Beriuk Betukah: Ketika Barang Lama Menemukan Makna Baru untuk Pendidikan Anak Lombok

Minggu, 15 Februari 2026 - 23:40 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Baiq Ratu Nurwahidah Vazira. Beriuk Betukah menjadi ruang perjumpaan nilai sosial, kepedulian lingkungan, dan semangat gotong royong yang hidup kembali melalui gerakan komunitas (Foto: aks/ceraken.id)

Baiq Ratu Nurwahidah Vazira. Beriuk Betukah menjadi ruang perjumpaan nilai sosial, kepedulian lingkungan, dan semangat gotong royong yang hidup kembali melalui gerakan komunitas (Foto: aks/ceraken.id)

CERAKEN.ID — Di tengah arus konsumsi yang kian cepat dan gaya hidup serba instan, persoalan limbah barang layak pakai dan ketimpangan akses pendidikan masih menjadi dua realitas yang berjalan berdampingan di banyak daerah, termasuk di Lombok.

Banyak rumah menyimpan pakaian, buku, dan berbagai barang yang masih layak digunakan, tetapi tak lagi terpakai. Di sisi lain, masih ada anak-anak yang kesulitan melanjutkan pendidikan karena keterbatasan ekonomi.

Dari pertemuan dua persoalan inilah lahir sebuah gerakan komunitas bernama Beriuk Betukah, sebuah kegiatan sosial yang diinisiasi Komunitas Mari Gerak dan dilaksanakan pada Minggu, 15 Februari 2026, bertempat di Denkspa Learning Centre, Batu Layar, Lombok Barat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kegiatan ini sekaligus menandai pembukaan Charity Shop yang menjadi wadah penggalangan dana pendidikan melalui pengelolaan barang layak pakai.

Beriuk Betukah, yang dalam bahasa Sasak bermakna “bersama-sama bertukar”, bukan sekadar kegiatan tukar-menukar barang. Ia menjadi ruang perjumpaan nilai sosial, kepedulian lingkungan, dan semangat gotong royong yang hidup kembali melalui gerakan komunitas.

Kisah gerakan ini berawal dari candaan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mataram tentang kebiasaan “mager”, malas gerak. Namun candaan itu justru menjadi refleksi. Mengapa tidak membuat wadah agar anak muda bisa bergerak bersama?

Baiq Ratu Nurwahidah Vazira, pendiri Komunitas Mari Gerak, menceritakan bahwa kelas belajar pertama justru berlangsung di rumahnya di Mantang, Lombok Tengah.

Bersama teman-temannya, ia mengajak adik-adik sekitar untuk belajar setiap minggu. Materinya sederhana: siapa pun boleh berbagi ilmu yang dimiliki.

Seiring waktu, komunitas ini berkembang dan menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk komunitas Anak Petani Cerdas yang memberikan dukungan pendidikan hingga beberapa anak dapat menempuh pendidikan tinggi. Pengalaman tersebut menguatkan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan memutus rantai kemiskinan.

Pendiri Yayasan Jage Kastare, Ahmad Junaidi (kanan). Semua itu menjadi pengalaman belajar sosial yang penting (Foto: aks/ceraken.id)

Gagasan Charity Shop muncul pascagempa Lombok tahun 2018, ketika banyak bantuan berupa pakaian menumpuk tanpa distribusi yang efektif. Dari situ lahir ide menjual barang donasi dengan harga murah, lalu hasilnya digunakan untuk membantu penyintas dan kegiatan sosial lainnya.

Baca Juga :  Menautkan Kampus dan Industri Media: Strategi Masa Depan Ilmu Komunikasi Unram

Kini konsep tersebut berkembang menjadi Charity Shop permanen yang hasil penjualannya dialokasikan sepenuhnya untuk beasiswa pendidikan anak-anak binaan Mari Gerak.

Saling Silang Barang, Saling Berbagi Manfaat

Kegiatan Beriuk Betukah dikemas dalam konsep “Saling Silang Barang Bermanfaat”. Masyarakat membawa barang layak pakai untuk dikurasi panitia. Barang yang lolos kurasi diberikan nilai poin, yang kemudian dapat ditukar dengan barang lain yang tersedia.

Dengan cara ini, barang tidak sekadar berpindah tangan, tetapi memperoleh nilai baru bagi pemilik berikutnya. Sebuah baju yang lama tersimpan di lemari bisa menjadi pakaian favorit orang lain. Buku yang tak lagi dibaca bisa menjadi jendela pengetahuan bagi pembaca baru.

Panitia acara, Gina Maulina, menilai kegiatan ini penting dari sisi lingkungan. Sampah tekstil, menurutnya, termasuk jenis sampah yang sulit terurai. Dengan memanfaatkan kembali barang layak pakai, masyarakat ikut mengurangi potensi limbah yang merusak lingkungan.

Konsep ini sekaligus membuka kesadaran bahwa konsumsi tidak harus selalu berarti membeli barang baru. Menggunakan kembali barang lama juga merupakan pilihan gaya hidup berkelanjutan.

Bagi Mari Gerak, Charity Shop bukan sekadar toko barang bekas. Ia menjadi mesin sosial yang mendukung pendidikan anak-anak Lombok. Setiap barang yang dibeli memiliki kontribusi langsung pada biaya pendidikan, perlengkapan sekolah, dan kegiatan pembinaan anak-anak binaan komunitas.

Model ini memperlihatkan bahwa solidaritas sosial bisa diwujudkan melalui cara sederhana. Membeli barang bekas bukan hanya pilihan ekonomis, tetapi juga tindakan sosial.

Semangat tersebut juga mendapat sambutan positif dari berbagai komunitas yang hadir, termasuk pegiat literasi, komunitas lingkungan, hingga pelaku usaha lokal yang ikut membuka stan dan menyumbangkan sebagian hasil penjualannya.

Gina Maulina (bawah). Komunitas Mari Gerak menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil (Foto: aks/ceraken.id)
Ruang Belajar yang Tumbuh dari Kebersamaan

Pendiri Yayasan Jage Kastare, Ahmad Junaidi, melihat kegiatan ini memiliki manfaat berlapis. Selain menjadi ruang pertemuan antar komunitas, kegiatan ini juga menghadirkan pengalaman belajar bagi anak-anak yang hadir.

Baca Juga :  Merawat Gairah Literasi: Menyemai Semangat Menulis di SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara, Takalar

Anak-anak tidak hanya melihat pertukaran barang, tetapi juga menyaksikan penampilan seni, membaca buku, berinteraksi dengan relawan, dan memahami nilai berbagi. Semua itu menjadi pengalaman belajar sosial yang penting bagi perkembangan mereka.

Menurutnya, kegiatan semacam ini seharusnya tidak hanya berlangsung di kota, tetapi dapat menjangkau kecamatan hingga desa, dengan konsep yang disesuaikan kemampuan komunitas setempat.

Pelaksanaan kegiatan ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi. Denkspa Learning Centre menyediakan ruang, sementara komunitas-komunitas lain turut meramaikan kegiatan melalui stan literasi, pertunjukan seni, hingga kegiatan edukatif.

Kolaborasi ini menunjukkan bahwa gerakan sosial tidak harus berjalan sendiri. Ketika berbagai komunitas bergandengan tangan, dampak yang dihasilkan menjadi lebih luas dan berkelanjutan.

Ketua Perhimpunan Alumni Jerman, Lestyo Sasono Wijito, menilai kegiatan ini menjadi sarana memperkuat jejaring sosial dan menumbuhkan kepedulian kolektif terhadap masa depan generasi muda.

Dari Barang Lama Menuju Masa Depan Baru

Beriuk Betukah membuktikan bahwa solusi sosial tidak selalu membutuhkan teknologi canggih atau program besar. Kadang, solusi itu hadir dari ide sederhana: mempertemukan barang yang tak terpakai dengan orang yang membutuhkannya.

Namun di balik kesederhanaannya, gerakan ini membawa pesan besar: keberlanjutan lingkungan, solidaritas sosial, dan akses pendidikan dapat berjalan bersama jika masyarakat bergerak secara kolektif.

Barang-barang lama yang kembali berguna menjadi simbol bahwa sesuatu yang dianggap selesai masih bisa memiliki masa depan baru. Begitu pula harapan bagi anak-anak Lombok yang mendapat dukungan pendidikan melalui gerakan ini.

Komunitas Mari Gerak menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah kecil, asal ada kemauan untuk bergerak bersama.

Dan di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, mungkin inilah yang paling dibutuhkan: ruang di mana orang-orang dapat berbagi, bertukar, dan percaya bahwa kepedulian sederhana mampu menciptakan dampak besar bagi masa depan.(aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Dari “Mager” Menjadi Gerakan Sosial: Kisah Mari Gerak Menghidupkan Semangat Berbagi di Lombok
Denkspa: Jembatan Informasi Menuju Jerman dan Ruang Tumbuh Kolaborasi Sosial
Pesta Buku di Ruang Publik: Cara Anak Muda Lombok Menyalakan Kembali Budaya Baca
Menautkan Kampus dan Industri Media: Strategi Masa Depan Ilmu Komunikasi Unram
Merawat Gairah Literasi: Menyemai Semangat Menulis di SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara, Takalar
Mahasiswa KKN Unram Sasar Pelajar MA Perkenalkan Cara Mengolah Limbah Tembakau Jadi Pestisida Nabati di Desa Perigi Suela Lombok Timur. Ternyata ini Alasannya!
Siswa SMA Sederajat Diimbau Tidak Ikuti Tren Menikah di Bulan Syawal
Viral! Siswa Dilarang Bawa HP ke Sekolah, Bikin Emak-Emak Ngomeh di Medsos. Ternyata ini Alasannya!

Berita Terkait

Senin, 16 Februari 2026 - 08:28 WITA

Dari “Mager” Menjadi Gerakan Sosial: Kisah Mari Gerak Menghidupkan Semangat Berbagi di Lombok

Minggu, 15 Februari 2026 - 23:57 WITA

Denkspa: Jembatan Informasi Menuju Jerman dan Ruang Tumbuh Kolaborasi Sosial

Minggu, 15 Februari 2026 - 23:40 WITA

Beriuk Betukah: Ketika Barang Lama Menemukan Makna Baru untuk Pendidikan Anak Lombok

Minggu, 15 Februari 2026 - 19:24 WITA

Pesta Buku di Ruang Publik: Cara Anak Muda Lombok Menyalakan Kembali Budaya Baca

Kamis, 12 Februari 2026 - 22:14 WITA

Menautkan Kampus dan Industri Media: Strategi Masa Depan Ilmu Komunikasi Unram

Berita Terbaru

(Ilustrasi: Reva Adhitama)

CERITA PENDEK

Noktah Merah di Cangkir Kopi

Minggu, 15 Feb 2026 - 21:14 WITA