Menghidupkan Kembali Cilinaye Sebagai Identitas Budaya Di Desa Selat

Senin, 1 Desember 2025 - 08:46 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ia dihidupkan kembali melalui bahasa pertunjukan yang diracik ulang agar dekat dengan generasi muda (Foto: ist)

ia dihidupkan kembali melalui bahasa pertunjukan yang diracik ulang agar dekat dengan generasi muda (Foto: ist)

Catatan Agus K Saputra

CERAKEN.ID- Lombok Barat, 29 November 2025 menjadi penanda penting bagi warga Desa Selat, Kecamatan Narmada. Malam itu, lapangan Merce Kebun Timuq berubah menjadi ruang pembelajaran kultural ketika ratusan warga tumpah ruah menyaksikan pementasan drama Putri Cilinaya, sebuah karya kolektif Kampoeng Baca Pelangi (KBP) yang disutradarai Roby Mandalika W.

Di tengah kilatan lampu panggung sederhana dan suasana desa yang hangat, pertunjukan ini menghadirkan bukan hanya hiburan, melainkan sebuah peristiwa budaya yang menggetarkan memori kolektif warga.

Drama Putri Cilinaya, atau kerap disebut Cilinaye dalam dialek lokal, mengangkat kisah klasik Sasak tentang seorang perempuan bangsawan yang terpinggirkan karena fitnah dan intrik. Cerita ini telah lama hidup sebagai legenda tutur, namun pada malam itu, ia dihidupkan kembali melalui bahasa pertunjukan yang diracik ulang agar dekat dengan generasi muda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sang sutradara, Roby Mandalika W, sejak awal menegaskan bahwa pementasan ini bukan nostalgia semata. “Cerita Cilinaye bukan hanya tentang masa lalu. Ini tentang bagaimana kebaikan, kesetiaan, dan keberanian selalu menemukan jalannya, di zaman apa pun,” ujarnya sebelum pertunjukan dimulai.

Pernyataan itu menjadi semacam tesis artistik yang membingkai semangat keseluruhan pementasan. Seni tradisi dapat dihidupkan kembali tanpa harus terperangkap dalam romantisme masa lampau.

Dibangun melalui kerja kolektif selama berminggu-minggu. Pertunjukan ini menjadi wujud lain bagaimana komunitas desa, ketika diberi ruang kreativitas, mampu melahirkan karya seni yang bukan saja indah, tetapi juga edukatif dan reflektif.

KBP, yang selama tujuh tahun menjadi ruang belajar dan berkesenian di Desa Selat, sekali lagi menegaskan diri sebagai penggerak literasi dan kebudayaan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Seni sebagai Medium Pemberdayaan: Peran Program Inovasi Seni Nusantara

Di balik panggung yang tampak sederhana, tersimpan proses yang kompleks. Pementasan ini merupakan bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) melalui Universitas Bumigora, sebuah program pengabdian yang digagas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.

Ketika komunitas diberi ruang ekspresi, mereka mampu melahirkan gagasan, talenta, dan karya yang autentik (Foto: ist)

PISN menjadi wadah bagi kolaborasi antara akademisi dan komunitas desa untuk merawat dan mengembangkan cerita rakyat sebagai sumber belajar sosial. Menurut Rapi Renda, M.Pd., ketua program PISN yang mendampingi KBP dalam proses kreatif ini, kerja seni berbasis komunitas tidak hanya memperkuat kapasitas artistik, tetapi juga memperkuat kepercayaan diri masyarakat.

“Bekerja dengan Kampoeng Baca Pelangi memberikan kami gambaran betapa kuatnya potensi masyarakat desa ketika diberi ruang untuk berkarya. Program ini berjalan sangat lancar dan melebihi ekspektasi kami,” ungkapnya.

Dukungan yang hadir melalui pendanaan negara tidak dianggap sebagai bantuan finansial semata. Bagi KBP, ini adalah bentuk legitimasi bahwa karya komunitas desa memiliki nilai budaya yang dapat memberi dampak sosial nyata.

Baca Juga :  Merekap Kegagalan, Merayakan Masa Depan: Dari Pentas Saksak Dance Production 2025

KBP menyatakan rasa syukur mereka atas dukungan tersebut, seraya menekankan bahwa fondasi keberlangsungan seni lokal sangat bergantung pada sejauh mana pemerintah berani membuka ruang bagi inisiatif akar rumput.

Dalam konteks yang lebih luas, PISN memberikan contoh bahwa revitalisasi budaya tidak cukup dilakukan dengan dokumentasi atau kurikulum, tetapi harus melalui praktik hidup yang melibatkan masyarakat sebagai aktor. Ketika akulturasi modernisasi kian cepat, program-program seperti ini hadir sebagai penyeimbang: menguatkan akarnya tanpa menghalangi perubahan zaman.

Desa sebagai pusat kebudayaan, Sebagai subjek yang membangun dirinya melalui seni, literasi, dan partisipasi publik (Foto: ist)

Sejak sore, warga desa mulai berdatangan. Tikar digelar, anak-anak berlarian, suara riuh bercampur aroma jajanan lokal yang dijajakan di sekitar lapangan. Atmosfer itu menjadi bukti bahwa seni pertunjukan berbasis komunitas tidak hanya memanggungkan cerita, etapi juga mengaktifkan ruang sosial desa.

Pertunjukan tidak berlangsung di gedung teater megah, melainkan di lapangan desa yang sehari-hari digunakan bermain bola atau tempat pertemuan warga. Dengan cara demikian, proses berkesenian tidak dipisahkan dari denyut kehidupan sehari-hari.

Kepala Desa Selat, Sabudi, S.Sos., menyampaikan dalam sambutannya bahwa KBP telah memberi warna baru bagi perkembangan desa.

“Mereka bukan hanya memperkaya pengetahuan anak-anak, tetapi juga mengangkat nama Desa Selat hingga dikenal melalui berbagai media,” ujar Sabudi disambut tepuk tangan meriah. Di usianya yang ketujuh, KBP telah memosisikan diri sebagai simpul penting literasi, kreativitas, dan kebudayaan.

Pertunjukan Putri Cilinaya mempertemukan berbagai generasi dalam satu ruang pengalaman. Anak-anak berpakaian kostum Sasak menampilkan dialog mereka dengan penuh percaya diri.

Orang tua duduk menatap bangga. Para remaja merekam adegan-adegan penting di telepon genggam mereka. Di sinilah letak kekuatan seni pertunjukan berbasis komunitas: ia membangun interaksi antargenerasi yang semakin jarang ditemukan dalam kehidupan digital.

Ketua KBP, Eron, menegaskan bahwa pementasan ini bukan semata hasil latihan teknis, tetapi juga ruang belajar. “Banyak dari adik-adik kami yang ini pertama kalinya naik panggung. Mereka belajar bukan hanya dialog, tetapi juga disiplin, tanggung jawab, dan keberanian,” katanya.

Momentum ini semakin spesial karena bertepatan dengan ulang tahun KBP ke-7. Sebuah perjalanan panjang yang selalu diisi kerja kolektif dan semangat kerelawanan.

Di panggung, cerita Cilinaye mengalir dalam durasi sekitar 40 menit. Musik tradisional mengiringi adegan-adegan penting, menciptakan suasana yang menyentuh.

Pengkhianatan, kesetiaan, dan keteguhan menjadi tema sentral yang resonan dengan kondisi sosial masyarakat. Ketika kebaikan akhirnya menang atas fitnah, tepuk tangan penonton bergema sebagai ekspresi harapan dan kegembiraan bersama.

Baca Juga :  Gerbang Sangkareang dan Kerja Sunyi Merawat Identitas Kota

Roby Mandalika W menekankan bahwa inti cerita ini adalah keteguhan hati. “Dalam hidup, kebenaran akan selalu menemukan jalannya meskipun harus melewati badai,” ujarnya.

Pesan ini tidak hanya relevan bagi pemain, tetapi juga bagi warga yang menonton. Di tengah berbagai tantangan sosial, urbanisasi, tekanan ekonomi, arus informasi, kisah Cilinaye menjadi metafora ketahanan budaya Sasak.

Kolaborasi sebagai Model Kebudayaan Masa Depan

Kolaborasi antara KBP, Universitas Bumigora, pemerintah desa, dan kementerian pendidikan menjadi salah satu kekuatan utama di balik keberhasilan pementasan ini. Menurut Rapi Renda, perpaduan metodologi akademik dan energi sosial masyarakat menciptakan ekosistem seni yang hidup.

Komunitas membawa kreativitas dan kedekatan dengan medan sosial, sementara kampus membawa pengetahuan teknis, desain pembelajaran, hingga manajemen program. Model ini dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain di Nusa Tenggara Barat, bahkan Indonesia, agar potensi seni lokal tidak padam oleh modernisasi atau hanya bertahan sebagai koleksi museum.

PISN menjadi wadah bagi kolaborasi antara akademisi dan komunitas desa untuk merawat dan mengembangkan cerita rakyat sebagai sumber belajar sosial (Foto: ist)

Justru sebaliknya, ketika komunitas diberi ruang ekspresi, mereka mampu melahirkan gagasan, talenta, dan karya yang autentik. KBP meyakini bahwa cerita rakyat tidak pernah mati.

Opik, salah satu penggagas KBP, mengatakan bahwa legenda harus terus diceritakan dalam bahasa generasi kini. “Cerita rakyat itu tidak boleh berhenti hanya jadi cerita. Ia harus hidup, harus diceritakan ulang,” ujarnya.

Pernyataan itu menunjukkan kesadaran bahwa budaya adalah proses, bukan artefak. Ia tumbuh, berubah, dan menyesuaikan diri tanpa kehilangan akarnya.

Sebagai penutup, pertunjukan Putri Cilinaya adalah bukti bahwa desa memiliki potensi budaya yang besar. Banyak talenta muda tumbuh dari lingkungan sederhana, dan ketika mereka diberi ruang melalui seni komunitas, mereka tidak hanya tampil, tetapi berkembang.

Inilah gagasan baru tentang desa sebagai pusat kebudayaan. Bukan lagi sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai subjek yang membangun dirinya melalui seni, literasi, dan partisipasi publik.

Ke depan, KBP bersama Universitas Bumigora berharap dapat melanjutkan dan memperluas kegiatan serupa. Lebih banyak cerita rakyat Sasak dan Nusantara diharapkan dapat dipentaskan sebagai medium pembelajaran sosial, pendidikan karakter, dan penguatan identitas budaya.

Dengan dukungan pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat, Desa Selat menunjukkan bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu. Tetapi identitas yang terus tumbuh, dihidupkan oleh tangan-tangan muda yang berani bermimpi dan berkarya.

Melalui panggung kecil di lapangan desa, Cilinaye tidak hanya diceritakan, tetapi dihidupkan kembali sebagai simbol harapan, keteguhan, dan ketahanan budaya Sasak.

#Akuair-Ampenan, 01-12-2025

Penulis : Aks

Editor : Ceraken Editor

Berita Terkait

Menjaga Keseimbangan Leluhur, Menjemput Masa Depan Budaya Sasak
Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 19:19 WITA

Menjaga Keseimbangan Leluhur, Menjemput Masa Depan Budaya Sasak

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA