Ketika Seni Menjadi Suluh Kemanusiaan

Minggu, 18 Januari 2026 - 11:32 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di tengah isu kemanusiaan, bencana, dan krisis empati, wayang Menak Sasak tampil sebagai pengingat tentang nilai perjuangan dan solidaritas (Foto: aks)

Di tengah isu kemanusiaan, bencana, dan krisis empati, wayang Menak Sasak tampil sebagai pengingat tentang nilai perjuangan dan solidaritas (Foto: aks)

CERAKEN-ID– Sabtu malam, 17 Januari 2026, Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB menjelma simpul pertemuan empati, tempat rasa kemanusiaan dipertautkan melalui bahasa estetika. Melalui tajuk “Artunity: Art Speaks, Humanity Listens” dengan tema A Charity Night for Sumatera, Komunitas Seni NTB untuk Kemanusiaan (Artunity) menginisiasi sebuah peristiwa budaya yang melampaui batas hiburan semata.

Artunity, sebuah komunitas independen yang bergerak di bidang seni, budaya, dan kegiatan sosial kemasyarakatan, menghadirkan kolaborasi lintas disiplin seni: tari, musik, seni rupa, hingga ekspresi visual lainnya. Seluruh rangkaian kegiatan ini diarahkan pada satu tujuan bersama: menumbuhkan kepedulian dan solidaritas kemanusiaan bagi masyarakat terdampak bencana di Sumatera.

“Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi antara masyarakat, seniman, dan pemerintah dalam menumbuhkan semangat gotong royong serta kepedulian terhadap sesama,” ujar Baiq Amalia Putri Ghaesani, yang akrab disapa Cikughea, selaku Ketua Pelaksana Artunity, dalam kata sambutannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pernyataan itu bukan sekadar pembuka acara. Ia menjadi penanda semangat yang mengalir sepanjang malam. Artunity ditempatkan sebagai ruang temu, di mana seni diberi peran sosial: berbicara atas nama kemanusiaan, sementara publik diajak untuk mendengar, merasakan, dan bertindak.

Di tengah panggung pertunjukan dan ruang pamer, seni rupa tampil sebagai medium kontemplasi. Salah satu karya yang menyita perhatian datang dari I Nyoman Sandiya, perupa yang tergabung dalam Mandalika Art Community.

Melalui karyanya berjudul “Suluh Bayang Kehidupan”, Sandiya tidak hanya memamerkan kepiawaian teknis, tetapi juga menghadirkan refleksi filosofis yang berakar pada tradisi lokal.

Karya tersebut dibuat dengan media kanvas akrilik, berukuran 120 x 120 sentimeter, dikerjakan pada tahun 2025. Dalam bentang visualnya, “Suluh Bayang Kehidupan” menghadirkan sosok-sosok wayang Menak Sasak yang tampil sederhana, namun sarat makna.

Bagi Sandiya, suluh adalah simbol penerang. Ia bukan hanya alat untuk menghalau gelap, melainkan metafora perjalanan hidup manusia yang dipenuhi suka dan duka.

Baca Juga :  Gerbang Sangkareang dan Etika Kebudayaan Kota (Membaca Mataram dalam Narasi Anugerah Kebudayaan PWI 2026)

Bayangan yang muncul di sekitar suluh menjadi refleksi pengalaman, harapan, dan impian yang terus menyertai manusia dalam lintasan waktu.

“Suluh Bayang Kehidupan merupakan alat penerang dalam perjalanan hidup dengan segala suka dan duka, bahkan merupakan refleksi atau cermin dari pengalaman hidup, harapan, dan impian,” demikian deskripsi karya tersebut.

Pilihan Sandiya untuk mengeksplorasi wayang Menak Sasak bukan tanpa alasan. Wayang ini menyimpan kisah-kisah heroik dan tema perjuangan yang relevan dengan kehidupan kontemporer.

Dalam kesederhanaan bentuk, tatah, motif, dan atributnya, wayang Menak Sasak justru menyampaikan pesan mendalam tentang sikap hidup: kesahajaan, ketabahan, dan keteguhan.

“Karya ini juga menjadi suluh bagi generasi berikutnya untuk melestarikan seni wayang Menak Sasak yang sangat adiluhung,” lanjut Sandiya.

Wayang Menak Sasak sendiri masih relatif asing bagi sebagian masyarakat, bahkan di Lombok. Dalam sebuah perbincangan, Sandiya menjelaskan bahwa tradisi wayang kulit tidak hanya berkembang di Jawa dan Bali, tetapi juga berakar kuat di tengah masyarakat Sasak.

“Tidak hanya di Jawa, wayang kulit juga merambah suku Sasak di Pulau Lombok. Wayang Sasak cukup berbeda dari wayang Purwa karena berpedoman pada cerita Amir Hamzah,” jelasnya.

Cerita tersebut berangkat dari kisah penyebaran agama yang dikembangkan dari sastra Persia, Qissa I Emr Hamza, yang berkembang pada era Sultan Melayu Harun Ar-Rasyid (766–809 M). Dari sisi visual, wayang Menak Sasak memiliki anatomi tubuh, tatah, dan sungging yang lebih sederhana dibandingkan wayang Jawa maupun Bali.

“Jika dibandingkan dengan wayang Bali, tatah sungging wayang Bali lebih rumit dan detail. Atributnya juga lebih kompleks,” kata Sandiya.

Namun kesederhanaan inilah yang justru menjadi kekuatan. Dalam buku-buku yang ia baca, Sandiya menemukan bahwa artefak wayang Menak Sasak memiliki perbedaan signifikan dengan wayang Menak Jawa.

Baca Juga :  Saksak Dance Production: Menggali Akar, Menoreh Jiwa, Menantang Zaman

Ia cenderung menyerupai wayang Gedog, dengan akulturasi anatomi wayang Bali, termasuk dalam corak musik pengiringnya.

Pertanyaan kemudian mengemuka: apa yang bisa dipetik dari sosok wayang Menak Sasak untuk kehidupan masa kini?

Menurut Sandiya, wayang Menak Sasak mengajarkan nilai-nilai yang sangat relevan dengan konteks kontemporer. Perjuangan panjang, kepahlawanan, kecerdasan strategi, kemandirian, serta kepercayaan diri menjadi pelajaran utama yang ditawarkan.

“Wayang mengingatkan kita untuk tetap sabar dan tabah dalam menghadapi kesulitan,” ujarnya.

Dalam struktur karakter, wayang Menak Sasak mengenal tiga tipologi tokoh. Pertama, lenyepan, tokoh baik yang merepresentasikan kebajikan.

Kedua, kalatinantang, tokoh jahat yang mencerminkan angkara murka. Ketiga, dagelan, tokoh rakyat jelata yang menghadirkan humor sekaligus kebijaksanaan sehari-hari.

Pengetahuan Sandiya tentang karakter ini tidak lepas dari latar akademiknya. Skripsinya saat kuliah membahas Wayang Alih dengan serat Dhamar Wulan Menak Jinggo, yang memperkaya pemahamannya tentang simbol, warna, atribut, dan watak tokoh-tokoh pewayangan.

Kehadiran karya “Suluh Bayang Kehidupan” di Artunity menjadi bukti bahwa seni tradisi tidak berhenti sebagai artefak masa lalu. Ia dapat dibaca ulang, diolah, dan dihadirkan kembali sebagai cermin kehidupan hari ini.

Di tengah isu kemanusiaan, bencana, dan krisis empati, wayang Menak Sasak tampil sebagai pengingat tentang nilai perjuangan dan solidaritas.

Artunity, pada akhirnya, bukan hanya tentang penggalangan dana atau pertunjukan seni. Ia adalah upaya merawat ingatan kolektif dan menyalakan empati.

Seni diberi ruang untuk berbicara, sementara kemanusiaan diajak untuk mendengar dan merespons.

Di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya NTB malam itu, seni menemukan kembali fungsinya yang paling hakiki: menjadi suluh.

Menerangi luka, menumbuhkan harapan, dan mengingatkan bahwa di balik segala perbedaan, manusia tetap terikat oleh satu nilai yang sama, kemanusiaan.(aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : liputan

Berita Terkait

Menjaga Keseimbangan Leluhur, Menjemput Masa Depan Budaya Sasak
Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup
Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 19:19 WITA

Menjaga Keseimbangan Leluhur, Menjemput Masa Depan Budaya Sasak

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA