Oleh: Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA – Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Guru Besar di Fakultas Ilmu Budaya*
CERAKEN.ID — Memosisikan Terminologi Literasi
Kata literasi secara etimologis berasal dari kata literratur atau littera yang berarti adalah kemampuan orang membaca atau menulis. Kata literasi ini berkembang di Indonesia pada tahun 1990-an ketika pemerintah pada waktu itu secara intensif menerapkan kejar paket untuk membuat orang “melek huruf”.
Pada tahun 1980-an, angka iliterasi masyarakat Indonesia adalah sekitar 28.8% dari total penduduk Indonesia dan menjadi 15.9% pada tahun 1990-an. Pada tahun 1990-an ini diklaim bahwa angka literasi huruf di Indonesia adalah 84% dari jumlah penduduk Indonesia yang masih sekitar 180 juta jiwa.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, kata literasi tersebut mengalami perkembangan. Orang tidak hanya menghubungkan kata literasi dengan persoalan bisa baca tulis, tetapi merambah ke aspek lain.
Pada masa kini ketika media menjadi dominan dalam masyarakat, maka muncul kata literasi media. Begitu pula ketika teknologi digital menguat dan merambah kemana-mana serta membawa banyak masalah, maka munculah terminologi literasi digital.
Juga ketika orang tunggang langgang mencari uang dengan cara-cara yang tidak wajar sehingga muncul pinjol, judol, maka muncul literasi finansial. Semua bisa diliterasikan. Namun, semuanya berkutat pada dunia materiil.
Ada satu hal yang seringkali dilupakan, yakni literasi yang terkait dengan bagaimana manusia “layak hidup” dalam lingkungan yang sehat lahir dan batin, penuh empati, solidaritas, dengan jiwa welas asih terhadap sesama dan lingkungannya sebagai fondasi, yang menurut saya perlu diberi tagar, yakni literasi kemanusiaan.
Literasi kemanusiaan ini justru perlu ditekankan ketika dunia menjadi semakin tidak berdaya menghadapi ketidakpedulian, kesewenang-wenangan, perang yang diglorifikasi atas nama kebenaran-kebenaran palsu.
Saya merujuk pada pandangan para pemikir abad ke-19 yang melihat manusia penuh dengan persoalan. Di tengah masyarakat industrialis dan kapitalis, Karl Marx, mengkritisi masyarakat yang menjadi heartless (tidak punya hati) karena kapitalisme, ketika individualisme menguasai relasi manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Pada era yang sama, tokoh sosiologi modern Emile Durkheim berpendapat bahwa ada situasi kegagalan masyarakat dalam mengontrol individu yang dikatakannya menciptakan masyarakat tanpa norma (normlessness). Ia menyebutnya sebagai situasi ketika sistem untuk mengontrol perilaku telah hancur.
Kembali di era yang sama, muncul pemikir lain yang tertarik melihat bagaimana psikologi manusia secara teoritis beroperasi, yakni pemikir psikoanalisis bernama Sigmund Freud. Konsep-konsep yang dipikirkannya pada masa industrialisasi awal abad ke-20, yakni Id, Ego dan Superego menurut saya masih sangat relevan ketika dipakai untuk membaca masyarakat kapitalis dan industrialis masa kini.
Yang berbeda, psikoanalisis pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 digunakan untuk melihat masyarakat di ruang fisik. Sementara itu, pada masa kini, konsep- konsepnya juga dapat digunakan untuk melihat masyarakat baik di ruang fisik maupun di virtual dan di dunia digital. Orang tidak hanya berbicara mengenai Citizen, tetapi juga Netizen.
Konsep Superego
Freud menciptakan struktur model psikis untuk menjelaskan bahwa manusia memiliki 3 komponen penting dalam dirinya. Pertama adalah Id, yakni hasrat yang berada di tataran ketidaksadaran.
Dasar dari Id ini bersifat libidinal, berada di area paling bawah, yakni kebutuhan dasar manusia. Kalau di Candi Borobudur, ia juga banyak digambarkan di tataran paling bawah candi, Karmawibangga.
Hasrat atau desire, menurut Freud, merupakan kekuatan yang mendorong perilaku manusia. Ia berada di alam bawah sadar, secara umum bersifat seksual dan agresif, yang menginginkan adanya pemenuhan terhadap hasrat itu dengan segera (yang disebutnya sebagai pleasure principle).
Id ini adalah urusan perut ke bawah, sebuah “selangkangan” dalam makna riil dan simbolis. Ketika Id bersifat simbolis, artinya hasrat bukan hanya persoalan seksual. Ia dapat terejawantahkan dalam hasrat kekuasaan, hasrat mendominasi, hasrat untuk berbuat kekerasan, baik secara fisik, psikologis maupun verbal.
Kedua adalah Ego. Ego adalah rasional, bagian pemikiran yang berada di tataran kesadaran yang menyeimbangkan antara impulsive-nya Id dan dorongan moral dari Superego. Ego adalah rasional untuk menjustifikasi hasrat tersebut. Ia ada di kepala, merasionalisasi yang dilakukan manusia.
Ketiga adalah Superego. Ia adalah kompas moral. Superego-lah yang mengerem-ngerem ketika hasrat meletup-letup. Superego adalah komponen etik dari personalitas manusia yang merujuk pada standar moral masyarakat.
Keberadaan Superego tidak bisa dilepaskan dari peran keluarga (orangtua) dan masyarakat yang berfungsi sebagai penjaga moral. Ketiganya berkonflik di dalam diri manusia, berdebat dengan fungsi masing-masing. Siapa yang menang, ia akan menjadi bahan rujukan.
Kemunculan Id, Ego dan Superego ini tentu saa tidak bisa dilepaskan dari masyarakat rasionalistik era René Descartes pada Abad Pencerahan (dengan slogannya Cogito Ergo Sum). Pemikiran scientific diadopsi untuk menjelaskan kebutuhan manusia sebagai yang material.
Mesin-mesin menjadi alat-alat baru kekuasaan kapital. Mereka adalah hasrat-hasrat baru, selangkangan-selangkangan baru para pemilik modal untuk menjajah para proletar. Manusia nir empati bermunculan.
Hasrat pada uang dan kekuasaan berkeliaran menciptakan Orang Kaya Baru yang menindas. Eksploitasi pada kaum buruh, dan petani-petani yang terpinggirkan, memunculkan pemikiran Durkheim, bahwa agama masih bisa menjadi alat perekat. Solidaritas ia kemukakan sebagai Superego kolektif yang yang berfungsi sebagai penguat the power of the group.
Id, Ego dan Superego masih relevan untuk melihat masyarakat masa kini karena penindasan-penindasan di era yang terkenal sebagai era digital ini, merambah tidak hanya sebagai relasi antara bourgeois dan proletar. Hasrat untuk menindas juga bersifat virtual dan subjek pelakunya bisa siapa saja. Kita semua menjadi bagian di dalamnya.
Suatu ketika, beberapa bulan lalu saya membaca sebuah berita. Diceritakan, ada seorang artis perempuan Indonesia berusia akhir 30-an tahun yang sedang duduk dan difoto serta terpampang di media sosial.
Hasil jepretan foto tersebut ramai diperbincangkan. Para netizen berpolemik pro dan kontra. Yang satu sisi berkata “Dia sekarang tua, padahal dulu cantik sekali”. Yang lain menjawab, “Semua orang akan tua pada waktunya.”
Di kesempatan yang lain, saya membaca sebuah berita. Seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi papan atas yang IP-nya 3.94 mengikuti sebuah perlombaan science. Alih-alih terpukau dengan kehebatan otak pemuda ini, netizen sibuk pro dan kontra menggunjingkan dia yang mereka sebut, “Wajahnya jelek”.
Bayangkan, mereka sama sekali tidak mengenal secara pribadi kedua orang tersebut. Namun, keduanya dihujat habis-habisan.
Mungkin ketika ditanya apa alasan para penghujat menghujat kedua orang tersebut, mereka juga tidak akan menemukan jawabannya. Hasrat mem-bully, mengobjektivikasi dan menghukum orang lain karena perasaan suka atau tidak suka secara instan tanpa alasan, kadang dirasionalisasi dengan kepentingan untuk viral.
Mereka seringkali tidak menyangka bahwa yang di-bully di media ini menahan sakit hati, runtuh emosi tapi tidak mampu berkata apa-apa. Lha siapa yang sanggup melawan Netizen +62 yang sedemikian perkasa.
Di sebuah citraan yang lain, saya melihat seorang guru yang sedang video call dengan seorang penyandang disabilitas. Penyandang disabilitas tersebut memiliki keterbatasan wicara.
Guru ini menyapa penyandang disabilitas ini dengan mengejek menirukan cara bicaranya. Penyandang disabilitas ini sempat mengingatkan “Bapak ini guru lho”. Empati pada yang lain melalui Superego, dilibas habis oleh selangkangan digital. Manusia hidup, tetapi mereka tanpa jiwa.
Berpijak pada contoh lain yang lebih terkait dengan orang-orang yang merupakan public figure, “orang-orang Besar” yang digadang-gadang menjadi punggawa dalam mengangkat derajad orang banyak. Mereka adalah orang-orang yang duduk di kursi-kursi empuk di berbagai lini strata atas kehidupan sosial.
Banyak di antara mereka yang menghanyutkan diri dalam dunia flexing, pamer kekayaan, dan pamer barang-barang mewah. Mereka lupa, banyak rakyat miskin mati kelaparan (ini makna denotatif).
Di beberapa kesempatan, pernah diberitakan satu keluarga mati kelaparan di rumah mereka. Pernah diberitakan ada seorang ibu yang menjadi pengemudi ojek online sambil membawa tabung oksigen karena dia sedang sakit tetapi tetap harus mencari nafkah.
Mereka buta, tidak melihat ketika ada seorang bapak dihajar massa, karena ia mencuri sekaleng susu untuk balitanya. Mereka tutup mata, pada berita seorang anak kelas 5 SD yang memutuskan berhenti sekolah karena merawat ibunya yang stroke atau berita anak umur 10 tahun yang bunuh diri karena orang tuanya tidak mampu membelikannya sebuah ballpoint.
Mereka cuek saja. Mereka tetap pamer tas-tas Hermes mereka, Moge-Mode mereka, jam tangan Rolex mereka. Rakyat bagi mereka itu ada tapi tiada. Rakyat bagi mereka hanyalah mesin peraup suara dalam pemilu yang dilupakan ketika mereka sudah nangkring di kursi-kursi empuk kekuasaan mereka.
Mengapa Superego tidak berfungsi? Ia tidak berfungsi karena tidak diasah. Ia juga tidak berfungsi karena ekosistemnya membangun kognisi dengan terus menerus mengulang-ulang praktik-praktik sosial sehingga menjadi tersistem, menjadi mindset.
Hati-hati, ternyata ketidakberfungsian Superego bersifat menular karena kuatnya hasrat dan libido. Hasrat ini seperti “slilit” (kotoran di antara gigi-gigi setelah makan). Seenak apapun makanan, ketika sudah menjadi “slilit” akan tetap bau.
Ia bau karena diapit oleh gigi-gigi dan mulut yang berbakteri. Menghindari ekosistem dan gerombolan seperti ini adalah cara cerdas agar Superego tetap berfungsi.
Agama Menjadi Positive Force
Pertanyaan lain, lalu dimana menumbuhkan Superego agar kita selalu dalam lingkungan yang penuh empati, dan memiliki jiwa welas asih pada Liyan? Pada abad 19 dan awal abad 20, Emile Durkheim memberikan pandangan bahwa agama bisa menjadi positive force bagi masyarakat yang sakit.
Agama dijadikan harapan oleh Durkheim, di tengah masyarakat yang kehilangan empati dan solidaritasnya. Agama yang digadang bisa menjadi harapan ini pupus ketika digunakan untuk menjawab persoalan masa kini di Indonesia.
Bagaimana tidak, para pemimpin agama yang menjadi harapan banyak orang tua sampai mereka memasrahkan anak mereka agar menjadi anak berbudi luhur, justru menjadi korban predator seksual.
Sementara itu, Freud memiliki jawaban lain. Tempat tumbuhnya Superego adalah di keluarga dan masyarakat. Masalahnya, bagaimana Superego tumbuh ketika banyak orangtua yang menjadi panutan kerjaannya justru sibuk di WA grup, reunion SMA, arisan dan touring tapi maksa-maksa anak harus lulus Cumlaude.
Mereka membiarkan anak mereka mencari dalam kesepian. Bagaimana kita bisa pasrah pada masyarakat yang sakit, yang bahkan membuat para Gen Z yang sangat digital bersembunyi di rumah digital mereka, agar tidak kena olok-olok dan mengalami bully. Banyak dari mereka yang menghindar dari mockery dan bar-bar-nya kekerasan virtual.
Kalau sudah seperti ini, siapa yang paling diuntungkan? Yang paling diuntungkan adalah para pemilik plateform yang arena digitalnya dipakai untuk kontestasi-kontestasi.
Mereka ibaratnya bobotoh, bandar yang menyelenggarakan sabung ayam yang pesertanya adalah kita-kita, jutaan orang. Mereka adalah manusia-manusia yang pandai mengelola hasrat orang lain. Ketika semakin seru pertandingan, maka cuan mengalir ke poket-poket harian mereka.
Ah, sudahlah, membicarakan hal-hal di atas tidak akan ada selesainya. Yang penting untuk diingat: Kalau kamu masih memuja hasratmu dan kamu jadikan hasrat itu sebagai panglima dalam tindakanmu di kehidupan riil dan di alam digitalmu tanpa empati, tanpa welas asih, maka kamu hanyalah selangkanganmu. (*)
Disclaimer penulis: tulisan ini adalah refleksi untuk sebuah orasi sehingga ditulis tanpa daftar pustaka.
*Disampaikan dalam Orasi Literasi Pesta Buku Jogja, GIK, 13 Mei 2026.
Editor : ceraken editor































































