Ketika Seni Berbicara dan Kemanusiaan Mendengar

- Penulis

Minggu, 18 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Seni hadir untuk mengubah rasa dan menyalakan empati kemanusiaan (Foto: aks)

Seni hadir untuk mengubah rasa dan menyalakan empati kemanusiaan (Foto: aks)

CERAKEN.ID — Sabtu malam, 17 Januari 2026, Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat menjadi ruang pertemuan yang berbeda dari biasanya. Lampu panggung tak hanya menyorot gerak tari, alunan musik, dan garis-garis lukisan.

Ia juga menerangi satu niat bersama: mengulurkan kepedulian bagi sesama manusia yang sedang terluka oleh bencana alam di Sumatera dan Aceh.

Melalui tajuk “Artunity: Art Speaks, Humanity Listens” dengan tema A Charity Night for Sumatera, Komunitas Seni NTB untuk Kemanusiaan (Artunity), sebuah komunitas independen yang bergerak di bidang seni, budaya, dan kegiatan sosial kemasyarakatan, menginisiasi kolaborasi lintas disiplin seni.

Lukis pasir, tari, musik, hingga pameran lukisan disatukan dalam satu malam penggalangan solidaritas, di mana seluruh hasil donasi disalurkan melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) NTB.

Bukan sekadar pertunjukan, acara ini dirancang sebagai ruang empati. Seni dijadikan bahasa bersama untuk menyampaikan kepedihan yang tak selalu mampu diucapkan oleh kata-kata.

“Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi antara masyarakat, seniman, dan pemerintah dalam menumbuhkan semangat gotong royong serta kepedulian terhadap sesama,” ujar Baiq Amalia Putri Ghaesani, yang akrab disapa Cikughea, selaku Ketua Pelaksana Artunity, dalam kata sambutannya.

Bagi Cikughea, Artunity bukan hanya panggung ekspresi artistik. Ia adalah ruang persatuan. Tempat seni mengambil peran ketika bahasa verbal tak lagi cukup untuk menampung duka, simpati, dan harapan.

Baca Juga :  Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB
Ia mengajak melihat lebih jauh dari keelokan alam dan kekayaan budaya Nusantara, di balik itu ada luka-luka kemanusiaan yang membutuhkan perhatian bersama. (Foto: aks)

“Melalui lukisan pasir, pertunjukan budaya, musik, dan karya-karya lainnya, kami ingin menyampaikan pesan bahwa seni memiliki kekuatan untuk menyatukan, menyembuhkan, dan menggerakkan kepedulian,” tuturnya.

Ia mengajak para hadirin untuk melihat lebih jauh dari keelokan alam dan kekayaan budaya Nusantara. Di balik itu semua, ada luka-luka kemanusiaan yang membutuhkan perhatian bersama.

Seni, dalam konteks ini, hadir bukan hanya untuk dinikmati, melainkan untuk mengubah rasa dan menyalakan empati.

“Kami berharap Artunity dapat menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas, lebih bermakna, dan berkelanjutan. Semoga apa yang kita lakukan hari ini bisa menjadi jejak kebaikan, sekecil apa pun, bagi sesama dan bagi negeri ini,” lanjut Cikughea.

Dukungan terhadap kegiatan ini datang dari berbagai pihak. H. Ahmad Rusli, perwakilan Baznas NTB, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Kepala Taman Budaya Provinsi NTB atas dukungannya sehingga kegiatan kemanusiaan yang digagas Artunity dapat terlaksana.

Ia menjelaskan bahwa donasi yang terkumpul ditujukan untuk membantu sahabat-sahabat di Sumatera dan Aceh yang terdampak bencana. Hingga saat kegiatan berlangsung, partisipasi masyarakat terus mengalir dan dilaporkan secara resmi melalui Baznas.

“Alhamdulillah, banyak masyarakat yang mengambil bagian. Semoga donasi yang kita maksud, sekecil apa pun itu, untuk sahabat-sahabat kita di Sumatera berdampak besar bagi kita semua,” kata Ahmad Rusli.

Setiap karya hadir bukan hanya sebagai tontonan estetis, tetapi sebagai medium pesan kemanusiaan. (Foto: aks)

Nada haru kian terasa ketika Kepala Taman Budaya Provinsi NTB, Lalu Suryadi Mulawarman, menyampaikan sambutannya. Ia menegaskan bahwa kegiatan seperti Artunity merupakan bentuk tanggung jawab bersama sebagai manusia.

Baca Juga :  Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB

“Bencana alam di Sumatera dan Aceh bukan hanya menjadi urusan saudara-saudara kita di sana. Itu adalah tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.

Menurutnya, penderitaan akibat bencana melampaui batas geografis. Duka mereka adalah duka kita. Kehilangan yang mereka alami, keluarga, rumah, dan harapan, adalah luka kemanusiaan yang dapat dirasakan oleh siapa pun.

“Penderitaan mereka adalah penderitaan kita. Jiwa mereka yang kehilangan saudara, keluarga, dan apa pun yang mereka miliki, kita juga bisa merasakannya,” tutur Miq Surya, suaranya tercekat menahan haru.

Malam amal ini kemudian mengalir melalui rangkaian pertunjukan yang sarat makna. Tampil di antaranya pameran lukisan dari perupa Mandalika Art Community, Pelvist, Saksak Dance Production, Gerryduta, Denta Haritsa, Miracle Dancers, Isvara, dan ditutup dengan penampilan puncak Sand Animation oleh Cikughea.

Setiap karya hadir bukan hanya sebagai tontonan estetis, tetapi sebagai medium pesan kemanusiaan.

Artunity: A Charity Night for Sumatera akhirnya menjadi penanda bahwa seni mampu melampaui fungsi hiburan.

Ia menjelma jembatan empati, pengikat solidaritas, dan pengingat bahwa di tengah keberagaman ekspresi budaya, ada satu nilai yang menyatukan: kemanusiaan.(aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita: liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB
Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB
Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan
Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama
Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya
Bahasa Sasak di Persimpangan Zaman: Antara Dialek, Ego, dan Jalan Pulang
Membaca Jejak Masa Lampau dari Vitrin Museum Negeri NTB
Di Balik Restorasi “Bebek Angsa”, Terbaca Jejak Estetika I Gusti Bagus Kebon

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:09 WITA

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 17:14 WITA

Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:11 WITA

Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:26 WITA

Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:41 WITA

Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA