Bhavana Ethnic dan The Proletar Panaskan Panggung Jelang Pengumuman Juara

Senin, 1 Desember 2025 - 11:31 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pesta Seni NTB 2025 pertunjukannya “eksklusif dan benar-benar serius” (Foto: Aks)

Pesta Seni NTB 2025 pertunjukannya “eksklusif dan benar-benar serius” (Foto: Aks)

CERAKEN.ID- Mataram, Pesta Seni NTB 2025 resmi memasuki hari terakhir pada Minggu (30/11) dengan antusiasme yang tetap tinggi hingga penghujung acara. Puncak kegiatan yang berlangsung di Arena Terbuka Taman Budaya NTB ini menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu, yakni pengumuman pemenang tiga kategori lomba: Tari Kreasi, Band Competition, dan Gendang Beleq.

Pentas hari ketiga dibuka oleh tiga penampilan dari kelas olah seni Taman Budaya Provinsi NTB. Mereka menampilkan Musik Tradisi Tabuh Pendet dan Tabuh Gegilakan, disusul oleh Tari Nirwana dan Tari Kinang Kilaras. Deretan karya ini menjadi pembuka elegan yang menegaskan karakter budaya daerah sekaligus menunjukkan hasil pembinaan seni di lingkungan Taman Budaya.

Usai penampilan pembukaan, panggung bergeser kepada dua sanggar tamu. Sanggar Genter Jagat dari Desa Nyangget tampil lebih dahulu, diikuti Sanggar Seni Lepas dari Kabupaten Sumbawa Barat yang membawakan tari “Kenre Baragi”. Kedua sanggar menampilkan komposisi yang memadukan gerak tradisi dengan interpretasi kontemporer, mendapat respons hangat dari penonton yang memadati area festival.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menjelang pengumuman pemenang lomba, panggung dimeriahkan oleh dua kelompok musik: The Proletar UNU Band dan Bhavana Ethnic.

Energi Anak Muda di Panggung Musik

The Proletar tampil dengan komposisi tiga lagu: “Kaum Menengah”, “Telah Madonna Ia” (cover Sanggaboemi), serta “Uang”. Dua lagu pertama dan ketiga merupakan karya orisinal mereka yang bercerita tentang kegelisahan sosial dan dinamika anak muda. Band yang digawangi Bagus Maulana (vokal), Maskana Eka (gitar), Jimmy (rhytm), Paris (bass), dan Yuda (drum) ini tampil penuh energi.

Baca Juga :  The Rites: Membaca Ulang Ritual Nyunatang dalam Bahasa Sinema

Bagi Bagus Maulana, yang juga aktor teater, panggung Pesta Seni NTB adalah kesempatan penting bagi musisi lokal.

“Ke depannya saya harap bisa menjadi wadah buat teman-teman yang baru mulai berkarya, seperti contoh band-ku ini. Jadi kita yang baru mulai pun punya ruang untuk menyalurkan karya,” ujarnya.

Bagus juga menyampaikan harapannya agar Pesta Seni NTB digelar setahun sekali dengan sistem kurasi yang lebih ketat agar pertunjukannya “eksklusif dan benar-benar serius”.

Peserta didik dengan kemampuan artistik, karakter, kepercayaan diri, dan daya saing (Foto: Aks)

Setelah The Proletar, Bhavana Ethnic menghadirkan tiga nomor: “Kupu-Kupu”, “Sinaran”, dan “Pohon”. Grup musik etnik kontemporer ini digerakkan oleh Gde Agus Mega Saputra, Giyanto, Omink Chan, Khairil Aries, Aldo, Farhan Ayubi, dan Desi Ermawati. Dengan perpaduan instrumen modern dan tradisional, mereka menyuguhkan eksplorasi musik yang menenangkan sekaligus kaya warna.

Gde Agus Mega Saputra, frontman Bhavana Ethnic, menilai Pesta Seni NTB sebagai ruang dialog terbuka antara masyarakat, seniman, dan pemangku kepentingan. “Fokusnya adalah sinergi dan kolaborasi dalam mengelola kesenian daerah,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa berbagai kompetisi seni untuk pelajar dalam acara ini adalah langkah strategis untuk mengukur perhatian sekolah terhadap pendidikan seni. “Tujuannya adalah membekali peserta didik dengan kemampuan artistik, karakter, kepercayaan diri, dan daya saing,” jelas Agus Mega yang juga merupakan dosen muda.

Ia berharap keberadaan ruang publik seperti Taman Budaya terus menjadi arena pembentukan karakter generasi muda, khususnya melalui seni pertunjukan.

Baca Juga :  Gerbang Sangkareang dan Kerja Sunyi Merawat Identitas Kota
Pengumuman Juara

Menjelang malam, puncak acara yang paling ditunggu akhirnya berlangsung: pengumuman para juara. Suasana meriah disambut tepuk tangan panjang setiap kali nama sekolah pemenang disebutkan oleh announcer Dody Setiawan.

Kategori Tari Kreasi

  • Juara I : SMAN 1 Mataram — Tembolak Beak
  • Juara II : SMAN 3 Mataram — Mata Rame
  • Juara III : SMAN 1 Keruak — Paice

Kategori Band Competition

  • Juara I : SMAN 1 Mataram
  • Juara II : SMKN 5 Mataram
  • Juara III : SMAN 1 Keruak

Kategori Gendang Beleq

  • Juara I : SMAN 1 Narmada
  • Juara II : SMAN 6 Mataram
  • Juara III : SMAN 7 Mataram
Bhavana Ethnic dan The Proletar. Taman Budaya terus menjadi arena pembentukan karakter generasi muda melalui seni pertunjukan (Foto: Aks)

Penyerahan hadiah lomba dilakukan oleh dua pejabat dari Taman Budaya NTB. Kepala Seksi Pelestarian Seni dan Budaya Ni Wayan Sri Aritini, S.Sn., menyerahkan penghargaan bagi kategori Tari Kreasi. Sementara hadiah untuk Band Competition dan Gendang Beleq diberikan oleh Kepala Seksi Penyelenggaraan Seni Budaya I Nyoman Gde Adimusti TBL, S.Sn.

Dengan berakhirnya pengumuman juara, Pesta Seni NTB 2025 resmi ditutup. Tiga hari rangkaian kegiatan menegaskan bahwa ruang seni publik tetap hidup di Nusa Tenggara Barat.

Melalui partisipasi generasi muda, sanggar-sanggar komunitas, dan sekolah-sekolah, Pesta Seni NTB kembali menunjukkan bahwa seni bukan hanya medium ekspresi, tetapi juga sarana memperkuat karakter, mempertemukan masyarakat, dan merawat identitas budaya daerah (Aks).

Penulis : Aks

Editor : Editor Ceraken

Sumber Berita : Liputan

Berita Terkait

Menjaga Keseimbangan Leluhur, Menjemput Masa Depan Budaya Sasak
Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 19:19 WITA

Menjaga Keseimbangan Leluhur, Menjemput Masa Depan Budaya Sasak

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA