Dialog Pemajuan Kebudayaan NTB Seri Ke-4 Digelar di Lombok Barat

Kamis, 4 Desember 2025 - 15:06 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pentingnya menyatukan pemikiran dari akar rumput untuk memperkuat ekosistem kebudayaan daerah (Foto: Aks)

Pentingnya menyatukan pemikiran dari akar rumput untuk memperkuat ekosistem kebudayaan daerah (Foto: Aks)

CERAKEN.ID- Lombok Barat, 4 Desember 2025 — Dialog Pemajuan Kebudayaan Nusa Tenggara Barat (NTB) Seri Ke-4 resmi digelar di Hotel Aruna, Senggigi, Rabu (3/12).

Kegiatan ini diikuti para pelaku kebudayaan dari Kabupaten Lombok Barat, Kota Mataram, dan Kabupaten Lombok Utara, melanjutkan rangkaian dialog sebelumnya sudah digelar. Seri ke-1 untuk Kab. Bima, Kab. Dompu, dan Kota Bima, Seri ke-2 bagi Kab. Sumbawa dan Kab. Sumbawa Barat, dan Seri Ke-3 untuk Lombok Timur, dan Lombok Tengah. Total peserta yang terlibat dalam empat seri dialog berjumlah 200 orang.

Ketua Dewan Kebudayaan Daerah NTB, Prof. Dr. Abdul Wahid, M.Ag., M.Pd, menyatakan bahwa pembagian dialog per wilayah dilakukan agar pembahasan lebih fokus dan intensif. Ia menegaskan pentingnya menyatukan pemikiran dari akar rumput untuk memperkuat ekosistem kebudayaan daerah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Ini baru awal dialog. Tugas kita adalah menghubungkan pemikiran di akar rumput. Di setiap akar rumput ada dinamika kebudayaan, tetapi belum terorkestrasi dengan baik sesuai amanat undang-undang,” ujar Abdul Wahid.

Ia menambahkan, perguruan tinggi juga harus membuka diri agar gerakan kebudayaan dapat berjalan simultan dan tercatat dalam Indeks Pemajuan Kebudayaan.

Baca Juga :  Kain Osap Menembus Panggung Nasional, Museum NTB Bawa Warisan Sakral Sasak ke Yogyakarta

Sementara itu, Organ Etik Dewan Kebudayaan NTB, Dr. H. Lalu Sajim, mengingatkan kembali pentingnya UU No. 20 Tahun 2022 tentang Provinsi NTB yang menggantikan dasar hukum lama sejak 1958. Ia menilai undang-undang tersebut menegaskan pembentukan NTB berdasarkan landasan sosio-kultural.

“UU 20/2022 ini kita maknai sebagai pembentukan NTB berdasarkan sosio kultural. Oleh karena itu, kesadaran budaya dan kesadaran struktur harus sejalan,” tegasnya.

Miq Sajim menyebut dialog penting dilakukan untuk mengatasi masih jauhnya persepsi masyarakat terhadap pemerintah, terutama menjelang pembentukan Dinas Kebudayaan pada 2026. “Kesannya kita ini susah sekali bertemu pejabat pemerintah,” ujarnya.

Staf Ahli Gubernur NTB Bidang Kesejahteraan Rakyat, Dr. H. Achsanul Khaliq, menekankan pentingnya menghidupkan nilai-nilai budaya sebagai ruang gagasan untuk menjawab tantangan kebudayaan saat ini. Ia mengatakan bahwa dialog ini menjadi wadah strategis menyongsong hadirnya Dinas Kebudayaan.

Baca Juga :  Merawat Air, Menjaga Tradisi: Dukungan Wakil Bupati untuk Perhelatan Molang Maliq 2026

“Forum dialog ini sangat terhormat untuk menularkan gagasan, pikiran, dan aksi kebudayaan yang dapat mengawal Provinsi NTB di tahun 2026,” kata Achsanul. Ia juga menyebut terbentuknya dinas baru tersebut memungkinkan Dewan Kebudayaan mengelola anggaran secara mandiri.

Dalam dialog tersebut, peserta menyampaikan kekhawatiran terkait ancaman krisis identitas, pergeseran nilai, ketimpangan akses, terbatasnya pembinaan, dan minimnya sumber daya bagi institusi kebudayaan di Lombok Barat, Kota Mataram, dan Lombok Utara.

Berdasarkan dinamika tersebut, dialog menghasilkan sejumlah rekomendasi, di antaranya:

  • mendorong pemerintah daerah melaksanakan strategi pemajuan kebudayaan secara intensif;
  • mendukung percepatan pembentukan Dewan Kebudayaan Daerah di tiga wilayah peserta;
  • mengusulkan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia mendirikan Balai Pelestari Kebudayaan atau Balai Arkeologi di NTB;
  • serta mendorong peningkatan alokasi anggaran melalui APBN dan APBD untuk program pemajuan kebudayaan (Aks).

Penulis : Aks

Editor : Editor Ceraken

Sumber Berita: Liputan

Berita Terkait

Kain Osap Menembus Panggung Nasional, Museum NTB Bawa Warisan Sakral Sasak ke Yogyakarta
Di Antara Napas dan Getaran: Masa Depan Genggong Lombok Barat
Tentang Igelan Jaran Endut
Swara Loka Karsa: Menyalakan Keberanian Baru Seni Pertunjukan NTB
Swara Loka Karsa: Ketika Nada dan Gerak NTB Mengetuk Panggung Dunia
Merawat Air, Menjaga Tradisi: Dukungan Wakil Bupati untuk Perhelatan Molang Maliq 2026
Dana Indonesiaraya dan Upaya Merawat Masa Depan Kebudayaan Nasional
“Aklammang” di Desa Lantang, Jejak Persatuan dalam Filosofi Akbulo Sibatang

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 17:44 WITA

Kain Osap Menembus Panggung Nasional, Museum NTB Bawa Warisan Sakral Sasak ke Yogyakarta

Jumat, 22 Mei 2026 - 15:30 WITA

Di Antara Napas dan Getaran: Masa Depan Genggong Lombok Barat

Jumat, 22 Mei 2026 - 11:58 WITA

Tentang Igelan Jaran Endut

Sabtu, 16 Mei 2026 - 17:41 WITA

Swara Loka Karsa: Menyalakan Keberanian Baru Seni Pertunjukan NTB

Kamis, 14 Mei 2026 - 14:26 WITA

Swara Loka Karsa: Ketika Nada dan Gerak NTB Mengetuk Panggung Dunia

Berita Terbaru

OPINI

Teori Konvergensi, World Cup 2026 dan Pariwisata Mendunia

Sabtu, 6 Jun 2026 - 17:17 WITA