Setelah Ini Apa? Gerbang Sangkareang dan Agenda Lanjutan Kota Mataram

Jumat, 16 Januari 2026 - 11:29 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Budaya tidak lagi ditempatkan di pinggir agenda, tetapi menjadi bahasa bersama pembangunan (Foto: aks)

Budaya tidak lagi ditempatkan di pinggir agenda, tetapi menjadi bahasa bersama pembangunan (Foto: aks)

CERAKEN.ID– Pengakuan telah diberikan. Nama Wali Kota Mataram, Dr. H. Mohan Roliskana, S.Sos., M.H., resmi tercatat sebagai penerima Trofi Abyakta Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 kategori Bupati/Wali Kota.

Keputusan tersebut tertuang secara sah dalam Berita Acara Nomor: 534/PWI-P/LXXIX/I/2026, bersifat final dan mengikat. Tidak ada banding, tidak ada sanggahan.

Namun, dalam lanskap kebudayaan, pengakuan bukanlah titik akhir. Ia justru menjadi simpul awal dari pertanyaan yang lebih besar: setelah ini apa?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagaimana diberitakan ceraken.id (Senin, 12/01), penghargaan itu diberikan atas inisiatif “Gerbang Sangkareang”, sebuah gagasan pembangunan yang menempatkan budaya bukan sekadar sebagai pelengkap estetika kota, melainkan sebagai denyut utama kehidupan perkotaan.

Di sinilah letak signifikansinya. Kota tidak lagi dipahami semata sebagai ruang ekonomi dan administrasi, tetapi sebagai ruang kultural, yakni tempat identitas, memori kolektif, dan ekspresi warga hidup dan bernegosiasi.

Trofi Abyakta bukanlah penghargaan yang jatuh dari ruang hampa. Ia lahir dari pembacaan PWI Pusat terhadap kepemimpinan daerah yang dinilai memiliki keberpihakan nyata terhadap kebudayaan.

Dalam konteks Mataram, “Gerbang Sangkareang” dibaca sebagai sebuah framework. kerangka pikir dan kebijakan, yang berupaya mengintegrasikan nilai-nilai budaya ke dalam perencanaan kota.

“Gerbang Sangkareang” tidak berdiri sebagai proyek tunggal. Ia hadir sebagai semangat yang meresap ke berbagai sektor: pengelolaan ruang publik, perayaan seni tradisi, penguatan komunitas budaya, hingga cara pemerintah kota berkomunikasi dengan warganya.

Budaya tidak lagi ditempatkan di pinggir agenda, tetapi menjadi bahasa bersama pembangunan.

Penghargaan ini, dengan demikian, bukan sekadar apresiasi personal kepada seorang wali kota, melainkan pengakuan terhadap arah kebijakan yang dianggap relevan dengan tantangan kota-kota modern di Indonesia, yakni krisis identitas, homogenisasi ruang, dan tergerusnya nilai lokal.

Momentum Seremonial dan Tanggung Jawab Moral

Tahap paling dekat setelah penetapan adalah prosesi penyerahan trofi dan piagam penghargaan oleh PWI Pusat, yang akan dilaksanakan pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026, 9 Februari 2026, di Serang, Provinsi Banten.

Baca Juga :  Menjahit Karakter Sasak dari Dua Naskah Agung

Seremonial ini penting secara simbolik. Ia menegaskan bahwa kerja kebudayaan adalah kerja publik yang layak dirayakan dan dicatat secara nasional.

Namun, justru di titik inilah tanggung jawab moral itu membesar. Setiap penghargaan kebudayaan selalu membawa ekspektasi lanjutan. Publik tidak lagi hanya menilai niat, tetapi konsistensi. Tidak lagi sekadar membaca visi, tetapi mengamati keberlanjutan.

Bagi Pemerintah Kota Mataram, momen ini dapat menjadi ruang konsolidasi, menyatukan kembali perangkat daerah, komunitas seni, tokoh budaya, akademisi, dan generasi muda dalam satu kesadaran bersama: bahwa “Gerbang Sangkareang” harus terus dijaga sebagai proses, bukan dikunci sebagai prestasi masa lalu.

Pertanyaan “setelah ini apa?” menemukan jawabannya pada tahap pelembagaan. Penghargaan nasional membuka peluang strategis untuk memperkuat kebudayaan dalam dokumen perencanaan daerah: RPJMD, kebijakan anggaran, hingga regulasi turunan yang berpihak pada keberlanjutan ekosistem budaya.

“Gerbang Sangkareang” dapat diturunkan menjadi peta jalan kebudayaan kota, lengkap dengan indikator, target, dan mekanisme evaluasi. Di sinilah tantangan sesungguhnya.

Kebudayaan tidak selalu mudah diukur dengan angka, tetapi ia dapat dirasakan dampaknya: hidupnya ruang ekspresi, lestarinya tradisi, dan tumbuhnya rasa memiliki warga terhadap kotanya.

Pelembagaan juga berarti memastikan regenerasi. Kebijakan budaya tidak boleh berhenti pada festival dan seremoni, tetapi harus menyentuh pendidikan, literasi budaya, dan ruang belajar lintas generasi.

Kota yang berbudaya adalah kota yang memberi tempat bagi ingatan masa lalu sekaligus imajinasi masa depan.

Dalam kerja kebudayaan, pemerintah tidak pernah bisa berjalan sendiri. Budaya tumbuh dari praktik warga, dari kampung, sanggar, komunitas, hingga ruang-ruang informal. Peran pemerintah adalah memfasilitasi, melindungi, dan membuka akses.

Baca Juga :  Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB

“Gerbang Sangkareang” menemukan relevansinya ketika ia dibaca sebagai gerbang partisipasi. Bukan hanya tentang apa yang dirancang pemerintah, tetapi tentang bagaimana warga merasa diundang untuk terlibat.

Dari seniman tradisi hingga pegiat seni kontemporer, dari budayawan hingga anak muda kota, semuanya menjadi subjek, bukan objek kebijakan.

Di titik ini, penghargaan justru menjadi cermin: sejauh mana kebijakan budaya benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga?

Efek Domino dan Posisi Mataram di Tingkat Nasional

Pengakuan dari PWI Pusat juga menempatkan Kota Mataram dalam posisi strategis di tingkat nasional. Ia berpotensi menjadi rujukan bagi daerah lain yang tengah mencari model pembangunan berbasis budaya. Bukan untuk ditiru mentah-mentah, tetapi untuk dipelajari pendekatannya.

Mataram menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi fondasi pembangunan kota tanpa kehilangan relevansi dengan modernitas. Bahwa kota bisa tumbuh tanpa tercerabut dari akar. Bahwa identitas lokal justru dapat menjadi kekuatan di tengah arus globalisasi.

Di konteks ini, Wali Kota Mataram memikul peran simbolik dan substantif. Sebagai kepala daerah yang menegaskan bahwa kebijakan kebudayaan bukan romantisme masa lalu, melainkan investasi masa depan.

Akhirnya, “setelah ini apa?” bukan pertanyaan tentang agenda seremonial berikutnya. Ia adalah pertanyaan tentang ketekunan. Tentang kesediaan merawat proses yang panjang, sering kali “hening”, dan tidak selalu populer.

Trofi Abyakta telah diberikan. Nama telah dicatat. Tetapi denyut budaya hanya akan terus hidup jika ia dirawat setiap hari. Dalam kebijakan, dalam anggaran, dalam sikap, dan dalam keberpihakan.

“Gerbang Sangkareang” kini berada pada fase paling menentukan: fase pembuktian lanjutan. Apakah ia akan terus menyala sebagai denyut kehidupan Kota Mataram, atau redup sebagai arsip penghargaan.

Sejarah kota akan menjawabnya. Namun hari ini, pertanyaan itu tetap relevan dan harus terus diajukan.(aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Berita Terkait

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB
Suluh di Atas Pasir: Artunity dan Kisah Rumah yang Perlahan Hilang

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Selasa, 20 Januari 2026 - 00:30 WITA

Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA