CERAKEN.ID– Terpilihnya Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, sebagai satu dari sepuluh nominator terbaik Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Tahun 2026 bukanlah peristiwa seremonial belaka.
Ia adalah penanda dari sebuah kerja kebudayaan yang pelan, konsisten, dan berpijak pada kesadaran sejarah. Di balik nominasi itu, berdiri sebuah gagasan kultural yang dirumuskan dengan serius: Gerbang Sangkareang.
Tanggapan atas capaian tersebut datang dari Tim Kreatif Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Diskominfo Kota Mataram, melalui R. Dedy Aryo Saputro.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Baginya, “Gerbang Sangkareang” bukan sekadar karya arsitektural, melainkan “narasi kota” yang sengaja dibangun untuk menjawab satu pertanyaan besar: bagaimana sebuah kota modern memaknai jati dirinya tanpa tercerabut dari akar tradisi?
“Gerbang Sangkareang adalah titik temu antara nilai tradisi dan kebutuhan estetika modern,” ujar Mohan Roliskana.
Kalimat ini menjadi kunci pembacaan atas seluruh gagasan yang diusung Pemerintah Kota Mataram dalam proposal kebudayaan tersebut. Sebab, yang dibicarakan bukan hanya tentang bentuk fisik gerbang, tetapi tentang cara berpikir sebuah kota terhadap masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Di balik struktur fisiknya, “Gerbang Sangkareang” adalah manifestasi ideologis. Ia berbicara tentang bagaimana kota memandang dirinya sendiri: bukan sekadar ruang administratif, melainkan ruang hidup yang menyimpan ingatan kolektif.
Konsep “Lumbung Kehidupan” yang diadopsi menjadi fondasi gagasan ini. Dalam kebudayaan Sasak, lumbung bukan sekadar bangunan penyimpan hasil panen, melainkan simbol sakral kesejahteraan, ketahanan hidup, dan kebersamaan. Lumbung adalah tempat harapan disimpan, masa depan dijaga.
Di tangan Mohan dan timnya, simbol tradisional itu tidak diperlakukan sebagai ornamen mati. Bentuk lumbung ditransformasikan menjadi desain kontemporer yang menyatu dengan denyut kota modern.
Inilah yang membuat “Gerbang Sangkareang” tidak terjebak pada romantisme masa lalu, tetapi justru menjadikannya energi untuk membaca masa depan.
Dedy Aryo Saputro menambahkan lapisan makna lain yang tak kalah penting. “Sesuai dengan apa yang ada di benak, Sangkareang puncak tertinggi nomor dua, yang merupakan sisa dari Samalas dan dipercaya sebagai gerbang menuju puncak Rinjani sesungguhnya,” ujarnya.
Pernyataan ini menempatkan Sangkareang bukan hanya sebagai simbol kultural, tetapi juga sebagai metafora perjalanan: sebuah gerbang menuju puncak nilai-nilai luhur yang lebih tinggi.
Di titik inilah, “Gerbang Sangkareang” menjadi simbol transisi: antara bawah dan atas, antara yang profan dan yang sakral, antara kehidupan sehari-hari dan cita-cita bersama. Ia bukan tujuan akhir, melainkan pintu masuk menuju kesadaran yang lebih dalam tentang siapa kita dan ke mana kita hendak melangkah.
Dedy lalu menarik perbandingan yang reflektif dengan kisah dalam film The Last Samurai. Ketika sang kaisar Jepang bertitah bahwa negerinya terbuka terhadap modernitas tanpa harus melupakan tradisi, pesan itu menjadi relevan bagi Mataram hari ini.
Ketika samurai terakhir wafat, yang penting bukan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup. Begitu pula kota. Yang patut dikisahkan bukan sekadar deretan proyek pembangunan, tetapi bagaimana sebuah kota hidup, bertumbuh, dan merawat nilai-nilai yang membentuk jiwanya.
Perbandingan itu membawa ingatan Dedy pada Restorasi Meiji, sebuah fase penting dalam sejarah Jepang ketika modernisasi dilakukan tanpa menghancurkan fondasi budaya.
Mataram, dalam skala dan konteksnya sendiri, tengah menjalani proses serupa: membuka diri pada perkembangan zaman sambil menjaga kesadaran sejarah dan identitas lokal.
Dalam proses evolusi Indonesia menemukan “jati diri” sebagai bangsa, Kota Mataram memiliki peran simbolik yang tidak kecil. Pupuh Kitab Negara Kertagama, yang di dalamnya termaktub kalimat Bhinneka Tunggal Ika, ditemukan di kawasan Puri Ukir Kawi, Cakranegara, Mataram.
Fakta ini menempatkan kota ini sebagai salah satu titik penting lahirnya kesadaran kebangsaan Nusantara. Mataram, dengan demikian, telah memberikan “hadiah kebudayaan” terbaiknya kepada Ibu Pertiwi jauh sebelum republik ini lahir.
Pemaknaan simbol “Sangkareang” juga dapat ditelusuri melalui laku tubuh dan sikap hidup dalam tradisi Nusantara. Sikap sempurna yang dikenal sebagai bersila, duduk tenang dengan punggung tegak dan kaki bersilang, menjadi metafora penting.
Bersila melambangkan ketenangan, keseimbangan, dan penghormatan, baik kepada diri sendiri maupun lingkungan. Ia juga terkait erat dengan praktik spiritual, meditasi, dan pencarian ketenangan batin.
Lebih dari itu, bersila mencerminkan kesabaran, kedamaian, dan keharmonisan dalam interaksi sosial. Dalam banyak budaya Jawa dan Nusantara, bersila adalah simbol keteguhan hati dan fokus: sebuah sikap untuk merenung, berintrospeksi, dan mengambil keputusan dengan jernih.
Nilai-nilai inilah yang seolah ingin dihadirkan kembali melalui simbolisme Gerbang Sangkareang: sebuah ajakan untuk menata kota dengan kesadaran, bukan tergesa-gesa.
Simbol lain yang tak kalah penting adalah rusa atau kijang. Dalam simbolisme Nusantara, rusa sering dihubungkan dengan kelembutan, keanggunan, dan ketenangan.
Ia juga melambangkan kewaspadaan, kecepatan, dan sensitivitas terhadap lingkungan. Dalam berbagai kebudayaan, rusa dianggap sebagai pembawa pesan kedamaian dan harmoni, makhluk yang berjalan selaras dengan alam.
Di Pulau Sumbawa, rusa atau kijang memiliki makna yang lebih kontekstual. Ia kerap dipahami sebagai simbol kelestarian alam dan keseimbangan ekosistem.
Kehadirannya dalam mitos dan cerita rakyat menjadi pengingat tentang pentingnya hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan. Dengan demikian, simbol rusa dalam konteks “Gerbang Sangkareang” juga berbicara tentang tanggung jawab ekologis dan keberlanjutan.
Pada akhirnya, “Gerbang Sangkareang” adalah cara Kota Mataram berkisah tentang dirinya sendiri. Ia adalah cerita tentang kota yang tidak malu pada masa lalu, tidak takut pada masa depan, dan tidak kehilangan kesadaran di masa kini.
Nominasi Anugerah Kebudayaan PWI 2026 hanyalah satu penanda dari perjalanan itu.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana Mataram terus hidup, bergerak, dan merawat jiwanya: seperti samurai terakhir, seperti lumbung kehidupan, seperti rusa yang berjalan lembut menjaga keseimbangan alam. (aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan































