Menjemput Kesembuhan di Tangan Belian: Potret Sosiologis Pengobatan Nonmedis di Bumi Dayan Gunung

Rabu, 28 Januari 2026 - 07:59 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Secara sosiologis, Belian bukan sekadar

Secara sosiologis, Belian bukan sekadar "penyembuh tradisional". Ia adalah seorang mediator budaya (Foto: Alfan Hadi)

Oleh : ALFAN HADI, SH, MH – Praktisi Hukum Gumi Dayan Gunung

CERAKEN.ID– Di tengah deru modernitas dan akses kesehatan yang kian merata di Lombok Utara, sebuah fenomena sosiologis tetap bertahan kokoh di bawah bayang-bayang Gunung Rinjani. Eksistensi Belian bagi masyarakat Bumi Dayan Gunung.

Sakit bukan sekadar disfungsi biologis yang bisa diselesaikan dengan resep apotek . Ada ruang gelap dalam kesadaran kolektif mereka di mana penyakit dianggap sebagai hasil dari disharmoni sosial atau serangan metafisika : seperti sihir, tenung, dan santet.

Secara sosiologis, Belian bukan sekadar “penyembuh tradisional”. Ia adalah seorang mediator budaya. Ketika diagnosa medis menemui jalan buntu terhadap penyakit-penyakit yang dianggap “buatan” (penyakit pegawean), Belian hadir memberikan penjelasan yang masuk akal bagi nalar lokal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di sinilah letak peran vitalnya, Belian memberikan kepastian di tengah ketidakpastian. Ia menawarkan narasi kesembuhan yang menyentuh aspek psikologis dan spiritual yang sering kali terabaikan dalam ruang periksa dokter.

Konteks Masyarakat Pedesaan, Mengapa Balian Tetap Menjadi Opsi?

Ada beberapa faktor yang mendasari mengapa masyarakat pedesaan di Lombok Utara tetap menjadikan Belian sebagai pilihan utama dalam kasus nonmedis:

•Kedekatan Kultural: Belian berbicara dalam bahasa yang sama dengan pasien, baik secara linguistik maupun simbolik.
•Aksesibilitas Emosional: berbeda dengan birokrasi rumah sakit yang kaku, interaksi dengan Belian bersifat personal dan komunal.
•Sistem Kepercayaan (Belief System): adanya keyakinan bahwa kekuatan jahat hanya bisa ditaklukkan oleh kekuatan spiritual yang setara. Pengobatan ini dianggap sebagai mekanisme pertahanan diri terhadap ancaman yang tidak kasat mata.

Baca Juga :  Merawat Akar, Menjangkau Dunia: Dinamika Event Kebudayaan di NTB Era Global

Fenomena Belian di Lombok Utara membuktikan bahwa di balik struktur masyarakat yang tampak modern, terdapat akar tradisi yang tetap hidup. Kehadiran mereka bukan sebagai kompetitor medis, melainkan sebagai pelengkap kebutuhan psikis masyarakat.

Menjemput kesembuhan di tangan Belian adalah sebuah perjalanan mencari keseimbangan, sebuah upaya manusiawi untuk memulihkan raga sekaligus jiwa yang terganggu oleh kekuatan luar.

1. Analisis Dari Sudut Pandang Sejarah: Kontinuitas Peradaban
Secara historis, Belian adalah potret sinkretisme dan daya tahan budaya masyarakat Lombok Utara. Sejarah mencatat bahwa sebelum sistem medis modern masuk, Belian (atau sebutan serupa dalam tradisi lokal) adalah otoritas tunggal kesehatan.

Kehadiran mereka di Bumi Dayan Gunung merupakan bentuk kontinuitas dari kearifan lokal yang mampu beradaptasi dengan masuknya nilai-nilai agama.

Belian mengintegrasikan mantra kuno dengan doa-doa transendental, menciptakan sebuah sistem penyembuhan yang dianggap “asli” milik masyarakat lokal.

Secara historis, ketergantungan pada pengobatan tradisional sering kali menjadi bentuk perlawanan diam-diam (silent resistance) terhadap sistem Barat.

Ketika akses kesehatan di masa lalu dikuasai oleh kolonial atau hanya tersedia di pusat kota, masyarakat pedesaan memperkuat institusi Belian sebagai bentuk kemandirian kesehatan berbasis komunitas.

2. Analisis Dari Sudut Pandang Ekonomi
Seringkali pilihan ke Balian dianggap tidak logis, namun secara ekonomi, ini adalah keputusan yang sangat rasional bagi masyarakat pedesaan.

Baca Juga :  Perspektif Kebudayaan NTB Mendunia: Dari Bumi Gora ke Panggung Global

Sistem medis formal seringkali melibatkan biaya tak terduga (transportasi ke kota, administrasi, obat-obatan kimia). Sebaliknya, hubungan ekonomi dengan Belian biasanya bersifat substansial dan sukarela.

Sistem sesari atau imbalan seikhlasnya menciptakan aksesibilitas bagi lapisan ekonomi terbawah. Ini adalah bentuk “asuransi sosial” berbasis kearifan lokal.

Bagi petani di pedesaan Lombok Utara, menghabiskan waktu berhari-hari untuk rujukan ke rumah sakit besar di kota memiliki biaya peluang yang tinggi (kehilangan waktu kerja).

Belian yang berada di jantung desa menawarkan solusi yang cepat secara lokasi, sehingga meminimalisir kerugian ekonomi akibat hilangnya waktu produktif.

Transaksi ekonomi dalam praktik Belian tidak hanya membeli “obat”, tetapi membeli “rasa aman”. Dalam perspektif ekonomi perilaku, nilai kepuasan (utility) yang didapat pasien dari ketenangan batin seringkali jauh lebih tinggi dibandingkan harga yang mereka bayarkan kepada Belian.

Penutup

Jika kita satukan, fenomena Belian di Bumi Dayan Gunung adalah sebuah Institusi Paripurna, maka :

– secara sosiologis ia adalah perekat harmoni masyarakat.
– secara sejarah ia adalah penjaga identitas dan memori kolektif.
– secara ekonomi ia adalah solusi kesehatan yang inklusif dan terjangkau.

Balian bukan sekadar sisa-sisa masa lalu yang tertinggal oleh zaman.

Ia adalah entitas yang lahir dari panjangnya sejarah peradaban Lombok, bertahan karena ketangguhan ekonominya, dan dicintai karena kedalaman sosiologisnya.

Di Bumi Dayan Gunung, Belian adalah jawaban bagi mereka yang mencari kesembuhan yang memanusiakan manusia.

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Berita Terkait

Menakar Kinerja Tim Ahli Gubernur di Tengah Momentum Kebangkitan Ekonomi NTB
Enterprise Risk Management: Mengelola Ketidakpastian untuk Menjaga Keberlanjutan Perusahaan
Analisis Hukum Pemberhentian Kepala Desa Berdasarkan Putusan Adat: Konspirasi Tanpa Dasar dan Cacat Secara Yuridis
Mandalika: Antara Sirkuit Dunia dan Fondasi Budaya yang Menjaga Masa Depan
Menuju Pemajuan Kebudayaan NTB
Carpe Diem vs. Hedonisme
Merawat Akar, Menjangkau Dunia: Dinamika Event Kebudayaan di NTB Era Global
Satu Panggung, Satu Empati: Artunity Merawat Kemanusiaan untuk Sumatera

Berita Terkait

Sabtu, 7 Februari 2026 - 08:05 WITA

Menakar Kinerja Tim Ahli Gubernur di Tengah Momentum Kebangkitan Ekonomi NTB

Jumat, 6 Februari 2026 - 14:42 WITA

Enterprise Risk Management: Mengelola Ketidakpastian untuk Menjaga Keberlanjutan Perusahaan

Rabu, 4 Februari 2026 - 08:55 WITA

Analisis Hukum Pemberhentian Kepala Desa Berdasarkan Putusan Adat: Konspirasi Tanpa Dasar dan Cacat Secara Yuridis

Selasa, 3 Februari 2026 - 15:22 WITA

Mandalika: Antara Sirkuit Dunia dan Fondasi Budaya yang Menjaga Masa Depan

Jumat, 30 Januari 2026 - 14:04 WITA

Menuju Pemajuan Kebudayaan NTB

Berita Terbaru

Mr. Red (kiri), Kim Dong Pil (tengah), Lalu Syaukani (kanan), Karya tersebut merupakan hasil pembacaan visual Kim terhadap lanskap persawahan Tetebatu yang ia rekam pada Mei 2025 (Foto: aks)

BUDAYA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Feb 2026 - 23:01 WITA

Dari hobi suka mengoleksi kompor portable dan senter, tersirat bahwa ia tak membanggakan benda-benda itu. (Foto: ist)

TOKOH & INSPIRASI

Di Balik Hobi Unik Andi Irawan: Berburu Kompor Portable dan Senter Koleksi

Sabtu, 7 Feb 2026 - 19:35 WITA