Ketika AI lebih Pintar, Lantas Apa Yang Tersisa dari Pendidikan?

- Penulis

Senin, 11 Mei 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ilustrasi: karya SMAN 8 Mataram / ceraken.id

Ilustrasi: karya SMAN 8 Mataram / ceraken.id

Oleh: Widodo Dwi Putro – Guru Besar FHISIP Unram

CERAKEN.ID — Beberapa dekade lalu, wacana tentang mesin yang melampaui kecerdasan manusia hanyalah konsumsi fiksi ilmiah. Namun, hari ini, perdebatan itu berpindah ke meja-meja redaksi dan ruang kelas. Kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) generatif yang kian canggih memicu kecemasan eksistensial.

Dunia pendidikan kita hari ini sedang berada di persimpangan jalan yang paling radikal. Kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) bukan lagi sekadar alat bantu (tool), melainkan telah menjadi ekosistem.

Dari ruang kelas di kota besar hingga gawai di pelosok desa, algoritma mulai mengambil alih peran-peran kognitif yang selama berabad-abad dianggap sebagai monopoli manusia seperti merangkum informasi, memecahkan soal logika, hingga menyusun narasi artistik.

Pertanyaan eksistensial muncul, jika mesin bisa menulis esai lebih rapi dan meriset data lebih akurat daripada manusia, lantas apa yang tersisa bagi dunia pendidikan?

Jebakan Kecerdasan Imitatif

Masalah utama pendidikan kita selama ini adalah kecenderungannya untuk mereplikasi cara kerja mesin. Kurikulum yang berbasis pada hafalan, kecepatan menghitung, dan standarisasi ujian pada dasarnya adalah upaya mencetak “manusia-mesin”. Kita menghargai siswa yang mampu menyimpan data paling banyak dan mengeluarkannya kembali saat ujian.

Ironisnya, justru di ranah itulah AI menang telak. Jika pendidikan hanya dimaknai sebagai transfer informasi atau penguasaan kognitif tingkat rendah, maka sekolah akan segera menjadi museum masa lalu.

AI tidak pernah lelah, tidak memiliki bias kelelahan, dan memiliki akses ke hampir seluruh perpustakaan digital dunia dalam hitungan detik. Melawan AI di ranah teknis-kognitif adalah pertempuran yang sudah kalah sebelum dimulai.

Menggeser Bandul Pedagogi

Pendidikan harus berhenti berkompetisi dengan AI dan mulai berkomplementasi dengannya. Ada tiga pergeseran fundamental yang harus dilakukan:

Pertama, dari “Tahu Apa” menjadi “Tahu Mengapa”. Pengetahuan bukan lagi komoditas langka. Tantangan siswa masa depan bukan lagi mencari jawaban, melainkan merumuskan pertanyaan yang tepat dan kritis (prompt engineering dalam makna filosofis).

Baca Juga :  Menggali Akar, Menoreh Jiwa: Merawat Musik Tradisi NTB dari Panggung Taman Budaya

Pendidikan harus melatih kemampuan bertanya, skeptisisme intelektual, dan berpikir sistemik yang mampu melihat keterhubungan antarfenomena yang mungkin luput dari algoritma.

Kedua, penguatan kecerdasan moral dan etika. Di tengah banjir data dan otomatisasi, ada satu wilayah yang tidak bisa dipetakan oleh bit dan atom, yaitu hati nurani. Jika AI bekerja berdasarkan probabilitas statistik, manusia bekerja berdasarkan nilai, empati, dan rasa tanggung jawab moral.

Hati nurani adalah “persembunyian” terdalam dari manusia. Di sana, keputusan tidak diambil berdasarkan perhitungan efisiensi semata, tetapi berdasarkan pertimbangan tentang keadilan, kebenaran, dan cinta kasih.

Dalam konteks pendidikan, inilah yang disebut sebagai pedagogi reflektif. Saat algoritma memberikan jawaban instan, hati nuranilah yang bertanya:

“Apakah jawaban ini benar secara etis? Siapa yang dirugikan? Dan untuk apa pengetahuan ini digunakan?”

AI mampu mengolah data, tetapi ia tidak memiliki kompas moral. Ia bisa menulis narasi propaganda yang meyakinkan tanpa merasa bersalah.

Di sinilah peran krusial pendidikan: membentuk manusia yang mampu mengambil keputusan sulit berbasis empati, keadilan, dan integritas, sesuatu yang tidak bisa dikodekan dalam baris-baris kode.

AI bisa mendefinisikan dan mensimulasikan empati, tetapi ia tidak bisa merasakan penderitaan. AI bisa menyusun kode etik, tetapi ia tidak memiliki beban moral saat melakukan kesalahan.

Inilah garis batas tegas yang harus diperkuat oleh institusi pendidikan. Sekolah harus beralih fungsi dari pusat informasi menjadi pusat persemaian kebijaksanaan (wisdom).

Ketiga, mengembalikan aspek manusiawi dalam pembelajaran. Ruang kelas harus bertransformasi dari tempat “pengisian kepala” menjadi laboratorium kolaborasi sosial.

Interaksi guru-murid tidak boleh lagi sekadar menuangkan materi, melainkan proses pendampingan mental dan emosional. Guru tidak lagi menjadi “sumber segala ilmu”, melainkan kurator pemikiran dan mentor kebijaksanaan.

Hidup Berdampingan

Kita tidak bisa melarang AI masuk ke ruang kelas, sebagaimana kita tidak bisa melarang kalkulator masuk ke ruang matematika puluhan tahun silam. Yang dibutuhkan adalah “Literasi AI” yang kritis.

Baca Juga :  Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Siswa perlu diajarkan bagaimana mesin bekerja, di mana letak biasnya, dan bagaimana menggunakan alat tersbut untuk memperkuat potensi kemanusiaan mereka, bukan menggantikannya.

Dunia pendidikan harus menyadari bahwa tujuan akhir sekolah bukan lagi mencetak tenaga kerja siap pakai untuk industri yang repetitif karena pekerjaan macam itu akan diambil alih mesin. Tujuan pendidikan adalah mencetak manusia yang memiliki resiliensi, kreativitas tanpa batas, dan kemampuan untuk terus belajar (learn how to learn).

Jika AI lebih pintar secara kognitif, manusia harus lebih bijak secara eksistensial. Kita tidak perlu takut pada mesin yang menjadi lebih pintar, yang perlu kita takutkan adalah jika manusia menjadi malas berpikir kritis dan kehilangan rasa kemanusiaannya justru di tengah kelimpahan teknologi dan informasi.

Merawat Nyawa Pendidikan

Bersaing melawan mesin untuk menjadi yang paling cepat dan pintar adalah pertempuran yang mustahil kita menangkan. Pada akhirnya, pendidikan bukanlah perlombaan lari melawan prosesor silikon, melainkan upaya keras kepala untuk menjaga “agensi manusiawi” yakni percikan kesadaran dan kegelisahan moral yang tak akan pernah bisa dikodekan dalam baris-baris biner.

Jika kita membiarkan algoritma mendikte apa yang layak dipelajari, kita sebenarnya sedang mencetak generasi yang fasih mengeksekusi perintah namun bisu saat harus menggugat ketidakadilan. Tugas pendidik hari ini bukan lagi mengisi cawan yang kosong dengan informasi, melainkan menyulut api keberanian agar siswa tetap berani berpikir kritis di tengah dominasi dan keteraturan mesin yang dingin.

Ancaman terbesar bukanlah mesin yang menyerupai manusia, melainkan sistem pendidikan yang telah lama memaksa manusia menjadi mesin. Itulah mengapa, pendidikan juga tidak boleh kehilangan nyawanya, yaitu mengajarkan empati, kebaikan, dan kebebasan berkehendak, suatu barang mewah yang belum bisa digantikan oleh AI. (*)

Editor : ceraken editor

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore
Dari Tradisi ke Masa Depan: Mandalika Menjadi Panggung Kebudayaan
Melintasi Waktu Bersama Bunda Pustaka SDN Borong, Makassar
“Sade: Merawat Ingatan, Menata Masa Depan”
Begawe Beleq: Merayakan Budaya, Menggerakkan Kreativitas, Menguatkan Kebersamaan
Menggali Akar, Menoreh Jiwa: Merawat Musik Tradisi NTB dari Panggung Taman Budaya
Kemiskinan NTB Menurun, Pekerjaan Berikutnya Lebih Berat
Pertumbuhan Ekonomi NTB: Tinggi Angkanya, Perlu Merata Manfaatnya

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 17:31 WITA

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Rabu, 26 Agustus 2026 - 18:32 WITA

Melintasi Waktu Bersama Bunda Pustaka SDN Borong, Makassar

Minggu, 23 Agustus 2026 - 20:33 WITA

“Sade: Merawat Ingatan, Menata Masa Depan”

Kamis, 20 Agustus 2026 - 17:44 WITA

Begawe Beleq: Merayakan Budaya, Menggerakkan Kreativitas, Menguatkan Kebersamaan

Kamis, 13 Agustus 2026 - 16:33 WITA

Menggali Akar, Menoreh Jiwa: Merawat Musik Tradisi NTB dari Panggung Taman Budaya

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA