Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

- Penulis

Sabtu, 24 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

CERAKEN.ID– Waktu menunjukkan angka 15.46 Wita. Jumat siang itu, 23 Januari 2026, awan menggantung kelam di langit, angin berembus agak kencang, dan cuaca terasa belum sepenuhnya bersahabat.

Namun di tengah situasi yang serba tidak pasti itu, semangat berkarya justru menyala dengan terang. Pe Wira bersiap kembali ke Lombok Timur, sementara percakapan kami yang semula sederhana, berubah menjadi sebuah perenungan tentang kata, musik, dan makna hidup di zaman yang riuh.

Percakapan itu bermula dari sebuah diksi yang terdengar ganjil, asing, sekaligus memancing rasa ingin tahu: terpararerai.

Kata yang belum pernah tercatat dalam kamus mana pun, tetapi justru menyimpan dunia makna yang luas. Diksi ini muncul dalam judul lagu Pe Wira, Semoga Terpararerai, sebuah karya yang lahir bukan dari ambisi pasar, melainkan dari dialog sunyi dengan diri sendiri.

“Diksi terpararerai tercipta secara reflektif,” ujar Pe Wira.

Lagu tersebut, katanya, dibuat sebagai media ceramah untuk dirinya sendiri, pengingat agar menjadi pribadi yang rajin bangun pagi. Pada fase hidup itu, ia sedang bergulat dengan kebiasaan bangun siang, terlambat memulai hari, dan kehilangan ritme.

Dari kegelisahan yang sangat personal itulah kata terpararerai perlahan menemukan bentuknya.

Secara ontologis, Pe Wira menurunkan kata ini dari istilah pararerai, kata ciptaannya sendiri yang ia maknai sebagai “bangun dan berdampak.” Kata tersebut kemudian diberi imbuhan “ter”, bukan semata-mata sebagai ornamen linguistik, melainkan sebagai penegas harapan.

Ia ingin kata itu terasa utuh, menyatu dengan judul lagu: Semoga Terpararerai.

Dalam pemaknaan Pe Wira, terpararerai bukan sekadar bunyi atau permainan diksi. Ia adalah doa, pengharapan, sekaligus motivasi. Sebuah ajakan untuk bangun secara harfiah maupun metaforis dan melakukan sesuatu yang berguna.

Baca Juga :  Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’

Berguna bagi diri sendiri, dan pada akhirnya, bagi orang lain. Kata ini hidup sebagai spirit, bukan hanya sebagai teks.

Pilihan Pe Wira untuk menyampaikan refleksi personal itu melalui musik bukanlah keputusan tanpa kesadaran zaman. Ia melihat musik sebagai medium yang mampu menembus sekat-sekat sosial, kultural, bahkan ideologis.

“Musik bisa masuk ke segala lini,” katanya.

Dalam pengamatannya sebagai pengkarya, era hari ini adalah era krisis kepercayaan. Banyak orang tidak lagi percaya pada omongan motivator, pejabat publik, bahkan tokoh agama.

Di tengah kelelahan kolektif terhadap retorika, musik justru berbicara dengan caranya sendiri.

Nada, ritme, dan lirik mampu menyentuh ruang batin yang tak selalu bisa dijangkau oleh pidato atau nasihat verbal. Musik tidak memerintah; ia mengajak. Tidak menggurui; ia menemani.

Dalam konteks inilah Semoga Terpararerai bekerja sebagai bisikan, bukan teriakan. Sebagai pengingat lembut bahwa bangun pagi, bangun kesadaran, dan bangun tanggung jawab adalah bagian dari proses menjadi manusia yang berdampak.

Perjalanan Pe Wira di dunia musik sendiri bukanlah cerita yang instan. Secara profesional, ia mulai menekuni musik sejak duduk di bangku SMA.

Namun benihnya telah tumbuh jauh lebih awal. Sejak sekolah dasar, ia sudah mengikuti festival musik tingkat umum. Musik bukan sekadar pilihan karier, melainkan ruang hidup yang ia masuki sejak dini.

Hingga kini, Pe Wira telah merilis tiga single: Lagu Sampah, Ulang Tahun, dan Tangan Biru. Karya-karya lain masih dalam proses penggarapan, menunggu waktu dan kematangan.

Dari ketiga lagu yang telah dirilis, Lagu Sampah menjadi titik penting yang membentuk persepsi publik tentang dirinya sebagai pemusik yang bicara soal lingkungan.

Baca Juga :  Merekam Kampung dalam Nada: Jejak Arsipelagol yang Tumbuh dari Dusun Gol

Branding tersebut, menurut Pe Wira, memang berangkat dari lagu itu. Namun ia menegaskan bahwa karya-karyanya tidak semata-mata berkutat pada isu lingkungan.

Di dalam setiap lagu, selalu ada nilai moral dan kemanusiaan yang ingin ia suarakan. Lingkungan hanyalah salah satu pintu masuk untuk membicarakan relasi manusia dengan dunia yang lebih luas.

Dalam Lagu Sampah, isu lingkungan muncul sebagai kritik terhadap perilaku manusia yang gemar lupa diri. Manusia, kata Pe Wira, sering merasa paling berkuasa di atas bumi, paling memiliki power atas alam.

Padahal, manusia adalah bagian dari alam itu sendiri. Ketika relasi ini timpang, kerusakan menjadi keniscayaan. Sampah bukan sekadar persoalan fisik, tetapi cermin cara pandang manusia terhadap dirinya dan semesta.

Di titik ini, benang merah antara Lagu Sampah dan Semoga Terpararerai menjadi jelas. Keduanya berbicara tentang kesadaran.

Tentang bangun dari kelalaian, dari kebiasaan yang merugikan, dari rasa paling berkuasa. Terpararerai menjadi kata kunci yang merangkum keseluruhan sikap itu: bangun dan berdampak.

Ketika wawancara harus diakhiri sementara, Pe Wira mengucapkan terima kasih dan bersiap melanjutkan perjalanan. Cuaca masih kelam, angin masih kencang.

Namun dari percakapan singkat itu, tersisa sebuah keyakinan: bahwa di tengah dunia yang bising dan penuh distraksi, masih ada upaya-upaya sunyi untuk membangunkan kesadaran.

Terpararerai mungkin tidak akan ditemukan di kamus resmi. Namun ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak.

Di situlah musik Pe Wira berdiri: bukan sebagai jawaban mutlak, melainkan sebagai doa yang terus dinyanyikan. (aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita: Liputan

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB
Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’
Ketika Klenang Bertemu Keyboard: Menyusun Masa Depan Bunyi dari Ruang Musik NTB
Rock ’n’ Roll Night di Begawe Beleq: Ketika Musik, Rakyat, dan Ekonomi Kreatif Bertemu
MERANGKAI KISAH, MENYAPA GENERASI Z LEWAT LIMA SINGLE MEGAN LITANI
Merekam Jiwa Alam, Menemukan Irama: Hari Ketujuh Eksperimentasi Musik NTB
Menjelang Evaluasi Pertama, Eksperimentasi Musik NTB Mulai Menemukan Bentuk
Megan Litani Ajak Generasi Muda Isi Kemerdekaan dengan Karya dan Prestasi

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 11:01 WITA

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Rabu, 26 Agustus 2026 - 17:47 WITA

Ketika Begawe Beleq Berakhir, Rindu pada Panggung yang Menjadi Milik ‘Kami’

Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:15 WITA

Ketika Klenang Bertemu Keyboard: Menyusun Masa Depan Bunyi dari Ruang Musik NTB

Selasa, 25 Agustus 2026 - 12:28 WITA

Rock ’n’ Roll Night di Begawe Beleq: Ketika Musik, Rakyat, dan Ekonomi Kreatif Bertemu

Senin, 24 Agustus 2026 - 17:12 WITA

MERANGKAI KISAH, MENYAPA GENERASI Z LEWAT LIMA SINGLE MEGAN LITANI

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA