Berugaq: Ruang Duduk, Ruang Hidup, Ruang Ingatan

Selasa, 27 Januari 2026 - 10:06 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

M. Sukri Aruman (kiri) dan Akeu Surya Panji (kanan). Berugaq, pada akhirnya, bukan hanya tentang arsitektur Sasak. Ia adalah cara hidup, cara duduk bersama, cara berbagi waktu, dan cara merawat ingatan kolektif. (Foto: aks)

M. Sukri Aruman (kiri) dan Akeu Surya Panji (kanan). Berugaq, pada akhirnya, bukan hanya tentang arsitektur Sasak. Ia adalah cara hidup, cara duduk bersama, cara berbagi waktu, dan cara merawat ingatan kolektif. (Foto: aks)

CERAKEN.ID– Senin pagi, 26 Januari 2026, sekira pukul 09.51 Wita, Akeu Surya Panji, Ketua Perkumpulan Seni Menduli Selayar (PSMS), mengingatkan sebuah agenda yang bagi sebagian orang mungkin terdengar biasa: pertemuan bersama M. Sukri Aruman, praktisi media sekaligus jurnalis senior.

Namun, sebagaimana sering terjadi dalam peristiwa “kebudayaan”, yang tampak sederhana justru menyimpan lapisan makna. Pertemuan itu tidak berlangsung di ruang rapat berpendingin udara, bukan pula di kafe modern dengan menu beragam.

Ia terjadi di sebuah berugaq, bangunan panggung terbuka khas masyarakat Sasak, dengan secangkir kopi sebagai pembuka percakapan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Alih-alih langsung membahas topik diskusi, “materi” pertama yang dihidangkan justru ruang itu sendiri. Berugaq menjadi menu pembuka sebelum kata-kata.

Sebuah pengingat halus bahwa dalam kebudayaan, tempat bukan sekadar latar, melainkan bagian dari isi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berugak adalah bangunan berupa panggung terbuka dengan empat atau enam tiang, beratap, berbentuk menyerupai lumbung.

Definisi itu tepat, namun terasa belum selesai. Sebab bagi masyarakat Sasak di Lombok, berugak atau sering pula ditulis berugaq, bukan hanya bentuk arsitektural, melainkan ruang sosial, ruang dialog, dan ruang pembentukan nilai.

Secara tradisional, berugaq dibangun tanpa dinding, ditopang empat tiang (sekepat) atau enam tiang (sekenam), dengan atap alang-alang atau genteng. Keterbukaan ini bukan kebetulan, melainkan cerminan cara hidup: terbuka pada tamu, terbuka pada percakapan, terbuka pada perbedaan.

Di sanalah orang bersantai selepas bekerja, menerima tamu, bermusyawarah, atau sekadar berbagi kabar.

Ruang Sosial yang Membentuk Manusia

Dalam kehidupan masyarakat Sasak, berugaq kerap diletakkan di bagian depan rumah atau di area publik dusun. Ia menjadi titik temu antara ranah privat dan komunal.

Di sinilah anak-anak belajar duduk, mendengar, dan berbicara; generasi muda menyerap tata krama tanpa harus diajari secara formal; orang tua menimbang persoalan hidup sambil menyeruput kopi.

Baca Juga :  Narasi yang Menyembuhkan: Membaca Belian sebagai Ruang Simbolik-Budaya

“Minum kopi atau ngopi di berugaq bagi sebagian warga Sasak adalah kegiatan sederhana namun kaya makna,” ujar M. Sukri Aruman, yang akrab disapa Bang Ray, pagi itu.

Menurutnya, kegiatan ini lazim dilakukan sebelum memulai aktivitas atau selepas bekerja. Kopi menjadi medium, berugaq menjadi ruang, sementara percakapan adalah jantungnya.

Bang Ray menekankan bahwa esensi tradisi tersebut bukan pada kopi atau bangunannya, melainkan pada interaksi sosial yang terjalin.

Di berugaq, isu-isu ringan dan serius bertemu dalam satu lingkaran. Soal cuaca, hasil panen, kabar keluarga, hingga persoalan sosial dan kebudayaan, semua bisa dibicarakan tanpa sekat.

Pandangan itu diamini Akeu Surya Panji. “Saya kira, inti dari tradisi ini adalah interaksi sosial yang terjalin saat berkumpul di berugaq, di mana berbagai lapisan masyarakat berdiskusi tentang isu-isu penting,” ujarnya.

Dalam konteks hari ini, ketika ruang diskusi publik kian berpindah ke layar gawai, berugaq menghadirkan alternatif: ruang fisik yang menghidupkan kehadiran.

Perkembangan zaman membawa perubahan pada konstruksi berugaq. Jika dahulu ia dibangun dari kayu dan bambu dengan atap alang-alang, kini banyak berugaq menggunakan genteng dan material modern.

Namun bentuk dasarnya tetap dipertahankan. Empat atau enam tiang, panggung terbuka, tanpa dinding: ciri-ciri itu seakan menjadi garis batas yang tidak boleh dilanggar.

Menariknya, berugaq kini tidak hanya ditemukan di perkampungan atau desa adat. Ia hadir pula di hotel-hotel dan kawasan wisata sebagai daya tarik budaya.

Dalam konteks pariwisata, berugaq sering diposisikan sebagai objek visual. Namun tantangannya adalah menjaga agar ia tidak kehilangan ruh sosialnya. Berugaq bukan sekadar dekorasi; ia adalah praktik hidup.

Di sinilah peran komunitas seni dan kebudayaan menjadi penting. Pertemuan PSMS dengan M. Sukri Aruman pagi itu dapat dibaca sebagai upaya menjaga tradisi tetap berbicara dengan zamannya.

Berugaq tidak dibekukan sebagai artefak, tetapi dihidupkan sebagai ruang dialog. Termasuk dialog lintas generasi dan lintas disiplin.

Baca Juga :  Jurnalisme Teater, Ingatan Kolonial, dan Perlawanan Budaya Masyarakat Adat Gumantar
Puisi, Musik, dan Ingatan Kolektif

Di tengah pertemuan tersebut, suasana berugaq semakin menemukan nadinya ketika musikalisasi puisi berjudul “Berugaq” dilantunkan oleh Soni Hendrawan (lewat youtobe-nya). Dengan iringan gitar bambu, puisi itu mengalir pelan, seolah menyatu dengan desir angin yang melintas di sela tiang-tiang kayu.

bayangan angin menari

seperti seutas dasi

tersimpan di hati

 

ranum mu hanya di pipi

berjingkat menyambut pagi

berlari meninggalkan sepi

 

biarlah pada berugaq ini

menyimpan setungkup hari

agar esok engkau kembali menari

 

melepasku pergi

menyambung mimpi

hingga kini

Puisi tersebut tidak sekadar menyebut berugaq sebagai lokasi, melainkan menjadikannya subjek yang menyimpan hari, kenangan, dan harapan. Berugaq hadir sebagai ruang transit antara pergi dan pulang, antara sepi dan perjumpaan.

Dalam musikalisasi itu, berugaq menjelma metafora tentang kehidupan yang terus bergerak, namun selalu punya tempat untuk kembali.

Gitar bambu yang mengiringi puisi semakin menegaskan keterhubungan antara bunyi, ruang, dan ingatan. Ia bukan bunyi yang menggelegar, melainkan lembut seperti percakapan pagi di berugaq, yang tidak pernah bermaksud mengalahkan, hanya menemani.

Pertemuan pagi itu berakhir tanpa kesan formal. Tidak ada kesimpulan yang dipaksakan. Namun justru di situlah kekuatannya. Berugaq bekerja sebagaimana mestinya: menyediakan ruang agar makna tumbuh dengan sendirinya.

Di tengah dunia yang kian tergesa, berugaq mengajarkan jeda. Ia mengingatkan bahwa membangun peradaban tidak selalu dimulai dari gedung besar atau forum resmi, tetapi bisa dari panggung kecil tanpa dinding, dengan kopi, percakapan, dan kesediaan untuk saling mendengar.

Berugaq, pada akhirnya, bukan hanya tentang arsitektur Sasak. Ia adalah cara hidup, cara duduk bersama, cara berbagi waktu, dan cara merawat ingatan kolektif.

Selama masih ada orang yang duduk, berbincang, dan berkarya di atasnya, berugaq akan tetap hidup menyimpan setungkup hari, agar esok kita kembali menari. (aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil
Putri Mandalika: Tafsir Baru Legenda Bau Nyale dalam Perspektif Spiritualitas Sasak
Tapak Dara dalam Lanskap: Ketika Warna, Alam, dan Simbol Bertemu di Kanvas Dek Mahendra
Jejak Sakral di Balik Benang: Tenun Lombok dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak
Pringgasela: Menenun Hidup di Lereng Rinjani
Tenun Sembalun Lawang: Warisan Sunyi di Kaki Rinjani
Sinergi NTB–Jerman untuk Pariwisata, Perhotelan, dan Pendidikan: Jalan Kolaboratif Menuju Pembangunan Kawasan Nusa Tenggara
Batujai: Menenun Tradisi di Persimpangan Zaman

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 23:01 WITA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Jumat, 6 Februari 2026 - 08:42 WITA

Tapak Dara dalam Lanskap: Ketika Warna, Alam, dan Simbol Bertemu di Kanvas Dek Mahendra

Rabu, 4 Februari 2026 - 11:35 WITA

Jejak Sakral di Balik Benang: Tenun Lombok dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak

Selasa, 3 Februari 2026 - 11:04 WITA

Pringgasela: Menenun Hidup di Lereng Rinjani

Senin, 2 Februari 2026 - 19:14 WITA

Tenun Sembalun Lawang: Warisan Sunyi di Kaki Rinjani

Berita Terbaru

Mr. Red (kiri), Kim Dong Pil (tengah), Lalu Syaukani (kanan), Karya tersebut merupakan hasil pembacaan visual Kim terhadap lanskap persawahan Tetebatu yang ia rekam pada Mei 2025 (Foto: aks)

BUDAYA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Feb 2026 - 23:01 WITA

Dari hobi suka mengoleksi kompor portable dan senter, tersirat bahwa ia tak membanggakan benda-benda itu. (Foto: ist)

TOKOH & INSPIRASI

Di Balik Hobi Unik Andi Irawan: Berburu Kompor Portable dan Senter Koleksi

Sabtu, 7 Feb 2026 - 19:35 WITA