Belian sebagai Pengalaman Hidup: Membaca Ritual Sasak dalam Ruang Pamer

Minggu, 11 Januari 2026 - 09:43 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pameran

Pameran "Belian" mengajak pengunjung untuk tidak sekadar melihat, tetapi merasakan dan mempertanyakan kembali makna penyembuhan, tradisi, dan keberlanjutan pengetahuan lokal dalam konteks masyarakat Sasak hari ini (Foto: aks)

CERAKEN.ID– Galeri Seni Rupa Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi ruang temu antara tradisi, riset, dan tafsir kontemporer pada 10–17 Januari 2026. Didukung Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Pasir Putih Lombok Utara bersama Taman Budaya NTB menggelar pameran bertajuk “Belian”.

Pameran ini tidak sekadar menghadirkan karya seni rupa, tetapi juga mengajak publik membaca ulang praktik pengobatan tradisional masyarakat Sasak sebagai pengalaman hidup yang terus bergerak dan dinegosiasikan.

“Belian”, yang selama ini lebih dikenal sebagai ritual penyembuhan, dalam pameran ini diposisikan melampaui batas-batas fungsionalnya. Ia tidak dipamerkan sebagai artefak masa lalu atau objek eksotisme budaya, melainkan sebagai praktik yang hidup, dijalani, diwariskan, dan senantiasa berkelindan dengan tubuh, ingatan, serta relasi manusia dengan alam dan dunia adikodrati.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pendekatan inilah yang menjadi pijakan kuratorial pameran, sebagaimana disampaikan Muhammad Sibawahi selaku kurator.

“Pameran ini diselenggarakan sebagai upaya membaca praktik pengobatan tradisional Belian Sasak. Kebetulan risetku tentang media, mantra, dan performativitas belian. Sementara pemilihan seniman dan partisipan berdasarkan pertimbangan kesesuaian praktik dengan tujuan kurasi,” ujar Sibawahi pada Jumat (9/01).

Inisiatif penyelenggaraan pameran ini lahir dari proses riset panjang. Sibawahi menegaskan bahwa pameran “Belian” merupakan bagian dari tanggung jawab intelektual dan kulturalnya sebagai penerima manfaat Dana Indonesiana 2025. Selama hampir tiga tahun terakhir, ia intens memeriksa belian dan seluruh semesta pengetahuannya.

Dalam satu tahun terakhir, fokus risetnya dipertajam pada tiga pintu utama: media, mantra, dan performativitas.

Tiga aspek tersebut menjadi lensa untuk melihat belian secara lebih utuh, tidak hanya sebagai ritual penyembuhan, tetapi sebagai sistem pengetahuan masyarakat Sasak yang kompleks. Namun, dalam proses pendalaman itulah justru muncul banyak kejutan.

Belian tidak sepenuhnya dapat dijelaskan lewat tulisan akademik semata. Dari sinilah muncul gagasan untuk mendiseminasikan hasil kajian melalui medium lain—pameran seni—sebagai ruang pengalaman bersama.

Baca Juga :  Gerbang Sangkareang: Cara Mataram Berkisah Tentang Diri, Tradisi, dan Masa Depan

“Belian dibaca bukan sebagai objek kajian, melainkan sebagai pengalaman yang dialami dan dipertanyakan kembali dengan kritis,” kata Sibawahi.

Melalui pendekatan artistik yang beragam, para partisipan dan seniman menghadirkan belian di wilayah antara tradisi dan tafsir kontemporer, tanpa memisahkannya secara tegas.

Peresmian pameran yang digelar pada Sabtu malam, 10 Januari 2026, menandai komitmen Taman Budaya NTB dalam membuka ruang bagi eksplorasi artistik generasi muda. Kepala Taman Budaya Provinsi NTB, Lalu Surya Mulawarman, menyebut pameran ini sebagai bentuk dukungan nyata terhadap anak-anak muda NTB untuk berkarya, baik di bidang seni rupa, seni pertunjukan, maupun praktik kebudayaan lainnya.

“Kami membuka diri, memberikan kesempatan untuk berkarya bagi anak-anak dari Generasi Emas NTB dan menjadi kebanggaan dari kita semua,” ujar Miq Surya.

Ia mengakui bahwa tema “Belian” memunculkan rasa penasaran tersendiri. Selama ini, belian lebih akrab dipahami dalam konteks seni pertunjukan dan ritual penyembuhan yang berlangsung dalam durasi panjang dan sarat intensitas spiritual.

Muhammad Sibawahi (kiri), Lalu Surya Mulawarman (kanan). Tiga pintu masuk “Belian”, media, mantra, dan peformativitas belian (Foto: aks)

Ketika “Belian” diangkat sebagai tema pameran seni rupa, muncul pertanyaan: seperti apa pengalaman ritual itu diterjemahkan dalam ruang galeri?

“Kalau di seni pertunjukan, “Belian” ini luar biasa. Di seni tari khususnya, penonton bisa tidak berkedip. Apalagi proses “Belian” itu bisa melewati waktu satu tahun,” ungkapnya.

Karena itu, Miq Surya menilai durasi pameran selama satu minggu terasa terlalu singkat. Ia bahkan berharap pameran semacam ini dapat berlangsung lebih lama agar masyarakat memiliki waktu yang cukup untuk mengalami dan menyelami gagasan yang dihadirkan.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pameran “Belian” penting sebagai pengayaan wawasan publik. Tema apa pun, menurutnya, dapat diangkat dan digarap secara serius selama memiliki kedalaman konsep dan relevansi dengan kehidupan masyarakat.

“Selaku Kepala Taman Budaya Provinsi NTB, inilah salah satu kontribusi kami bagi rekan-rekan seniman, pelaku seni, dan budayawan untuk kemajuan seni dan budaya di NTB,” pungkasnya.

Apresiasi juga datang dari Pasir Putih Lombok Utara sebagai penggagas kegiatan. Ketua Yayasan Pasir Putih, Muhammad Gozali, menyampaikan rasa suka cita dan dukungan penuh terhadap seluruh partisipan, khususnya Muhammad Sibawahi sebagai kurator.

Baca Juga :  Saksak Dance Production: Merawat Keberanian, Menempa Tubuh Zaman

Menurut Gozali, kerja-kerja kreatif Pasir Putih selalu berpijak pada riset dan kedekatan dengan kehidupan sosial masyarakat Lombok Utara.

Ia menuturkan bahwa praktik “Belian” bukanlah sesuatu yang asing bagi komunitas Pasir Putih. Pengalaman-pengalaman “Belian”, termasuk “belian menganak”, telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat dan terekam dalam arsip Balai Data Pasir Putih.

Karena itu, pameran ini dinilai penting sebagai upaya mengangkat pengalaman lokal menjadi wacana bersama.

“Proses di ‘Belian’ ini sudah dijalankan oleh Muhammad Sibawahi dan kawan-kawan selama satu tahun lebih, dan difasilitasi oleh Kementerian Kebudayaan,” ujar Gozali.

Ia pun menutup sambutannya dengan ajakan reflektif, “Selamat menikmati pameran, mudah-mudahan ada sesuatu yang mengejutkan.”

Pameran “Belian” melibatkan partisipan kunci, yakni Abdul Haris sebagai praktisi belian dan Afifah Farida sebagai akademisi pertanian Universitas Mataram. Keduanya menghadirkan perspektif yang berbeda namun saling melengkapi: praktik langsung dan pembacaan ilmiah atas relasi manusia, alam, dan penyembuhan.

Sementara itu, seniman yang terlibat antara lain Anton Sumekah, Hujjatul Islam, Lanang Kusumajati, S. La Radek, Muhammad Rusli “Oka”, Muhammad Gozali, dan Ronieste.

Dengan dukungan tim display, Eja, Wir, Lanang, dan Wahyu, pameran ini menjadi ruang dialog antara riset, seni, dan pengalaman hidup. “Belian” tidak menawarkan jawaban tunggal, melainkan membuka kemungkinan-kemungkinan tafsir.

Pameran ini mengajak pengunjung untuk tidak sekadar melihat, tetapi merasakan dan mempertanyakan kembali makna penyembuhan, tradisi, dan keberlanjutan pengetahuan lokal dalam konteks masyarakat Sasak hari ini.

Dalam ruang galeri itu, belian tidak dibekukan sebagai masa lalu, melainkan hadir sebagai denyut kehidupan yang terus bergerak. Sebuah praktik yang hidup, rapuh, dan sekaligus penuh daya. (aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : Liputan

Berita Terkait

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB
Suluh di Atas Pasir: Artunity dan Kisah Rumah yang Perlahan Hilang

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Selasa, 20 Januari 2026 - 00:30 WITA

Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA