Road Art Painting (2) Di Sungai Sesaot

Senin, 17 November 2025 - 16:55 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Catatan Agus K Saputra

CERAKEN.ID- Para alumni Pameran Lukis “Mengurai Kebekuan” kembali menggelar kegiatan kreatif bertajuk Road Art Painting (2) pada Kamis, 13 November 2025, menjadikan kawasan wisata Sungai Sesaot sebagai ruang berkumpul, berekspresi, dan merayakan energi seni yang terus berdenyut.

Jika edisi pertama pada 29 September 2025 berlangsung di Pantai Batu Bolong dan dilepas oleh Kepala Taman Budaya NTB, Lalu Surya Mulawarman, maka pertemuan kedua ini menghadirkan suasana yang jauh lebih rimbun, sejuk, dan intim: tegakan pohon tua, gemericik sungai, dan desir angin yang mengusap permukaan air.

Dek Mahendra sebagai pengundang dan dikoordinasikan oleh Esti Ebhi Evolisa, kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang melukis bersama, tetapi juga momentum memperkuat jejaring kreatif perupa NTB. Di sela-sela proses membuat sketsa, mencampur warna, dan menyiapkan kanvas, terselip percakapan hangat, tawa, diskusi ide, hingga rencana besar untuk masa depan seni rupa Lombok.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menjejak Sesaot: Ruang Alam, Ruang Inspirasi

Pagi itu, rombongan seniman tiba di kawasan Berugaq Ellen Sesaot, sebuah lokasi wisata alam yang dikenal dengan aliran sungainya yang jernih dan tekstur bebatuan yang khas. Di tempat ini, suara alam seolah menjadi latar musik yang sempurna untuk memulai kerja kreatif: gemericik air yang stabil, kicau burung hutan, dan hembusan angin yang membawa aroma dedaunan basah.

Dalam konteks seni rupa NTB, Sesaot bukan sekadar objek alam. Ia adalah ruang budaya, tempat seniman mencari denyut inspirasi di balik hiruk pikuk urban.

Zaen Sasaklombok, salah satu peserta, menggambarkannya secara filosofis dalam catatan yang ia unggah di media sosial. Baginya, Sesaot adalah “teks hidup”, lanskap yang dapat dibaca dan ditafsirkan, menyimpan lapisan-lapisan makna yang muncul dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya.

“Air di Sesaot bukan hanya unsur fisik, melainkan simbol kontinuitas, pembersihan, dan ingatan kolektif masyarakat Lombok,” tulis Zaen.

Ia memandang mata air Sesaot sebagai simbol kemurnian dan asal-usul, sebuah ruang untuk kembali pada jati diri. Setiap aliran yang mengalir melewati bebatuan menyajikan ritme yang identik dengan proses kreatif: mengalir, mencari bentuk, kadang tenang, kadang menghantam, namun selalu menuju keseimbangan baru.

Bagi para seniman, lanskap seperti ini bukan hanya memantik inspirasi visual, tetapi juga ketenangan batin, sebuah kondisi yang sangat diperlukan dalam proses berkarya.

Road Art Painting (2) memang sederhana, namun percakapan di dalamnya sering kali berujung pada gagasan besar. Dek Mahendra, pengundang kegiatan, menjelaskan bahwa pertemuan ini merupakan lanjutan dari gelaran sebelumnya di Batu Bolong.

“Lanjutan dari sebelumnya, maka kegiatan road art painting (2) kebetulan saya mengundang teman-teman untuk bersama-sama berkarya di Sesaot. Tempat wisata Berugaq Ellen Sesaot.”

“Keluarga yang punya, bukan saya hahaha,” tambahnya sambil tertawa.

Baca Juga :  Kebudayaan NTB di Masa Jeda: Antara Akar Rumput yang Menggeliat dan Roadmap Panjang Menuju Indonesia Emas

Namun di balik nada santainya, Mahendra menyimpan rencana serius terkait penguatan ekosistem seni rupa lokal. Ia mengusulkan penyelenggaraan pameran tetap di Taman Budaya NTB, memanfaatkan ruang galeri yang ada.

“Rencana mau adakan pameran tetap di Taman Budaya selama gallery tidak digunakan. Kalau digunakan, maka untuk sementara materi pameran diturunkan sampai selesai digunakan dan setelah itu dipasang lagi,” tegasnya.

Gagasan ini mendapat sambutan baik dari para perupa lain. Sebuah pameran tetap akan menjadi ruang edukasi publik dan sekaligus showcase berkala bagi perkembangan seni rupa NTB. Walaupun terdengar sederhana, upaya seperti ini bila diwujudkan secara konsisten dapat mengubah lanskap apresiasi seni di daerah.

Koordinator kegiatan, Esti Ebhi Evolisa, mencatat bahwa sejumlah perupa terlibat dalam sesi Road Art Painting edisi kedua ini:

  • Soewito Moekarni
  • Gusti Lanang Putra
  • Tonie Moersadjid
  • Lalu Syaukani
  • I Nengah Kisid
  • Bagus Lingsharta
  • Dek Mahendra
  • Zaen Sasaklombok
  • Sukti
  • Agus Setiadi
  • Misre

Kehadiran beragam generasi seniman, mulai dari perupa mapan hingga talenta muda, membuat suasana kegiatan menjadi dinamis. Ada yang datang hanya membawa sketchbook, ada yang menenteng kanvas besar, dan ada yang datang dengan santai sambil membawa kamera untuk mendokumentasikan proses.

Menurut Esti, tujuan utama kegiatan ini sederhana: menghidupkan kembali aura seni rupa Lombok setelah periode “kebekuan” yang pernah terasa di komunitas.

“Ya harapannya kegiatan ini akan berlanjut, biar aura seni rupa di Lombok lebih terasa. Jadi kebekuan itu sudah mencair,” ujar Esti.

Ia menyadari bahwa banyak perupa yang bekerja secara individual dan jarang memiliki ruang bersama. Melalui kegiatan seperti ini, Esti berharap hubungan antar-seniman dapat terjalin lebih erat dan kerja-kerja kolaboratif dapat muncul dengan sendirinya.

Melukis di Alam Terbuka: Proses, Percakapan, dan Energi Kolektif

Di antara pepohonan, para perupa memulai proses kreatif masing-masing. Ada yang memilih duduk dekat sungai, menunggu momen cahaya tepat jatuh di permukaan air. Ada yang fokus pada tekstur batu-batu besar yang membelah arus.

Ada pula yang mencoba menangkap atmosfir keseluruhan: suasana teduh, suara alam, dan keramaian kecil komunitas.

Road art painting bukan hanya tentang menghasilkan karya pada hari itu, tetapi bagaimana proses yang terbuka memungkinkan seniman saling mengamati teknik, berdiskusi, bahkan saling mengoreksi dengan santai. Energi semacam ini jarang muncul di studio tertutup.

Di tengah proses melukis, terdengar percakapan ringan tentang:

  • teknik kuas tertentu,
  • bagaimana menangkap gerak air,
  • komposisi warna alami hutan,
  • isu seni rupa di NTB,
  • bahkan perbandingan cat akrilik yang paling “ngirit.”

Tawa sesekali pecah, menandai bahwa kegiatan seni tidak selalu harus penuh ketegangan intelektual; ia juga ruang rekreasi jiwa.

Baca Juga :  Garis, Warna, dan Kehidupan: Membaca Seni Tenun dan Lukis bersama I Nyoman Sandiya

Setelah berjam-jam berkutat dengan kanvas dan palet, kegiatan dilanjutkan dengan makan sate bulayak, kuliner khas Lombok Barat yang menjadi hidangan favorit. Diikuti sesi karaokean yang mencairkan suasana, para seniman tidak ragu mengeluarkan suara terbaik (atau terburuknya), menciptakan gelak tawa sambil melepas penat.

Tidak berhenti di situ, acara kemudian berlanjut dengan diskusi ringan tentang perkembangan seni rupa di Lombok, peluang pameran, strategi publikasi, hingga mimpi-mimpi jangka panjang.

Pada titik inilah jelas terlihat bahwa kegiatan seperti Road Art Painting tidak sekadar “jalan-jalan sambil melukis.” Ia adalah ruang pertemuan, ruang pemulihan, sekaligus ruang perencanaan masa depan.

Esti sempat memberikan bocoran bahwa Road Art Painting akan berlanjut.

“Insya Allah akan ada lagi yang ke 3, tunggu tanggal mainnya, dan rencana saya ajak agak jauh lagi sembari naik odong-odong,” ujarnya sambil tersenyum.

Gagasannya bukan hanya soal lokasi yang lebih jauh atau metode perjalanan yang unik, tetapi juga menunjukkan bahwa energi seni di Lombok sedang bergerak, mengalir, dan berkembang. Sama seperti Sesaot, komunitas seni rupa NTB sedang berada dalam fase mengalir menemukan bentuknya sendiri.

Jika pameran “Mengurai Kebekuan” menjadi titik awal mereka berkumpul kembali, maka Road Art Painting adalah wujud nyata dari kebekuan yang benar-benar mencair. Para seniman hadir bukan karena undangan formal atau kewajiban institusi, tetapi karena kebutuhan batin untuk:

  • bertemu,
  • berkarya,
  • tertawa bersama,
  • dan merayakan kehidupan.

Di tengah tekanan hidup modern yang serba cepat, kegiatan semacam ini, di sungai, di hutan, di tepi Pantai, menghadirkan ruang kontemplasi yang jarang dimiliki para seniman. Sesaot menjadi panggung alam yang menyatukan mereka, menawarkan bukan hanya lanskap untuk dilukis, tetapi juga ruang untuk menemukan kembali diri sebagai pencipta.

Sungai, Seniman, dan Masa Depan Seni Rupa NTB

Kegiatan Road Art Painting (2) di Sungai Sesaot menegaskan bahwa seni rupa NTB jauh dari kata sepi. Ia hidup melalui pertemuan informal, gagasan-gagasan spontan, kerja kolektif, dan semangat berbagi. Para perupa ini tidak menunggu program resmi atau proyek besar; mereka bergerak dengan modal kebersamaan dan cinta pada proses berkarya.

Seperti air Sesaot yang terus mengalir, komunitas seni rupa Lombok pun bergerak menuju bentuk baru, lebih cair, lebih terbuka, dan lebih guyub.

Dan jika benar Road Art Painting (3) akan digelar dengan perjalanan menggunakan odong-odong, maka satu hal pasti: seni rupa Lombok selalu menemukan cara unik untuk merayakan hidup.

#Akuair-Ampenan, 17-11-2025

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penulis : Agus K Saputra

Editor : Ceraken Editor

Berita Terkait

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil
Putri Mandalika: Tafsir Baru Legenda Bau Nyale dalam Perspektif Spiritualitas Sasak
Tapak Dara dalam Lanskap: Ketika Warna, Alam, dan Simbol Bertemu di Kanvas Dek Mahendra
Jejak Sakral di Balik Benang: Tenun Lombok dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak
Pringgasela: Menenun Hidup di Lereng Rinjani
Tenun Sembalun Lawang: Warisan Sunyi di Kaki Rinjani
Sinergi NTB–Jerman untuk Pariwisata, Perhotelan, dan Pendidikan: Jalan Kolaboratif Menuju Pembangunan Kawasan Nusa Tenggara
Batujai: Menenun Tradisi di Persimpangan Zaman

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 23:01 WITA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Februari 2026 - 07:08 WITA

Putri Mandalika: Tafsir Baru Legenda Bau Nyale dalam Perspektif Spiritualitas Sasak

Jumat, 6 Februari 2026 - 08:42 WITA

Tapak Dara dalam Lanskap: Ketika Warna, Alam, dan Simbol Bertemu di Kanvas Dek Mahendra

Rabu, 4 Februari 2026 - 11:35 WITA

Jejak Sakral di Balik Benang: Tenun Lombok dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak

Selasa, 3 Februari 2026 - 11:04 WITA

Pringgasela: Menenun Hidup di Lereng Rinjani

Berita Terbaru

Mr. Red (kiri), Kim Dong Pil (tengah), Lalu Syaukani (kanan), Karya tersebut merupakan hasil pembacaan visual Kim terhadap lanskap persawahan Tetebatu yang ia rekam pada Mei 2025 (Foto: aks)

BUDAYA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Feb 2026 - 23:01 WITA

Dari hobi suka mengoleksi kompor portable dan senter, tersirat bahwa ia tak membanggakan benda-benda itu. (Foto: ist)

TOKOH & INSPIRASI

Di Balik Hobi Unik Andi Irawan: Berburu Kompor Portable dan Senter Koleksi

Sabtu, 7 Feb 2026 - 19:35 WITA