Seni sebagai Kesaksian Zaman: Solidaritas dari Mataram untuk Sumatera

Selasa, 23 Desember 2025 - 01:12 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Apa yang mereka lakukan berangkat dari kesadaran sebagai manusia biasa  (Foto: ist)

Apa yang mereka lakukan berangkat dari kesadaran sebagai manusia biasa (Foto: ist)

CERAKEN.ID- Inilah peran seniman sebagai saksi zaman. Ia tidak berdiri di luar persoalan, tetapi hadir dan terlibat secara emosional sekaligus moral. Ketika bencana melanda dan meninggalkan luka kemanusiaan, seniman menjawabnya bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan karya, kehadiran, dan tindakan nyata.

Spirit inilah yang mengalir kuat dalam gelaran “Charity For Sumatera”, sebuah penggalangan dana bagi korban bencana di Sumatera melalui Pameran Lukisan dan Parade Musik yang berlangsung di Mall Epicentrum Mataram, pada 21–22 Desember 2025, sejak pukul 10.00 hingga 22.00 Wita. Penggagas dan inisiator gelaran ini adalah I Gusti Lingsartha Patra.

Selama dua hari, ruang publik pusat perbelanjaan itu bertransformasi menjadi ruang solidaritas. Lukisan-lukisan dipajang berdampingan dengan panggung musik, menyatukan bahasa visual dan bunyi dalam satu pesan kemanusiaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di tengah hiruk-pikuk aktivitas komersial, seni hadir sebagai pengingat bahwa di luar sana ada saudara-saudara sebangsa yang sedang berjuang di tengah bencana.

Pameran lukisan menghadirkan karya enam perupa: Bambang Prasetya, I Gusti Lingsartha Patra, Lalu Syaukani, I Gusti Lanang Putra, Nyoman Sandya, dan Reva “Pelukis Ikan”. Ragam gaya dan ekspresi visual yang mereka tampilkan menyatu dalam satu semangat: empati dan kepedulian.

Sementara itu, parade musik diisi oleh KPFC (Koes Plus Fan’s Club) NTB, Goldstrings, Restorasi Band, Hanix Hao Apache & Bambang Prasetya, serta Jingga & Friends, menjadikan musik sebagai medium yang menggerakkan rasa dan mengikat kebersamaan.

Perupa I Gusti Lanang Putra menyampaikan bahwa dorongan utama gelaran ini lahir dari empati yang sangat personal.

“Terbayang andai kondisi itu menimpa kita, nggak dapat dibayangkan. Anak kecil nangis di atap rumah di tengah banjir, andai itu anak atau cucu kita,” tuturnya.

Bagi Lanang Putra, adanya peluang untuk berdonasi adalah sesuatu yang sangat berarti. Sebuah kesempatan untuk mengubah rasa iba menjadi tindakan nyata.

Seni menunjukkan kekuatannya sebagai penggerak sosial (Foto” ist)

Nada kemanusiaan yang sama disuarakan FREDSY, vokalis Band Goldstrings. Ia menegaskan bahwa keterlibatan mereka berangkat dari kesadaran atas dampak bencana yang menimpa Sumatera dan sekitarnya.

Harapannya sederhana namun mendalam: dana yang terkumpul dapat sedikit meringankan beban saudara-saudara yang terdampak, terutama untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka di masa darurat.

Empati juga datang dari Herman, vokalis KPFC NTB. Ia mengaku sangat senang sekaligus tergerak terlibat dalam konser musik amal ini. Penderitaan saudara-saudara di Aceh dan wilayah Sumatera lainnya, menurutnya, menimbulkan panggilan batin untuk ikut ambil bagian. Seni, baginya, menjadi sarana untuk menyalurkan kepedulian tersebut.

Sementara itu, Reva “Pelukis Ikan” menekankan pentingnya pameran lukisan dan parade musik sebagai ruang sinergi antar seniman. Namun lebih dari itu, titik terpentingnya adalah solidaritas. “Ini yang bisa kita lakukan,” ujarnya.

Reva mengingatkan kembali peristiwa gempa bumi Lombok berkekuatan 7,0 SR pada Agustus 2018, ketika bantuan datang dari berbagai daerah, termasuk Sumatera. “Sekarang giliran kita,” tegasnya, menandai siklus saling menolong dalam kemanusiaan.

Dimensi reflektif dan spiritual disampaikan oleh Yogi, vokalis Restorasi Band. Dengan rendah hati ia menyatakan bahwa apa yang mereka lakukan berangkat dari kesadaran sebagai manusia biasa.

“Kami hanya manusia biasa yang punya rasa, punya iba, punya hati, punya cinta kepada sesama. Selebihnya, hanya Tuhan yang tahu,” ungkapnya. Ia menutup dengan doa dan harapan: “Damai dan sentosa selalu bangsaku.”

Melalui “Charity For Sumatera”, seni menunjukkan kekuatannya sebagai penggerak sosial. Ia mampu mengumpulkan orang, menghidupkan empati, dan menjembatani jarak geografis dengan rasa kebersamaan.

Di sinilah peran seniman sebagai saksi zaman menemukan maknanya: hadir, berpihak, dan bertindak. Seni pun kembali pada hakikatnya, sebagai suara nurani yang hidup, menyala, dan menautkan hati dari Mataram hingga Sumatera.(aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita: liputan

Berita Terkait

Relawan Iron – Edwin Kembali  Salurkan Air Bersih untuk Warga Desa Lenek Daya di Musim Kemarau
Usai Dilantik Jadi Wakil Rakyat, Tubagus Danarki Utama Gelar Acara Santunan Anak Yatim
Hultah Madrasah NBDI, Bukti Nyata NW Menjunjung Tinggi Hak Perempuan
Lebaran Topat Menjaga Ukhuah Melalui Zikir dan Doa
“Hikayat Topat” Memaknai Perayaan Lebaran Topat
Semarakkan Idul Fitri, FORTAL Gelar Aksi Peduli Yatim Piatu
Batulayar Gelar Pawai Takbiran Tingkat Kecamatan
Jelang Lebaran, Terminal Mandalika Mulai Dipadati Pemudik

Berita Terkait

Selasa, 23 Desember 2025 - 01:12 WITA

Seni sebagai Kesaksian Zaman: Solidaritas dari Mataram untuk Sumatera

Minggu, 6 Oktober 2024 - 20:02 WITA

Relawan Iron – Edwin Kembali  Salurkan Air Bersih untuk Warga Desa Lenek Daya di Musim Kemarau

Jumat, 30 Agustus 2024 - 06:52 WITA

Usai Dilantik Jadi Wakil Rakyat, Tubagus Danarki Utama Gelar Acara Santunan Anak Yatim

Senin, 29 April 2024 - 07:22 WITA

Hultah Madrasah NBDI, Bukti Nyata NW Menjunjung Tinggi Hak Perempuan

Senin, 15 April 2024 - 13:48 WITA

Lebaran Topat Menjaga Ukhuah Melalui Zikir dan Doa

Berita Terbaru

Diperlukan gerakan kolektif yang menjangkau keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik agar perubahan dapat berlangsung secara berkelanjutan (Foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

INFORIAL

Suara Kesetaraan dari Bumi Gora

Jumat, 5 Jun 2026 - 10:59 WITA

BEDAH BUKU

Menyembah Bendoro Cuan: Catatan Perlawanan dari Pinggir Zaman

Jumat, 5 Jun 2026 - 00:42 WITA