Mendengar yang Tak Terucap: Kisah Para Belian dalam Kamera Anton Sumekah

Jumat, 16 Januari 2026 - 08:19 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ia merekam keyakinan, pengalaman hidup, dan emosi yang tidak selalu bisa diterjemahkan ke dalam teks (Foto: aks)

Ia merekam keyakinan, pengalaman hidup, dan emosi yang tidak selalu bisa diterjemahkan ke dalam teks (Foto: aks)

CERAKEN.ID– Di sebuah ruang pamer, suara-suara lirih terdengar mengalun dari layar. Bukan musik latar, bukan pula narasi penuntun yang mengarahkan penonton ke satu kesimpulan. Yang terdengar adalah potongan ingatan, jeda-jeda pengakuan, serta keyakinan yang tumbuh perlahan dari pengalaman hidup.

Beginilah “Kisah Para Belian” bekerja. Sebuah karya video 1080p garapan Anton Sumekah yang dipresentasikan dalam Pameran Belian di Galeri Taman Budaya Nusa Tenggara Barat.

Alih-alih tampil sebagai dokumenter yang menjelaskan, karya ini justru mengajak penonton mendengarkan. Mendengarkan manusia-manusia yang selama ini lebih sering diposisikan sebagai objek eksotisme: para belian, penyembuh tradisional yang hidup di tengah masyarakat Lombok.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di tangan Anton Sumekah, belian tidak direduksi menjadi ritual, mantra, atau praktik pengobatan semata, melainkan hadir sebagai subjek dengan riwayat hidup, kegelisahan, dan proses “menjadi” yang panjang.

Anton Sumekah memulai proses kreatif video ini bukan dari kebutuhan produksi visual, melainkan dari niat mendokumentasikan pengetahuan lokal sebagai narasi hidup.

“Bukan sekadar mengarsip, tetapi menghidupkan kembali narasi manusia di balik pengetahuan lokal,” ujarnya. Kalimat ini menjadi fondasi etis dari keseluruhan karya.

Selama lebih dari satu tahun, Anton melakukan observasi partisipatif dengan pendekatan etnografis. Ia menempatkan dirinya bukan sebagai pembuat film yang datang membawa kamera dan agenda estetika, melainkan sebagai pendengar.

Waktu dihabiskan untuk mengobrol, berteman, dan memahami dunia para belian—sebelum tombol rekam benar-benar ditekan.

Kepercayaan menjadi kunci. Dalam konteks pengetahuan spiritual dan pengobatan tradisional yang kerap bersifat sakral dan privat, kehadiran orang luar sering kali dipandang dengan jarak.

Anton menyadari bahwa kamera tidak bisa bekerja lebih dahulu dari relasi. Karena itu, proses kreatifnya lebih menyerupai prosesi sosial: membangun kedekatan, memahami ritme hidup, dan menerima bahwa tidak semua hal harus atau boleh direkam.

Menggeser Fokus: Dari Ritual ke “Menjadi”

Salah satu keputusan penting dalam “Kisah Para Belian” adalah penggeseran fokus. Anton sengaja tidak menempatkan ritual pengobatan sebagai pusat cerita.

Ia lebih tertarik pada proses bagaimana seseorang diakui sebagai belian. Bagaimana panggilan hidup itu datang melalui mimpi, wangsit, garis keturunan, atau pengalaman personal dan bagaimana masyarakat perlahan menaruh kepercayaan.

Pendekatan ini membuka lapisan narasi yang jarang disentuh. Belian tidak hadir sebagai figur yang “melakukan” sesuatu secara magis, melainkan sebagai individu yang “menjadi” melalui perjalanan hidup yang tidak selalu mudah.

Baca Juga :  Ada Lakon dan Otentisitas: Yoiakustik di Warjack Taman Budaya NTB

Ada keraguan, penolakan, bahkan beban sosial yang menyertai peran tersebut.

Dalam video ini, kisah Alm. Nasudin dari Kayangan, Inaq Suna’ah dari Tanjung, dan Mangku Gusiman dari Pemenang disusun sebagai hikayat pengalaman. Biografi mereka terajut bersama silsilah keturunan (perusa), asal-usul praktik pengobatan, metode dan media penyembuhan, hingga sistem kepercayaan yang mereka hidupi.

Semua itu dibingkai dalam konteks sosial dan lingkungan tempat mereka hidup dan bekerja.

Pilihan estetik Anton Sumekah terbilang radikal di tengah kecenderungan dokumenter yang sarat ilustrasi. Ia meniadakan voice-over, tidak menambahkan musik ilustratif, dan menghindari efek dramatis. Keputusan ini bukan semata persoalan gaya, melainkan sikap.

Anton ingin penonton berjumpa langsung dengan para belian melalui kata-kata mereka sendiri, melalui ekspresi wajah, melalui jeda dan keheningan yang kerap kali lebih jujur daripada kalimat.

Penyuntingan dilakukan secara tematis, membiarkan ritme cerita tumbuh organik dari bahan mentah wawancara dan potongan kehidupan sehari-hari.

Bahkan kehadiran alat perekaman sengaja dipertahankan di dalam bingkai gambar. Pertanyaan pewawancara tidak dihapus.

Hal ini membuka pembacaan kritis tentang proses riset itu sendiri. Jarak antara peneliti, narasumber, dan perangkat rekam menjadi cair, kadang terasa hadir, kadang justru menghilang.

Video ini, dengan demikian, tidak hanya menghadirkan kisah para belian, tetapi juga menyingkap proses riset sebagai bagian dari pengalaman visual dan auditori.

Pilihan medium video bagi Anton bukan keputusan teknis semata. Ia melihat video sebagai medium paling mampu menangkap “yang tak terucap”.

Pengetahuan lokal, terutama yang bersifat spiritual dan turun-temurun, sering kali tersirat dalam gestur, intonasi suara, suasana ruang, dan relasi sosial di sekitarnya.

Ketika Inaq Suna’ah memperagakan teknik urut, atau ketika Bapak Nasudin bercerita tentang pengalamannya dengan dunia gaib, kamera menangkap lebih dari sekadar informasi. Ia merekam keyakinan, pengalaman hidup, dan emosi yang tidak selalu bisa diterjemahkan ke dalam teks.

Latar pedesaan, suara alam, aktivitas sehari-hari di rumah belian, serta interaksi masyarakat dengan mereka membangun pemahaman utuh bahwa para belian bukan sosok terisolasi. Mereka adalah bagian tak terpisahkan dari komunitas.

Dalam konteks ini, video menjadi jembatan antar generasi. Antara pemegang pengetahuan dan generasi muda yang mungkin mulai melupakan atau meragukan keberadaan praktik tersebut.

Baca Juga :  Simfoni Kecil di Ruang Mikroskopik: Ketika Riset Ilmiah, Bunyi, dan Belian Bertemu

Anton bahkan menyebut karyanya sebagai tawaran kontra-narasi. Di tengah dominasi logika modern yang sering menafikan pengetahuan tradisional, video ini mengembalikan belian sebagai fakta realitas yang masih hidup di masyarakat Lombok.

Antusiasme pengunjung Pameran Belian terhadap “Kisah Para Belian” menunjukkan keberhasilan pendekatan tersebut. Anton mencatat banyak pelajar yang datang dengan rasa penasaran, bahkan keterkejutan.

Mereka mulai menyadari kompleksitas pengetahuan tradisional yang selama ini mungkin dipandang sederhana atau usang.

Pertanyaan-pertanyaan pun muncul: apakah pengetahuan ini bisa dipelajari? Bagaimana para belian bertahan hingga hari ini?

Di sisi lain, banyak pengunjung menilai karya ini sederhana namun humanis, tidak sensasional, dan justru membuka ruang kajian lebih lanjut.

Kesederhanaan ini, alih-alih melemahkan, justru memperkuat daya pukau karya. Penonton tidak dipaksa kagum, tetapi diajak mengalami.

Audiovisual dan Harapan

Di balik karya ini, tersimpan kegelisahan Anton terhadap ekosistem audiovisual di Lombok. Ruang berkarya, khususnya untuk medium video, masih sangat terbatas.

Infrastruktur yang pernah ada mengalami kemunduran, sementara talenta kreatif terus bermunculan tanpa dukungan sepadan.

Keresahan lain yang lebih mendasar adalah soal arsip kebudayaan. Banyak pengetahuan dan pelaku sejarah belum terdokumentasi dengan baik, sementara waktu terus berjalan dan sumber informasi semakin berkurang.

Bagi Anton, video adalah alat yang sangat powerful untuk menceritakan sebuah kejadian—dan sekaligus menyelamatkan ingatan kolektif.

Harapannya di tahun 2026, akan semakin banyak inisiatif dokumentasi berbasis audiovisual yang tumbuh dari komunitas. Bukan hanya untuk kepentingan seni, tetapi juga sebagai kerja kebudayaan.

Akhirnya, antusiasme pengunjung terhadap Pameran Belian membuat penyelenggara memperpanjang durasi pameran hingga 24 Januari 2026, seturut saran Kepala Taman Budaya Provinsi NTB, Lalu Surya Mulawarman.

 “Durasi pameran selama satu minggu terasa terlalu singkat,” ujarnya, seraya menekankan pentingnya memberi waktu cukup bagi masyarakat untuk menyelami gagasan yang dihadirkan.

Dalam konteks itu, “Kisah Para Belian” menjadi lebih dari sekadar karya video. Ia adalah ruang temu antara riset, seni, dan kehidupan sehari-hari.

Sebuah upaya merawat kepercayaan, menghidupkan ingatan, dan membuka dialog lintas generasi tanpa perlu suara lantang, cukup dengan kesediaan untuk mendengarkan.(aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB
Suluh di Atas Pasir: Artunity dan Kisah Rumah yang Perlahan Hilang

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Selasa, 20 Januari 2026 - 00:30 WITA

Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA