CERAKEN.ID– Di tengah arus informasi yang kian deras dan perubahan yang begitu cepat, ruang belajar tak lagi terbatas pada dinding kelas, papan tulis, dan bangku sekolah. Pandangan inilah yang disampaikan Adi Muhayadi melalui unggahan media sosialnya, sebuah refleksi singkat namun sarat makna tentang hakikat belajar di era kini.
Adi menegaskan, belajar bukan semata soal tempat formal, melainkan tentang semangat dan metode. Menurutnya, proses belajar yang paling efektif justru banyak terjadi di luar ruang kelas.
Ia merujuk pada pembagian sederhana namun relevan: 70 persen belajar dari pengalaman atau praktik langsung, 20 persen dari interaksi dengan orang lain: mentoring, diskusi, atau percakapan sehari-hari, dan hanya 10 persen dari kursus atau buku.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Proporsi ini menempatkan pengalaman sebagai guru utama, sementara teori hadir sebagai penopang.
Gagasan tersebut sejalan dengan realitas kehidupan modern, di mana seseorang sering kali belajar paling banyak ketika terlibat langsung dalam persoalan nyata. Kesalahan, keberhasilan, dan proses mencoba ulang menjadi kurikulum tak tertulis yang membentuk pemahaman lebih dalam.
Di sini, pengalaman bukan sekadar pelengkap, melainkan inti dari pembelajaran itu sendiri.
Namun Adi tidak berhenti pada praktik semata. Ia menekankan pentingnya interaksi antarmanusia dalam proses belajar.
Pertukaran gagasan, obrolan ringan, hingga bimbingan informal dari kawan atau mentor, menjadi ruang refleksi yang memperkaya sudut pandang. Belajar, dalam arti ini, adalah proses sosial yang lahir dari relasi dan kepercayaan.
Salah satu kalimat yang ia tulis mengundang perhatian lebih jauh: “Cara terbaik untuk memahami sesuatu adalah dengan mencoba menjelaskannya kepada orang lain.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa pengetahuan sejati diuji ketika dibagikan. Saat seseorang mampu menjelaskan, menyederhanakan, dan menautkan gagasan kepada orang lain, di situlah pemahaman menjadi utuh. Belajar tidak berhenti pada menyerap, tetapi berlanjut pada memberi.
Menariknya, unggahan tersebut ditutup dengan nada personal. Adi menyampaikan terima kasih kepada kawan-kawannya, mengakui bahwa interaksi merekalah yang membuat pelajaran terus mengalir.
Ucapan ini bukan sekadar basa-basi, melainkan pengakuan bahwa belajar adalah proses kolektif, hasil dari perjumpaan, percakapan, dan kebersamaan.
Di tengah kecenderungan mengukur kecerdasan dari sertifikat dan gelar, pesan Adi Muhayadi hadir sebagai pengingat: belajar adalah perjalanan seumur hidup yang tak selalu tercatat di ijazah.
Ia tumbuh dari keberanian mencoba, kesediaan berinteraksi, dan kerendahan hati untuk terus berbagi. Di sanalah, pelajaran sejati menemukan jalannya. (aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor































