Gerbang Sangkareang dan Etika Kebudayaan Kota (Membaca Mataram dalam Narasi Anugerah Kebudayaan PWI 2026)

Senin, 5 Januari 2026 - 23:08 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bukan semata soal nominasi, tetapi tentang keberanian menempatkan kebudayaan sebagai kompas pembangunan (Foto: ist)

Bukan semata soal nominasi, tetapi tentang keberanian menempatkan kebudayaan sebagai kompas pembangunan (Foto: ist)

Catatan Agus K Saputra

CERAKEN.ID– Terpilihnya Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, sebagai salah satu dari sepuluh nominator terbaik Anugerah Kebudayaan PWI Pusat Tahun 2026 menandai sebuah pengakuan yang melampaui capaian administratif pemerintahan.

Penghargaan ini tidak sekadar membaca kebijakan dalam tabel kinerja, tetapi menelisik cara sebuah kota memaknai kebudayaan sebagai roh pembangunan.

Dalam konteks itu, Mataram tidak dihadirkan sebagai kota yang selesai, melainkan kota yang sedang berproses mencari bentuk terbaik dalam menegosiasikan modernitas dengan akar tradisi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Salah satu simbol paling menonjol dari proses tersebut adalah Gerbang Sangkareang, sebuah penanda ruang yang kerap dilihat sekilas oleh warga dan pelintas jalan, namun menyimpan lapisan makna kebudayaan yang dalam.

Bagi Mohan Roliskana, gerbang itu bukan sekadar bangunan fisik atau elemen estetika kota. Ia adalah pernyataan sikap: bahwa pembangunan kota harus berbicara dengan bahasa budaya lokal, bukan menenggelamkannya.

Sangkareang: Nama yang Tidak Netral

Dalam kebudayaan Sasak, nama tidak pernah lahir tanpa makna. Ia adalah simpul memori, pengetahuan lokal, sekaligus penanda nilai.

Sangkareang sendiri merujuk pada salah satu kawasan puncak di Gunung Rinjani. Ruang alam yang dalam kosmologi masyarakat Sasak dipandang sakral, menjadi sumber kehidupan dan keseimbangan.

Gunung, dalam pandangan tradisional Sasak, bukan hanya bentang alam, tetapi poros etis kehidupan. Dari gunung mengalir air, dari air tumbuh kesuburan, dan dari kesuburan lahir peradaban.

Karena itu, relasi manusia dengan alam tidak bersifat eksploitatif, melainkan timbal balik dan penuh tanggung jawab.

Ketika nama Sangkareang ditarik ke ruang kota, menjadi taman, kawasan publik, hingga gerbang kota, sesungguhnya sedang terjadi alih makna yang sadar.

Kota modern tidak diposisikan sebagai ruang yang memutus hubungan dengan alam, melainkan ruang yang terus diingatkan pada sumber hidupnya.

Masyarakat Sasak mengenal filosofi lumbung. Bukan hanya sebagai bangunan penyimpan padi, tetapi sebagai cara berpikir tentang hidup.

Baca Juga :  Mendengar yang Tak Terucap: Kisah Para Belian dalam Kamera Anton Sumekah
Sangkareang, dengan seluruh lapisan maknanya, berdiri sebagai pengingat (Foto: aks)

Lumbung mengajarkan bahwa hasil hari ini tidak boleh dihabiskan hari ini; selalu ada hari esok yang harus dijaga.

Filosofi inilah yang tercermin dalam penafsiran Gerbang Sangkareang sebagai “lumbung kehidupan”. Ia menjadi metafora tentang ketahanan, keberlanjutan, dan kehati-hatian dalam mengelola sumber daya, termasuk ruang kota.

Dalam konteks pembangunan modern yang kerap tergesa dan berorientasi pertumbuhan, nilai ini menjadi kritik kultural yang halus namun tegas.

Kota, dalam pandangan ini, bukan arena perlombaan beton dan lampu, melainkan ruang hidup bersama yang harus diwariskan dalam kondisi layak kepada generasi berikutnya.

Sangkareang bukan hanya simbol; ia adalah ruang praktik kebudayaan. Kawasan ini menjadi tempat warga berkumpul, berinteraksi, mengekspresikan diri.

Mulai dari aktivitas santai, diskusi, pertunjukan seni jalanan, hingga perayaan komunitas.

Hal ini sejalan dengan tradisi Sasak yang menempatkan ruang terbuka sebagai arena sosial. Di sanalah musyawarah berlangsung, hiburan rakyat digelar, dan ikatan sosial dirawat.

Kota yang kehilangan ruang semacam ini, sejatinya sedang kehilangan ingatan kolektifnya.

Dengan menjaga Sangkareang sebagai ruang publik yang hidup, Pemkot Mataram tidak hanya membangun fasilitas, tetapi merawat kebiasaan budaya. Sebuah kerja sunyi yang jarang tercatat dalam laporan resmi, namun terasa dampaknya dalam kehidupan sehari-hari warga.

Tafsir Kepemimpinan Mohan Roliskana

Dalam berbagai kesempatan, Mohan Roliskana menegaskan bahwa pembangunan Mataram harus berangkat dari identitas lokal. Baginya, kebudayaan bukan pelengkap seremoni, melainkan fondasi kebijakan.

Gerbang Sangkareang menjadi representasi visi itu: sebuah penanda bahwa kota ini memiliki arah, memiliki akar, dan memiliki narasi sendiri.

Ia bukan sekadar pintu masuk fisik, tetapi pintu masuk pemaknaan. Mengajak siapa pun yang melintas untuk membaca Mataram sebagai kota yang berpikir tentang jati dirinya.

Ia hadir untuk mengapresiasi praktik kebudayaan yang hidup (Foto: ist)

Pendekatan ini pula yang menjadi perhatian dalam proses penilaian Anugerah Kebudayaan PWI. Bukan hanya apa yang dibangun, tetapi mengapa dan dengan nilai apa ia dibangun.

Sering kali kebudayaan terjebak dalam romantisme masa lalu. Namun yang dilakukan Mataram justru sebaliknya: kebudayaan dijadikan strategi masa depan.

Ia hadir dalam tata kota, simbol visual, penguatan ekonomi kreatif, hingga pembentukan karakter ruang publik.

Baca Juga :  Rahim Bambu dan Jejak Kelahiran: “Wet Tau” Karya Lanang Kusumajati di Pameran Belian

Gerbang Sangkareang, dengan motif dan filosofi yang melekat padanya, telah menginspirasi berbagai produk kreatif. Dari kriya, desain, hingga wacana seni.

Ini menunjukkan bahwa kebudayaan, ketika dikelola dengan sadar, mampu menjadi mesin sosial dan  ekonomi. Inilah titik temu antara kebudayaan dan kesejahteraan, antara identitas dan keberlanjutan.

Mengapa PWI Membaca Sangkareang

Anugerah Kebudayaan PWI tidak lahir untuk memuja simbol kosong. Ia hadir untuk mengapresiasi praktik kebudayaan yang hidup, yang berdampak, dan yang memberi arah.

Dalam hal ini, Sangkareang dibaca bukan sebagai proyek fisik, melainkan sebagai narasi kebijakan.

Narasi tentang bagaimana sebuah kota di daerah mampu berbicara di tengah arus globalisasi tanpa kehilangan bahasa ibunya.

Narasi tentang kepemimpinan yang memilih jalan kebudayaan: jalan yang tidak selalu cepat, tetapi berakar kuat.

Dengan demikian sebagai epilog, Mataram, melalui Gerbang Sangkareang, sedang menulis dirinya sebagai teks kebudayaan.

Setiap elemen kota menjadi kalimat, setiap ruang publik menjadi paragraf, dan setiap kebijakan menjadi makna yang bisa dibaca warganya.

Dalam narasi Anugerah Kebudayaan PWI 2026, pencapaian Mohan Roliskana bukan semata soal nominasi, tetapi tentang keberanian menempatkan kebudayaan sebagai kompas pembangunan.

Sebuah pesan penting di tengah zaman yang kerap lupa bahwa kota bukan hanya tempat tinggal, melainkan ruang nilai.

Dan Sangkareang, dengan seluruh lapisan maknanya, berdiri sebagai pengingat: bahwa masa depan hanya akan kokoh jika ia berdiri di atas ingatan dan kebijaksanaan lokal.

#Akuair-Ampenan, 05-01-2026

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Berita Terkait

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB
Suluh di Atas Pasir: Artunity dan Kisah Rumah yang Perlahan Hilang

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Selasa, 20 Januari 2026 - 00:30 WITA

Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA