Merawat Gairah Literasi: Menyemai Semangat Menulis di SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara, Takalar

- Penulis

Jumat, 30 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Beberapa buku  didonasikan sebagai best practice (Foto: ist)

Beberapa buku didonasikan sebagai best practice (Foto: ist)

Laporan: Rusdin Tompo (Penulis, dan Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)

CERAKEN.ID– Buku dan aktivitas menulis mempertemukan saya dengan banyak orang di berbagai tempat. Saya akan selalu meringankan langkah bila ada orang yang mengajak ke tempatnya, bertemu, guna membicarakan rencana penulisan buku.

Itulah alasan mengapa saya bisa sampai di SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara, Rabu, 28 Januari 2026. Sekolah yang berada di Desa Kale Ko’mara, Kecamatan Polongbangkeng Timur, Kabupaten Takalar ini, berjarak sekira 42 km dari Kota Makassar.

Cuaca yang tak menentu bukan kendala ketika niat sudah dimantapkan. Saya tambah bersemangat, ketika Erma Mapparenta, S.Pd, M.Pd, mengirimkan video pendek yang memperlihatkan lokasi sekolahnya.

“Sekolah kami di atas bukit, dengan latar pemandangan Bendungan Pamukkulu di depannya,” kata Bu Erma, saat menjapri saya via WhatsApp, beberapa hari sebelumnya.

Erma Mapparenta merupakan Kepala UPT SPF SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara. SK-nya sebagai kepala sekolah tertanggal 8 Desember 2025.

Sebelumnya, perempuan berkacamata ini mengajar di SMP Negeri 1 Mangarabombang. Di sekolah ini dia mengabdi sebagai guru mulai 13 Maret 2020 sampai dengan 7 Desember 2025.

Jadi, boleh dikata, baru lebih sebulan dia diamanahkan memimpin SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara. Sekolah ini terdengar unik, meski namanya SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara, tetapi berada di Polangbangkeng Timur.

“Begitu memang nama sekolah kami. Tidak bisa diganti,” ujar Bu Erma, saat saya bersama Haeruddin Ahar Daeng Nassa, yang dikenal sebagai Pasinrilik, sudah berada di sekolahnya pagi itu.

Saya dipertemukan dengan Bu Erma dalam suatu kegiatan Perempuan PGRI Sulawesi Selatan, yang diketuai Dra Hj Hendriati Sabir, M.Pd. Kegiatan ini hendak mendorong guru-guru yang tergabung dalam organisasi itu untuk menulis buku.

Bu Erma termasuk yang proaktif berkomunikasi. Dia mau menulis memoar sebagai seorang guru. Saya malah sudah membuatkan daftar pertanyaan untuk dijawab. Ini salah satu metode yang biasa saya gunakan. Dalam rangka menulis memoar itulah saya ke sekolahnya.

Baca Juga :  Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian

Saya membawa beberapa buku untuk didonasikan. Ada pula buku karya murid-murid SD yang ditulis sebagai hasil kegiatan menulis kreatif dan pengembangan minat bakat (ektrakurikuler).

Juga ada buku kumpulan publikasi sekolah sebagai contoh konkret manfaat menulis dan pendokumentasian. Pengalaman mengembangkan inovasi sebagai best practice (praktik baik) ini adalah strategi pendekatan saya: tunjukkan dengan bukti!

Namun sebelum bertemu siswa di kelas, kami ke balla rate (rumah atas) untuk ngopi dan mencicipi penganan yang disediakan. Bangunan ini berada di areal sekolah, yang berfungsi pula sebagai kantin.

Dari rumah tradisional Makassar ini, terhampar di depan kami pemandangan Bendungan Pamukkulu nan indah.

Tampak Gunung Baturape di sebelah barat dan Gunung Cindako di sebelah utara. Sementara bebukitan di depannya membentuk layer-layer yang bayangannya memantul di permukaan air. Kabut yang menyaput di atas bebukitan kian memanjakan mata.

Sekolah ini terdengar unik, meski namanya SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara, tetapi berada di Polangbangkeng Timur (Foto: ist)

“View ini yang mahal,” kata saya sembari menyeruput kopi susu hangat yang dihidangkan.

Di rumah atas itu, saya bertemu Sirajuddin Daeng Pata’, kerabat Bu Erma yang juga seorang Pasinrik. Juga ada Andi Indra Mapparenta, jurnalis, serta Pak Rahman dan Pak Irfayandi, keduanya guru SMP Negeri 6 Polongbangkeng Utara.

Beruntung, saya juga bertemu dengan Pak Parawansa, Kepala Desa Kale Ko’mara, yang langsung akrab. Saya bilang, sudah menonton profil desa Kale Ko’mara dan pertunjukkan Tari Kolosal Dampang Ko’mara lewat kanal YouTube.

“Wah luar biasa, kita sudah nonton. Itu ide gila, bikin pertunjukan dengan melibatkan banyak orang,” kata kepala desa yang dalam usia mudanya, sudah kaya pengalaman itu.

Pak Parawansa berkeinginan pengalaman hidupnya dibukukan. Keinginan yang sama juga disampaikan oleh Pak Rahman, yang membagikan kisahnya selama menjadi guru di Tanimbar, Maluku Tenggara.

Baca Juga :  Belajar Bahasa Indonesia di Tong Sampah

Saya langsung mengajak keduanya bersalaman sebagai tanda sepakat menjadi bagian dari penulisan buku mereka. Itu artinya, saya akan sering ke sekolah dan desa ini hehehe.

Oh iya, ada bonus dari tuan rumah. Kami disuguhkan santap siang. Bolu bakar, nila goreng, ayam, raca-raca taipa, sayur daun pepaya, dan sop hangat, di tata membentuk formasi yang siap dicicipi.

“Rezeki makan itu kita tidak tahu, akan datang dari mana, dan dari siapa,” kata Bu Erma sambil mempersilakan kami.

Setelah bersantai sejenak, kami lalu diajak ke salah satu ruang kelas yang bersebelahan dengan ruang guru. Di sini sudah menunggu 50an siswa, mulai kelas 7 hingga kelas 9.

Karena pertemuan hari itu bukan kegiatan formal maka penyampaian yang saya berikan hanya berupa motivasi menulis. Bahwa mereka pun bisa menulis, punya karya dalam bentuk buku.

Saya perlihatkan buku-buku karya murid-murid SD yang saya bawa. Saya ajak mereka menulis apa saja, mulai dari hobi, aktivitas di sekolah, kegiatan di rumah, suasana desa, dan semua yang mereka mau ceritakan.

Saya optimis dan percaya pada potensi yang dimiliki setiap anak. Itu tercermin pada cita-cita yang mereka sampaikan, saat sesi perkenalan. Ada yang ingin jadi dokter, guru, polisi, anggota Kopassus, juga TikToker.

“Banyak orang hebat, tokoh besar, yang berasal dari desa, bahkan daerah terpencil. Kisah-kisah mereka menginspirasi, salah satunya karena dibukukan. Kita pun bisa menulis kisah kita sendiri, dan itu mesti dilakukan sejak sekarang,” imbuh saya di akhir pertemuan.

Menulis bagi saya bukan sekadar hobi dan profesi, melainkan panggilan dan gerakan. Pelan-pelan saya menularkan spirit itu pada sesiapa yang saya temui, sebagai cara membangun kesadaran kritis. (*)

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya
Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi
Car Free Day sebagai Miniatur Lombok
Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian
Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata
Indonesia Raya Berkumandang di Ruang BNI Mataram
Merawat Budaya Sasak dari Sanggar: Putri Nyale Meniti Jalan Dramatari Menuju Pariwisata Kreatif
Belajar Bahasa Indonesia di Tong Sampah

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 00:32 WITA

Lomba Kicau Burung Pleci di Tepi Jalan Raya

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:40 WITA

Mubes IKA SMANSABAYA: Menghimpun Kekuatan Alumni, Membuka Jalan bagi Generasi Berprestasi

Senin, 17 Agustus 2026 - 06:12 WITA

Car Free Day sebagai Miniatur Lombok

Rabu, 12 Agustus 2026 - 16:49 WITA

Kawo Mencari Jalan Menjadi Desa Berdaya: Dari Potensi Lokal Menuju Ekosistem Kemandirian

Selasa, 11 Agustus 2026 - 14:49 WITA

Saat Sampah Menjadi Nada, Bonjeruk Menemukan Bunyi Baru bagi Desa Wisata

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA