakan untuk memenuhi kebutuhan ayam dan telur untuk program makan bergizi gratis (MBG) yang terus meningkat.
Melalui produksi pakan dan DOC di dalam wilayah NTB, program ini diharapkan dapat menurunkan biaya produksi dan meningkatkan keuntungan peternak. Program ini juga disertai dengan dukungan permodalan melalui skema pinjaman bank dengan bunga hanya 3%.
Pemprov NTB mendukung penuh program hilirisasi ayam terintegrasi ini karena diharapkan akan membuka banyak lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan.
Program Desa Berdaya, terutama Desa Berdaya Tematik memberikan peluang yang sangat besar untuk pengembangan berbagai jenis ternak sesuai dengan potensi desa masing masing.
Usaha Peternakan melalui Desa Berdaya didampingi secara intensif oleh Pendamping Desa yang sudah terlatih dan dementor secara berkala.
Untuk mendukung program pengembangan peternakan melalui Desa Berdaya, Pemprov NTB bertindak sebagai orkestrator berbagai mitra pembangunan baik dari dalam dan luar negeri yang memiliki program pengembangan peternakan di NTB.**
Penulis : aks
Editor : ceraken editor


































