Carpe Diem vs. Hedonisme

Rabu, 28 Januari 2026 - 20:14 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Nuriadi Sayip – Guru Besar Sastra dan Budaya Unram

CERAKEN.ID– Ada dua istilah filsafati yang mungkin acap kali kita dengar di lingkungan obrolan serius kita, yakni carpe diem dan hedonisme,

Dua istilah filsafati ini secara sepintas mirip dalam segi konsepnya, namun nyatanya berbeda jauh dalam aplikasi pemahamannya.

Carpe diem adalah pandangan hidup yang menitikberatkan pada dorongan atau semangat untuk menikmati serta memanfaatkan waktu pada saat ini dengan sebaik-baiknya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebuah istilah yang dikemukakan oleh Penyair Yunani yang bernama Horatius (Horace) dengan berkata: carpe diem, quam minimum credula postero (Petiklah hari ini, dan percayalah sesedikit mungkin pada hari esok).

Secara lebih konkritnya, Horatius mendorong kita untuk menikmati hari ini (petiklah hari ini, seize the day) dengan sebesar-besarnya sehingga kenikmatan hidup bisa tercapai dengan setinggi-tingginya tanpa perlu memikirkan terhadap apa yang akan terjadi esok hari.

Baca Juga :  Teori Konvergensi, World Cup 2026 dan Pariwisata Mendunia

Poinnya adalah nikmati waktu dengan sebaik-baiknya. Dalam pemahaman orang Inggris, dipahami carpe diem ini dalam ucapan: Let’s eat and drink, my dear for tomorrow we shall die.

Konsep carpe diem ini mulai terkenal di era sekarang sejak masuk dalam dialog tokoh dalam film Dead Poet’s Society yang kemudian disamakan dengan pandangan hidup generasi muda yang bernama YOLO (YOU ONLY LIVE ONCE = Kamu Hanya Hidup Sekali). Komunitas-komunitas YOLO kini merebak di mana-mana di seluruuh dunia.

Lalu apa beda dan hubungannya dengan Hedonisme? Sebelum menunjukkan perbedaannya, sebaiknya kita melihat dahulu Apa itu Hedonisme?

Yaitu, sebuah pandangan filsafati yang menekankan pada pola hidup yang  menyenangkan, mengikuti kehendak seluas-luasnya selama hidup di dunia ini tanpa harus terbelenggu oleh ikatan moralitas.

Baca Juga :  Ketika Semua Merasa Benar

Hiduplah dalam kesenangan dan keberlimpahan nikmatnya duniawi terutama nikmat materi.

Hal akhirat bukanlah hal yang perlu dipikirkan. Yang utama adalah memenuhi segala hasrat duniawi.

Pada pandangan ini, tampaknya dua istilah Carpe Diem dan Hedonisme di atas sama-sama menekankan pada waktu hari ini atau saat ini untuk dinikmati dan dimanfaatkan Akan tetapi, keduanya sesungguhnya berbeda.

Carpe diem lebih mendorong manusia untuk memanfaatkan waktu saat ini sebaik mungkin dalam hal yang lebih positif.

Sedangkan, hedonisme lebih menekankan pada pemanfaatan penikmatan waktu saat ini dengan sebebas-bebasnya dalam konteks yang lebih negatif.

Dengan demikian, kembali ke diri kita, pandangan hidup yang mana yang kita cenderungi di antara dua pandangan filsafati di atas?

Hmm…Hanya diri sendiri masing-masing yang bisa menjawabnya. Semoga tidak kelamaan garuk-garuk kepala, hehehe!

Sekian!

Mataram, 28 Januari 2026

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Berita Terkait

Teori Konvergensi, World Cup 2026 dan Pariwisata Mendunia
Catatan Kenangan Advokasi UU PRT/PRTA
Literasi Kemanusiaan, Manusia dan Collapse-nya Superego
“Lu Kenal Veronika Ko”: Cermin Ledakan Kosakata dan Budaya Bahasa Media Sosial
Dana Indonesiana dari Dalam: Catatan yang Tidak Ada di Laporan Evaluasi
Parappo sebagai Kompas Budaya Pelaut Barrang Lompo
Generasi Muda Barrang Lompo, di Antara Pendidikan dan Pataripang
Biang Kerok

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 17:17 WITA

Teori Konvergensi, World Cup 2026 dan Pariwisata Mendunia

Jumat, 29 Mei 2026 - 00:37 WITA

Catatan Kenangan Advokasi UU PRT/PRTA

Jumat, 29 Mei 2026 - 00:02 WITA

Literasi Kemanusiaan, Manusia dan Collapse-nya Superego

Selasa, 26 Mei 2026 - 09:43 WITA

“Lu Kenal Veronika Ko”: Cermin Ledakan Kosakata dan Budaya Bahasa Media Sosial

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:41 WITA

Dana Indonesiana dari Dalam: Catatan yang Tidak Ada di Laporan Evaluasi

Berita Terbaru

OPINI

Teori Konvergensi, World Cup 2026 dan Pariwisata Mendunia

Sabtu, 6 Jun 2026 - 17:17 WITA