The Silent Patient, Ungkap Tragedi Pembunuhan yang Menyesakkan

- Penulis

Senin, 29 April 2024

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Buku The Silent Patient (Foto Dok. Gramedia)

Buku The Silent Patient (Foto Dok. Gramedia)

MATARAM (ceraken.id)– Menikmati hari libur, bisa dengan santai santai di rumah ya. Bermalas malasan namun menambah wawasan. Caranya dengan membaca buku. Ini buku yang bisa mengisi waktu libur anda.

” …………….Tentang cinta. Tentang betapa kita sering salah mengira cinta sebagai kembang api – sebagai drama dan disfungsi. Tapi cinta sejati itu sangat sunyi, sangat hening. Membosankan jika dilihat dari sudut pandang drama tinggi. Cinta itu dalam dan tenang – dan konstan. Saya membayangkan Anda benar-benar memberikan cinta kepada Kathy – dalam arti sebenarnya. Apakah dia mampu mengembalikannya kepada Anda atau tidak adalah pertanyaan lain……………”

Itulah Qoutes yg tertuang di halaman 171, Novel “The Silent Patient” karya Alex Michaelides, Sebuah novel thriller psikologis yang sangat diakui saat dirilis. Yang menjadi Pemenang Goodreads Choice Awards 2019 dalam katagori Misteri dan Thriller.

Cerita ini berkisah tentang Alicia Berenson, seorang pelukis berbakat yang tampaknya memiliki segalanya – karier yang sukses, suami yang mencintainya, dan rumah yang indah di London. Namun, hidupnya mengalami perubahan yang menggemparkan ketika ia ditemukan berdiri di sebelah mayat suaminya, Gabriel, dengan pistol di tangannya. Publik menilai Alicia sebagai pembunuh berdarah dingin atau penderita sakit jiwa. Tapi tak sedikit yang percaya bahwa Alicia tidak bersalah. Yang membuat kasus ini bahkan lebih membingungkan adalah bahwa Alicia tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak pembunuhan itu.

Baca Juga :  Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta

Alicia didakwa atas pembunuhan suaminya dan dianggap tidak cukup sehat secara psikologis untuk diadili. Ia menjadi pasien di The Grove, sebuah unit forensik aman, dan kebisuannya berlanjut, sehingga ia dijuluki “The Silent Patient.” Meskipun ia menolak untuk berbicara, Alicia berkomunikasi melalui seninya, menciptakan lukisan diri yang menghantui yang ia beri judul “Alcestis,” sesuai dengan karakter dalam mitologi Yunani yang mengorbankan dirinya untuk suaminya.

Sebagai seorang psikoterapis kriminal, Theo Faber, merasa mampu mengembalikan akal sehat Alicia. Tekadnya untuk membuatnya berbicara dan mengungkap misteri pembunuhan tersebut membawanya ke motivasi di balik kehidupannya sendiri. Lukisan-lukisan Alicia menjadi salah satu petunjuk yang sulit dipecahkan dalam usahanya memahami alasan Alicia membunuh suami yang dicintainya. Atau ada orang lain yang menjadi pembunuh sebenarnya (?) Ia bertekad untuk mengungkap misteri di balik kebisuannya dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada malam yang tragis itu. Saat Theo menyelami masa lalu Alicia yang penuh masalah dan hubungannya, ia mulai mengungkap rahasia gelap dan trauma tersembunyi yang mungkin mengandung kunci kebenaran.

“The Silent Patient” adalah novel yang mendebarkan dan penuh suspensi yang mengeksplorasi tema cinta, obsesi, pengkhianatan, dan kompleksitas pikiran manusia. novel thriller ini page turner dan mudah dicerna pula. Babnya singkat, plotnya termasuk cepat. Meski demikian kita tidak kehilangan ritme misterinya yang pelan-pelan datang. Siapa pembunuh suami Alicia?. Di dua pertiga bagian buku kita sudah diberikan beberapa tokoh yang patut dicurigai, ternyata oh ternyata apa yang ada di balik tragedi pembunuhan itu cukup kompleks juga ya. Ada kakak ipar, sepupu, dan kawan karib yang ternyata tidak ‘sekarib’ yang diduga

Baca Juga :  Menyelami Semesta Lewat Pameran “Kosmologi”

Sepanjang jalan cerita terasa sekali ‘tema’ psikoanalisisnya. Ada terapi-terapi yang disebutkan, ada tokoh dan opininya, dan lain sebagainya. Menarik seolah kita ikut dibawa mengikuti terapi terapi psikologi semakin menambah wawasan dan memperkuat tema cerita.

Penggalan kalimat “ Kata siapa mati hanya terjadi ketika tubuh sudah tidak lagi berfungsi (?), sebab sebelum tubuh seseorang mati, mungkin jiwanya sudah lama pergi” Semakin memperkuat dan membuat pembaca duduk lebih lama di kursi mereka saat mencoba mengungkap kebenaran di balik kebisuan Alicia dan pembunuhan suaminya.

Novel ini direkomendasikan kepada penmencari novel psychological suspense dengan topik depresi dan trauma masa kecil. Karena Membaca novel ini membawa kita pada emosi yang menyesakkan. Tokoh-tokoh utamanya sulit untuk kita sukai pada akhirnya. Deskripsi latar suasana dan lokasinya detail, begitupun deskripsi fisik tokoh-tokohnya. Alurnya cukup cepat untuk kategori suspense. Buku ini dikenal dengan plot twist yang cerdas dan kedalaman psikologisnya, menjadikannya bacaan wajib bagi penggemar genre thriller***

 

 

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh
Menyelami Semesta Lewat Pameran “Kosmologi”
Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang
Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta
Senandung “Jiwa Alam”: Ketika Klenang Menapaki Ruang Publik Masa Depan
Milu: Ketika Suara Adat Menjadi Tokoh Utama di Atas Panggung
Tanah Tumpah: Ketika Tubuh Menjadi Penjaga Ingatan Bumi
Memuliakan Sketsa, Merawat Ingatan: Proses Kuratorial di Balik Pameran Tunggal S. La Radek

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 23:19 WITA

Kala Ruang Pamer Menemukan Perupanya: “Kosmologi” Sandiya dan Rumah Seni yang Bertumbuh

Senin, 3 Agustus 2026 - 12:06 WITA

Menyelami Semesta Lewat Pameran “Kosmologi”

Minggu, 2 Agustus 2026 - 17:06 WITA

Blue Moon: Menunggu sebagai Jalan Menuju Terang

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 12:22 WITA

Berenang di Orbit: Ketika I Nyoman Sandiya Mengajak Manusia Berdamai dengan Semesta

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:54 WITA

Senandung “Jiwa Alam”: Ketika Klenang Menapaki Ruang Publik Masa Depan

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA