Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Melalui tubuh, bunyi, gestur, dan ritual, Belian dibaca ulang sebagai praktik hidup yang terus dinegosiasikan (Foto: aks)

Melalui tubuh, bunyi, gestur, dan ritual, Belian dibaca ulang sebagai praktik hidup yang terus dinegosiasikan (Foto: aks)

CERAKEN.ID– Wicara Partisipan Belian yang berlangsung di Wisma Satu, Taman Budaya NTB, pada Jumat, 17 Januari 2026, menjadi salah satu simpul penting dalam rangkaian Pameran Belian.

Forum ini tidak sekadar menghadirkan para seniman untuk “menjelaskan karya”, melainkan membuka ruang percakapan lintas disiplin tentang bagaimana Belian sebagai praktik pengobatan tradisional Sasak, dibaca, ditafsirkan, dan diolah kembali melalui medium seni rupa, video, instalasi, hingga bunyi.

Diskusi ini menghadirkan para partisipan pameran: Lanang Kusumajati, Hujjatul Islam, Muhammad Rusli “Oka”, S. La Radek, dan Ronieste. Mahrus “Boleng” Putra memandu diskusi dengan pendekatan cair namun tajam, menempatkan wicara sebagai perpanjangan dari riset, bukan sekadar forum presentasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam ruang itu, Belian tampil bukan sebagai objek etnografis yang beku, melainkan sebagai pengalaman hidup yang berdenyut di tubuh, ingatan, dan relasi sosial para partisipan.

Belian sebagai Lanskap Relasi: S. La Radek dan Saling Gitaq

S. La Radek mempresentasikan karya lukis akrilik di atas kanvas berukuran 160 x 600 cm berjudul Saling Gitaq (2026). Karya ini lahir dari tantangan kuratorial Muhammad Sibawahi, yang memberi Radek arsip foto dan video sebagai pemantik.

Alih-alih menekankan representasi ritual Belian secara literal, Radek memilih fokus pada gestur, pada tubuh-tubuh yang hadir dalam peristiwa pengobatan.

Proses komunikasi dan pengolahan ide berlangsung panjang, sejak 2025 hingga 2026. Proses melukisnya sendiri memakan waktu sekitar dua bulan, dikerjakan di emperan rumah.

Namun, karena Belian dipandang sebagai praktik sakral, tahap awal penciptaan dilakukan langsung di lokasi Belian, dimulai dengan membuat sketsa di tempat ritual berlangsung. “Prinsip yang saya pegang adalah 3B: bergembira, berbahagia, berkarya,” ujar Radek.

Dalam bahasa Sasak, Saling Gitaq berarti “saling lihat”. Makna ini merujuk pada relasi timbal balik antara belian, tim pendukung, pasien, dan lingkungan sekitarnya.

Setiap figur yang muncul dalam arsip citra bergerak diposisikan sebagai aktor aktif yang turut membentuk realitas pengobatan. Belian, dalam karya ini, tidak dipahami sebagai tindakan sepihak seorang penyembuh, melainkan sebagai jaringan relasi sosial yang hidup.

Kurator melihat lukisan Radek bukan semata sebagai representasi visual, tetapi sebagai medium penceritaan kosmologis. Di dalamnya, sejarah, mitologi, ritual, dan pengalaman kolektif berkelindan.

Penonton tidak ditempatkan sebagai pengamat pasif, melainkan sebagai pembaca aktif yang menelusuri hubungan antar-adegan, merangkai alur cerita, dan menafsir kepadatan peristiwa yang disuguhkan.

Ritual sebagai Kepadatan Peristiwa: Rusli “Oka” dan The Rites

Muhammad Rusli “Oka” menghadirkan karya video satu kanal berjudul The Rites (2026), sebuah karya yang berangkat dari dokumentasi ritual nyunatang (sunatan) di Lombok Utara. Karya berdurasi lebih dari 15 menit ini merupakan hasil pengolahan arsip foto dan video riset, yang kemudian dikembangkan melalui pendekatan film eksperimental.

Oka memandang ritual nyunatang bukan sekadar penanda transisi biologis, tetapi sebagai peristiwa komunal yang sarat makna sosial dan spiritual. Pengalaman personalnya ikut membentuk cara pandangnya.

Ia mengisahkan bagaimana saat kecil, kelas tiga SD, ia mengalami penyakit kulit yang secara medis sulit disembuhkan. Ibunya kemudian bermimpi bertemu belian, diberi obat, dan dalam tiga hari penyakit itu sembuh. Pengalaman empiris ini menjadi latar kritis dalam membaca praktik Belian.

Baca Juga :  Gerbang Sangkareang dan Etika Kebudayaan Kota (Membaca Mataram dalam Narasi Anugerah Kebudayaan PWI 2026)

Dalam The Rites, kamera tidak diposisikan sebagai alat perekam objektif. Sebaliknya, kamera hadir sebagai entitas yang “hidup”, ikut bernegosiasi dengan tubuh, suasana, ruang, dan waktu ritual.

Ia kadang mendekat, kadang menjauh, kadang terjebak dalam kepadatan situasi. Tahap pascaproduksi menjadi fase krusial: footage tidak disusun secara kronologis, melainkan melalui pendekatan komposisional untuk membangun “irama visual”.

Fragmen-fragmen visual ditumpuk dan dipertautkan sehingga menghadirkan kesan bahwa berbagai momen terjadi secara bersamaan. Penonton tidak diarahkan untuk memahami ritual secara informatif, tetapi diajak merasakan intensitas dan kepadatan peristiwa.

Pendekatan ini secara tegas menolak narasi tunggal dan membuka ruang pembacaan jamak, sejalan dengan praktik artistik Oka yang kerap memecah satu peristiwa ke dalam banyak sudut pandang visual.

Tubuh, Rahim, dan Ambang Kehidupan: Lanang Kusumajati dan Wet Tau

Lanang Kusumajati menampilkan instalasi bambu berjudul Wet Tau (P: 500 cm x T: 250 cm x L: 300 cm). Karya ini lahir dari dialog panjang dengan kurator Muhammad Sibawahi. Dalam bahasa Sasak, Wet Tau berarti “wilayah orang”, yang dalam tafsir Lanang dimaknai sebagai ruang kontemplasi tentang proses kelahiran.

Instalasi ini mengharuskan pengunjung untuk merendahkan tubuh agar bisa masuk ke dalam ruang bambu, menghadirkan pengalaman fisik yang intens.

Dalam imajinasi Lanang, ruang tersebut adalah metafora rahim. Kendi dihadirkan sebagai simbol tempat ari-ari, sementara bambu dipilih karena kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari di sekitar rumah.

Instalasi ini bukan sekadar objek visual, melainkan ruang yang harus dilalui. Jalur di dalamnya menuntun pengunjung menuju pintu keluar pameran, menjadikan pengalaman berjalan sebagai metafora kelahiran, sebuah transisi dari ruang asal menuju dunia luar.

Karya ini menghadirkan ruang liminal, tempat kosmologi kelahiran, memori tubuh, dan pengalaman artistik saling bertemu.

Pengalaman Lanang dengan Belian bersifat personal dan berkelanjutan. Sejak kecil hingga 2017, ia kerap berobat ke belian, terakhir saat menderita penyakit kuning. Pengalaman ini menjadikan Wet Tau bukan sekadar tafsir konseptual, melainkan refleksi tubuh yang hidup dan dihidupi.

Mendengarkan sebagai Laku: Ronieste dan Dwell in Resonance

Ronieste menghadirkan karya bunyi berjudul Dwell in Resonance, sebuah komposisi synthesizer modular digital yang lahir dari keterlibatannya langsung dalam riset Belian. Ia menggunakan pendekatan soundscape, bentang bunyi, untuk menangkap dimensi yang kerap luput dari dokumentasi visual.

Dalam proses riset, Roni banyak “menangkap” bunyi air, baik di permukaan maupun di kedalaman. Bunyi tersebut kemudian diolah secara live.

Ia mengaitkan karya Lanang tentang rahim sebagai contoh konkret bagaimana bunyi air di kedalaman bekerja sebagai pengalaman sonik.

“Karena aku suka dengan bunyi dan soundscape, maka bunyi adalah salah satu materi tersendiri untuk didokumentasikan,” ujar Roni.

Bagi Roni, bunyi bersifat abstrak dan tak kasatmata. Justru karena itu, bunyi menjadi pemicu imajinasi dan ruang tafsir. Mendengarkan bukan aktivitas pasif, melainkan tindakan sadar.

Baca Juga :  Narasi yang Menyembuhkan: Membaca Belian sebagai Ruang Simbolik-Budaya

Ia mengkritik kecenderungan manusia yang lebih suka berbicara daripada mendengarkan. Ketika semua orang berbicara, frekuensi saling bertabrakan dan tidak terjadi pertemuan. Dalam konteks ini, soundscape menjadi laku terapeutik.

Sepanjang riset, Roni memosisikan diri sebagai penyerap, layaknya tape recorder. Ia tidak menemukan mantra yang terdengar jelas, lebih banyak bisikan yang samar.

Ia mempertanyakan apakah keyakinan pada Belian lahir dari sugesti, cinta, atau resonansi frekuensi personal. Pertanyaan ini justru membuka ruang refleksi yang luas tentang hubungan antara bunyi, tubuh, dan kepercayaan.

Gestur sebagai Bahasa: Hujjatul Islam dan Gambar-Gambar Tangan

Hujjatul Islam menampilkan 20 karya gambar arang di atas kertas berukuran 29,7 x 42 cm. Karya-karya ini merupakan respons visual atas tantangan kuratorial untuk mengolah hasil riset Belian selama satu tahun. Jattul memilih fokus pada tangan dan kaki, terutama tangan, sebagai pusat perhatian.

Ia membingkai gestur: tangan yang memijit, meracik obat, memegang pisau, dan melakukan berbagai tindakan pengobatan. Kaca pembesar yang dihadirkan sebagai bagian display, ide curator, menjadikan pengalaman melihat lebih intim dan partisipatif.

Dalam konteks Belian, fokus pada tangan menegaskan bahwa inti pengobatan terletak pada tindakan itu sendiri, bukan semata hasil akhir.

Setiap gerak tangan hadir sebagai peristiwa performatif. Tindakan bukan hanya menghasilkan efek, tetapi juga menciptakan makna dan keyakinan. Tubuh menjadi medium utama, dan gestur menjadi bahasa.

Tanggapan dan Refleksi: Membuka Ruang Kritis

Wicara Partisipan ini diperkaya oleh tanggapan audiens dari berbagai latar. Geger Gottar Parra (Mataram) menyoroti heterogenitas Lombok Utara yang harmonis serta mempertanyakan relasi antara tradisi Belian pasca-Islam dan jejak pra-Islam, termasuk kaitannya dengan komunitas Sasak Budhe.

Ia juga menekankan pentingnya Lombok Utara sebagai ladang riset ke depan.

Kurator Muhammad Sibawahi menanggapi dengan refleksi kritis, menyadari perlunya penelusuran kosmologi Sasak yang lebih mendalam, terutama sebelum masuk ke ranah agama. Ia menekankan kedekatan Belian dengan alam, khususnya Gunung Rinjani.

Gilang dari Ampenan memaknai pameran sebagai refleksi diri, mengingatkannya pada akar tradisi yang kerap dilupakan.

Maria Silalahi (Lombok Utara) melihat pameran sebagai ruang transfer pengetahuan lintas generasi, terutama bagi anak-anak. Ia menyoroti keterkaitan antar-karya yang membentuk narasi utuh, dari video, instalasi, hingga bunyi.

Manshur Zikri (kritikus seni) menggarisbawahi pentingnya pandangan kritis terhadap Belian hari ini: bagaimana posisi partisipan terhadap data riset, argumentasi metodologis, dan kedekatan personal dengan objek kajian.

Sementara itu, akademisi Laila Etika menilai Pameran Belian sebagai contoh penting pameran berbasis riset, seraya mendorong agar praktik semacam ini lebih sering dihadirkan dengan sudut pandang yang semakin komprehensif.

Pada akhirnya, Wicara Partisipan Belian menegaskan bahwa pameran ini bukan sekadar peristiwa seni, melainkan ruang produksi pengetahuan.

Melalui tubuh, bunyi, gestur, dan ritual, Belian dibaca ulang sebagai praktik hidup yang terus dinegosiasikan.

Seni, dalam konteks ini, menjadi medium untuk mendekat, mendengar, dan merasakan, bukan untuk menutup makna, tetapi membuka kemungkinan tafsir yang terus berlapis. (aks)

Penulis : aks

Editor : Ceraken Editor

Sumber Berita : Liputan

Berita Terkait

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki
Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community
Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian
Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 
Gerbang Sangkareang dan Jalan Kebudayaan Kota
Belian sebagai Pengetahuan Hidup: Seni, Riset, dan Negosiasi Makna di Taman Budaya NTB
Suluh di Atas Pasir: Artunity dan Kisah Rumah yang Perlahan Hilang
Ketika Seni Menjadi Suluh Kemanusiaan

Berita Terkait

Sabtu, 24 Januari 2026 - 12:28 WITA

Wicara Partisipan Belian: Membaca Tubuh, Bunyi, dan Ritual sebagai Pengetahuan Hidup

Sabtu, 24 Januari 2026 - 07:36 WITA

Tubuh yang Kembali ke Tanah: Catatan dari Latihan Teater dengan Metode Suzuki

Jumat, 23 Januari 2026 - 12:02 WITA

Menjejak Tanah, Menyimpan Energi: Metode Suzuki dalam Latihan Teater Lampak(q) Art Community

Rabu, 21 Januari 2026 - 08:00 WITA

Resonansi, Diam, dan Kesadaran: Praktik Bunyi dalam Belian

Selasa, 20 Januari 2026 - 00:30 WITA

Membaca Belian sebagai Sistem Pengetahuan: Catatan dari Percakapan dengan Muhammad Sibawahi 

Berita Terbaru

Ia telah menemukan rumahnya di lagu, di niat baik, dan di harapan agar manusia mau bangun, bergerak, dan memberi dampak (Foto: aks)

TOKOH & INSPIRASI

Terpararerai: Musik, Doa, dan Upaya Bangun yang Berdampak

Sabtu, 24 Jan 2026 - 08:50 WITA