CERAKEN.ID– Bagi Ronieste, bunyi adalah titik balik. Ketika dunia visual terasa menyesakkan, yakni penuh citra, simbol, dan tuntutan representasi, ia memilih menutup mata dan membuka telinga. Bukan karena ia menafikan visual, melainkan karena ia memahami satu hal mendasar: visual dan bunyi adalah dua saudara yang tak pernah benar-benar bisa dipisahkan.
Keduanya saling mengaktifkan ingatan, emosi, dan kesadaran tubuh. Namun, ketika salah satunya terlalu dominan, bunyi kerap menjadi jalan pulang.
Kecintaan Ronieste pada bunyi bukanlah lahir dari ruang studio yang steril atau bangku akademik semata. Ia justru tumbuh dari sebuah peristiwa sekitar tiga dekade silam, ketika ia diminta membina 15 siswa SMA yang oleh sistem diberi label “nakal”.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Label yang, menurut Roni, sesungguhnya hanyalah penanda kegagalan komunikasi dan pendekatan. Alih-alih mendisiplinkan dengan aturan kaku, ia memilih jalan yang tidak lazim: meminta mereka membawa apa saja yang bisa berbunyi. Bebas.
Hari itu, “ruang kelas” berubah menjadi lanskap akustik yang liar sekaligus jujur. Plastik diremas, kerikil digesek, panci dipukul, batu dilemparkan.
Bunyi-bunyi yang biasanya dianggap remeh, bahkan mengganggu, mendadak menjadi pusat perhatian. Salah satu tindakan yang paling “menonjol” adalah melempar benda. Sebuah gestur sederhana yang ternyata menyimpan energi bunyi, ruang, dan emosi.
Dari peristiwa itu, Roni menemukan apa yang kelak ia sebut sebagai lesson learned: bunyi bukan sekadar hasil, melainkan proses; bukan sekadar objek dengar, melainkan medium relasi.
Pengalaman tersebut menjadi pintu masuk bagi eksplorasi yang lebih jauh. Roni kemudian mengajak para siswa itu menggarap musik untuk pertunjukan teater berjudul Orang Gila.
Materialnya bukan instrumen konvensional, melainkan bambu (ensambble), logam (high sound), dan air, yang berfungsi sebagai resonator sekaligus peredam distorsi bunyi logam.
Eksperimen itu bukan hanya berhasil secara artistik, tetapi juga diakui secara institusional: mereka meraih Juara I Musik untuk Teater.
Sebuah capaian yang, bagi Roni, jauh melampaui soal piala. Itu adalah bukti bahwa bunyi mampu membuka ruang kepercayaan, disiplin kolektif, dan keberanian bereksperimen.
Dalam perjalanan itu, Roni tidak berjalan sendirian. Ia menyebut satu nama dengan penuh hormat: Slamet Abdul Sjukur. Komponis legendaris Indonesia yang dikenal sebagai pelopor musik kontemporer dengan konsep Minimax—dari minimal menjadi maksimal.
Slamet, yang belajar di Prancis dan mengajar di Institut Kesenian Jakarta, adalah sosok yang memadukan tradisi Jawa dengan modernitas, matematika dengan filsafat, dan spiritualitas dengan struktur.
Warisan pemikirannya tidak hanya terletak pada karya-karya musiknya yang diakui dunia, tetapi juga pada cara berpikir tentang bunyi sebagai medan refleksi dan kebebasan.
Bagi Roni, Slamet bukan sekadar inspirasi musikal, melainkan teladan etika berkarya.
Peristiwa tiga puluh tahun silam itu terus beresonansi hingga kini. Roni melanjutkan penjelajahannya ke wilayah sinestesia.
Sebuah pengalaman lintas indra di mana bunyi memicu ingatan visual, dan visual membangkitkan memori auditori.
Ia percaya bahwa mengasah indra bukan soal kepekaan teknis semata, melainkan latihan kesadaran untuk memperoleh perspektif baru.
Dari kepekaan itu, lahirlah proses adaptasi: bagaimana tubuh, ingatan, dan lingkungan saling menyesuaikan dalam alur bunyi yang terus berubah.
Dalam diskursus musik eksperimental, Roni menyebut John Cage dan karya ikoniknya 4’33”. Sebuah komposisi yang menginstruksikan pemain untuk tidak memainkan instrumen selama empat menit tiga puluh tiga detik.
Keheningan atau yang dianggap hening menjadi musik itu sendiri: batuk penonton, derit kursi, suara angin, hingga lalu lintas di luar gedung konser. Terinspirasi oleh Buddhisme Zen, Cage menantang definisi musik tradisional dan mengajak pendengar untuk menyadari bunyi kehidupan sehari-hari.
Namun, bagi Roni, pembacaan terhadap Cage tidak berhenti pada provokasi konseptual. Ia melihatnya sebagai pintu masuk menuju pemahaman yang lebih luas tentang soundscape.
Soundscape, atau bentang bunyi, adalah cara manusia mengalami totalitas lingkungan akustik di suatu tempat. Bukan hanya kumpulan suara individual, melainkan interaksi kompleks yang sarat konteks budaya dan ekologis.
Konsep ini dikembangkan oleh R. Murray Schafer, komponis dan ahli ekologi akustik asal Kanada, bersama World Soundscape Project pada akhir 1960-an.
Schafer membagi bentang bunyi ke dalam tiga elemen utama: keynote sounds, yaitu bunyi latar yang membentuk karakter suatu tempat; signals, bunyi yang dirancang untuk disadari sebagai penanda atau peringatan; dan soundmarks, bunyi khas yang menjadi identitas sonik suatu wilayah, setara dengan landmark visual.
Memahami bentang bunyi, bagi Roni, bukan sekadar latihan akademik. Ia berkaitan langsung dengan kesehatan, kesejahteraan, dan identitas budaya.
Kualitas bunyi lingkungan memengaruhi tingkat stres dan kualitas hidup, sementara suara-suara khas membangun memori kolektif suatu komunitas. Tak heran jika kini para perencana kota mulai mempertimbangkan desain akustik sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.
Dengan latar pemikiran dan pengalaman seunik itu, Ronieste terlibat penuh dalam Pameran Belian yang diselenggarakan Komunitas Pasir Putih Lombok Utara, di Galeri Taman Budaya Jl.Majapahit-Mataram.
Ia menghadirkan karya audio berjudul Dwell in Resonance, sebuah komposisi synthesizer modular digital yang tidak dimaksudkan sebagai dokumentasi ritual, melainkan sebagai ruang dengar yang aktif dan reflektif.
Karya ini disusun melalui pendekatan noise yang berangkat dari suara wawancara Belian, zikir, dan soundscape lingkungan sekitar.
Material bunyi tersebut dialirkan melalui proses signal flow processing, di mana setiap lapisan, suara manusia, doa, dan lanskap akustik, dipilah, dimodulasi, dan disusun ulang berdasarkan pemahaman frekuensi serta penguasaan teknis synthesizer.
Noise, yang kerap dipahami sebagai gangguan, justru diposisikan sebagai ruang resonansi. Ia menjadi medan di mana pendengar diajak berlatih critical listening: menyadari bagaimana bunyi diproduksi, diproses, dan dihadirkan sebagai pengalaman tubuh.
Dalam Dwell in Resonance, ritual, teknologi, dan pengetahuan auditori saling berkelindan. Getaran tidak hanya bekerja pada telinga, tetapi juga pada tubuh, menghadirkan pengalaman meditatif yang perlahan membuka kesadaran.
Di titik inilah karya Roni menemukan keselarasan dengan instalasi Wet Tau! karya Lanang Kusumajati. Keduanya bertemu dalam satu tarikan napas: sama-sama mengajak penonton untuk tidak sekadar melihat atau mendengar, tetapi tinggal, dwell, di dalam resonansi.
Pameran Belian, yang dihelat hingga 17 Januari 2026, pun menjadi lebih dari sekadar ruang pajang karya. Ia menjelma sebagai bentang bunyi, bentang makna, dan bentang pengalaman.
Di dalamnya, Ronieste mengingatkan kita bahwa mendengar adalah tindakan politis sekaligus spiritual: sebuah cara untuk kembali terhubung dengan lingkungan, tradisi, dan diri sendiri.(aks)
Penulis : aks
Editor : Ceraken Editor
Sumber Berita : liputan































