Resonansi yang Memanjang: Antusiasme Publik Menggema di Pameran Mandalika Art Community

Selasa, 30 Desember 2025 - 23:15 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Antusiasme dan respon pengunjung yang sangat besar, pameran  berlanjut hingga, Rabu, 31 Desember 2025 (foto: ist&aks)

Antusiasme dan respon pengunjung yang sangat besar, pameran berlanjut hingga, Rabu, 31 Desember 2025 (foto: ist&aks)

CERAKEN.ID– Pameran karya lukis bertajuk “Resonansi” yang digagas Mandalika Art Community (MAC) menjelma menjadi peristiwa seni yang melampaui ekspektasi. Sedianya ditutup pada Selasa, 30 Desember 2025, pameran yang digelar di Galeri Taman Budaya Provinsi NTB itu justru diperpanjang hingga Rabu, 31 Desember 2025, menyusul antusiasme publik yang terus mengalir.

Hingga pukul 19.00 Wita di hari penutupan awal, jumlah pengunjung telah mencapai angka 4.575 orang, Sebuah capaian yang menegaskan daya tarik pameran ini di tengah lanskap seni rupa lokal.

Ketua Mandalika Art Community, Lalu Syaukani, menyampaikan bahwa keputusan memperpanjang pameran diambil secara kolektif, sebagai respons atas sambutan luar biasa dari masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Penutupan Pameran ‘Resonansi’ Mandalika Art Community sesuai jadwal kami tutup hari ini, 30 Desember 2025. Namun melihat antusiasme dan respon pengunjung yang sangat besar akhirnya kami bersepakat berlanjut hingga besok, Rabu, 31 Desember 2025,” ujarnya saat ditemui di sela kegiatan di Galeri Taman Budaya NTB.

Pernyataan itu mencerminkan kegembiraan sekaligus kesadaran bahwa pameran ini telah menemukan ruang resonansinya sendiri di hadapan publik.

Hari ini acara diisi dengan rangkaian kegiatan interaktif berupa live painting dan lukis model, yang semakin menghidupkan suasana galeri. Para perupa terlibat langsung di hadapan pengunjung, memperlihatkan proses kreatif yang biasanya tersembunyi di ruang studio.

Baca Juga :  Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Sejumlah nama tampil berkolaborasi dalam momen itu, di antaranya Lalu Syaukani, Bambang Prasetya, Suryanto, Muzhar, Agus Septiadi, Arif Rahman, I Nyoman Sandiya, Tia Sofiana, S La Radek, dan Ahmad Saifi Pahrurrozi. Kehadiran mereka bukan hanya menghadirkan karya, tetapi juga dialog visual dan emosional antara seniman dan penikmat seni.

Jauh sebelum pameran ini dibuka, Lalu Syaukani telah menegaskan bahwa “Resonansi” bukan sekadar label tematik yang ditempelkan pada kumpulan karya. Pada Senin, 15 Desember 2025, ia menuturkan bahwa pameran ini berangkat dari kesadaran mendasar tentang keberagaman pengalaman dan suara setiap seniman.

Setiap perupa, menurutnya, membawa getaran hidup yang berbeda, pengalaman personal, latar sosial, hingga pergulatan estetik, yang kemudian dipertemukan dalam satu ruang bersama.

“Pameran bertajuk Resonansi ini hadir dari keyakinan kami yang sangat sederhana tetapi kuat,” ujar Lalu Syaukani kala itu.

“Kami merespons suara maupun getaran dari ruang studio para perupa, lalu menimbulkan frekuensi yang saling bertautan dan membentuk resonansi bersama.”

Dalam kerangka ini, karya-karya yang dipamerkan tidak berdiri sendiri, melainkan saling berinteraksi, membangun hubungan makna yang melampaui individualitas penciptanya.

Baca Juga :  Belian Sasak: Kosmologi, Tubuh, dan Upaya Merawat Keseimbangan

Pandangan tersebut sejalan dengan perspektif kurator pameran, Sasih Gunalan, yang menyebut bahwa gagasan “Resonansi” telah lama bersemi dalam imajinasi komunitas. Bahkan, ide ini telah dibayangkan sejak Mandalika Art Community mulai terbentuk sebagai ruang kolektif para perupa.

“Pameran ini digagas cukup lama. Teman-teman perupa MAC sudah lama membayangkannya, dan baru bisa tercapai tahun ini,” ungkap Sasih Gunalan saat pembukaan pameran pada 16 Desember 2025.

Pernyataan kurator itu menempatkan “Resonansi” sebagai tonggak perjalanan MAC, bukan sekadar agenda pameran rutin. Ia menjadi penanda kematangan komunitas dalam merumuskan gagasan, mengelola proses, dan membangun relasi dengan publik.

Tingginya jumlah pengunjung menunjukkan bahwa gagasan tersebut menemukan relevansinya, tidak hanya di kalangan perupa, tetapi juga di mata masyarakat luas yang haus akan pengalaman seni yang hidup dan komunikatif.

Dengan perpanjangan waktu pameran hingga akhir tahun, “Resonansi” seolah menutup 2025 dengan getaran yang berlapis: pertemuan antara seniman, karya, ruang, dan publik.

Ia membuktikan bahwa seni rupa lokal, ketika diolah dengan kesadaran kolektif dan kejujuran pengalaman, mampu menciptakan gaung yang jauh melampaui dinding galeri.

Sebuah resonansi yang terus bergetar bahkan setelah pameran berakhir. (aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Menjaga Keseimbangan Leluhur, Menjemput Masa Depan Budaya Sasak
Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 19:19 WITA

Menjaga Keseimbangan Leluhur, Menjemput Masa Depan Budaya Sasak

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA