Catatan Agus K Saputra
CERAKEN.ID—Mataram- Kawasan Nusa Tenggara kini berada pada momentum penting pembangunan regional. Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Regional antara Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) menandai babak baru integrasi pembangunan kawasan Sunda Kecil.
Kerja sama tersebut bukan sekadar formalitas administratif, melainkan langkah strategis untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, konektivitas, dan kualitas sumber daya manusia di kawasan timur Indonesia.
Dalam konteks inilah peran komunitas internasional dan jejaring alumni luar negeri menjadi penting.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Perhimpunan Alumni Jerman NTB sekaligus Koordinator Wilayah Nusa Tenggara, Lestyo Sasono Wijito, menegaskan bahwa organisasinya siap mengambil bagian dalam penguatan pembangunan kawasan melalui program konkret di bidang pariwisata, perhotelan, dan pendidikan.
Menurut Sasono, ketiga sektor tersebut merupakan kunci penguatan daya saing kawasan, sekaligus sejalan dengan arah kebijakan kerja sama regional Bali–NTB–NTT yang baru disepakati para gubernur.
Kerja sama tersebut mencakup lima sektor strategis: konektivitas transportasi, optimalisasi pariwisata dan ekonomi kreatif, energi terbarukan, penguatan perdagangan dan ekspor, serta integrasi perencanaan pembangunan.
“Hal ini selaras dengan Perjanjian Kerja Sama Regional yang baru saja ditandatangani oleh tiga gubernur yaitu Bali, NTB, dan NTT dalam rangka mempercepat pembangunan kawasan,” ujar Sasono.
Pariwisata dan SDM Sebagai Fondasi
NTB dan NTT dikenal memiliki kekayaan destinasi wisata kelas dunia, mulai dari Mandalika di Lombok hingga Labuan Bajo di Flores. Namun pembangunan destinasi saja tidak cukup tanpa dukungan kualitas sumber daya manusia dan tata kelola pariwisata yang profesional.
Di sinilah pengalaman Jerman menjadi referensi penting. Negara tersebut dikenal memiliki sistem pendidikan vokasi dan pelatihan kerja yang kuat, terutama dalam sektor industri, pariwisata, dan perhotelan.
Model pendidikan dual system yang menggabungkan praktik industri dan pembelajaran teori telah terbukti menghasilkan tenaga kerja kompeten dan siap pakai.
Sasono melihat peluang kolaborasi besar melalui jejaring lembaga Jerman di Indonesia.
Ia menyebut terdapat sedikitnya enam organisasi perwakilan Jerman yang dapat membantu membuka akses studi maupun kerja bagi masyarakat Indonesia, yakni Kedutaan Besar Jerman, Goethe-Institut, EKONID (Kamar Dagang dan Industri Jerman–Indonesia), GIZ, Studienkolleg Indonesia, dan DAAD (Layanan Pertukaran Akademik Jerman).
Keberadaan lembaga-lembaga tersebut membuka peluang kerja sama pendidikan vokasi, pelatihan industri, magang internasional, hingga penguatan kapasitas tenaga kerja di sektor pariwisata dan perhotelan.
Menurutnya, NTB dan NTT membutuhkan SDM unggul untuk menopang pertumbuhan pariwisata yang semakin kompetitif. Tanpa tenaga kerja profesional, kualitas layanan destinasi sulit bersaing di pasar global.
MOVE-ID dan Migrasi Aman
Kerja sama Indonesia dan Jerman di NTB sejatinya telah berlangsung melalui berbagai program pembangunan. Salah satu yang paling relevan saat ini adalah program MOVE-ID yang dijalankan oleh Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ).
Program ini bertujuan menciptakan tata kelola migrasi tenaga kerja yang aman, legal, dan terlindungi, terutama bagi calon Pekerja Migran Indonesia (PMI). NTB sendiri dikenal sebagai salah satu daerah pengirim tenaga kerja migran terbesar di Indonesia.
Nikolaus Salo, Advisor GIZ NTB, menjelaskan bahwa MOVE-ID hadir sebagai pusat layanan informasi migrasi yang memudahkan masyarakat memperoleh akses konsultasi dan pendampingan sebelum bekerja ke luar negeri.
“MOVE ID adalah pusat layanan informasi bagi masyarakat yang ingin bekerja ke luar negeri secara aman dan legal,” ujar Nikolaus Salo saat menerima kunjungan Ketua PAJ NTB, Lestyo Sasono Wijito, di Mataram, Senin, 2 Februari 2026.

Beroperasi di Kantor BP3MI NTB, layanan ini memberikan konsultasi prosedur migrasi, pelatihan keterampilan, hingga informasi peluang magang di Jerman. Program tersebut merupakan kolaborasi Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jerman melalui GIZ.
Lebih jauh, MOVE-ID juga bertujuan menekan praktik penempatan tenaga kerja non-prosedural yang kerap merugikan pekerja migran. Sosialisasi dilakukan hingga tingkat desa bekerja sama dengan pemerintah daerah, BP2MI, serta aparat kepolisian.
“Layanan ini dirancang untuk memudahkan akses informasi dan akan segera terhubung secara digital ke seluruh kabupaten dan kota di NTB,” tambah Nikolaus.
Program GIZ tidak berhenti pada keberangkatan tenaga kerja migran. Salah satu fokus penting adalah reintegrasi purna-PMI yang kembali ke tanah air. Melalui kerja sama dengan AWO International, para pekerja migran dibantu mengembangkan usaha dan mengelola remitansi secara produktif.
Pendekatan ini penting karena banyak pekerja migran kembali tanpa rencana usaha atau investasi jangka panjang, sehingga berisiko kembali bekerja secara non-prosedural ke luar negeri.
Program reintegrasi mendorong pemanfaatan dana hasil bekerja di luar negeri untuk investasi lokal, termasuk usaha berbasis ekonomi hijau yang berkelanjutan.
Dengan demikian, migrasi tenaga kerja tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi juga menghasilkan dampak ekonomi lokal yang lebih luas.
Sinergi Alumni dan Program Internasional
Kunjungan Ketua PAJ NTB ke GIZ menunjukkan pentingnya sinergi antar komunitas alumni luar negeri dengan lembaga pembangunan internasional.
Alumni yang pernah menempuh pendidikan atau bekerja di Jerman memiliki pengalaman dan jejaring yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kerja sama bilateral di tingkat daerah.
Sasono menyebut, pihaknya akan menjajaki berbagai kemungkinan kerja sama konkret, termasuk pelatihan tenaga kerja pariwisata, program magang, serta pertukaran pendidikan yang relevan dengan kebutuhan NTB dan NTT.
Bagi kawasan Nusa Tenggara, peningkatan kualitas SDM menjadi kunci keberhasilan pengembangan pariwisata dan industri pendukungnya. Infrastruktur boleh tumbuh pesat, namun tanpa tenaga kerja kompeten, pelayanan wisata sulit memenuhi standar global.
Pembangunan kawasan Nusa Tenggara menghadapi tantangan besar, mulai dari kesenjangan infrastruktur antar daerah, kualitas pendidikan, hingga migrasi tenaga kerja yang belum sepenuhnya terlindungi.
Namun peluang kolaborasi internasional semakin terbuka. Kerja sama regional Bali–NTB–NTT menjadi fondasi integrasi pembangunan kawasan, sementara kemitraan dengan negara seperti Jerman dapat memperkuat kapasitas sumber daya manusia dan tata kelola pembangunan.
Kolaborasi lintas negara kini tidak lagi sebatas bantuan pembangunan, melainkan kemitraan berbasis peningkatan kapasitas dan transfer pengetahuan.
Alumni luar negeri, lembaga internasional, pemerintah daerah, serta komunitas lokal memiliki peran penting dalam membangun sinergi tersebut.
NTB kini tidak hanya dikenal sebagai daerah pengirim pekerja migran, tetapi juga sebagai wilayah yang berupaya meningkatkan kualitas tenaga kerjanya agar mampu bersaing di pasar global secara aman, legal, dan profesional.
Pada akhirnya, kerja sama internasional bukan sekadar membuka peluang bekerja ke luar negeri, tetapi juga membawa pulang pengetahuan, pengalaman, dan investasi yang dapat memperkuat pembangunan daerah.
Momentum inilah yang kini coba dirawat oleh berbagai pihak, termasuk Perhimpunan Alumni Jerman NTB dan GIZ, agar pembangunan kawasan Nusa Tenggara tidak hanya tumbuh cepat, tetapi juga berkelanjutan dan inklusif bagi masyarakatnya.































