Sukarare: Menenun Identitas di Jantung Pariwisata Lombok

Minggu, 1 Februari 2026 - 15:15 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Subhanale Sumbawa merupakan pengambilan unsur motif dari luar Lombok yaitu kain tenun Sumbawa (Foto: Pikong)

Subhanale Sumbawa merupakan pengambilan unsur motif dari luar Lombok yaitu kain tenun Sumbawa (Foto: Pikong)

CERAKEN.ID– Desa Sukarare, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, sejak lama dikenal sebagai ikon tenun Pulau Lombok.

Dalam Katalog Tenun Tradisional Lombok (Desember 2017, hlm. 32–47), Fitri Rachmawati dan kawan-kawan menyebut Sukarare sebagai desa yang lebih populer dengan sebutan Desa Sentra Kain Tenun Lombok.

Popularitas itu bukan sekadar label, melainkan hasil dari proses sejarah, kebudayaan, dan kerja kolektif masyarakat khususnya Perempuan yang menjadikan menenun sebagai denyut utama kehidupan desa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014, jumlah penduduk Desa Sukarare mencapai sekitar sembilan ribu jiwa, dengan komposisi lebih dari separuhnya adalah perempuan. Di desa ini, keterampilan menenun nyaris menjadi “syarat tak tertulis” bagi perempuan.

Sejak usia remaja, bahkan sebelum memasuki masa dewasa, anak-anak perempuan Sukarare telah diperkenalkan pada alat tenun, benang, dan motif. Mereka tersebar di sepuluh dusun yang membentang sepanjang wilayah desa, membentuk jejaring produksi tenun yang hidup dan berkelanjutan.

Tak ada catatan pasti yang menyebutkan sejak kapan aktivitas menenun bermula di Sukarare. Namun satu hal yang tak terbantahkan: menenun telah menjadi kebudayaan perempuan Sukarare, diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Dalam struktur sosial desa, menenun menempati posisi kedua setelah pertanian sebagai aktivitas utama masyarakat. Ia bukan sekadar keterampilan ekonomi, melainkan praktik budaya yang membentuk identitas dan peran perempuan dalam komunitas.

Yang menarik, penenun Sukarare tidak terbatas pada perempuan usia produktif. Anak-anak perempuan yang masih belia hingga perempuan lanjut usia turut ambil bagian dalam aktivitas menenun.

Di teras rumah, di berugak, atau di ruang-ruang domestik lainnya, alat tenun gedogan berdiri berdampingan dengan kehidupan sehari-hari. Menenun menjadi kegiatan lintas usia, lintas generasi, sekaligus medium pewarisan nilai-nilai kesabaran, ketekunan, dan ketahanan hidup.

Pada mulanya, kain songket yang ditenun di Sukarare ditujukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan masyarakat setempat.

Kain tenun menjadi sandang penting dalam berbagai prosesi adat masyarakat Sasak, seperti nyongkolan, sorong serah, dan upacara-upacara ritual lainnya. Produksi tenun bersifat lokal, dengan orientasi pada fungsi sosial dan simbolik, bukan semata nilai jual.

Namun, lanskap itu mulai berubah seiring waktu. Perkembangan sektor pariwisata di Lombok membawa dampak signifikan terhadap usaha kerajinan tenun Sukarare.

Matahari Enggok merupakan penciptaan motif baru dengan
un juga melakukan menggabungan unsur dari beberapa motif lama ke dalam satu tenunan, misalnya, motif Matahari dipadukan dengan motif Enggok (Foto: Pikong)

Permintaan terhadap kain songket meningkat, bukan hanya dari masyarakat lokal, tetapi juga dari wisatawan domestik dan mancanegara. Tenun Sukarare perlahan beralih dari produk kultural lokal menjadi komoditas ekonomi kreatif.

Baca Juga :  TAG NTB: Mesin Percepatan di Balik Kerja Pembangunan Daerah

Perubahan ini semakin dipercepat oleh pemindahan bandara lama Rembige–Mataram ke Bandara Internasional Lombok (BIL) yang berlokasi di Lombok Tengah. Aksesibilitas yang semakin mudah menjadikan Sukarare sebagai salah satu destinasi wisata unggulan.

Desa ini kerap masuk dalam paket wisata budaya, dikunjungi oleh wisatawan yang ingin melihat langsung proses menenun sekaligus membeli kain tenun khas Lombok.

Situasi tersebut menempatkan penenun Sukarare pada posisi strategis sekaligus dilematis. Di satu sisi, peluang ekonomi terbuka lebar. Di sisi lain, tuntutan pasar memaksa mereka untuk beradaptasi. Salah satu bentuk adaptasi paling nyata terlihat pada pengembangan motif.

Merawat Motif, Menyapa Pasar

Motif-motif pendahulu atau motif awal tenun Lombok, seperti Subhanale, Kembang Komak, Tapo Kemalo, Ragi Genap, Seret Penginang, Keker, dan lainnya, masih diproduksi dan terpelihara dengan baik di Sukarare. Motif-motif ini merupakan fondasi estetik dan simbolik tenun Lombok, yang sarat makna filosofis dan kultural.

Namun, realitas pasar menunjukkan bahwa motif-motif klasik tersebut kurang diminati oleh wisatawan luar Lombok. Untuk menjawab tantangan itu, para penenun Sukarare melakukan berbagai inovasi tanpa sepenuhnya meninggalkan akar tradisi.

Mereka menciptakan motif-motif baru yang lebih “kekinian” dan sesuai selera pasar, seperti motif Kabut, Kristal, Nanas, dan ragam motif kontemporer lainnya.

Selain menciptakan motif baru, penenun juga melakukan penggabungan unsur dari beberapa motif lama ke dalam satu tenunan. Misalnya, motif Matahari dipadukan dengan motif Enggok menjadi Matahari Enggok; motif Subhanale dipadukan dengan motif Lepang menjadi Subhanale Lepang; motif Kupu-Kupu digabung dengan motif Enggok menjadi Kupu-Kupu Enggok, dan seterusnya.

Penggabungan ini tidak hanya memperkaya visual kain, tetapi juga menunjukkan kreativitas penenun dalam mengolah tradisi.

Adaptasi lain yang tak kalah menarik adalah pengambilan unsur motif dari luar Lombok. Motif Subhanale, misalnya, dipadukan dengan unsur kain tenun Sumbawa menjadi Subhanale Sumbawa, atau dikombinasikan dengan motif Rang-Rang dari Bali menjadi Subhanale Rang-Rang.

Praktik ini menunjukkan keterbukaan penenun Sukarare terhadap dialog lintas budaya, sekaligus kemampuan teknis mereka dalam menerjemahkan motif-motif luar ke dalam struktur tenun Lombok.

Mereka menciptakan motif-motif baru yang lebih “kekinian” dan sesuai selera pasar, seperti motif Nanas (Foto: Pikong)

Meski terkesan sangat berorientasi pada pasar, para penenun Sukarare tidak memandang inovasi ini sebagai bentuk pengingkaran terhadap tradisi.

Sebaliknya, mereka menyadari bahwa adaptasi merupakan bagian dari strategi keberlanjutan. Tenun Lombok dapat bertahan dan berkembang justru karena kemampuannya menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Bahkan, sebuah kenyataan yang kerap mengejutkan banyak pihak adalah kemampuan penenun Sukarare untuk menenun hampir semua motif, baik motif khas Lombok maupun motif dari luar daerah. Kemampuan ini mencerminkan penguasaan teknik yang tinggi serta fleksibilitas kreatif yang luar biasa.

Baca Juga :  Membaca Data BPS NTB 2025: Pertumbuhan Tinggi, Tantangan Inklusivitas
Inovasi Material dan Bentuk

Upaya pengembangan tidak berhenti pada motif. Para penenun Sukarare juga melakukan penyesuaian pada aspek material dan produk. Warna benang pakan yang sebelumnya cenderung gelap atau tradisional, kini sesekali diganti dengan warna-warna cerah atau mengikuti tren, seperti putih tulang, coklat muda, pink, hijau toska, dan warna-warna lainnya.

Penggunaan bahan pun mengalami peningkatan kualitas. Pewarna alam mulai kembali digunakan, seiring meningkatnya kesadaran akan nilai ekologis dan estetika.

Benang-benang berkualitas tinggi, seperti benang marsis dan benang katun, dipilih untuk menghasilkan kain dengan mutu lebih baik dan nilai jual lebih tinggi.

Selain itu, kain tenun tidak lagi hadir hanya dalam bentuk lembaran kain atau sarung. Penenun dan pelaku usaha kreatif di Sukarare mengkreasikan tenun menjadi berbagai produk turunan, seperti tas, baju kemeja, rok, taplak meja, hiasan dinding, hingga aksesori interior.

Diversifikasi produk ini memperluas segmen pasar sekaligus memperpanjang usia pakai tenun dalam kehidupan sehari-hari.

Pilihan kualitas bahan pun disediakan secara beragam, sehingga konsumen memiliki alternatif sesuai dengan kebutuhan dan daya beli. Strategi ini membuat tenun Sukarare tetap inklusif, menjangkau berbagai lapisan pasar.

Jejaring Pemasaran yang Hidup

Dalam hal pemasaran, warga Sukarare memiliki banyak pilihan dan pola distribusi. Puluhan art shop dan toko-toko mini berdiri di sepanjang desa, menjajakan berbagai produk tenun.

Selain itu, terdapat pengepul yang membeli hasil tenun warga untuk dipasarkan lebih luas. Agen-agen toko oleh-oleh khas Lombok juga banyak mengambil barang dari Sukarare.

Tak sedikit pula penenun yang berinisiatif memasarkan produknya sendiri, baik secara langsung kepada wisatawan maupun melalui jejaring informal.

Dalam ekosistem ini, setiap penenun memiliki kebebasan untuk menentukan cara memasarkan produknya. Kebebasan tersebut menciptakan dinamika ekonomi yang hidup, meski sekaligus menuntut kecakapan dalam membaca pasar.

Pada akhirnya, Sukarare bukan hanya desa penghasil kain tenun. Ia adalah ruang di mana tradisi dan modernitas bernegosiasi, di mana perempuan menjadi aktor utama ekonomi dan kebudayaan, serta di mana sehelai kain menjadi saksi perjalanan sebuah komunitas menghadapi perubahan zaman.

Menenun di Sukarare adalah tentang merawat identitas sambil menatap masa depan—dengan benang tradisi yang terus dirajut dalam pola-pola baru. (aks)

Berita Terkait

Membaca Data BPS NTB 2025: Pertumbuhan Tinggi, Tantangan Inklusivitas
TAG NTB: Mesin Percepatan di Balik Kerja Pembangunan Daerah
Menakar Kedaulatan Pangan dari Kandang dan Kampus
Pengabdian yang Dihidupi: Kongso Sukoco, Teater, dan Etika Kesetiaan
Lalu Anis Mujahid Akbar Terima “Pinangan” Peserta Muswil, Siap Pimpin Dekopinwil NTB
Laporan Muswil Dekopinwil NTB 2025: LPJ Diterima Aklamasi, Sinergi dengan Pemerintah Jadi Penegas Arah Baru
Gubernur NTB Buka Muswil Dekopin 2025: “Akhirnya Dekopin Ada Juga”
Peran Strategis BUMN dan Perguruan Tinggi dalam Akselerasi Pariwisata Berkelanjutan di NTB

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 13:10 WITA

Membaca Data BPS NTB 2025: Pertumbuhan Tinggi, Tantangan Inklusivitas

Rabu, 4 Februari 2026 - 13:05 WITA

TAG NTB: Mesin Percepatan di Balik Kerja Pembangunan Daerah

Minggu, 1 Februari 2026 - 15:15 WITA

Sukarare: Menenun Identitas di Jantung Pariwisata Lombok

Jumat, 2 Januari 2026 - 15:15 WITA

Menakar Kedaulatan Pangan dari Kandang dan Kampus

Minggu, 14 Desember 2025 - 20:48 WITA

Pengabdian yang Dihidupi: Kongso Sukoco, Teater, dan Etika Kesetiaan

Berita Terbaru

Mr. Red (kiri), Kim Dong Pil (tengah), Lalu Syaukani (kanan), Karya tersebut merupakan hasil pembacaan visual Kim terhadap lanskap persawahan Tetebatu yang ia rekam pada Mei 2025 (Foto: aks)

BUDAYA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Feb 2026 - 23:01 WITA

Dari hobi suka mengoleksi kompor portable dan senter, tersirat bahwa ia tak membanggakan benda-benda itu. (Foto: ist)

TOKOH & INSPIRASI

Di Balik Hobi Unik Andi Irawan: Berburu Kompor Portable dan Senter Koleksi

Sabtu, 7 Feb 2026 - 19:35 WITA