Rahim Bambu dan Jejak Kelahiran: “Wet Tau” Karya Lanang Kusumajati di Pameran Belian

Senin, 12 Januari 2026 - 15:48 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam pembacaan ini, rahim tidak hanya dimaknai secara biologis, tetapi juga sebagai ruang kontemplasi tentang asal-usul, keterikatan, dan keberlanjutan hidup (Foto: aks)

Dalam pembacaan ini, rahim tidak hanya dimaknai secara biologis, tetapi juga sebagai ruang kontemplasi tentang asal-usul, keterikatan, dan keberlanjutan hidup (Foto: aks)

CERAKEN.ID– Di antara karya-karya yang dipamerkan dalam Pameran “Belian” yang diselenggarakan Pasir Putih Lombok Utara di Galeri Seni Rupa Taman Budaya Nusa Tenggara Barat hingga 17 Agustus 2026, instalasi bambu karya Lanang Kusumajati hadir sebagai pengalaman yang tak sekadar ditonton, tetapi dilalui.

Bertajuk Wet Tau, karya ini membentang dalam dimensi besar, panjang 500 sentimeter, tinggi 250 sentimeter, dan lebar 300 sentimeter, membangun sebuah ruang yang mengundang tubuh pengunjung masuk ke dalamnya.

Melalui struktur bambu yang disusun melingkupi ruang, Lanang menciptakan atmosfer yang menyerupai rahim: gelap, tertutup, dan protektif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bambu, material yang akrab dengan kehidupan masyarakat Sasak, tidak difungsikan semata sebagai elemen arsitektural, melainkan sebagai medium yang mengaktifkan pengalaman inderawi.

Tubuh pengunjung diarahkan untuk bergerak perlahan, menyusuri jalur sempit, sambil merasakan tekstur, bau, dan suhu ruang. Di titik tertentu, sebuah kendi diletakkan sebagai pusat makna, kendi yang secara tradisional digunakan untuk mengubur ari-ari bayi, simbol relasi antara tubuh manusia, tanah, dan siklus kehidupan.

Instalasi Wet Tau tidak berhenti sebagai objek visual. Ia adalah ruang perlintasan. Jalur di dalamnya menuntun pengunjung menuju pintu keluar pameran, menjadikan pengalaman berjalan sebagai metafora kelahiran: sebuah transisi dari ruang asal menuju dunia luar.

Di konteks ini, karya Lanang menghadirkan apa yang kerap disebut sebagai liminal space. Ruang ambang tempat memori tubuh, kosmologi kelahiran, dan pengalaman artistik saling berkelindan.

Baca Juga :  Jurnalisme Teater, Ingatan Kolonial, dan Perlawanan Budaya Masyarakat Adat Gumantar

“Wet itu berarti wilayah, sedangkan tau itu berarti orang,” kata Lanang, menjelaskan judul karyanya.

Penamaan tersebut menegaskan gagasan tentang manusia sebagai bagian dari wilayahnya, dan wilayah sebagai ruang hidup yang membentuk manusia. Dalam pembacaan ini, rahim tidak hanya dimaknai secara biologis, tetapi juga sebagai ruang kontemplasi tentang asal-usul, keterikatan, dan keberlanjutan hidup.

Gagasan tersebut tidak lahir dari ruang kosong. Selama empat tahun, dari 2020 hingga 2024, Lanang menjalani proses belajar dan pembentukan karakter di Wanadri Bandung.

Di organisasi pecinta alam tertua di Indonesia, Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung yang berdiri sejak 1964, ia mempelajari konservasi, ilmu penempuh rimba dan pendakian gunung, serta pendidikan karakter. Alam, dalam tradisi Wanadri, bukan sekadar latar kegiatan, melainkan medium pembelajaran tentang ketangguhan, etika, dan tanggung jawab sosial.

Baginya, rahim dalam Wet Tau juga merupakan respons atas alam sebagai ruang kontemplasi (Foto: ist)

“Keterlibatan saya di Wanadri sedikit banyak ‘mengantar’ lahirnya instalasi ini,” ujar Lanang.

Baginya, rahim dalam Wet Tau juga merupakan respons atas alam sebagai ruang kontemplasi. “Bahwa ikatan erat antara manusia dan alam adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan,” tambahnya.

Pemahaman ini selaras dengan spirit Wanadri, yang namanya berasal dari bahasa Sanskerta, wana (hutan) dan adri (gunung), sebagai simbol kesatuan ekologi dan manusia.

Baca Juga :  Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Hubungan Lanang dengan Pasir Putih Lombok Utara sendiri bukanlah hal baru. Ia pernah berproses di wilayah ini pada 2016 hingga 2018, pengalaman yang turut membentuk sensitivitasnya terhadap lanskap sosial dan kultural Lombok Utara.

Jejak-jejak proses tersebut kini kembali hadir dalam karya yang lebih matang, reflektif, dan sarat makna.

Sebagai sosok, Lanang Kusumajati dikenal sebagai tokoh, pendiri, sekaligus seniman budaya yang aktif di Lombok. Ia mendirikan Sagattrah, sebuah ruang belajar seni, budaya, dan lingkungan yang berbasis di Lombok Barat.

Melalui berbagai aktivitas budaya, termasuk “Gawe Ninting”, Lanang berupaya membuka ruang ingatan kolektif masyarakat Sasak terhadap jati diri dan nilai-nilai lokal yang kian tergerus modernisasi.

Di ranah seni rupa dan kuratorial, namanya kerap muncul dalam pameran yang mengeksplorasi ritual, tradisi, dan riset budaya, termasuk Pameran “Belian” ini.

Dalam konteks Pameran “Belian”, yang membaca praktik pengobatan tradisional dan kosmologi Sasak, Wet Tau tampil sebagai karya yang menjembatani ritual, tubuh, dan ruang.

Ia mengingatkan bahwa kelahiran bukan hanya peristiwa biologis, melainkan juga peristiwa kultural dan ekologis.

Melalui bambu, kendi, dan pengalaman berjalan, Lanang Kusumajati menghadirkan sebuah pernyataan “hening” namun kuat: bahwa manusia, wilayah, dan alam terikat dalam satu rahim kehidupan yang sama.(aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB
Suluh di Atas Pasir: Artunity dan Kisah Rumah yang Perlahan Hilang

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Selasa, 20 Januari 2026 - 00:30 WITA

Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA