Saksak Dance Production: Menggali Akar, Menoreh Jiwa, Menantang Zaman

- Penulis

Senin, 5 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif

Saksak Dance “diusung” untuk mengembangkan Tari Tradisi dengan Pendekatan Kontemporer (Foto: ist)

Saksak Dance “diusung” untuk mengembangkan Tari Tradisi dengan Pendekatan Kontemporer (Foto: ist)

CERAKEN.ID– Di tengah lanskap seni pertunjukan Lombok dan Nusa Tenggara Barat yang kuat berakar pada pakem-pakem tradisi, hadir sebuah sanggar yang sejak awal memilih jalan tidak mudah: Saksak Dance Production.

Ia lahir bukan semata sebagai ruang latihan tari, melainkan sebagai medan pergulatan gagasan: tentang tubuh, tradisi, kebebasan, dan keberanian untuk berbicara dengan bahasa zaman sendiri.

Saksak Dance Production berdiri dengan kesadaran bahwa seni tari Indonesia, terutama tari kontemporer, masih terus mencari wajah dan identitasnya.

Dalam proses pencarian itu, Saksak Dance memilih bertumpu pada sebuah pendekatan yang mereka sebut “Konsep Kreatif Berkarya”, dengan landasan filosofis “Menggali Akar Menoreh Jiwa.”

Sebuah frasa yang terdengar puitik, namun sesungguhnya menyimpan sikap ideologis yang tegas: berpijak pada tradisi tanpa terperangkap olehnya, dan bergerak bebas tanpa kehilangan akar.

Dua jalur utama ditempuh untuk mewujudkan konsep tersebut, yakni “Dari Tradisi ke Kontemporer” dan “Kebebasan Berungkap.” Keduanya bukan sekadar metode artistik, melainkan pernyataan sikap estetik sekaligus sosial.

Dari Tradisi ke Kontemporer: Menyigi Tanah Sendiri

Bagi Saksak Dance Production, tradisi bukanlah museum yang membeku. Tradisi adalah tanah hidup, tempat nilai, ingatan, dan spiritualitas berdiam, menunggu untuk terus ditafsir ulang.

Mencari bentuk dan sumber kreativitas yang memproyeksikan nilai-nilai yang mengakar di bumi sendiri menjadi salah satu landasan berpikir utama.

Kesadaran ini melahirkan sikap untuk terus bergumul dengan ekspresi diri, agar karya yang dihasilkan tidak sekadar indah secara visual, tetapi juga otentik, mampu berbicara dengan bahasanya sendiri, bahasa zaman sekarang.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi estetika luar, upaya ini menjadi semakin relevan.

Seni tari kontemporer Indonesia, yang masih berada dalam proses panjang menemukan identitasnya, membutuhkan keberanian untuk menoleh ke dalam: pada tradisi, pada lokalitas, pada tubuh yang tumbuh dari sejarah dan ruang sosial tertentu.

Pendekatan Saksak Dance tidak berhenti pada eksplorasi bentuk gerak semata. Ia menuntut pemahaman yang kental terhadap nilai-nilai tradisi itu sendiri, makna simbolik, konteks sosial, hingga spiritualitas yang menyertainya.

Dari sanalah, tubuh penari diajak berbicara ulang: bukan meniru masa lalu, melainkan mentransformasikannya.

Miq Agus menegaskan bahwa evaluasi bukan hanya soal panggung, melainkan tentang dialog lanjutan: komentar, kritik, dan refleksi dari publik (Foto: aks)

Ketika seni tari mampu menciptakan bahasa universal, sebuah diplomasi kultural yang menembus batas negara, bangsa, dan ideologi, maka pertanyaan penting muncul: mengapa tidak berharap lahirnya individu-individu yang mewakili mazhab tari kontemporer Indonesia, dengan kekayaan tradisi sebagai tambang emasnya?

Baca Juga :  Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB

Dalam konteks inilah, kerja-kerja Saksak Dance Production menemukan relevansinya, bukan hanya bagi Lombok atau NTB, tetapi juga bagi peta tari kontemporer Indonesia secara lebih luas.

Kebebasan Berungkap: Tubuh sebagai Ruang Pribadi

Jika tradisi adalah akar, maka kebebasan berungkap adalah napas. Dorongan kebutuhan ekspresif membentuk tubuh manusia dalam cara yang bersifat personal menjadi salah satu energi utama dalam proses kreatif Saksak Dance Production.

Tubuh tidak diperlakukan sebagai objek yang tunduk pada pakem, melainkan sebagai subjek yang berpikir, merasakan, dan merespons. Dari sinilah lahir gagasan-gagasan kreatif yang lebih “manusiawi” dan komunikatif.

Keinginan untuk memperluas batasan seni tari diwujudkan dengan sikap tidak terikat pada bentuk, pola, atau teknik tertentu dari satu gaya tari mana pun. Kebebasan menyatakan ekspresi dan gagasan pribadi menjadi dasar berkarya.

Bahkan, secara ekstrem, kepentingan diletakkan pada keberanian untuk berbuat dan melahirkan sesuatu, tanpa harus selalu memperhitungkan dari mana sumber itu datang, dan tanpa rasa sungkan terhadap norma-norma yang kerap membatasi.

Namun kebebasan ini bukan tanpa arah. Esensinya tetap bertumpu pada pencarian nilai-nilai sendiri, rasa diri, keyakinan personal yang terhubung dengan masa lalu sekaligus masa depan.

Keterlibatan dengan lingkungan, dengan realitas sosial tempat seniman berpijak, menjadi landasan etis dalam berkarya.

Dalam penyampaian gagasan, Saksak Dance tidak selalu memilih jalan bertutur yang linear. Fragmen-fragmen bisa terputus, kejadian bisa berputar, fokus bisa terbelah.

Namun di balik itu semua, ada satu tuntutan yang tidak bisa ditawar: sikap harap total dan intens dalam proses kreatif.

Pilihan estetik yang diambil Saksak Dance Production tentu tidak selalu berjalan mulus.

H. Lalu Agus Fathurrahman, akrab disapa Miq Agus, pendiri sekaligus pengamat seni, secara terbuka mengakui adanya benturan dengan lingkungan tari sekitar yang masih setia pada pakem tradisi.

Sejak awal, Saksak Dance “diusung” untuk mengembangkan Tari Tradisi dengan Pendekatan Kontemporer sebagai pakemnya.

Tubuh penari diajak berbicara ulang: bukan meniru masa lalu, melainkan mentransformasikannya (Foto: aks)

“Harus ada keberanian dan merdeka untuk keluar dari stigma Bali, baik dari unsur gerak dan musik,” ujar Miq Agus.

Keberanian ini, suka tidak suka, menempatkan Saksak Dance di posisi yang tidak selalu populer. Dalam ajang-ajang lomba cipta tari dan gerak, nama Saksak Dance kerap tak muncul, meski kriteria dan potensinya dinilai ada.

Sebuah paradoks yang mencerminkan ketegangan klasik antara inovasi dan penerimaan institusional.

Namun bagi Saksak Dance, pengakuan bukan satu-satunya ukuran. Jalan sunyi tetap ditempuh, dengan keyakinan bahwa kerja-kerja artistik yang jujur pada proses akan menemukan waktunya sendiri.

Baca Juga :  Bahasa Sasak di Persimpangan Zaman: Antara Dialek, Ego, dan Jalan Pulang

Keberlanjutan Saksak Dance Production tidak hanya ditentukan oleh gagasan artistik, tetapi juga oleh soliditas tim dan keberanian membangun kolaborasi lintas disiplin.

Kerja bersama seniman teater, musik, sineas film, hingga penyair dipandang penting untuk memperkaya perspektif dan memperluas medan ekspresi.

Di sisi lain, penataan manajemen secara profesional menjadi tantangan sekaligus kebutuhan. Miq Agus menekankan bahwa hidup dari seni, khususnya tari di daerah, adalah perjuangan panjang.

Kegagalan demi kegagalan, baik dalam pengelolaan SDM maupun manajemen, menjadi bagian dari perjalanan yang tidak ditutupi, justru dicatat dan dipelajari.

Saksak Dance tidak merekap keberhasilannya lewat piala, piagam, atau tepuk tangan semata. Mereka merekap kegagalan. Dari kegagalan itulah lahir rasa malu, refleksi, dan perbaikan.

Dari manajemen “dagang bakso” di tahap awal, di mana satu orang memegang banyak peran, Saksak Dance perlahan tumbuh menjadi institusi dengan banyak koreografer dan pengalaman pentas hingga tingkat nasional.

Pentas Evaluasi: Merayakan Proses, Bukan Sekadar Gebyar

Tradisi Pentas Evaluasi yang rutin digelar setiap akhir tahun menjadi ruang penting bagi Saksak Dance Production untuk bercermin.

Dalam sambutannya pada 30 Desember 2025, Miq Agus menegaskan bahwa evaluasi bukan hanya soal panggung malam itu, melainkan tentang dialog lanjutan: komentar, kritik, dan refleksi dari publik.

Ia menekankan bahwa besar kecilnya sebuah institusi tidak diukur dari gebyarnya acara, melainkan dari kemampuannya bertahan, belajar, dan terus berproses.

Pentas megah boleh jadi berlangsung karena banyak faktor, tetapi yang lebih penting adalah kerja panjang di balik layar.

“Mohon maaf kepada semua pihak yang mungkin dalam pelayanan Saksak Dance sebagai mitra kerja ada hal-hal yang kurang berkenan. Mari kita mengevaluasi Saksak Dance dengan nurani berkesenian,” pungkasnya.

Sebagai epilog, maka Saksak Dance Production adalah potret tentang bagaimana seni hidup: penuh risiko, benturan, kegagalan, dan harapan.

Ia tidak menawarkan jalan pintas menuju pengakuan, tetapi menegaskan pentingnya kesetiaan pada proses.

Dengan menggali akar dan menorehkan jiwa, dengan kebebasan berungkap yang bertanggung jawab, Saksak Dance terus menulis kisahnya sendiri di peta tari kontemporer Indonesia.

Sebuah kisah tentang tubuh yang berpikir, tradisi yang bergerak, dan keberanian untuk terus menari, meski jalan yang ditempuh tidak selalu terang. (aks)

Follow WhatsApp Channel ceraken.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB
Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB
Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan
Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama
Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya
Bahasa Sasak di Persimpangan Zaman: Antara Dialek, Ego, dan Jalan Pulang
Membaca Jejak Masa Lampau dari Vitrin Museum Negeri NTB
Di Balik Restorasi “Bebek Angsa”, Terbaca Jejak Estetika I Gusti Bagus Kebon

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:09 WITA

Begawe Beleq, Panggung Bersama untuk Bahasa, Seni, dan Budaya NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 17:14 WITA

Menyalakan Museum di Tengah Malam: Ruang Khasanah, Ingatan, dan Wajah Baru Kebudayaan NTB

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:11 WITA

Museum Tetap di Hati, Malam yang Menghidupkan Kembali Ingatan

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:26 WITA

Menjaga Musik Tradisi NTB agar Tak Tinggal Nama

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:41 WITA

Bahasa Sasak dan Rumah yang Tak Boleh Kehilangan Penghuninya

Gatra Anyar

Rekonstruksi Desa Adat Sade perlu menggunakan pendekatan berbasis masyarakat  (foto: ntbprov.go.id / ceraken.id)

SOSIAL EKONOMI

Membangun Kembali Sade, Menjaga Sade Tetap Menjadi Sade

Sabtu, 29 Agu 2026 - 09:03 WITA

"Mencari Rumah Sembunyi". Sabtu, 12 November 2022 (foto: aks / ceraken.id)

OPINI

Mohammad Hasan Sijaya dan Sastra Sabtu Sore

Kamis, 27 Agu 2026 - 17:31 WITA

Sebuah kemungkinan baru tentang bagaimana musik tradisi NTB dapat bergerak (foto: aks / ceraken.id)

MUSIK

Menata Pengawak Angin, Mencari Arah Musik Futuristik NTB

Kamis, 27 Agu 2026 - 11:01 WITA