CERAKEN.ID– Di Kabupaten Lombok Utara, kabupaten termuda di Pulau Lombok, sehelai kain bukan sekadar hasil keterampilan tangan. Ia adalah penanda identitas, medium spiritual, sekaligus pengetahuan kolektif yang diwariskan lintas generasi.
Berdasarkan catatan Fitri Rachmawati dalam Katalog Tenun Tradisional Lombok (Desember 2017, hlm. 99–106), sentra kerajinan tenun terbesar di wilayah ini berada di Desa Bayan, Kecamatan Bayan. Di sinilah tenun hidup berdampingan dengan ritus adat, struktur sosial, dan pandangan kosmologis masyarakatnya.
Bagi masyarakat Bayan, kain tenun bukan produk dekoratif yang berdiri sendiri. Ia hadir dalam keseharian, melekat dalam peristiwa penting hidup manusia dari kelahiran, kedewasaan, hingga kematian dan menjadi unsur utama dalam pelaksanaan berbagai ritual adat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Setiap helai kain mengandung aturan pakai, simbol warna, hingga pembatasan sosial yang tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai adat Bayan.
Enam Tenun Utama dalam Kehidupan Adat Bayan
Secara umum, terdapat enam jenis tenun utama yang membentuk struktur pakaian adat masyarakat Bayan, yakni Londong Abang, Rejasa, Poleng, Lipak, Jong, dan Sapuk. Keenamnya digunakan baik dalam pakaian keseharian maupun upacara adat, dengan fungsi, pemakai, serta makna simbolik yang berbeda-beda.
Keberadaan keenam jenis tenun ini menegaskan bahwa pakaian adat Bayan bukanlah satu kesatuan yang seragam, melainkan sistem berpakaian yang tersusun dari beberapa elemen, masing-masing memiliki peran sosial dan kultural yang spesifik.
Di luar enam jenis utama tersebut, masyarakat Bayan juga mengenal tenun-tenun sakral yang proses pembuatannya harus melalui ritual tertentu dan tidak diperjualbelikan.
Di antaranya Umbak Kombong, Bongot Kagunan, dan Kereng Bebo. Tenun ini hanya digunakan dalam konteks adat yang sakral, menegaskan batas tegas antara ruang budaya dan ruang ekonomi.
Bongot Kagunan, misalnya, diperuntukkan bagi para kiyai adat saat prosesi pengangkatan Pengemban Adat Bayan. Kereng Bebo digunakan sebagai dekorasi langit-langit Makam Reak saat Gawe Alip dan langit-langit masjid kuno ketika Gawe Lohor.
Sementara Umbak Kombong adalah kain khusus yang digunakan dalam prosesi ngurisang menurut tradisi masyarakat Bayan. Keterbatasan penggunaan ini memperlihatkan bahwa tidak semua kain ditujukan untuk konsumsi publik; sebagian dijaga eksklusivitasnya demi menjaga kesakralan adat.
Tenun Bayan juga berbicara melalui warna. Setiap warna memiliki makna yang disepakati secara kolektif dan diwariskan turun-temurun. Hitam dimaknai sebagai kekuatan, warna bumi dan tanah tempat manusia berpijak.
Merah melambangkan keberanian atau darah, simbol vitalitas hidup. Putih berarti suci, merepresentasikan hubungan manusia dengan Tuhan dan dimensi keagamaan.
Kuning melambangkan warna padi sebagai simbol kemakmuran, sementara hijau merepresentasikan daun dan kelestarian alam. Biru, warna air dan langit, dimaknai sebagai ketenangan dan ketentraman—tujuan utama dalam kehidupan bermasyarakat.
Kombinasi warna-warna ini bukan sekadar estetika visual, tetapi juga refleksi pandangan hidup masyarakat Bayan yang menempatkan keseimbangan alam, spiritualitas, dan sosial sebagai satu kesatuan.
Pakaian adat Bayan memiliki tata cara penggunaan yang ketat. Bagi kaum perempuan, Jong digunakan sebagai penutup kepala, Poleng sebagai sarung, dan Lipak sebagai kemben atau penutup dada.
Sementara bagi kaum laki-laki, Londong Abang dikenakan sebagai kain bawahan, Rejasa sebagai pengikat pinggang yang menguatkan londong, dan Sapuk sebagai penutup kepala.

Aturan berpakaian ini tidak semata-mata soal kesopanan atau tradisi, tetapi juga menegaskan peran gender, status sosial, dan konteks ritual di mana pakaian tersebut digunakan.
Kesalahan dalam penggunaan kain adat bisa dipandang sebagai pelanggaran terhadap tatanan adat yang telah lama dijaga.
Jajak, Belida, dan Pengetahuan Teknis yang Kian Langka
Proses menenun di Bayan menggunakan alat tradisional yang disebut Jajak. Jajak terdiri dari lima bagian kayu: dua mengarah ke depan, dua ke atas, dan satu palang sebagai tempat benang dililitkan.
Alat ini menjadi pusat aktivitas menenun, menghubungkan tubuh penenun dengan struktur kain yang sedang dikerjakan.
Di antara seluruh alat tenun, Belida merupakan yang paling sulit ditemukan. Belida digunakan untuk menghentak susunan benang agar rapat dan kuat. Alat ini terbuat dari galih bagek, bagian inti pohon asam, yang kini semakin langka.
Selain itu, terdapat juga suri, susunan bambu menyerupai sisir, yang berfungsi memisahkan helai-helai benang. Kelangkaan alat-alat ini menjadi tantangan tersendiri bagi keberlanjutan praktik menenun secara tradisional.
Meski menghadapi tantangan modernisasi, tradisi menenun di Bayan, khususnya Bayan Belek, masih cukup eksis. Di wilayah ini terdapat kelompok-kelompok penenun seperti Jajak Bayan dan Petung Bayan yang aktif memproduksi tenun khas Bayan.
Regenerasi pengetahuan dilakukan secara sadar. Perempuan-perempuan ahli menenun mengajarkan keterampilan ini kepada anak-anak, termasuk melalui kegiatan di SD Negeri 2 Bayan Belek.
Pada hari libur, anak-anak usia sekolah juga menghabiskan waktu belajar menenun di sentra-sentra tenun. Proses ini memperlihatkan bahwa pendidikan adat berjalan berdampingan dengan pendidikan formal, saling melengkapi dalam membentuk identitas generasi muda Bayan.
Londong Abang: Kain Kepemimpinan
Dalam bahasa Indonesia, Londong Abang berarti kain merah. Kain ini dikenakan kaum laki-laki sebagai penutup bawahan.
Motif kotak-kotak berwarna merah hati mengandung makna keberanian dan kebijaksanaan. Dalam pandangan masyarakat Bayan, laki-laki sebagai pemimpin setidaknya harus memiliki dua sifat tersebut.
Londong kadang juga dikenakan oleh perempuan, namun perbedaannya terletak pada keberadaan rambu atau hiasan benang di ujung kain yang khusus terdapat pada Londong laki-laki.
Dahulu, Londong dibuat dari benang matak hasil kapas yang ditanam sendiri dan diwarnai dengan pewarna alami. Kini, seiring perkembangan zaman, benang pabrikan mulai digunakan tanpa sepenuhnya menghilangkan makna simboliknya.
Rejasa: Penanda Bangsawan dan Kewibawaan
Rejasa adalah penutup bahu, lengan, dan tangan yang dikenakan laki-laki dalam acara ritual adat. Penggunaan Rejasa menandakan bahwa pemakainya merupakan keturunan bangsawan.

Pada acara besar seperti gawe belek, Rejasa dikenakan saat prosesi ngalu aik atau ketika berada di Berugak Agung.
Dalam penggunaan sehari-hari, Rejasa juga berfungsi sebagai pengikat londong di pinggang. Motif garis putih dan merah tua dengan dominasi warna hitam melambangkan kewibawaan dan otoritas seorang laki-laki.
Poleng dan Lipak: Estetika dan Kelembutan Perempuan
Poleng adalah kain bermotif warna-warni yang dikenakan perempuan saat ritual adat. Warna-warna tersebut melambangkan keindahan perempuan, dianalogikan seperti bunga-bunga di taman.
Selain digunakan dalam konteks adat, Poleng juga diproduksi untuk dijual sebagai cendera mata bagi wisatawan.
Lipak berfungsi sebagai kemben penutup dada. Motifnya diproses dengan sulaman khas di bagian tengah kain, dikombinasikan dengan motif pucuk rembong di tepinya.
Lipak merepresentasikan kelembutan dan keindahan perempuan Bayan, sekaligus menjaga kesopanan dalam tata busana adat.
Jong: Tenun Paling Sakral
Jong adalah penutup kepala perempuan Bayan. Dalam konteks tertentu, Jong juga disebut Usap, misalnya saat digunakan untuk menutup sekapur sirih atau kepala jenazah.
Motif warna-warni berbentuk ketupat melambangkan keindahan dan kebijaksanaan perempuan.
Jong merupakan tenun dengan proses pembuatan paling lama dan tidak bisa ditenun sembarang orang. Hanya keturunan tertentu dari tokoh penenun Jong yang berhak membuatnya.
Sebelum proses menenun dimulai, harus disiapkan 244 kepeng susuk atau kepeng bolong sebagai syarat ritual.
Sapuk: Ikatan Kepala dan Ketakwaan
Sapuk adalah ikat kepala bagi laki-laki Bayan, digunakan baik dalam keseharian maupun ritual adat. Cara pemakaian dengan ujung segitiga mengarah ke atas melambangkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Ikatan di bagian depan yang ditegakkan menunjukkan alip, simbol keesaan Tuhan.
Warna Sapuk juga menunjukkan status pemakainya: hitam untuk tokoh adat atau tuak lokak, merah untuk lang-lang atau pasukan pengawal, dan putih untuk para kiyai adat. Putih melambangkan kesucian, merah keberanian, dan hitam kewibawaan.
Di Bayan, tenun tidak berhenti sebagai artefak budaya. Ia adalah teks hidup yang dibaca, dikenakan, dan dimaknai setiap hari.
Di tengah arus modernisasi dan komodifikasi budaya, masyarakat Bayan masih menjaga tenun sebagai identitas, pengetahuan, dan jalan spiritual.
Selama alat Jajak masih dirangkai, benang masih disusun, dan anak-anak masih belajar menenun di hari libur, kisah tenun Bayan akan terus berlanjut menyatu dengan denyut hidup masyarakatnya. (aks)































