Jejak Sakral di Balik Benang: Tenun Lombok dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak

Rabu, 4 Februari 2026 - 11:35 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di tengah derasnya arus modernisasi dan teknologi, keteguhan masyarakat menjaga tradisi tenun menjadi kunci agar jejak leluhur tidak hilang (Foto: Pikong)

Di tengah derasnya arus modernisasi dan teknologi, keteguhan masyarakat menjaga tradisi tenun menjadi kunci agar jejak leluhur tidak hilang (Foto: Pikong)

CERAKEN.ID– Sebagaimana diuraikan Fitri Rachmawati (Pikong) selaku Ketua Tim Penulis dalam Katalog Tenun Tradisional Lombok (Desember 2017, halaman 1–7), kain tenun Lombok bukan sekadar produk kerajinan, melainkan bagian tak terpisahkan dari siklus hidup, sistem kepercayaan, dan identitas budaya masyarakat Sasak.

Tenun hadir sejak fase kelahiran, masa kanak-kanak, peralihan menuju dewasa, hingga kematian, menyatu dalam perjalanan hidup masyarakatnya.

Dan saat yang dinanti-nanti itu akhirnya tiba. Di sebuah rumah sederhana di Dusun Karang Kerem, Desa Sekotong Tengah, Lombok Barat, suasana sakral terasa sejak pagi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Para kerabat berkumpul, ibu-ibu menyiapkan hidangan, sementara seorang tetua adat memeriksa perlengkapan ritual yang telah tersusun rapi: lekoq buaq atau sirih pinang, beras, benang, kepeng atau uang logam, serta selembar kain tenun berbentuk lingkaran yang belum terpotong, Lempot Besunat.

Kain itu bukan sekadar kain. Ia adalah penanda perubahan hidup.

Lempot Besunat, selendang sunatan yang dibuat khusus, dipotong oleh tetua adat setelah doa-doa dipanjatkan. Potongan kain itu lalu dicelupkan ke dalam air, kemudian ditekan lembut di ubun-ubun seorang bocah lelaki yang akan menjalani prosesi sunatan.

Kain itu lalu diikat di kepalanya, menjadi simbol kesiapan seorang anak memasuki tahap kehidupan baru sebagai lelaki Sasak.

Tak lama kemudian, tokoh agama memimpin prosesi khitan sesuai ajaran Islam, sementara seorang mantri dari Puskesmas memastikan seluruh proses berlangsung aman secara medis. Di tengah lantunan salawat, tangis sang bocah pecah, menandai selesainya sebuah kewajiban.

Lempot Besunat kemudian disimpan. Kelak, ketika bocah itu dewasa, kain berukuran 17 x 116 sentimeter tersebut akan kembali menyertainya sebagai benda penuh makna, penjaga ingatan akan fase awal perjalanan hidupnya.

Tenun yang Menjadi Bagian Jiwa

Kehadiran Lempot Besunat menunjukkan bahwa kain tenun di Lombok bukan hanya penutup tubuh. Ia menjadi bagian spiritual pemiliknya. Tenun hadir dalam banyak tahap penting kehidupan masyarakat Sasak.

Ada Lempot Bidadari Ngamuk, kain yang dipercaya membawa ketenangan dan digunakan untuk meredakan tangisan atau amukan anak kecil. Ada pula Lempot Menganak, kain yang dipakai perempuan setelah melahirkan untuk mengikat perut dan membantu pemulihan tubuh.

Kain-kain sakral ini tidak bisa dibeli begitu saja. Mereka harus dipesan khusus, dibuat melalui rangkaian ritual dan doa tertentu. Penenunnya pun tidak sembarang orang.

Baca Juga :  Masa Depan Ritus Kebangru’an
Seorang anak tengah menenun di Desa Bayan Lombok Utara dengan menggunakan alatt radisional (Foto: Pikong)

Di Desa Kebon Ayu, Kecamatan Gerung, Lombok Barat, kini hanya tersisa tiga orang penenun yang masih mampu membuat kain-kain sakral tersebut. Mereka mempertahankan teknik dan aturan lama, meski tekanan pasar modern semakin kuat.

Tradisi serupa juga ditemukan di Desa Pringgasela, Lombok Timur, yang memiliki sedikitnya 12 motif sakral yang tidak boleh diperjualbelikan secara bebas atau diproduksi massal. Motif-motif sakral ini juga dapat ditemukan di Lombok Tengah dan Lombok Utara.

Tenun bukan sekadar industri rumahan. Ia adalah warisan spiritual.

Kapan tradisi menenun mulai ada di Lombok, tak ada catatan pasti. Namun sejumlah petunjuk dapat menuntun pada jejak panjang peradaban pulau ini.

Budayawan Lombok, Lalu Agus Faturrahman, menilai peradaban Lombok sudah sangat tua. Salah satu bukti yang sering dikemukakan adalah arsitektur lumbung tradisional Lombok.

Ia merujuk pada kajian ahli sejarah arsitektur Universitas Indonesia, Setiadi Sopiandi, yang menyebut bentuk arsitektur lumbung Lombok telah ada sekitar 3.500 tahun sebelum Masehi.

Menurut Agus, keberadaan lumbung menjadi petunjuk penting, sebab bagian atas bangunan menggunakan anyaman bambu, teknik dasar dari proses menenun.

Petunjuk lain muncul dalam naskah kuno seperti Lontar Doyan Nede, yang telah mencatat penggunaan pakaian di Lombok sejak berabad-abad silam. Artinya, budaya tekstil sudah dikenal lama oleh masyarakat Sasak.

Evolusi Teknologi Tenun

Pada masa awal, pola tenun Sasak masih sederhana. Tenun datar tanpa motif yang dikenal sebagai Selempuri digunakan untuk berbagai kebutuhan ritual.

Kemudian berkembang tenun Umbak, yang memiliki pola garis lurus atau bujur. Setiap daerah memiliki variasinya sendiri. Selanjutnya muncul tenun Usap, kain yang digunakan dalam ritual kematian untuk menutup wajah jenazah.

Motifnya mulai berkembang menjadi kotak-kotak kecil dengan variasi tertentu.

Kain ritual lain yang berkembang adalah Kembang Komak, digunakan dalam upacara khitanan dan juga dalam prosesi adat Sorong Serah. Menariknya, meskipun bernama Kembang Komak, kain ini tidak memiliki motif bunga, melainkan garis-garis putih di atas latar hitam.

Perubahan besar terjadi saat teknologi tenun tumpuk atau songket masuk ke Lombok, dipengaruhi budaya Melayu dan Bali. Teknologi ini memungkinkan penggunaan benang emas atau perak sehingga motif menjadi lebih kaya.

Salah satu motif tertua dan paling ikonik adalah Subhanale. Pembuatan kain ini memerlukan waktu panjang dan ketelitian tinggi. Konon, para penenun yang lelah mengucap tasbih “Subhanallah”, yang kemudian menjadi nama motif tersebut.

Baca Juga :  Belian sebagai Diri Sendiri: Abdul Haris dan Pengetahuan yang Hidup
Tenun bukan sekadar industri rumahan. Ia adalah warisan spiritual (Foto: Pikong)

Versi lain menyebut seorang bangsawan Lombok pertama kali mengucapkan kata tersebut saat melihat keindahan tenun ciptaan seorang penenun.

Perkembangan berikutnya datang bersama teknologi Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang memungkinkan produksi lebih cepat dan variasi motif semakin luas. Tenun Lombok pun memasuki era produksi modern.

Di berbagai sentra tenun Lombok, motif-motif klasik tetap hidup. Banyak di antaranya terinspirasi dari alam sekitar, seperti motif Pucuk Rebung, Semporonan, Gunung Rinjani, Gunung Selong, dan motif Bulan.

Sebagian motif dinamai berdasarkan fungsi kain, seperti Lempot Bidadari Ngamuk atau Kembang Komak. Nama-nama itu lahir dari pengalaman hidup masyarakat yang melekat pada kain tersebut.

Namun perkembangan pariwisata membawa perubahan selera pasar. Kini muncul motif-motif baru yang mengikuti tren modern, mulai dari ikon olahraga hingga karakter kartun seperti Hello Kitty.

Tenun Lombok menunjukkan kemampuannya beradaptasi tanpa sepenuhnya meninggalkan akar tradisinya. Di satu sisi, motif modern memenuhi kebutuhan pasar. Di sisi lain, motif-motif sakral tetap dijaga keberadaannya.

Antara Pasar dan Warisan Leluhur

Modernisasi memberi peluang ekonomi bagi para penenun, namun juga membawa tantangan. Produksi massal kadang menggeser nilai filosofis tenun yang dahulu sarat makna ritual.

Meski demikian, sejumlah komunitas penenun tetap menjaga batas antara kain komersial dan kain sakral. Ritual dan aturan adat tetap dijalankan ketika membuat kain tertentu.

Bagi masyarakat Sasak, tenun bukan sekadar barang dagangan. Ia adalah identitas, memori kolektif, sekaligus penanda perjalanan hidup.

Selembar kain bisa menjadi sahabat hidup seseorang, hadir sejak kelahiran, sunatan, pernikahan, hingga kematian.

Katalog motif tenun Lombok yang ada saat ini belum mampu menggambarkan keseluruhan kekayaan yang sesungguhnya. Namun ia cukup menjadi pintu masuk untuk memahami betapa pentingnya kain tenun dalam kehidupan masyarakat Sasak.

Dari sekadar pembungkus tubuh, kain tenun berkembang menjadi simbol identitas, perangkat ritual, hingga sumber penghidupan. Setiap benang menyimpan cerita panjang tentang perjalanan sebuah peradaban.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan teknologi, keteguhan masyarakat menjaga tradisi tenun menjadi kunci agar jejak leluhur tidak hilang.

Sebab, ketika sebuah kain tak lagi sekadar kain, melainkan bagian dari jiwa pemiliknya, maka di situlah budaya menemukan cara untuk terus hidup. (aks)

Berita Terkait

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil
Putri Mandalika: Tafsir Baru Legenda Bau Nyale dalam Perspektif Spiritualitas Sasak
Tapak Dara dalam Lanskap: Ketika Warna, Alam, dan Simbol Bertemu di Kanvas Dek Mahendra
Pringgasela: Menenun Hidup di Lereng Rinjani
Tenun Sembalun Lawang: Warisan Sunyi di Kaki Rinjani
Sinergi NTB–Jerman untuk Pariwisata, Perhotelan, dan Pendidikan: Jalan Kolaboratif Menuju Pembangunan Kawasan Nusa Tenggara
Batujai: Menenun Tradisi di Persimpangan Zaman
Masa Depan Ritus Kebangru’an

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 23:01 WITA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Jumat, 6 Februari 2026 - 08:42 WITA

Tapak Dara dalam Lanskap: Ketika Warna, Alam, dan Simbol Bertemu di Kanvas Dek Mahendra

Rabu, 4 Februari 2026 - 11:35 WITA

Jejak Sakral di Balik Benang: Tenun Lombok dalam Siklus Hidup Masyarakat Sasak

Selasa, 3 Februari 2026 - 11:04 WITA

Pringgasela: Menenun Hidup di Lereng Rinjani

Senin, 2 Februari 2026 - 19:14 WITA

Tenun Sembalun Lawang: Warisan Sunyi di Kaki Rinjani

Berita Terbaru

Mr. Red (kiri), Kim Dong Pil (tengah), Lalu Syaukani (kanan), Karya tersebut merupakan hasil pembacaan visual Kim terhadap lanskap persawahan Tetebatu yang ia rekam pada Mei 2025 (Foto: aks)

BUDAYA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Feb 2026 - 23:01 WITA

Dari hobi suka mengoleksi kompor portable dan senter, tersirat bahwa ia tak membanggakan benda-benda itu. (Foto: ist)

TOKOH & INSPIRASI

Di Balik Hobi Unik Andi Irawan: Berburu Kompor Portable dan Senter Koleksi

Sabtu, 7 Feb 2026 - 19:35 WITA