Oleh: Lalu Surya Mulawarman – Kepala Taman Budaya Prov. NTB
CERAKEN.ID– Mandalika kini dikenal luas sebagai salah satu ikon pariwisata Indonesia di mata dunia. Nama kawasan ini melesat seiring penyelenggaraan berbagai ajang balap internasional di Pertamina Mandalika International Circuit yang mengundang perhatian global.
Kamera-kamera dunia menyorot lintasan balap yang berkelok dengan latar laut biru dan perbukitan hijau Lombok Tengah. Namun, Mandalika sesungguhnya lebih dari sekadar sirkuit balap modern.
Di balik pembangunan infrastruktur pariwisata, terdapat sejarah panjang dan kebudayaan lokal yang menjadi ruh kawasan ini. Fondasi yang menentukan apakah pariwisata Mandalika akan bertahan secara berkelanjutan atau justru kehilangan jati dirinya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pariwisata modern sering kali tergoda mengejar angka: jumlah kunjungan wisatawan, okupansi hotel, dan nilai investasi. Namun pengalaman banyak destinasi dunia menunjukkan, pariwisata tanpa akar budaya mudah kehilangan daya tariknya.
Kawasan yang dibangun hanya sebagai tempat hiburan atau rekreasi massal sering menjadi cepat jenuh dan rusak. Mandalika menghadapi tantangan yang sama: bagaimana membangun kawasan wisata kelas dunia tanpa meninggalkan identitas lokal yang justru menjadi keunikan utamanya.
Nama Mandalika sendiri berasal dari legenda Putri Mandalika, tokoh perempuan dalam cerita rakyat Sasak yang dikenal karena kebijaksanaan dan pengorbanannya demi menjaga perdamaian di antara para pangeran yang memperebutkannya.
Kisah tersebut hidup dalam tradisi Bau Nyale, ritual tahunan masyarakat pesisir Lombok yang mencari cacing laut sebagai simbol kemunculan sang putri. Tradisi ini bukan sekadar cerita folklor, melainkan peristiwa budaya yang memperlihatkan hubungan manusia, alam, dan spiritualitas dalam kehidupan masyarakat Sasak.
Ironisnya, ketika Mandalika semakin dikenal sebagai kawasan pariwisata modern, banyak wisatawan yang datang justru tidak mengenal kisah Putri Mandalika atau makna Bau Nyale. Mereka mengenal Mandalika sebagai sirkuit balap, bukan sebagai ruang budaya.
Di sinilah tantangan besar muncul: bagaimana memastikan bahwa pembangunan kawasan tidak menghapus memori kolektif masyarakat setempat.
Sejarah Mandalika juga tidak dapat dipisahkan dari kehidupan nelayan dan petani pesisir yang selama ratusan tahun menggantungkan hidup pada laut dan tanah. Pantai Kuta Mandalika, Tanjung Aan, hingga Seger, sebelumnya merupakan ruang hidup masyarakat, bukan sekadar objek wisata.
Pasir putihnya menjadi saksi kehidupan sederhana warga yang menenun, melaut, bertani, serta menjaga adat istiadat turun-temurun.
Pembangunan kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika memang membawa peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi lokal. Infrastruktur berkembang, peluang kerja terbuka, dan akses wilayah semakin baik. Namun pembangunan tanpa pelibatan aktif masyarakat lokal berpotensi menciptakan ketimpangan.
Ketika masyarakat hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri, maka konflik sosial dan kehilangan identitas budaya menjadi risiko nyata.
Pariwisata berkelanjutan sejatinya tidak hanya berbicara tentang lingkungan, tetapi juga keberlanjutan sosial dan budaya.
Wisatawan modern kini tidak lagi sekadar mencari pemandangan indah; mereka ingin mengalami kehidupan lokal, mencicipi kuliner tradisional, memahami cerita masyarakat, serta merasakan autentisitas suatu tempat. Di sinilah kekuatan Mandalika sebenarnya berada.
Budaya Sasak memiliki kekayaan yang luar biasa untuk mendukung pariwisata berbasis budaya. Desa adat seperti Sade dan Ende memperlihatkan arsitektur tradisional dan pola hidup masyarakat yang masih mempertahankan nilai-nilai leluhur.
Tradisi menenun, musik gendang beleq, tari-tarian tradisional, hingga kuliner lokal seperti ayam taliwang dan plecing kangkung merupakan identitas yang dapat menjadi daya tarik wisata budaya.
Namun budaya bukan sekadar tontonan untuk wisatawan. Budaya adalah cara hidup masyarakat. Oleh karena itu, pengembangan wisata budaya harus dilakukan dengan menghormati nilai lokal, bukan sekadar menjadikannya komoditas.
Pelibatan masyarakat sebagai pelaku utama, bukan objek, menjadi kunci agar pariwisata tidak merusak tatanan sosial.
Selain aspek budaya, keberlanjutan lingkungan juga menjadi perhatian utama. Kawasan Mandalika yang indah memiliki ekosistem pesisir yang rentan terhadap kerusakan akibat pembangunan berlebihan, sampah wisata, serta tekanan lingkungan.
Pantai dan laut yang menjadi daya tarik utama justru dapat terancam jika pengelolaan pariwisata tidak memperhatikan daya dukung lingkungan.
Beberapa kawasan wisata dunia menunjukkan bagaimana pembangunan tanpa perencanaan matang akhirnya merusak lingkungan dan menurunkan kualitas wisata itu sendiri. Mandalika memiliki kesempatan untuk belajar dari pengalaman tersebut.
Pengelolaan sampah, pelestarian pantai, penggunaan energi ramah lingkungan, hingga edukasi wisatawan tentang menjaga kebersihan menjadi bagian penting dari pariwisata masa depan.
Sirkuit Mandalika tentu tetap menjadi magnet besar bagi kunjungan wisatawan. Event balap internasional membawa eksposur global yang luar biasa bagi Lombok dan Nusa Tenggara Barat.
Namun momentum tersebut seharusnya dimanfaatkan untuk memperkenalkan budaya dan keindahan lokal, bukan sekadar menjadi lokasi balap semata.
Bayangkan jika setiap event internasional juga menampilkan festival budaya Sasak, pameran tenun lokal, pertunjukan seni tradisional, serta promosi desa wisata sekitar Mandalika. Wisatawan tidak hanya datang untuk menonton balap, tetapi juga mengenal kehidupan masyarakat lokal.
Dampak ekonomi pun dapat menyebar lebih luas kepada pelaku UMKM, perajin, seniman, dan masyarakat desa sekitar.
Pemerintah daerah, pengelola kawasan, pelaku industri pariwisata, dan masyarakat memiliki tanggung jawab bersama menjaga keseimbangan pembangunan. Kebijakan pariwisata seharusnya menempatkan budaya dan lingkungan sebagai fondasi utama, bukan sekadar pelengkap.
Pendidikan pariwisata bagi generasi muda lokal juga penting agar mereka tidak hanya menjadi pekerja di sektor wisata, tetapi juga menjadi penjaga nilai budaya daerahnya.
Mandalika berada pada persimpangan penting: menjadi destinasi modern yang kehilangan jati diri, atau menjadi contoh sukses pariwisata berkelanjutan yang berpijak pada budaya lokal.
Pilihan tersebut tidak hanya menentukan masa depan kawasan, tetapi juga masa depan masyarakat yang hidup di dalamnya.
Sirkuit mungkin membuat Mandalika dikenal dunia. Namun sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakatlah yang membuat orang ingin kembali.
Jika budaya menjadi fondasi, maka pariwisata Mandalika tidak hanya akan bertahan, tetapi tumbuh dengan identitas yang kuat, menjadi destinasi yang bukan hanya indah dilihat, tetapi juga bermakna untuk dikenang.*
Penulis : lsm
Editor : Editor Ceraken































