Oleh: Iin Farliani
CERAKEN.ID– Buku puisi imaji air api (2025) karya Agus K. Saputra dibuka dengan puisi Imaji. Kata imaji itu sendiri dengan cepat mengingatkan kita bahwa ia bagian dari puisi. Imaji yang berarti gambar. Ketika menyaksikan gambar, yang muncul adalah keserentakan. Sifat keserentakan adalah salah satu sifat puisi.
Membaca puisi yang baik membuat kita bisa mengalami pengalaman keserentakan. Segala imaji yang bertabur dihamparkan dalam satu tebasan. Satu kata bisa memunculkan banyak imaji. Sebagaimana sifat puisi yang bermain di wilayah ambigu.
Saat membaca puisi Imaji, saya langsung membacanya sebagai puisi yang menyoal tentang puisi. Penempatan puisi Imaji di awal buku merupakan peletakan yang tepat sebagai pembuka buku puisi. Mengapa saya tiba pada pengertian ini? sebab bila kita menyimak larik-lariknya, terasa ia berbicara tentang puisi itu sendiri, selain daripada ia sudah terwakilkan oleh kata imaji:
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Imaji
imaji kerap membelit
di lingkar hidup
penuh gejolak
adakah kau tahu
ketika ia memberontak
melepas semua kesemuan
mata hatinya kelam
membungkus secawan noktah
hingga ajal menjelang
Kemaraya, 1 Mei 2019: 12.25
Dengan pengertian semacam itu, muncullah pertanyaan-pertanyaan ini: Bagaimana pandangan terhadap fungsi puisi itu sendiri? Saya meminjam diksi-diksi dari puisi Imaji sebagai jalan untuk menelisik empat puluh sembilan puisi lainnya di buku ini.
Bait pertama puisi Imaji, memunculkan pertanyaan apakah puisi hanya hadir saat hidup penuh gejolak? Lalu dengan kata membelit apakah ia hadir sebagai sesuatu yang positif atau negatif?
Beberapa kata yang dekat dengan membelit: mengikat, melibatkan. Di sini larik yang terbaca kemudian lebih dekat pada sesuatu yang melawan. Sebab di bait selanjutnya ada kata memberontak, lalu di bait terakhir mengesankan sesuatu yang membelit itu sebagai hal yang kelam. Kelam yang seakan berlangsung abadi dan hanya bisa diputus bila ajal menjelang.
Dari keterhubungan makna antar bait, di sini tampaknya puisi memang dipandang hanya akan hadir membelit, bila sedang berada dalam situasi hidup yang penuh gejolak. Karena itulah puisi tercipta.
Dalam buku ini, cukup banyak kita temukan puisi-puisi yang di dalamnya berasosiasi dengan kata gejolak itu, seperti yang terlihat pada puisi Air Api (Hal.16) terdapat larik mengguncang hati lara, merangkai kekalahan, memulai hidup. Bisa dilihat juga pada puisi Perahu Koyak (Hal.18), ada larik gelombang mendera-dera, nyalinya perlahan karam, berakhir sudah daya upaya.
Pada puisi Abu Bayangmu (Hal.21), gejolak itu terwakilkan oleh larik: menghimpit udara keranda/menari-nari hingga berkeringat. Di puisi Rindu yang Tersesat ada larik tersesat kehilangan daya// kau hirup aroma kematian…. Berangkat dari kata gejolak yang mengesankan sesuatu yang tak baik-baik saja atau sesuatu yang tak biasa, bisa kita temukan makna yang serupa di puisi-puisi lainnya.
Bila puisi dipandang sebagai wadah yang menampung hal-hal penuh gejolak, sesuatu yang tidak baik-baik saja, tentu kita akan bertanya bagaimana subjek puisi menghadapi sesuatu yang kelam itu? Paling tidak, dalam tataran yang paling dasar, yang ingin kita tahu ialah seperti apa gambaran perasaannya?
Sebab menulis puisi hal-hal penuh gejolak, tidak berarti selalu menghadirkan subjek yang meratap. Dan memang, dalam puisi-puisi di buku ini, kita temukan nada yang pesimis bertalian dengan nada yang optimis. Seperti pada puisi-puisi Mayapada (Hal.22) , Kemuning (Hal.23), Gerbang Sekolah (Hal.32), Pulang Membawa Rezeki (Hal.34), dan lain-lain .
Ditemukannya nada pesimis dan optimis yang saling bertalian memberi ruang bagi pertanyaan tentang siapakah subjek puisi ini? Eksistensi semacam apa yang ia hadirkan? Dalam pembacaan berikutnya, saya tidak menemukan adanya subjek yang tunggal yang bisa saling terhubung di puisi yang satu dengan yang lain.
Dalam pembacaan yang berulang lagi, saya menemukan bahwa subjek yang bisa kita bayangkan sebagai “manusia”, ternyata telah hilang dalam kebanyakan puisi-puisi di buku ini. Yang lebih cenderung muncul adalah kehadiran benda-benda yang dilekatkan dengan sifat manusia.
Benda-benda yang menyandang sifat manusia ini terutama kita temukan kehadirannya pada puisi-puisi paruh awal di buku ini, di antaranya pada puisi Harapan Para Jelata (Hal.17) terdapat larik gelas kosong menyendiri. Puisi berjudul Perahu Koyak (Hal.18), bait pembukanya langsung menghidupkan sebuah benda perahu koyak menepi/meninggalkan gegap gempita… lalu perahu itu dikatakan nyalinya perlahan karam/berakhir sudah daya upaya.
Benda yang me-manusia juga bisa dibaca pada puisi Napas Kehidupan (Hal.19) : sepasang sepatu teronggok/di ujung hati paling sepi… ia tetap menunggu/ rinai hujan menjadi kawan/ . Selanjutnya saya sebut sebagai “benda-benda yang me-manusia” , dalam bentuknya yang paling tajam bisa kita baca di puisi Daun Kering (Hal.24)
…
pintu-pintu tertutup
di saat darah merah mengalir
bersama anak kunci malang
ia tampak pucat pasi
melepas rasa letih bertubi-tubi
menggerogoti diri
Pada puisi ini, manusia benar-benar hilang. Yang tinggal adalah anak kunci malang. Anak kunci sebagai benda membawa sifat manusia: malang. Kata ia pada bait terakhir dengan serta merta merujuk pada anak kunci yang malang itu sebab tak ada lagi satu entitas yang muncul selain anak kunci sebelum bait terakhir.
Pertanyaan yang muncul kemudian, mengapa meski dalam puisi-puisi ini ada subjek yang terwakilkan oleh aku/mu/ia/kami lalu ada penyebutan ayah/ibu/guru, ia tidak terbaca sebagai manusia yang meng-ada? Mengapa yang terasa muncul meng-adanya justru melalui benda-benda?
Dalam proses mencari jawab atas pertanyaan ini, saya menemukan penyebabnya adalah bahwa yang bisa kita bayangkan sebagai eksistensi manusia atau manusia yang meng-ada, yang bisa diraba keberadaannya sebagai subjek yang khas, ternyata tidak menemukan ruang untuk penciptaan diri tersebut. Seolah ada kesengajan untuk memutus keberadaan itu.
Kita bisa melihatnya pada puisi Abu Bayangmu (Hal.21): hariku berlalu/ menanggalkan awan kelabu/ bersama abu bayangmu. Subjek yang sulit diraba sebab ia adalah abu sekaligus adalah bayang. Sulit meraba ada sosok manusia di sana. Sebab abu berarti ia telah hancur, bayang berarti ia tak bisa diraba wujudnya.
Rupanya yang kita harapkan muncul sebagai manusia itu hanya ada dalam ingatan seperti yang terlihat pada puisi Mayapada (Hal.22): hingga menjadi catatan sejarah/setidaknya ia tetap dalam ingatan/menemani seperti janji hujan/. Pertalian kepada keberadaan yang meng-ada semakin sulit dicipta, hal ini bisa diwakilkan oleh puisi Lara Menjelma (Hal.26) : hingga akhirnya ia moksa/masih tergambar jelas bayangannya/menemani setiap lara menjelma .
Seolah-olah yang bisa kita bayangkan sebagai manusia dengan sifat meng-adanya yang khas telah lenyap dari puisi-puisi di buku ini, terwakilkan oleh larik puisi Biru Lebam (Hal.30): cerita seolah menjadi nyata/penuh bumbu pemanis rasa/ walau tanpa kata-kata . Jadi manusia yang meng-ada ini seolah hanya cerita yang tak kita ketahui eksistensinya.
Kecenderungan puisi-puisi di buku imaji air api (2025) yang telah saya paparkan ini mengantar pada pertanyaan berikutnya tentang bagaimana sesuatu yang bisa disebut hidup itu? Bila kita tak merasa ada manusia yang meng-ada dengan hidupnya, lebih tergantikan oleh kehadiran benda-benda yang menyandang sifat manusia, di manakah kemudian batas antara yang hidup dan yang mati itu?
Pertanyaan serupa ini pun dihadirkan buku ini melalui puisi Kidung Kematian (Hal. 28) : bagaimana harus bercerita/padamu merpati cantikku/manakala sayap tak ada . Apakah ia tetap sesuatu yang hidup manakala sayapnya tak ada? Apakah sayap yang tak ada tetap menjadikannya merpati?
Pertanyaan-pertanyaan yang telah dipaparkan dari awal sampai penghujung ini tentu akan saya kembalikan kepada penulisnya.
Ulasan ini telah dibuka dengan mempertanyakan puisi Imaji sekaligus menjadikannya sebagai penghubung pembacaan antara satu puisi dengan puisi lainnya. Terkait dengan manusia yang hilang dan benda-benda yang me-manusia, bisa kita katakan apa yang kita kenali sebagai subjek dalam puisi ini tampil sebagai imaji yang samar.
Seperti dalam puisi Terima Kasih Guru (Hal.33), subjek hanya hadir melalui penggambaran suaranya (yang) hangat dan sebaris senyum letih. Subjek yang mendua dalam puisi Pulang Membawa Rezeki (Hal.34) dua bait awal menggunakan -nya, satu bait terakhir memberitahu bahwa -nya adalah -ku. Sebagaimana sifat imaji tentang keserentakan, begitu pula yang tampak pada subjeknya, ada sesuatu yang tidak tunggal di sana.
Ini bisa terlihat pula pada puisi Mau Jadi Apa Kamu Kelak (Hal.35) : kami tak mengenal masa depan/di hadapan secangkir kopi/ hitam adalah pertanda suka// . Dalam larik tersebut, secangkir kopilah yang bersuka. Lagi-lagi benda yang memanusia lebih terang di sini, dibandingkan dari sisi kami itu sendiri yang pada mulanya kita bayangkan sebagai subjek “manusia” .
Dengan kecenderungan menyandingkan sifat manusia pada benda-benda yang tampak dalam buku ini, saya kira hal ini bisa menjadi pilihan yang menarik untuk pergulatan estetika puisi-puisi Agus K. Saputra di masa mendatang.
Fokus utama bisa pada pencarian kreatif seputar puisi-puisi suasana, lebih bertumpu pada imaji nuansa ketimbang pada subjek yang terang serupa manusia.
Pada kebanyakan puisi-puisi di mana yang benda lebih terlihat meng-ada dibandingkan yang manusianya, tersimpan tawaran imaji yang menarik sekaligus menantang.
Ditulis dan revisi: 23 Juni 2025
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor































