CERAKEN.ID — Di tengah pesatnya pertumbuhan sektor pariwisata di Pulau Lombok, hadir model usaha yang mencoba melampaui pola bisnis konvensional. Rplay Lombok tidak hanya bergerak dalam sektor komersial, tetapi juga menghadirkan ruang bagi pertemuan budaya dan seni melalui galeri yang menjadi bagian dari konsep usahanya.
Menurut Nitha, Chief Secretary PT Rplay Group Indonesia, unit usaha Rplay di Lombok kini bergerak di beberapa sektor sekaligus, mulai dari tour and travel, restoran, galeri seni, hingga pusat perawatan kecantikan bertema Korea melalui Indo K-Beauty Center.
Selain menjalankan lini usaha tersebut, Rplay juga aktif memperkenalkan tren Korean make up dengan menggandeng berbagai pihak lokal, membuka peluang kolaborasi lintas industri kreatif.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Keberadaan ruang pamer di dalam kompleks bisnis Rplay bukanlah strategi pemasaran semata. Ide tersebut berangkat dari visi CEO perusahaan, Ryu Eunhyo, yang memiliki minat kuat terhadap seni.
Menurut Nitha, sang CEO memiliki gagasan untuk menyatukan budaya Korea dengan budaya lokal Indonesia, khususnya Lombok. Galeri pun menjadi ruang perjumpaan dua kebudayaan, tempat dialog visual berlangsung melalui karya seni.
Konsep ini menjadi menarik karena menghadirkan seni sebagai bagian dari pengalaman wisata dan gaya hidup, bukan sekadar pelengkap dekoratif.
Pameran “Narratives” dan Suara Para Perupa Lombok
Upaya kolaborasi tersebut kini diwujudkan melalui pameran lukisan bertajuk Narratives, yang berlangsung sejak 17 Februari hingga 31 Maret 2026. Pameran ini menghadirkan karya para perupa yang tergabung dalam Mandalika Art Community (MAC).
Ketua MAC, Lalu Syaukani, membenarkan bahwa kegiatan ini merupakan inisiatif komunitas yang berkolaborasi dengan Rplay Lombok. Sebanyak 13 perupa ambil bagian, memperlihatkan keragaman pendekatan visual sekaligus narasi personal mereka.

Kurator pameran, Sasih Gunalan, menilai setiap karya yang ditampilkan lahir dari cerita yang berbeda. Dalam pameran ini, narasi tidak dimaknai sebagai cerita tunggal, melainkan fragmen makna yang terbuka untuk ditafsirkan publik.
Karya-karya tersebut merekam berbagai isu: identitas, budaya lokal, perubahan sosial, hingga dinamika kawasan Mandalika dan Lombok dalam arus globalisasi. Warna, tekstur, serta komposisi visual menjadi bahasa yang menggantikan kata-kata dalam menyampaikan pengalaman batin para seniman.
Menurut Sasih, keberagaman latar para perupa justru membentuk mozaik narasi kolektif, menghadirkan dialog antara seniman, konteks sosial, dan penikmat karya. Seni rupa, dalam hal ini, bukan sekadar objek visual, melainkan ruang komunikasi kultural.
Pameran ini menghadirkan karya dari sejumlah perupa, antara lain Agus Setiadi, A. Saifi Fahrurrozzy, Ayu Pradnyadani, Bambang Prasetya, Dery Firmansyah, H. Muzhart, I Nyoman Sandiya, Fauzi Harizona, Lalu Arif Budiman, Muhammad Zaen, S. La Radek, dan Tia Sofiana, selain karya Syaukani sendiri.
Tema karya yang ditampilkan pun beragam: lanskap Lombok, memori budaya, kehidupan pesisir, potret sosial, hingga refleksi batin tentang perubahan zaman. Setiap kanvas menjadi pintu masuk bagi publik untuk membaca cerita di baliknya.
Bisnis yang Mencari Makna
Kehadiran Rplay Lombok memperlihatkan bagaimana model bisnis modern mulai bergerak ke arah pengalaman kultural, bukan semata transaksi ekonomi.
Galeri seni menjadi bagian dari strategi untuk menghadirkan nilai tambah sekaligus memperluas ruang ekspresi kreatif masyarakat lokal.
Di tengah perubahan wajah pariwisata Indonesia, pendekatan semacam ini memperlihatkan bahwa ruang usaha dapat menjadi jembatan budaya, membuka kesempatan kolaborasi antara pelaku bisnis dan komunitas seni.
Dan melalui pameran seperti Narratives, publik diingatkan bahwa di balik setiap bidang kanvas selalu ada kisah menunggu untuk dilihat, dibaca, dan dirasakan bersama di Indonesia.(aks)
Penulis : aks
Editor : ceraken editor
Sumber Berita : liputan









































