Biang Kerok

Senin, 18 Mei 2026 - 06:34 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi: cewe / ceraken.id

Ilustrasi: cewe / ceraken.id

Catatan Cukup Wibowo*)

CERAKEN.ID — Saat ini kita serasa hidup di tengah sesuatu yang kita tahu bermasalah, dan ada yang membuat semua ini jadi masalah, tapi kita tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan semuanya berlangsung. Semua ini karena ada “biang kerok”-nya.

Sebuah istilah yang pernah kita saksikan dalam film yang dibintangi oleh Benyamin S. dimana film itu tampak ringan, bahkan hampir jenaka, tetapi sesungguhnya bila dikaitkan dengan keadaan saat ini menyimpan ironi yang begitu dalam.

Sebab yang kita maksud bukan sekadar pelaku, melainkan pola. Bukan hanya orang, tetapi cara berpikir yang menjalar dan menetap.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ini tentu saja menggelisahkan sebagai sebuah kenyataan. Bahwa biang kerok itu tidak pernah datang dengan wajah yang buruk. Tidak mengetuk pintu dengan ancaman, malah sebaliknya masuk dengan janji yang sungguh manis.

Sebelum menjadi sumber masalah, sang Biang Kerok lebih dulu memoles dirinya sebagai Problem Solver. Ia tampil meyakinkan, bahkan memikat. Kita tidak hanya menerima kehadirannya, kita menyambutnya dengan begitu penuh harapan melangit.

Di sinilah letak awal persoalan, kita lebih mudah percaya pada penampilan daripada proses, pada retorika daripada rekam jejak, pada sensasi daripada substansi.

Kita Mendukung Sistem

Kita mungkin tahu bahwa ada yang tidak beres. Tapi kita juga tahu bahwa mengakui ketidakberesan itu menuntut sesuatu dari kita, yakni keberanian untuk bersuara, konsistensi untuk bertindak, dan kesediaan untuk tidak nyaman.

Maka yang sering terjadi justru sebaliknya, kita memilih diam. Kita mengangguk. Kita beradaptasi. Bahkan, dalam banyak kasus, kita ikut menikmati serpihan kecil dari sistem yang kita kritik itu sendiri.

Biang kerok tidak tumbuh dalam ruang hampa. Ia hidup karena dukungan sistem. Dan di dalam sistem yang menghasilkan keadaan itu, suka atau tidak, senyatanya adalah kita semua.

Baca Juga :  “Widyaiswara, Penentu Standar, Pemacu Nalar.”

Ada semacam kebiasaan kolektif yang sulit kita lepaskan yaitu permisivitas. Kita terlalu mudah memberi ruang bagi sesuatu yang tampak menguntungkan dalam jangka pendek, meski kita tahu ada harga yang tak murah, yang harus dibayar di kemudian hari.

Kita memaklumi yang seharusnya dikoreksi, membiarkan yang seharusnya dibenahi. Dalam diam, kita seperti menandatangani persetujuan tak tertulis bahwa selama semuanya masih “bisa jalan”, kita tidak perlu repot-repot mengubahnya.

Padahal, justru dari situlah masalah menjadi kronis. Biang kerok tidak lagi berdiri sebagai individu yang bisa ditunjuk dan dikoreksi. Ia menjelma menjadi sistem—mengakar dalam prosedur, bersembunyi dalam kebijakan, dan beroperasi melalui kebiasaan yang dianggap normal.

Ketika sesuatu yang keliru menjadi kebiasaan, ia tak akan terlihat sebagai kekeliruan. Kita lalu hidup dalam ilusi keteraturan. Semua tampak berjalan sebagaimana mestinya; aturan ada, mekanisme tersedia, keputusan sudah dibuat.

Tetapi di balik itu, ada kekosongan makna. Aturan dijalankan bukan karena diyakini, melainkan karena harus. Kepatuhan kehilangan ruhnya, tinggal formalitasnya saja.

Yang lebih mengkhawatirkan, kondisi ini bersifat menurun sebagaimana sebuah warisan, bukan melalui doktrin eksplisit, tetapi lewat contoh sehari-hari. Generasi berikutnya belajar bukan dari apa yang kita katakan, tetapi dari apa yang kita tunjukkan sebagai toleransi dalam memaafkan kekeliruan.

Mereka melihat bagaimana kita menyesuaikan diri dengan ketidakberesan, dan tanpa sadar menganggap itu sebagai cara hidup yang wajar.

Jawaban Paling Jujur adalah Kesadaran

Di titik ini, kita tidak lagi sekadar berhadapan dengan biang kerok. Kita sedang berhadapan dengan kemungkinan bahwa biang kerok itu telah menjadi bagian dari diri kita sendiri.

Pertanyaannya menjadi lebih sulit, jika masalahnya bukan lagi “mereka”, tetapi “kita”, lalu dari mana perubahan bisa dimulai?

Jawaban yang paling jujur mungkin juga yang paling tidak nyaman bahwa perubahan tidak akan lahir dari kemarahan sesaat atau keluhan yang berulang. Melainkan dari kesadaran kita yang konsisten, kesadaran untuk tidak ikut larut dalam pola yang sama, bahkan ketika itu terasa lebih mudah dan lebih menguntungkan.

Baca Juga :  Ketika AI lebih Pintar, Lantas Apa Yang Tersisa dari Pendidikan?

Kesadaran semacam ini memang tidak heroik oleh karena tidak kasat mata, hanya berjalan pelan. Tetapi justru di situlah kekuatannya. Karena sistem yang keliru tidak hanya dibangun oleh tindakan besar, tetapi juga dipelihara oleh kebiasaan kecil yang terus diulang tanpa dipertanyakan.

Maka, melawan biang kerok barangkali tidak selalu berarti menggulingkan sesuatu yang besar. Kadang, ia dimulai dari keputusan sederhana, tidak ikut membenarkan yang salah, tidak ikut diam ketika ada yang perlu disuarakan, dan tidak ikut menikmati keuntungan dari sesuatu yang kita tahu merusak.

Ini bukan jalan yang cepat. Bahkan mungkin tidak segera terlihat hasilnya. Tetapi jika kita terus menunda, dengan alasan apa pun, kita sebenarnya sedang memberi waktu bagi biang kerok itu untuk semakin sempurna membentuk sistem.

Dan ketika ia sudah sepenuhnya menjadi sistem, kita mungkin tidak lagi punya cukup ruang untuk mengoreksinya karena kita sendiri sudah terlalu lama hidup nyaman di dalamnya.

Pada akhirnya, refleksi ini bukan untuk mencari siapa sesungguhnya biang kerok dari kisah kekeliruan sistem ini. Refleksi ini lebih dekat pada pertanyaan yang seharusnya kita ajukan pada diri sendiri, sampai kapan kita mau menjadi bagian dari masalah yang kita keluhkan?

Karena bisa jadi, biang kerok terbesar bukanlah mereka yang pandai berpura-pura, melainkan kita yang terlalu lama memilih untuk tidak peduli.**

*) Penulis adalah seorang Widyaiswara Ahli Utama di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat

 

Editor : ceraken editor

Berita Terkait

“Widyaiswara, Penentu Standar, Pemacu Nalar.”
Ketika AI lebih Pintar, Lantas Apa Yang Tersisa dari Pendidikan?
Kebodohan dan Kekuasaan
Ketika Semua Merasa Benar
Arus Balik, Sejarah yang Selalu Berulang
Isu Mobilitas Berkelanjutan di Dua Jalur ke Lakkang
Menguatkan Literasi Perubahan Iklim lewat Jurnalisme Positif
Kata Ru’yat sebagai Sumber Polemik?

Berita Terkait

Senin, 18 Mei 2026 - 06:34 WITA

Biang Kerok

Jumat, 15 Mei 2026 - 10:12 WITA

“Widyaiswara, Penentu Standar, Pemacu Nalar.”

Senin, 11 Mei 2026 - 19:05 WITA

Ketika AI lebih Pintar, Lantas Apa Yang Tersisa dari Pendidikan?

Senin, 11 Mei 2026 - 08:47 WITA

Kebodohan dan Kekuasaan

Sabtu, 9 Mei 2026 - 20:06 WITA

Ketika Semua Merasa Benar

Berita Terbaru

Pale Blue Dot - I Nyoman  Sandiya. Pada akhirnya, seluruh kehidupan, seluruh mimpi, dan seluruh sejarah manusia memang hanya berlangsung di sebuah titik biru pucat bernama bumi (Foto: ist / ceraken.id)

PAGELARAN

Pale Blue Dot dan Kesadaran yang Menyala di Tengah Semesta

Rabu, 20 Mei 2026 - 00:02 WITA

Musik dalam pertunjukan ini hadir sebagai perekat sosial: bahasa universal yang melampaui sekat-sekat etnik (Foto: aks / ceraken.id)

PAGELARAN

Merajut Nada dari Pulau Seribu Masjid

Selasa, 19 Mei 2026 - 14:27 WITA

Hari Museum Internasional 2026. Museum benar-benar hidup sebagai ruang publik, ruang pengetahuan, ruang peradaban, sekaligus pilar masa depan Indonesia (Foto: kemenbud.go.id / ceraken.id)

BALE EDUKASI

Museum sebagai Ruang Peradaban yang Menyatukan

Selasa, 19 Mei 2026 - 10:09 WITA