Mengalami Musik, Menjaga Akar: “Gugur Mayang” dan Jalan Kebudayaan Lombok Ethno Fusion

Minggu, 1 Februari 2026 - 02:03 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lombok Ethno Fusion menunjukkan bahwa merawat budaya tidak selalu berarti membekukannya dalam bentuk lama (Foto cropping dari video: aks)

Lombok Ethno Fusion menunjukkan bahwa merawat budaya tidak selalu berarti membekukannya dalam bentuk lama (Foto cropping dari video: aks)

CERAKEN.ID– Mataram — Di tengah arus musik populer yang bergerak cepat dan sering kali seragam, Lombok Ethno Fusion (LEF) kembali menegaskan jejaknya sebagai kelompok musik yang tidak sekadar merilis karya, tetapi merawat ingatan kolektif.

Sabtu, 31 Januari 2026, LEF merilis single kelima berjudul “Gugur Mayang”, sebuah tembang rakyat Sasak yang telah lama hidup di tengah masyarakat Lombok.

“Sudah tayang di kanal YouTube,” ujar front man LEF, Chandra Irawan, singkat namun penuh penegasan bahwa karya itu kini telah memasuki ruang publik yang lebih luas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Rilisan ini bukan sekadar peluncuran lagu baru, melainkan perjumpaan antara tradisi dan tafsir kekinian. “Gugur Mayang” bukan lagu yang lahir dari satu nama pencipta yang jelas. Ia adalah warisan kolektif, tumbuh dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi.

Dalam beberapa video lama di YouTube, bahkan ada yang diunggah sekitar 19 tahun lalu, keterangan yang muncul hanya “gubahan”. Artinya, lagu ini telah hidup lebih dulu, mengalir tanpa identitas personal, namun kuat sebagai identitas komunal.

“Tanpa keterangan penciptanya,” ujar Syahrul Barak, personel LEF yang juga memainkan bamboo flute, menegaskan sifat anonim sekaligus purba dari tembang tersebut.

“Gugur Mayang” adalah tembang nasihat. Ia tidak menggurui, tetapi mengingatkan. Liriknya bekerja melalui metafora alam: bunga mayang yang gugur, gunung yang meletus, kembang gadung yang membesar, semuanya membentuk lanskap simbolik yang sarat pesan moral.

Frasa “Gugur Mayang Kahuripan” melambangkan kehidupan yang penuh dengan manusia dan dinamika sosialnya, namun sekaligus mengandung potensi kehancuran bila tidak dijaga. Kehidupan diibaratkan bunga mayang: indah, namun rapuh, bisa gugur sewaktu-waktu.

Sementara “Kembang Gadung Sebesar Gunung” adalah metafora kehancuran besar yang dapat terjadi akibat perbuatan buruk, terutama pengkhianatan dalam lingkar kekuasaan.

Dalam konteks masyarakat tradisional, pesan ini berkait erat dengan etika kepemimpinan dan tanggung jawab moral terhadap komunitas.

Keseluruhan liriknya menekankan pentingnya tanggung jawab generasi penerus: menjaga tanah air, memajukan daerah warisan leluhur, dan menghindari keburukan yang dapat meruntuhkan tatanan sosial.

Lagu ini tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga memproyeksikan masa depan, sebuah ajakan untuk menjadi penerus bangsa yang baik dan beradab.

Dalam konteks kekinian, pesan tersebut terasa relevan. Di tengah modernitas yang kerap melunturkan ikatan lokal, “Gugur Mayang” menjadi semacam kompas moral yang mengingatkan bahwa kemajuan tidak boleh mengorbankan akar.

Wing Irawan (depan). Baginya, musik bukan hanya soal layak atau tidak layak, bukan sekadar teknik atau keterampilan memainkan nada, tetapi tentang “mengalami musik” itu sendiri. (Foto: aks)
Strategi Rilis dan Identitas Visual

Ketika ditanya apakah “Gugur Mayang” merupakan single keenam, Syahrul Barak buru-buru meluruskan.

“Bukan, ini yang ke-5,” sergahnya sambil merinci ulang perjalanan diskografi LEF: Sesenggak Sasak (2023), Timur Nusa (2024), Mindu (2025), dan Melet Bedait (2025).

Kesalahan hitung itu justru menunjukkan produktivitas yang konsisten, sekaligus menandai perjalanan yang tidak instan.

Menurut Syahrul, seluruh lagu sejatinya telah rampung lebih awal. Yang membuat jarak antar-rilis terasa panjang adalah keputusan untuk selalu menggarap video klip secara bersamaan.

“Biar nggak garing aja,” ujarnya.

Strategi ini memperlihatkan bahwa LEF tidak hanya berbicara soal musikalitas, tetapi juga tentang visualisasi budaya. Setiap rilis menjadi paket lengkap: bunyi, gambar, lanskap, kostum, hingga simbol-simbol Sasak yang dihadirkan ulang dalam bahasa visual yang segar.

Dalam ekosistem digital, keputusan ini penting. Musik tidak lagi hanya didengar, tetapi juga ditonton. Identitas budaya yang diusung LEF menemukan ruang baru untuk beresonansi, terutama di kalangan generasi muda yang lebih akrab dengan layar dibanding panggung konvensional.

Mengalami Musik, Bukan Sekadar Memainkan

Apresiasi terhadap “Gugur Mayang” datang dari berbagai kalangan. Wing Irawan, “pemimpin” Yoiakustik, memandang rilisan ini bukan semata produk musik, melainkan pengalaman kultural.

Baginya, musik bukan hanya soal layak atau tidak layak, bukan sekadar teknik atau keterampilan memainkan nada, tetapi tentang “mengalami musik” itu sendiri.

Mengalami musik, dalam pandangannya, adalah peristiwa emosional sekaligus neurologis. Otak melepaskan dopamin saat seseorang tenggelam dalam alunan bunyi; suasana hati berubah; ingatan dan asosiasi personal terpicu.

Musik bisa menjadi terapi, menjadi pengikat memori, bahkan menjadi “earworm” yang terus terngiang. Dalam titik ini, musik melampaui hiburan, ia menjadi ruang etik sekaligus estetik.

Wing juga menyinggung bagaimana kreativitas dalam seni sering kali terjebak dalam logika industri dan pelabelan sosial, termasuk dominasi gender dan struktur kekuasaan budaya.

Lombok Ethno Fusion, dalam kerangka itu, dilihat sebagai praktik kebudayaan yang sedang “berladang” di tanah yang tidak sepenuhnya netral: antara kebebasan artistik dan tekanan pasar, antara identitas lokal dan arus global.

Kreativitas bukan sekadar penciptaan bentuk baru, melainkan upaya merekonstruksi pengetahuan dan relasi sosial melalui bunyi.

Bagi Soni Hendrawan, kekuatan LEF terletak pada kemampuannya menjaga identitas lokal tanpa kehilangan daya jelajah global (Foto: aks)

Dalam sudut pandang ini, “Gugur Mayang” bukan hanya karya musikal, tetapi juga peristiwa kebudayaan, sebuah teks yang berkelindan dengan teks lain: sejarah, bahasa, simbol, dan ingatan kolektif masyarakat Sasak.

Resonansi Jazz dan Sentuhan Fusion

Dari perspektif musikal, Soni Hendrawan, seorang “musikalisator” (sebutan dirinya sebagai “pemusikalisasi puisi”) dari Sukabumi – Jawa Barat, merasakan nuansa yang mengingatkannya pada Casiopea dan Krakatau, dua nama besar dalam lanskap jazz fusion Asia.

“Genre jazz, subgenre fusion, bossanova,” ujarnya, menandai struktur musikal yang cair namun terukur.

Soni mencontohkan karya Krakatau seperti “Egrang Funk”, di mana sentuhan etnik Sunda berpadu dengan dinamika jazz modern.

Dalam “Gugur Mayang”, ia melihat pendekatan serupa: musik etnik tradisional yang digarap dengan teknik fusion sehingga menjadi lebih dinamis, modern, dan relevan bagi generasi kekinian.

Bagi Soni, kekuatan LEF terletak pada kemampuannya menjaga identitas lokal tanpa kehilangan daya jelajah global.

Fusion, dalam konteks ini, bukan sekadar pencampuran genre, tetapi pertemuan cara pandang. Instrumen tradisional seperti saron, gendang, dan bamboo flute tidak diposisikan sebagai ornamen, melainkan sebagai pusat narasi bunyi yang setara dengan gitar listrik, keyboard, dan drum modern.

Kolektivitas Bunyi dan Wajah Personel

“Gugur Mayang” juga menegaskan pentingnya kerja kolektif dalam tubuh Lombok Ethno Fusion.

Setiap personel membawa warna yang saling melengkapi: Chandra Irawan pada gitar, Syahrul Barak pada bamboo flute, Mariadi “Adi” Basri pada vokal, saron, dan gendang, Agustian Putra pada drum, Tannya “Anya” Efritzka pada keyboard, Lalu Sukmayadi pada bass, serta “Ayong” Ferdianto pada saron dan rencek.

Kehadiran instrumen tradisional berdampingan dengan instrumen modern bukan hanya pilihan artistik, tetapi juga pernyataan identitas. LEF seolah berkata bahwa modernitas tidak harus memutus tradisi; keduanya bisa berjalan berdampingan, saling menguatkan.

Pada akhirnya, “Gugur Mayang” bukan hanya tentang sebuah lagu yang dirilis pada tanggal tertentu. Ia adalah peristiwa kebudayaan yang memperlihatkan bagaimana tradisi dapat ditafsir ulang tanpa kehilangan makna dasarnya.

Dalam lagu ini, nasihat leluhur bertemu teknologi digital; metafora alam bertemu harmoni jazz; identitas lokal bertemu audiens global.

Lombok Ethno Fusion menunjukkan bahwa merawat budaya tidak selalu berarti membekukannya dalam bentuk lama.

Justru melalui tafsir baru, tradisi menemukan napas panjangnya. “Gugur Mayang” menjadi pengingat bahwa di tengah gempuran tren dan algoritma, selalu ada ruang untuk kembali pada akar, bukan untuk tinggal di masa lalu, melainkan untuk melangkah ke depan dengan pijakan yang lebih kokoh.

Musik, pada titik ini, tidak lagi sekadar didengar. Ia dialami sebagai getaran emosi, sebagai ingatan kolektif, sebagai nasihat yang menyeberangi generasi.

Dan di sanalah “Gugur Mayang” menemukan relevansinya: bukan hanya sebagai lagu daerah Sasak, tetapi sebagai suara yang terus gugur dan tumbuh kembali, seperti bunga mayang dalam siklus kehidupan yang tak pernah benar-benar selesai.(aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Dipsy Do di Soundrenaline 2025: Dari Mataram ke Pusat Hiruk-Pikuk Modernitas
“Melet Bedait”: Ratapan Lama dalam Napas Baru Lombok Ethno Fusion
Nostalgia, Suara, dan Jejak Emosi: Menyambut “Tapaq Tilas”, Single Perdana Sanggaita
Lebih Dekat dengan Sabo, Gitaris SKID Row
Mengenang Musisi Yockie Suryo Prayogo: Kiprahnya Membesarkan Godbless
Lebih Dekat Dengan Eks Metallica: Jason Newsted
Mengenang Jimi Hendrix
Ada Ferdi Sambo di Laga Presean Perang Bintang Mayura

Berita Terkait

Minggu, 1 Februari 2026 - 02:03 WITA

Mengalami Musik, Menjaga Akar: “Gugur Mayang” dan Jalan Kebudayaan Lombok Ethno Fusion

Senin, 22 Desember 2025 - 15:50 WITA

Dipsy Do di Soundrenaline 2025: Dari Mataram ke Pusat Hiruk-Pikuk Modernitas

Sabtu, 20 Desember 2025 - 09:25 WITA

“Melet Bedait”: Ratapan Lama dalam Napas Baru Lombok Ethno Fusion

Sabtu, 29 November 2025 - 18:41 WITA

Nostalgia, Suara, dan Jejak Emosi: Menyambut “Tapaq Tilas”, Single Perdana Sanggaita

Sabtu, 16 September 2023 - 08:44 WITA

Lebih Dekat dengan Sabo, Gitaris SKID Row

Berita Terbaru

Mr. Red (kiri), Kim Dong Pil (tengah), Lalu Syaukani (kanan), Karya tersebut merupakan hasil pembacaan visual Kim terhadap lanskap persawahan Tetebatu yang ia rekam pada Mei 2025 (Foto: aks)

BUDAYA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Feb 2026 - 23:01 WITA

Dari hobi suka mengoleksi kompor portable dan senter, tersirat bahwa ia tak membanggakan benda-benda itu. (Foto: ist)

TOKOH & INSPIRASI

Di Balik Hobi Unik Andi Irawan: Berburu Kompor Portable dan Senter Koleksi

Sabtu, 7 Feb 2026 - 19:35 WITA