Mori, Aina Nefa: Lukisan Percakapan di Tengah Zaman yang Terhubung

Kamis, 25 Desember 2025 - 08:50 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

"Mori, Aina Nefa". Kita hidup di zaman ketika komunikasi begitu mudah, begitu cepat, namun sering kali kehilangan kedalaman (Foto: ist)

Catatan Agus K Saputra

CERAKEN.ID- Di hadapan kanvas raksasa berukuran 400 x 210 sentimeter itu, waktu seolah dipadatkan. Hanya empat hari, sebuah tempo yang nyaris ekstrem, yang dibutuhkan S La Radek untuk menuntaskan lukisan berjudul “Mori, Aina Nefa”.

Namun, di balik kecepatan pengerjaan tersebut, tersimpan lapisan makna yang justru bergerak pelan. Mengajak siapa pun yang menatapnya untuk berhenti sejenak dan merenungi arti hidup, perjumpaan, serta komunikasi manusia di era yang semakin terhubung, sekaligus terasing.

S La Radek, perupa yang dikenal dengan karakter “seniman sketsa”, menghadirkan sebuah lanskap sosial yang akrab: orang-orang duduk berdampingan, berdialog, membuka laptop, menatap layar ponsel, hingga berdiri sendiri dalam diam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tak ada gestur heroik, tak pula dramatika berlebihan. Yang ditawarkan Radek adalah potret keseharian.

Fragmen kehidupan urban dan semi-urban, yang sering kita jalani tanpa sempat kita sadari maknanya. Namun justru di situlah kekuatan karya ini bekerja.

Kanvas Besar, Fragmen Kecil Kehidupan

Ukuran kanvas “Mori, Aina Nefa” menuntut tubuh penonton untuk berhadapan secara fisik. Ia bukan lukisan yang bisa dilirik sambil lalu.

Bentang visualnya yang luas memaksa mata bergerak dari satu figur ke figur lain, dari satu percakapan ke percakapan berikutnya. Setiap tokoh dalam lukisan itu tampak hidup dalam dunianya masing-masing, namun tetap berada dalam satu ruang bersama.

Radek menyusun figur-figur tersebut seperti potongan adegan dalam sebuah film panjang tanpa suara. Ada yang saling berhadapan, seolah sedang berdiskusi serius.

Ada pula yang tenggelam dalam layar laptop dan ponsel, terhubung dengan dunia lain yang tak kasatmata. Beberapa figur berdiri tanpa aktivitas jelas, menciptakan jeda visual yang terasa hening di tengah keramaian.

Pilihan warna akrilik yang terang dan mencolok memberi kesan menyala. Nyaris mendekati estetika seni pop. Namun, Radek tidak sepenuhnya larut dalam pop art yang merayakan budaya populer secara flamboyan.

Baca Juga :  Mendengar yang Tak Terucap: Kisah Para Belian dalam Kamera Anton Sumekah

Warna-warna itu justru menjadi penanda denyut kehidupan: cepat, intens, dan penuh distraksi. Ia merekam suasana zaman, tanpa menghakimi, tanpa romantisasi berlebihan.

Waktu pengerjaan yang hanya empat hari menjadi catatan penting dalam pembacaan karya ini. Dalam praktik seni rupa, durasi kerja sering kali memengaruhi karakter ekspresi.

Pada “Mori, Aina Nefa”, kecepatan tersebut terasa sebagai energi yang ditransfer langsung ke kanvas. Sapuan warna tampak spontan, gestur figur tidak dipoles secara hiper-realistis, melainkan dibiarkan apa adanya, jujur dan langsung.

Kecepatan ini sejalan dengan tema yang diangkat: kehidupan modern yang serba cepat, percakapan yang singkat, dan interaksi yang kerap terpotong oleh notifikasi layar. Radek seperti bekerja mengikuti ritme zaman yang ia lukiskan: bergegas, padat, namun sarat makna.

Sebagai “seniman sketsa”, Radek memang dikenal dengan kemampuan menangkap momen secara cepat. Dalam karya ini, pendekatan sketsa tersebut diperbesar skalanya, dipadatkan energinya, lalu dilepaskan ke ruang kanvas yang monumental.

Bahasa Ibu sebagai Kunci Tafsir

Judul “Mori, Aina Nefa” menjadi pintu masuk terpenting dalam membaca karya ini. Frasa dalam bahasa Bima tersebut berarti “hidup, jangan lupa”. Sebuah kalimat singkat, sederhana, namun sarat muatan filosofis.

Bagi Radek, frasa itu adalah ajakan untuk terus berkomunikasi, saling menyapa, dan menjaga relasi antarmanusia selama hidup masih diberikan. Menariknya, penjudulan ini lahir secara spontan dalam percakapan dengan kurator. Tidak dirancang sejak awal, tidak pula dikalkulasi secara konseptual.

Namun justru spontanitas itulah yang membuat judul ini terasa organik, menyatu dengan ruh karya. Ia menjadi semacam pengingat, baik bagi senimannya maupun bagi penontonnya.

Baca Juga :  Gerbang Sangkareang dan Etika Kebudayaan Kota (Membaca Mataram dalam Narasi Anugerah Kebudayaan PWI 2026)

Penggunaan bahasa Bima juga memberi lapisan identitas yang kuat. Di tengah globalisasi visual dan tema-tema universal, Radek tetap berpijak pada akar kulturalnya.

Bahasa ibu hadir bukan sebagai ornamen, melainkan sebagai penegasan posisi: bahwa percakapan tentang hidup, komunikasi, dan kemanusiaan selalu berangkat dari pengalaman lokal, dari bahasa yang pertama kali kita dengar sejak kecil.

Jika ditarik ke konteks yang lebih luas, “Mori, Aina Nefa” dapat dibaca sebagai refleksi atas kondisi sosial hari ini. Kita hidup di zaman ketika komunikasi begitu mudah, begitu cepat, namun sering kali kehilangan kedalaman.

Kita duduk berdampingan, tetapi masing-masing sibuk dengan layar. Kita terhubung dengan banyak orang, namun kerap lupa menyapa yang terdekat.

Radek tidak menyajikan kritik sosial yang frontal. Ia tidak menunjuk, tidak menggurui. Ia hanya memperlihatkan.

Figur-figur dalam lukisan itu dibiarkan berbicara melalui gestur dan posisi tubuhnya. Penontonlah yang kemudian diajak bertanya: sejauh mana kita masih benar-benar hadir dalam hidup kita sendiri?

Dalam konteks inilah makna “hidup, jangan lupa” menemukan relevansinya. Jangan lupa menyapa. Jangan lupa berbincang. Jangan lupa hadir, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara batin.

Akhirnya, “Mori, Aina Nefa” bukan sekadar lukisan tentang orang-orang dan gawai. Ia adalah lukisan tentang relasi.

Tentang jarak dan kedekatan, tentang kehadiran dan ketidakhadiran, tentang hidup yang terus berjalan di tengah hiruk-pikuk zaman.

Dengan kanvas besar, warna yang menyala, dan energi kerja yang intens, S La Radek menghadirkan sebuah karya yang tidak hanya layak dilihat, tetapi juga direnungkan.

Sebuah ajakan sunyi yang bergema kuat: selama hidup masih diberikan, jangan lupa untuk saling menyapa. Karena hidup, pada akhirnya, adalah percakapan yang harus terus dijaga.

#Akuair-Ampenan, 25-12-2025

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : Liputan

Berita Terkait

Menjaga Keseimbangan Leluhur, Menjemput Masa Depan Budaya Sasak
Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 19:19 WITA

Menjaga Keseimbangan Leluhur, Menjemput Masa Depan Budaya Sasak

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA