Sore itu, Erasmus Huis, Jakarta, Sabtu, 3 Juni 2023, tidak hanya menjadi ruang pertunjukan seni, melainkan menjelma sebagai arena ingatan kolektif. Di panggung sederhana namun sarat simbol, Sekolah Pedalangan Wayang Sasak (SPWS) berkolaborasi dengan Lampaq[k] mementaskan lakon berjudul “Kinrohosi dan Hikayat Tolak Bala”.
Naskah ini ditulis oleh Fitri Rachmawati, yang dikenal dengan panggilan Pikong, dan disutradarai oleh Abdul Latif Apriaman.
Pertunjukan ini tidak berdiri sebagai teater konvensional yang bertumpu pada dramatika semata. Ia bergerak di wilayah yang lebih dalam: teater sebagai jurnalisme, sebagai kerja pencatatan sejarah, dan sebagai upaya menjaga memori kolektif masyarakat adat Sasak, khususnya masyarakat Tanah Gumantar, Desa Adat Dasan Belek, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Melalui “Kinrohosi dan Hikayat Tolak Bala”, penonton diajak menyelami kisah kolonialisme Jepang di Lombok, kerja paksa, perampasan hasil bumi, kekerasan terhadap perempuan, hingga trauma lintas generasi. Yang seluruhnya disampaikan bukan sebagai laporan berita, tetapi sebagai pengalaman tubuh, bunyi, cahaya, dan ritual.
Sutradara Abdul Latif Apriaman menegaskan bahwa naskah ini lahir dari riset dan wawancara lapangan selama dua tahun, sejak 2018 hingga 2021, langsung di Tanah Gumantar.
“Konsep naskah ini adalah jurnalisme teater yang mengangkat fakta dalam bentuk naskah teater, karena penulis merasa tidak cukup menggambarkan tanah leluhur hanya dalam bentuk berita yang terbatas durasinya,” ujar Latif saat dihubungi melalui telepon, Jumat, 9 Januari 2026.
“Hingga saat ini penulis masih tetap berkunjung ke Tanah Gumantar, menjaga cerita-cerita baik mereka.”
Dalam diskusi teater pada Kamis, 11 Desember 2025, Pikong mengajukan sebuah premis penting: penulisan naskah teater dapat menjadi lebih tajam, lebih hidup, dan lebih dekat dengan realitas sosial bila dikembangkan dengan pendekatan jurnalistik.
Premis ini tidak berhenti sebagai teori, tetapi dibuktikan melalui karya-karya Pikong sebelumnya, termasuk seri Kalampuan dan naskah Leang (2025).
Di titik inilah “Kinrohosi dan Hikayat Tolak Bala” menemukan kekuatannya: ia tidak mengarang penderitaan, tetapi menyusun fakta, kesaksian, dan memori menjadi bahasa artistik yang dapat diakses lintas generasi.
Pemeran sebagai Tubuh Sejarah
Pementasan ini ditopang oleh pemain yang tidak sekadar “berakting”, melainkan menghadirkan tubuh-tubuh sosial dan simbolik.
- Fitri Rachmawati (Pikong) tampil sebagai Tokoh 2, seorang perempuan penenun Gumantar, ibu paruh baya yang tubuhnya menyimpan rahasia purba, luka kolonial, dan kekuatan spiritual perempuan Sasak. Tangannya memintal kapas dengan gentian, alat tradisional pemintal benang, yang dalam pertunjukan ini menjadi simbol kerja paksa sekaligus perlawanan sunyi.
- Salam Efendi memerankan Tokoh 1, seorang pemuda Gumantar berusia sekitar 23 tahun. Tubuhnya digambarkan kuat seperti batu gunung dan karang laut, suaranya tegas dan penuh cinta pada tanah kelahiran. Ia menjadi representasi generasi penjaga gumi paer, tanah adat yang diwariskan leluhur.
- Tokoh Kuntril, pesuruh Jepang atau seinendan (dalam sebutan lokal kerap disebut selendang), diperankan oleh Wahyu Kurnia, Saofiyan Hidayat, dan Sopiyan Sauri. Multiplikasi Kuntril menegaskan bahwa pengkhianatan dalam sejarah kolonial bukan persoalan individu semata, melainkan produk dari sistem kekuasaan.
- Sosok Amaq Lokaq, tetua adat dengan wajah bersahaja dan kontemplatif, hadir sebagai penjaga nilai kosmologis dan spiritual masyarakat adat.
Para Serdadu Jepang ditampilkan sebagai tubuh-tubuh mekanis, bekerja seperti robot tanpa nurani—simbol kekuasaan kolonial yang dingin dan brutal.
Lapisan bunyi dalam pertunjukan ini menjadi elemen penting yang memperdalam narasi. Musik digarap oleh Alam Kundam, Rejeski Gena, dan Edi, dengan instrumen tradisional seperti genggong, suling dewa, dan tembang ritual Sasak.
Kidung Lokoq Sebie, yang biasa digunakan dalam upacara ngaponin (penyucian) masyarakat Lombok Utara, mengalun sepanjang pertunjukan. Kidung ini bukan sekadar pengiring, tetapi arsip bunyi yang menghubungkan dunia manusia, leluhur, dan kosmos.
Derik gentian, bunyi gesekan kayu yang berulang, menjadi ritme dasar pertunjukan. Bunyi ini mengingatkan bahwa kerja paksa perempuan pemintal tidak pernah berhenti, bahkan ketika tubuh telah kelelahan.
Dua artefak budaya menjadi pusat dramaturgi: gentian dan Umbak Kombong Majapahit. Gentian, alat pemintal benang, tampil sebagai simbol produksi tekstil yang dipaksa oleh kolonialisme Jepang. Setiap putaran gentian adalah luka, tetapi juga perlawanan.
Sementara Umbak Kombong Majapahit, kain tenun sakral, tidak diposisikan sebagai jimat, melainkan sebagai penanda fase kehidupan, keberanian, dan pilihan hidup.
Dalam dialog Tokoh 2, Umbak Kombong dipersiapkan sejak bayi lahir hingga ia dewasa dan menentukan nasibnya sendiri. Kain ini mengandung doa, zikir, dan cinta orang tua, sebuah sistem nilai yang diturunkan lintas generasi.
Ketika kain-kain ini dirampas, dikotori lumpur, dan dibawa pergi, yang hilang bukan hanya benda, melainkan martabat, identitas, dan kedaulatan budaya.
Dari Kolonialisme Jepang ke Kapitalisme Modern
Babak demi babak pertunjukan bergerak dari masa kolonial Jepang menuju masa kini. Serdadu berubah rupa menjadi saudagar, investor, dan pemilik modal. Bedil digantikan koper, dokumen, dan jargon pembangunan.
Tokoh 1 kini berhadapan dengan laptop, membaca rencana-rencana industrialisasi, kawasan pelabuhan bebas, kilang minyak, dan perampasan lahan adat. Narasi ini menghubungkan masa lalu dengan masa kini, menunjukkan bahwa kolonialisme tidak pernah benar-benar pergi, ia hanya berganti wajah.
Tokoh 2, yang digambarkan telah berusia 125 tahun, menyatakan bahwa langkah kaki para penjajah masih terdengar. Laut yang dulu dilayari kapal perang kini dilayari kapal industri.
Puncak pertunjukan ditutup dengan ritual tolak bala. Dupa, andang-andang, kepeng bolong, air suci, dan doa para tetua adat dihadirkan sebagai bahasa perlawanan non-kekerasan.
Upacara ini bukan nostalgia masa lalu, tetapi strategi kebudayaan untuk menghadapi ancaman baru: perusakan lingkungan, perampasan tanah adat, dan komodifikasi ruang hidup.
Amaq Lokaq memercikkan air suci, menyalakan dupa, dan membaca doa untuk menjaga desa adat, hutan adat, serta jiwa leluhur dari bala yang datang dalam wujud orang-orang berpakaian rapi dan membawa koper.
“Kinrohosi dan Hikayat Tolak Bala” menegaskan bahwa teater dapat berfungsi sebagai arsip hidup, sebagai jurnalisme yang bernapas, dan sebagai ruang perlawanan kultural.
Melalui tubuh Pikong, Salam Efendi, Wahyu Kurnia, Saofiyan Hidayat, Sopiyan Sauri, bunyi musik Alam Kundam, Rejeski Gena, Edi, serta visi sutradara Abdul Latif Apriaman, pertunjukan ini menghadirkan sejarah yang tidak ditemukan dalam buku pelajaran.
Derik gentian di akhir pementasan menjadi penanda bahwa ingatan tidak pernah benar-benar berhenti dipintal. Selama benang masih diputar, selama ritual masih dijaga, dan selama gumi paer masih dicintai, perlawanan kebudayaan akan terus hidup. (aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan































