Catatan Agus K Saputra
CERAKEN.ID– Di tengah riuh wacana Indonesia Emas 2045, sebuah gagasan sederhana namun berakar kuat pada kerja-kerja ilmiah muncul dari lingkar kampus Universitas Mataram (Unram). Prof. Muhamad Ali, Ph.D, Calon Rektor Unram Periode 2026–2030, menyatakan tekadnya menjadikan Unram sebagai garda depan Food Sovereignty Merah Putih: kedaulatan pangan yang berdiri di atas kekuatan riset, keberpihakan pada petani dan peternak, serta pemahaman utuh atas kondisi lokal.
“Mari kita lakukan apapun yang kita mampu untuk mendukung program mulia pemerintah untuk Indonesia Emas 2045,” tulis Prof. Ali dalam sebuah unggahan di akun Facebook pribadinya.
Kalimat itu bukan sekadar seruan normatif. Ia menjelma menjadi praktik nyata di lapangan, bahkan sampai ke kandang-kandang ternak, tempat pangan hewani bermula.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari Kampus ke Ladang, dari Teori ke Praktik
Dalam beberapa kesempatan, Prof. Ali tampak tidak sungkan turun langsung ke tengah peternak. Di sebuah kerumunan kambing yang saling berebut pakan tambahan, ia memperkenalkan apa yang disebutnya sebagai “ultra mineral”. Racikan mineral hasil riset yang dirancang spesifik sesuai karakter wilayah.
“Racikan mineral ini kami buat berdasarkan hasil riset bahwa terjadi defisiensi mineral yang berbeda antar wilayah,” ujarnya.
Menurut Prof. Ali, pendekatan selama ini cenderung menyamaratakan kebutuhan mineral ternak. Padahal, kondisi geografis dan ekologi NTB, dari dataran tinggi hingga dataran rendah, menyimpan persoalan defisiensi yang tidak sama.
“Selama ini pemberian mineral hanya dilakukan secara general, padahal kekurangan mineral di antara dataran tinggi dengan dataran rendah berbeda. Kami menyiapkan ultra mineral ini sesuai dengan defisiensi yang terjadi pada wilayah-wilayah tertentu. Selamat kepada para peternak,” katanya, disambut antusias peternak yang menyaksikan ternaknya berebut mineral tersebut.
Adegan itu seolah menegaskan satu hal: riset kampus tidak berhenti di jurnal ilmiah atau ruang seminar, tetapi harus menemukan relevansinya di tengah masyarakat.
Di situlah, menurut Prof. Ali, makna kedaulatan pangan diuji ketika ilmu pengetahuan benar-benar meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan.
Bagi Prof. Ali, Food Sovereignty bukan sekadar jargon global, melainkan strategi kebangsaan. Ia menempatkan pangan sebagai fondasi kemandirian nasional sekaligus prasyarat bagi Indonesia untuk menyongsong 2045 dengan kepala tegak.
Unram, dalam pandangannya, memiliki posisi strategis. NTB dikenal sebagai salah satu lumbung ternak nasional, khususnya sapi dan kambing. Potensi ini, jika dikelola dengan pendekatan ilmiah yang tepat, dapat menjadi model nasional penguatan pangan berbasis wilayah.
Gagasan Prof. Ali bertumpu pada riset terapan: memetakan defisiensi mineral tanah dan pakan, menyesuaikan formulasi nutrisi ternak, serta membangun ekosistem kolaborasi antara akademisi, peternak, dan pemerintah daerah.
Kampus tidak lagi berdiri sebagai menara gading, melainkan sebagai simpul pengetahuan yang hidup bersama masyarakat.
Di sinilah peran rektor atau calon rektor menjadi krusial. Bukan hanya sebagai administrator, tetapi sebagai pengarah visi keilmuan dan sosial universitas. Prof. Ali mencoba memadukan kepemimpinan akademik dengan sensitivitas lapangan.
Unram dan Tanggung Jawab Sejarah
Sebagai perguruan tinggi negeri terbesar di Nusa Tenggara Barat, Unram memikul tanggung jawab sejarah: mengolah potensi lokal menjadi kekuatan nasional.
Di bawah visi Food Sovereignty Merah Putih, universitas diarahkan menjadi laboratorium besar kedaulatan pangan. Tempat riset, inovasi, dan pengabdian bertemu.
Pendekatan berbasis wilayah yang ditawarkan Prof. Ali juga menantang pola lama pembangunan pertanian dan peternakan yang seragam.
Ia mendorong kebijakan berbasis data dan riset, bukan sekadar program massal yang sering kali tidak tepat sasaran.
“Defisiensi mineral berbeda antarwilayah” bukan hanya temuan teknis, tetapi juga metafora kebijakan: bahwa Indonesia, dengan keragaman geografisnya, menuntut solusi yang kontekstual.
Kedaulatan pangan, dengan demikian, adalah soal keberanian membaca realitas lokal dan merumuskannya dalam kebijakan nasional.
Seruan Prof. Ali untuk “melakukan apapun yang kita mampu” terasa relevan di tengah tantangan global: krisis iklim, ketidakpastian rantai pasok pangan, dan tekanan ekonomi dunia. Dalam konteks itu, ketahanan dan kedaulatan pangan bukan pilihan, melainkan keharusan.
Langkah-langkah kecil seperti racikan ultra mineral di kandang kambing mungkin tampak sepele. Namun justru dari praktik-praktik konkret semacam inilah visi besar diuji.
Apakah kampus benar-benar hadir? Apakah ilmu pengetahuan memberi dampak nyata?
Bila kelak Prof. Muhamad Ali dipercaya memimpin Unram periode 2026–2030, gagasan Food Sovereignty Merah Putih akan diuji bukan hanya di atas kertas visi-misi, tetapi di sawah, ladang, dan kandang-kandang ternak.
Di sanalah Indonesia Emas 2045 perlahan disemai. Dari pangan yang berdaulat, dari kampus yang membumi.
#Akuair-Ampenan, 02-01-2026
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan































