CERAKEN.ID– Di antara deretan karya yang dipamerkan dalam Pameran Belian di Galeri Taman Budaya Prov. NTB, nama S. La Radek menonjol melalui sebuah lukisan berukuran tidak lazim: 160 x 600 sentimeter. Karya berjudul Saling Gitaq (2026) itu terbentang panjang, seolah hendak merentangkan waktu, peristiwa, dan relasi sosial yang menyertai praktik pengobatan tradisional Belian Sasak.
Bagi Radek, lukisan ini bukan lahir dari pengamatan sepintas, melainkan dari proses riset yang panjang dan intens. Ia berangkat dari hasil penelitian tentang Belian yang dilakukan oleh Muhammad Sibawahi bersama timnya.
Selama sekitar setengah tahun terakhir, Radek mendalami berbagai arsip visual berupa video dan foto dokumentasi pengobatan Belian yang dikumpulkan tim riset.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari serangkaian imej bergerak itulah ia memotong, memilih, dan merangkai adegan-adegan yang paling menarik perhatiannya.
“Proses pengkaryaan lukisan ini berkaitan langsung dengan riset tentang Belian. Saya tidak hanya melihat hasil akhirnya, tetapi menyelami proses, suasana, dan relasi yang muncul selama pengambilan data,” ujar Radek.
Namun, alih-alih merepresentasikan praktik pengobatan Belian secara teknis atau ritualistik, Radek memilih jalur yang berbeda.
Ia justru menaruh fokus pada dimensi relasional: hubungan antara para belian dengan lingkungan sosialnya, serta relasi antara belian dan tim riset yang hadir sebagai pengamat sekaligus bagian dari peristiwa itu sendiri.
Dalam Saling Gitaq, puluhan figur manusia hadir memenuhi bidang kanvas. Tubuh-tubuh itu digambarkan dalam berbagai gestur.
Menoleh, menatap, mendekat, dan saling memperhatikan, menciptakan kesan dialog yang terus berlangsung.
Tidak ada satu pusat perhatian tunggal. Setiap figur tampak setara sebagai aktor yang turut membentuk realitas pengobatan Belian.
Radek melihat setiap sosok dalam arsip imej bergerak itu bukan sebagai latar, melainkan sebagai subjek yang aktif.
Dengan pendekatan ini, lukisan tidak lagi menempatkan belian sebagai figur dominan yang eksotis, melainkan sebagai bagian dari jaringan sosial yang kompleks.
Relasi antarindividu, antara yang mengobati, yang diobati, yang menonton, dan yang mendokumentasikan, menjadi narasi utama.
Secara visual, narasi dalam lukisan ini tidak disusun secara linier-modern. Adegan-adegan hadir secara simultan dan berlapis, seakan berbagai peristiwa dari waktu yang berbeda dipadatkan dalam satu ruang visual.
Penonton diajak membaca kanvas seperti membaca fragmen-fragmen cerita yang saling bersinggungan, bukan mengikuti alur sebab-akibat yang lurus.
“Sketsa lukisan ini lebih fokus pada figur dan gerak tubuh yang saling mengamati dan memperhatikan. Dari situ muncul isyarat dialog dan narasi yang berkesinambungan,” jelas Radek.
Melalui pendekatan ini, ia berusaha menyampaikan realitas yang lebih dalam, yang tidak selalu tampak di permukaan praktik pengobatan.
Pilihan gaya visual Radek pun cenderung kontemporer. Ia tidak mengikatkan diri pada aliran seni rupa tertentu, membuka ruang tafsir seluas-luasnya bagi penikmat.
Bagi Radek, kebebasan pembacaan justru menjadi bagian penting dari karya. Lukisan bekerja bukan hanya sebagai representasi visual, melainkan sebagai medium penceritaan kosmologis.
Tempat sejarah, mitologi, ritual, dan pengalaman kolektif saling berkelindan.
Dalam kerangka ini, penonton tidak ditempatkan sebagai pengamat pasif. Mereka didorong menjadi pembaca aktif yang menafsirkan hubungan antaradegan, menelusuri kemungkinan alur cerita, dan merangkai makna dari kepadatan peristiwa yang disajikan di atas kanvas panjang tersebut.
Di luar persoalan estetik, Radek juga menyampaikan kegelisahannya terhadap kondisi ekosistem seni rupa di Lombok. Menurutnya, infrastruktur pendukung seperti institusi seni, galeri, dan kolektor masih belum memadai.
Namun, di balik keterbatasan itu, ia justru merasakan kekuatan lain yang tak kalah penting.
“Semangat kolektif berkesenian para seniman di Lombok sangat luar biasa. Itu yang menghangatkan dan menjaga denyut seni tetap hidup,” katanya.
Pameran Belian yang diselenggarakan komunitas Pasir Putih ini menjadi salah satu ruang penting bagi pertemuan riset, seni, dan praktik budaya lokal.
Melalui karya seperti Saling Gitaq, Belian tidak hanya dibaca sebagai tradisi pengobatan, tetapi sebagai lanskap relasi sosial yang hidup, dinamis, dan terus diproduksi ulang melalui perjumpaan antar manusia.
Pameran ini berlangsung di Galeri Taman Budaya Prov. NTB hingga 17 Januari 2026, menghadirkan berbagai tafsir visual atas Belian. Sebuah praktik yang bukan hanya menyembuhkan tubuh, tetapi juga merawat ingatan dan relasi kolektif masyarakat. (aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan































