CERAKEN.ID– Di antara ragam karya pada Pameran Belian di Galeri Taman Budaya NTB, rangkaian karya Untitled (20 karya) milik Hujjatul Islam menarik perhatian dengan cara yang senyap namun intens. Tidak ada figur utuh, tidak pula adegan ritual yang gamblang.
Yang tampil justru potongan-potongan gestur: tangan memijit, tangan memegang pisau, kaki menginjak bilah, hingga detail-detail kecil yang biasanya luput dari perhatian. Namun di sanalah denyut pengobatan Belian terasa paling hidup.
Proses kreatif karya ini berangkat dari riset. Hujjatul Islam mengawali penciptaan dengan membaca dan mendengarkan hasil riset Muhammad Sibawahi dan para periset lain tentang Belian.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari sana, ia tidak serta-merta menerjemahkan konsep besar, melainkan memilih membingkai adegan-adegan ritual yang dinilainya menarik untuk divisualkan.
“Menemukan beberapa adegan yang menarik, seperti tangan yang memijit, ada besembeq, kaki menginjak pisau, tangan memegang pisau,” tuturnya.
Total ada 20 adegan yang kemudian diwujudkan melalui media arang di atas kertas A3.
Pilihan medium charcoal mempertegas suasana dramatik. Untuk memperkuat efek visual, Hujjatul Islam menerapkan teknik chiaroscuro, permainan gelap-terang yang tajam, yang dalam tradisi seni rupa dikenal sebagai upaya menciptakan intensitas emosi dan kedalaman ruang.
Gelap dan terang dihadirkan bukan sekadar sebagai efek estetis, melainkan sebagai bahasa visual yang menghidupkan ketegangan, konsentrasi, dan kesakralan tindakan pengobatan.
Menariknya, di hadapan karya-karya tersebut, pengunjung disuguhi kaca pembesar. Secara estetika, benda ini bukan hiasan tambahan.
Bagi Hujjatul Islam, kaca pembesar adalah strategi untuk menciptakan interaksi antara pengunjung dan karya, sekaligus cara halus agar karya tidak disentuh secara langsung. Dengan bantuan kaca pembesar, detail-detail arang, urat tangan, lipatan kulit, dan tekanan gestur, menjadi pengalaman visual yang lebih intim.
“Asyik-asyikan saja, biar ada pengalaman lain menikmati karya,” ujarnya.

Secara teknis, Hujjatul Islam menyebut karya ini dekat dengan aliran tenebrism, gaya lukisan yang menekankan kontras ekstrem antara gelap dan terang, seolah objek disorot oleh cahaya panggung.
Gaya ini berkembang kuat pada era Barok, pasca-Renaisans, dan sering diasosiasikan dengan nama-nama besar seperti Caravaggio, Diego Velázquez, dan Rembrandt. Ketertarikannya pada Barok bermula dari pengalaman belajar sejarah seni di komunitas Milisifilem, ketika ia menemukan kesesuaian antara selera visual pribadinya dan dramatika karya-karya Barok.
“Bahagia dong dengan penemuan jati diri ini?”. “Yoiii mas,” jawabnya lugas sembari melepas tawa.
Dalam konteks Belian, pilihan estetik tersebut terasa relevan. Fokus pada tangan dan gestur menegaskan bahwa inti pengobatan tradisional bukan semata hasil akhir, sembuh atau tidak sembuh, melainkan tindakan pengobatan itu sendiri.
Setiap gerak tangan hadir sebagai peristiwa performatif: sebuah aksi yang dalam pelaksanaannya sekaligus menciptakan makna, keyakinan, dan efek penyembuhan. Tubuh menjadi medium utama, dan tindakan menjadi bahasa.
Hujjatul Islam, akrab disapa Jatul, bukan nama baru dalam lanskap seni rupa Lombok. Perupa asal Lombok Utara ini dikenal lewat kegemarannya melukis ribuan wajah manusia, yang membuatnya dijuluki “Si Pemburu Kepala” atau “Dokter Rupa”.
Aktif berkarya sejak 2009, ia konsisten mengeksplorasi gagasan-gagasan personal dengan disiplin teknik yang matang. Pameran reflektif seperti Gelap Tarang menandai perjalanan panjangnya sebagai seniman yang terus mencari dan menemukan bentuk ungkapnya sendiri.
Kehadiran Untitled dalam Pameran Belian, yang terselenggara atas kerja sama Komunitas Pasir Putih Lombok Utara, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, dan Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat, menegaskan posisi Hujjatul Islam sebagai perupa yang peka membaca konteks budaya.
Hingga 17 Januari 2026, karya-karyanya mengajak pengunjung untuk tidak sekadar melihat, tetapi memperhatikan: bahwa dalam detail gestur yang berulang itulah pengetahuan, keyakinan, dan kebudayaan bekerja.
Begitulah sosok Jatul hari ini: tenang, matang, dan terus bergerak. Tinggal menunggu, ke arah mana lagi ia akan membawa kita melalui gebrakan berikutnya.(aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan































