Merawat Akar, Menjangkau Dunia: Dinamika Event Kebudayaan di NTB Era Global

Rabu, 28 Januari 2026 - 09:59 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

NTB, dengan segala kekayaan budayanya, memiliki modal kuat untuk terus melangkah (Foto: aks)

NTB, dengan segala kekayaan budayanya, memiliki modal kuat untuk terus melangkah (Foto: aks)

Oleh: Lalu Surya Mulawarman – Kepala Taman Budaya Prov. NTB

CERAKEN.ID– Di tengah arus globalisasi, kebudayaan tidak lagi semata menjadi penanda identitas lokal, melainkan juga bahasa universal yang mampu menjembatani perjumpaan antarbangsa.

Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan kekayaan budaya Sasak, Samawa, dan Mbojo, perlahan namun pasti menempatkan diri sebagai salah satu simpul penting dalam peta kebudayaan Indonesia yang mulai dilirik dunia.

Event-event kebudayaan yang digelar di daerah ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang ekspresi seni, tetapi juga sebagai strategi kultural untuk menghadirkan NTB di panggung global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam beberapa tahun terakhir, pengelolaan event kebudayaan di NTB mengalami transformasi signifikan. Festival budaya tidak lagi dipandang sebagai seremoni rutin atau sekadar hiburan rakyat, melainkan sebagai medium diplomasi budaya, penguatan identitas, sekaligus penggerak ekonomi kreatif.

Dari Festival Bau Nyale di Lombok hingga berbagai pameran seni, pertunjukan tradisi, dan perhelatan budaya kontemporer, NTB mulai membangun narasi bahwa kebudayaan adalah aset strategis pembangunan.

Namun, menghadirkan budaya ke panggung dunia bukan perkara sederhana. Ia menuntut pengelolaan yang cermat, sensitif terhadap nilai lokal, sekaligus adaptif terhadap standar global.

Di sinilah tantangan utama pengelolaan event kebudayaan di NTB bermula: bagaimana menjaga autentisitas tradisi tanpa menjadikannya artefak beku, dan bagaimana mengemasnya secara profesional tanpa menghilangkan ruh kebudayaan itu sendiri.

Pengelolaan event kebudayaan di NTB berada di persimpangan antara tradisi dan profesionalisme. Di satu sisi, kebudayaan hidup dalam ritus, kebiasaan, dan nilai-nilai masyarakat. Ia tumbuh secara organik, diwariskan lintas generasi, dan sering kali bersifat komunal.

Baca Juga :  Mandalika: Antara Sirkuit Dunia dan Fondasi Budaya yang Menjaga Masa Depan

Di sisi lain, ketika kebudayaan dipresentasikan dalam format event terutama yang menyasar audiens nasional dan internasional, ia membutuhkan manajemen modern: kurasi, tata panggung, publikasi, hingga jejaring kerja sama.

Perubahan paradigma ini menuntut keterlibatan banyak pihak. Pemerintah daerah, komunitas seni, akademisi, pelaku pariwisata, hingga media memiliki peran masing-masing.

Pemerintah berfungsi sebagai fasilitator kebijakan dan pendukung anggaran, sementara komunitas budaya menjadi penjaga nilai dan sumber kreativitas. Ketika kolaborasi ini berjalan seimbang, event kebudayaan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan.

Di NTB, sejumlah event mulai menunjukkan arah tersebut. Festival yang dikurasi dengan pendekatan tematik, melibatkan seniman lintas disiplin, serta membuka ruang dialog antara tradisi dan konteks kekinian, menjadi contoh bahwa kebudayaan dapat hadir secara relevan tanpa kehilangan akar.

Tradisi tidak sekadar dipentaskan, tetapi ditafsir ulang melalui narasi yang komunikatif bagi publik luas.

Kebudayaan sebagai Diplomasi

Ketika budaya NTB tampil di forum nasional maupun internasional, ia sesungguhnya sedang menjalankan fungsi diplomasi. Tarian, musik, tenun, ritual, dan seni pertunjukan menjadi duta yang berbicara tanpa kata. Di sini, event kebudayaan berperan sebagai etalase identitas daerah.

Diplomasi budaya yang efektif mensyaratkan pemahaman mendalam atas konteks global. Audiens internasional memiliki latar budaya, selera, dan ekspektasi berbeda.

Oleh karena itu, pengelolaan event kebudayaan di NTB dituntut untuk mampu menyusun narasi yang inklusif, informatif, dan estetis. Informasi tentang makna simbolik, sejarah, dan nilai filosofis tradisi menjadi penting agar kebudayaan tidak disalahpahami atau direduksi menjadi eksotisme semata.

Baca Juga :  Ada Lakon di Balik Bunyi

Di sinilah peran kurator dan jurnalisme budaya menjadi krusial. Kurator menjembatani karya dan audiens, sementara jurnalisme budaya mendokumentasikan sekaligus menginterpretasikan peristiwa kebudayaan secara kritis.

Liputan yang mendalam dan berimbang membantu publik memahami bahwa kebudayaan NTB bukan sekadar atraksi, melainkan cerminan cara pandang hidup masyarakatnya.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Pengelolaan event kebudayaan yang baik juga membawa dampak nyata bagi masyarakat.

Selain memperkuat rasa bangga terhadap identitas lokal, event budaya membuka peluang ekonomi bagi pelaku seni, pengrajin, dan UMKM. Tenun tradisional, kuliner lokal, hingga produk kriya menemukan pasar baru ketika dipresentasikan dalam event yang terkelola dengan baik.

Namun, dampak ekonomi ini perlu diiringi dengan prinsip keberlanjutan. Event kebudayaan tidak boleh hanya menguntungkan segelintir pihak atau bersifat temporer.

Pemberdayaan komunitas lokal harus menjadi fondasi utama, agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga aktor utama dalam perhelatan budaya mereka sendiri.

Mengelola event kebudayaan di NTB pada akhirnya adalah upaya merawat ingatan sekaligus menyiapkan masa depan. Kebudayaan tidak berhenti pada romantisme masa lalu, tetapi terus bergerak mengikuti zaman.

Tantangan ke depan adalah memastikan bahwa setiap event kebudayaan tetap berpijak pada nilai lokal, namun memiliki daya saing global.

Ketika budaya hadir di panggung dunia, yang sesungguhnya dibawa bukan hanya pertunjukan, melainkan juga martabat dan identitas. NTB, dengan segala kekayaan budayanya, memiliki modal kuat untuk terus melangkah.

Dengan pengelolaan yang visioner, kolaboratif, dan beretika, event kebudayaan di NTB dapat menjadi ruang perjumpaan yang bermakna bagi masyarakat lokal, nasional, maupun dunia.*

Penulis : lsm

Editor : Ceraken Editor

Berita Terkait

Menakar Kinerja Tim Ahli Gubernur di Tengah Momentum Kebangkitan Ekonomi NTB
Enterprise Risk Management: Mengelola Ketidakpastian untuk Menjaga Keberlanjutan Perusahaan
Analisis Hukum Pemberhentian Kepala Desa Berdasarkan Putusan Adat: Konspirasi Tanpa Dasar dan Cacat Secara Yuridis
Mandalika: Antara Sirkuit Dunia dan Fondasi Budaya yang Menjaga Masa Depan
Menuju Pemajuan Kebudayaan NTB
Carpe Diem vs. Hedonisme
Menjemput Kesembuhan di Tangan Belian: Potret Sosiologis Pengobatan Nonmedis di Bumi Dayan Gunung
Satu Panggung, Satu Empati: Artunity Merawat Kemanusiaan untuk Sumatera

Berita Terkait

Jumat, 6 Februari 2026 - 14:42 WITA

Enterprise Risk Management: Mengelola Ketidakpastian untuk Menjaga Keberlanjutan Perusahaan

Rabu, 4 Februari 2026 - 08:55 WITA

Analisis Hukum Pemberhentian Kepala Desa Berdasarkan Putusan Adat: Konspirasi Tanpa Dasar dan Cacat Secara Yuridis

Selasa, 3 Februari 2026 - 15:22 WITA

Mandalika: Antara Sirkuit Dunia dan Fondasi Budaya yang Menjaga Masa Depan

Jumat, 30 Januari 2026 - 14:04 WITA

Menuju Pemajuan Kebudayaan NTB

Rabu, 28 Januari 2026 - 20:14 WITA

Carpe Diem vs. Hedonisme

Berita Terbaru

Mr. Red (kiri), Kim Dong Pil (tengah), Lalu Syaukani (kanan), Karya tersebut merupakan hasil pembacaan visual Kim terhadap lanskap persawahan Tetebatu yang ia rekam pada Mei 2025 (Foto: aks)

BUDAYA

Membaca Alam Lombok Lewat Lensa Drone Kim Dong Pil

Sabtu, 7 Feb 2026 - 23:01 WITA

Dari hobi suka mengoleksi kompor portable dan senter, tersirat bahwa ia tak membanggakan benda-benda itu. (Foto: ist)

TOKOH & INSPIRASI

Di Balik Hobi Unik Andi Irawan: Berburu Kompor Portable dan Senter Koleksi

Sabtu, 7 Feb 2026 - 19:35 WITA